NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sinar matahari pagi yang hangat menyinari papan nama Dapur Arka Absolute yang berdiri megah.

Suasana di dalam restoran sudah dipenuhi oleh suara tawa pelanggan dan dentingan sendok garpu yang beradu.

Trak trak.

Nisa bergerak lincah dari meja ke meja membawakan nampan berisi mangkuk sop buntut yang masih mengepulkan asap panas.

"Silakan dinikmati Bapak dan Ibu, hati-hati kuahnya masih sangat panas." Nisa menyapa pelanggannya dengan senyum manis yang ramah.

Di dalam dapur terbukanya, Arka sedang fokus mengayunkan wajan besarnya menumis ayam bakar madu pedas.

Srenggg! Wushhh!

Lidah api menyala menjilat dasar wajan baja menciptakan aroma karamel madu yang sangat memabukkan rongga hidung.

Arka merasa sangat puas melihat bisnis restorannya berjalan dengan sangat lancar dan omsetnya terus meroket tajam.

Namun kedamaian pagi itu tiba-tiba dihancurkan oleh suara sirene yang meraung-raung sangat keras dari arah jalan raya.

Ngiung ngiung ngiung!

Tiga buah mobil dinas berwarna hitam mengkilat dengan pelat nomor merah berhenti tepat di halaman parkir restoran Arka.

Di belakang mobil dinas itu, dua buah mobil patroli polisi ikut mengawal dengan lampu rotator biru yang menyala terang.

Para pelanggan yang sedang asyik makan seketika menghentikan kunyahan mereka dan menoleh ke arah luar jendela kaca dengan wajah tegang.

"Ada apa ini Mas Arka? Kenapa banyak polisi dan pejabat yang datang kemari?" Nisa berlari menghampiri meja dapur dengan raut wajah panik.

Arka segera mematikan kompor gasnya dan mengelap tangannya dengan kain bersih yang menggantung di pinggangnya.

"Jangan panik Nisa, biarkan aku yang menghadapi mereka." Arka berjalan keluar dari area dapur dengan langkah yang sangat tenang.

Pintu utama restoran terbuka lebar menampilkan rombongan tamu tak diundang yang melangkah masuk dengan gaya sangat arogan.

Di barisan paling depan, Hendra Kusuma berjalan dengan senyum licik sambil menghisap cerutu mahalnya.

Tepat di sebelah Hendra, seorang pria paruh baya mengenakan seragam dinas kejaksaan dan memegang sebuah map tebal berwarna merah.

Pria itu adalah Hakim Ketua Pengadilan Tinggi Provinsi yang terkenal sangat korup dan bisa dibeli dengan uang miliaran rupiah.

Di belakang mereka, belasan petugas pengadilan dan polisi berdiri mengawal dengan wajah garang.

"Selamat pagi koki jalanan, kudengar kau sangat suka bermain-main dengan bisnis katering pabrikku kemarin." Hendra menyapa dengan nada suara baritonnya yang mengancam.

"Selamat pagi juga Tuan Hendra, rasanya suatu kehormatan restoran kecil saya dikunjungi oleh mafia sebesar Anda." Arka membalas sapaan itu dengan senyum mengejek yang sangat dingin.

Urat leher Hendra sedikit menonjol mendengar sindiran tajam itu, namun ia segera menahan amarahnya karena ia memegang kartu truf hari ini.

"Aku tidak datang untuk berdebat denganmu anak muda, aku datang untuk melihatmu menangis meratapi kehancuranmu." Hendra tertawa pelan dan menoleh ke arah Hakim Ketua di sebelahnya.

Hakim Ketua itu berdehem keras dan membuka map merah di tangannya dengan gaya yang sangat dilebih-lebihkan.

"Berdasarkan surat keputusan pengadilan tinggi provinsi nomor seratus dua belas, bangunan eks Elysium ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kelas A." Hakim itu membaca surat tersebut dengan suara lantang agar didengar oleh seluruh pengunjung.

Mendengar kata cagar budaya, dahi Arka seketika berkerut tajam karena alasan itu terdengar sangat dibuat-buat.

"Oleh karena itu, segala bentuk aktivitas komersial yang melibatkan dapur api besar dan modifikasi interior dihentikan secara paksa mulai detik ini juga!" Tegas sang hakim sambil menutup map merahnya dengan kasar.

"Petugas, pasang garis segel pengadilan di seluruh pintu masuk dan usir semua pengunjung dari dalam bangunan ini sekarang!" Perintah Hakim Ketua itu tanpa memberikan kesempatan bagi Arka untuk membela diri.

Para pelanggan langsung panik dan berdiri dari kursi mereka dengan wajah ketakutan melihat polisi mulai bergerak maju.

"Tunggu dulu Pak Hakim, sejak kapan bangunan bekas restoran Prancis ini menjadi situs cagar budaya sejarah?" Arka menaikkan nada suaranya menuntut penjelasan logis.

"Itu bukan urusanmu untuk tahu, keputusan pengadilan tinggi bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat!" Hakim itu membentak Arka dengan sangat arogan.

Kring kring kring.

Tiba-tiba ponsel di saku Arka berbunyi nyaring menampilkan nama Clara Malika di layar panggilannya.

Arka segera mengangkat telepon itu tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari wajah Hendra Kusuma.

"Arka, dengarkan aku, tarik mundur semua stafmu dan jangan melawan petugas di sana." Suara Clara terdengar sangat serius dan sedikit frustrasi dari seberang telepon.

"Apa yang sebenarnya terjadi Nona Clara? Kenapa tiba-tiba ada putusan pengadilan setingkat provinsi yang menyegel restoranku?" Arka bertanya menuntut kejelasan.

"Hendra Kusuma menyuap para pejabat tinggi di tingkat provinsi untuk merekayasa status tata kota bangunanmu itu." Clara membeberkan fakta kotor yang sebenarnya terjadi.

"Koneksi politikku hanya kuat di tingkat kota, butuh waktu berbulan-bulan bagiku untuk membatalkan putusan provinsi itu lewat jalur sidang banding." Tambah Clara dengan nada menyesal karena kekuasaannya berhasil dilompati oleh uang Hendra.

Arka menghela napas panjang menyadari bahwa musuhnya kali ini menggunakan senjata birokrasi hukum yang tidak bisa dilawan dengan otot atau pisau dapur.

"Baik Nona Clara, aku mengerti, aku akan menutup restoran ini untuk sementara waktu." Arka menutup telepon itu dengan sangat tenang.

Hendra Kusuma tertawa terbahak-bahak melihat Arka memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

"Bagaimana anak muda? Apakah pelindung besarmu Nona Clara sudah menyerah kalah melawan kekuasaanku?" Ejek Hendra dengan sangat puas.

"Kau punya waktu sampai matahari terbenam untuk mengemasi semua panci dan wajan rongsokanmu itu keluar dari gedung ini." Hendra membuang puntung cerutunya tepat ke atas lantai restoran Arka.

"Ayo Pak Hakim, kita rayakan kemenangan hukum ini dengan minum sampanye di hotel seberang." Hendra merangkul bahu hakim korup itu dan berjalan keluar meninggalkan restoran.

Setelah rombongan arogan itu pergi, polisi segera memasang garis kuning hitam di depan pintu masuk Dapur Arka Absolute.

Nisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk nampan kayunya melihat para pelanggan diusir keluar satu per satu.

"Mas Arka, bagaimana ini? Kita baru saja buka beberapa hari tapi sudah ditutup paksa lagi." Nisa mengusap air matanya yang terus mengalir deras.

"Jangan menangis Nisa, ini hanya penutupan sementara, aku berjanji besok pagi garis segel ini akan dicabut kembali." Arka menepuk pelan bahu asistennya untuk memberikan ketenangan.

"Tolong kamu pulanglah dulu dan istirahat, biarkan aku yang mengurus masalah administrasi busuk ini sendirian." Perintah Arka dengan suara lembut namun tidak bisa dibantah.

Setelah Nisa pulang dan restoran itu benar-benar kosong serta dikunci dari luar, Arka kembali masuk ke dalam dapurnya yang kini terasa sangat sunyi.

Arka menarik napas panjang dan memejamkan matanya erat-erat.

Ia sadar bahwa jalur hukum normal tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan melawan pejabat yang perutnya sudah disumpal oleh uang haram.

Ia butuh sebuah senjata yang bisa memaksa para pejabat korup itu untuk menghancurkan diri mereka sendiri dari dalam.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!