Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan
Aku menutup pintu utama rapat-rapat, bersandar di belakangnya sambil menarik napas panjang — berusaha menenangkan jantung yang masih berdegup kencang karena takut. Namun cahaya layar ponsel di tanganku makin redup, lemah, seolah tak akan bertahan lama lagi. Perlahan aku duduk bersandar di sudut ruangan yang luas, memeluk lutut erat ke dada, tubuh meringkuk mencari kehangatan yang tak kunjung datang.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Untuk apa rumah besar dan mewah ini jika yang kurasakan hanya kesepian dan ketakutan mendalam? Lebih baik di samping tempat tidur Aslan di rumah sakit — setidaknya di sana ada kehangatan sederhana, ada harapan, ada alasan untuk bertahan. Rindu tiba-tiba menyergap hatiku begitu kuat hingga napas tertahan. Apakah adikku sudah sadar? Apakah dia merindukanku juga? Hampa, sedih, dan takut bercampur menjadi satu — begitu kuat hingga hampir tak sanggup menahan tangis yang meledak di tenggorokan.
“Ayah… Ibu… aku takut sekali… di mana kalian?” gumamku lirih, suara nyaris hilang ditelan hening.
Namun sebelum air mata jatuh membasahi pipi, terdengar ketukan tegas dan teratur di pintu. Jantungku kembali berdegup kencang — siapa yang bisa datang di jam begini, di malam yang seburuk ini? Tapi aku segera bangkit, melangkah perlahan dan membuka pintu. Di sana berdiri sosok yang tak kusangka akan kembali malam ini — Adrian, dengan jas yang sama rapi seperti tadi siang, seolah tak pernah pergi. Aku sadar seketika: mataku bengkak karena tangis, dan aku masih mengenakan gaun pengantin sejak pagi tanpa sempat mengganti pakaian.
Adrian menatapku lekat, tajam, dan tegas, bertanya dengan nada tenang namun kaku: “Kenapa lama sekali membukanya? Apa yang terjadi di sini?”
Hatiku bergetar hebat, takut ia marah, takut ia menuduhku melakukan sesuatu yang salah — aku hanya bisa menunduk dalam tanpa sanggup menjawab satu kata pun. Ia melangkah masuk, menutup pintu rapat di belakangnya, lalu lewat di depanku seolah tak melihatku. Namun tiba-tiba ia berhenti, berbalik badan menghadapku sepenuhnya. “Kenapa diam saja? Berniat tidur di lantai sampai pagi?”
Entah kenapa rasa lega seketika memenuhi hatiku — menyadari bahwa ia ada di sini, di ruangan yang sama denganku, membuat rasa takut yang tadi melumpuhku perlahan mereda. Tanpa menunggu perintah, aku mengikuti langkahnya naik ke lantai dua. Di depan pintu kamarku, ia berhenti dan menoleh, nadanya masih dingin namun tak setajam biasanya: “Masuklah. ke kamarmu.”
Saat ia akan melangkah pergi menuju kamarnya sendiri di lantai atas, kepanikan melanda seketika. Baterai ponsel di tanganku hampir habis — sebentar lagi gelap total. Sementara di luar, guntur kembali menggelegar makin keras, makin dekat, seolah langit akan runtuh. Terdengar ledakan nyaring yang membelah langit malam: “DUAARRR!!” Aku terlonjak kaget, berteriak kecil tanpa sadar. Tanpa berpikir, tanpa ragu, aku memeluk erat lengannya — mataku terpejam rapat, tubuh gemetar hebat karena ketakutan. Jantung seolah mau melompat keluar dari dadaku.
Detik kemudian aku menyadari apa yang kulakukan. Cepat melepaskan pelukan itu, tubuh gemetar bukan hanya karena takut tapi juga karena rasa malu yang meluap-luap. Hanya bisa menunduk dalam, menatap lantai marmer yang gelap dan dingin. Bagaimana jika ia tersinggung dan marah? Mungkin ia akan mengusirku? Atau memarahiku keras-keras karena berani menyentuhnya tanpa izin? Pikiran-pikiran buruk berputar cepat di kepalaku, membuatku makin menunduk dalam, tangan saling genggam erat menahan tangis yang hampir pecah.
Namun Adrian hanya diam sejenak, memperhatikan gerak-gerik dan ekspresiku dengan saksama. Pasti ia melihat betapa takutnya aku — betapa rapuhnya aku di hadapan badai ini. Dan ia juga melihat layar ponsel di tanganku yang kini mati total, tak menyisakan seberkas cahaya pun. Tanpa marah, tanpa tanya yang menyakitkan, ia berbalik dan berdiri tepat di depan pintu kamarku — membukanya lebar-lebar, lalu masuk bersamaku.
Mengangkat wajah dengan bingung, namun ragu masih menahanku di ambang pintu — tak berani melangkah maju. Adrian berhenti di tengah ruangan, menoleh ke arahku — nadanya datar, tapi tak setajam dan sedingin pertama kali bertemu tadi siang. “Kenapa diam di sana? Masuklah sebelum aku berubah pikiran.”
Dengan langkah hati-hati dan penuh keraguan, akhirnya aku melangkah masuk perlahan. Ingat, Zara. Ini hanya perjanjian satu tahun. Mana Mungkin ia berbuat sesuatu yang tidak pantas? Namun rasa curiga dan takut perlahan mereda melihat tindakannya. Adrian menyalakan ponselnya sendiri, meletakkannya di meja samping kasur — memberikan cahaya lembut yang cukup menerangi ruangan. Lalu ia duduk tenang di kursi empuk di hadapanku. Melepaskan dasinya, melipatnya rapi dan meletakkannya di samping, membuka sedikit kancing atas kemejanya hingga terlihat bahu dan dadanya yang kokoh dan tegap. Wajahku seketika memerah padam — cepat memalingkan wajah karena merasa tak sopan memandangnya seperti itu.
Adrian bersandar tenang di kursi itu, siku bertumpu pada lengan kursi, tangannya menopang dagu dengan lembut. Menatapku lurus, tenang, dengan ketegasan yang tak terlukiskan — seolah ia sedang menjaga sesuatu yang berharga.
“Naiklah ke kasur dan berbaringlah,” ucapnya rendah namun meyakinkan, suaranya menenangkan hati yang gelisah. “Tenangkan dirimu. Aku takkan menyentuhmu tanpa izin. Aku akan tetap duduk di sini sampai kau tidur.”
Mendengar janji itu, rasa cemas yang membebani perlahan berkurang — seolah beban berat di pundakku diangkat perlahan. Melangkah pelan menuju kasur, naik ke atasnya dan menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuh — hanya wajahku yang terlihat. Mataku tak henti mengawasi setiap gerakannya dari jauh. Namun rasa gelisah masih tersisa sedikit. Bagaimana jika aku tertidur lelap tanpa sadar, lalu ia berubah dan melanggar janjinya?
Seolah bisa membaca pikiranku, Adrian berbicara lagi — tegas namun lembut, seolah menegaskan bahwa ia serius: “Tutup matamu dan tidurlah sekarang. Atau kau benar-benar mau aku pergi?”
Aku segera mengangguk pelan. “Baiklah… aku mengerti,” jawabku pelan dan lemah. Lalu berusaha sekuat tenaga memejamkan mata, memaksa diriku untuk percaya pada janjinya. Perlahan ketegangan di tubuhku berkurang — seiring kehadirannya yang diam, tenang, dan tak bergerak jauh dari tempatku berbaring.
Saat kesadaranku perlahan hilang ke dalam tidur yang gelisah, Adrian tetap diam di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Matanya tak lepas dari wajahku yang mulai terlihat tenang dalam tidur — melihat sisa air mata di pipi, melihat betapa lelahnya aku, betapa rapuhnya aku. Di lubuk hatinya yang paling dalam, tempat yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, ia bergumam pelan tanpa suara — hanya untuk dirinya sendiri:
Awalnya aku tak peduli nasib gadis ini. Apa pun yang terjadi padanya bukan urusanku. Tapi melihatnya menjerit ketakutan, hampir menangis tadi… entah kenapa ia terlihat persis seperti bayangan diriku sendiri saat kecil dulu — sendirian, tak terlindungi, tak ada yang peduli. Kenapa hatiku bergetar hebat? Kenapa muncul keinginan yang begitu kuat untuk melindunginya dari segala bahaya, dari segala rasa sakit?
Ia mengembuskan napas panjang dan berat — napas yang penuh kebingungan yang tak ia pahami sendiri. Bangkit dengan hati-hati agar tak membangunkanku. Menatapku yang tidur tenang, lalu matanya jatuh pada selimut yang sedikit bergeser — memperlihatkan bahuku yang masih tertutup gaun pengantin itu. Ia mengerutkan kening sejenak. Kenapa dia masih memakai gaun itu sejak pagi tanpa berganti pakaian? Para pelayan kurang teliti… Sudahlah. Besok pagi akan siapkan uang dan perintah agar dia membeli keperluan pribadi dan pakaian yang pantas.
Memastikan aku tidur nyenyak dan aman, Adrian mengambil ponselnya dari meja, lalu mengambil kembali dasinya yang tergeletak di lantai. Melangkah keluar dengan langkah yang sangat ringan dan hati-hati — menutup pintu perlahan dan rapat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas — meninggalkan zara dalam tidur yang damai.