NovelToon NovelToon
Saat Aku Tak Lagi Menjadi Istri Gendutmu

Saat Aku Tak Lagi Menjadi Istri Gendutmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.

Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.

Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab⁸

Suasana ruang keluarga masih dipenuhi keheningan. Tangis Laura dan Lionel memang mulai mereda, tetapi isak kecil mereka masih terdengar jelas.

Erwin mengusap pelan kepala kedua anaknya. "Naik ke kamar dulu, Papa akan menyusul."

"Aku takut..." Laura menggeleng kuat.

Lionel kembali memeluk kaki ayahnya. "Adek juga takut sama Tante Davina."

Ucapan polos anak itu membuat wajah Davina semakin buruk. "Mas, mereka sengaja—"

"Cukup!" Satu kata dari Erwin langsung memotong penjelasan Davina. Pria itu mengangkat pandangan, sorot matanya yang dingin membuat Davina spontan menelan ludah. "Anak-anak sedang ketakutan, jangan bicara dulu."

Davina menggigit bibirnya pelan, Erwin kemudian menatap salah seorang pelayan.

"Bik Ela..."

Seorang wanita paruh baya segera maju. "Ya, Tuan."

"Tolong bawa Laura dan Lionel ke kamar. Kompres pipi Laura dengan air dingin, lalu beri mereka makan. Kalau mereka tidak mau makan banyak, jangan dipaksa. Sedikit demi sedikit saja."

"Baik, Tuan."

Laura memandang ayahnya dengan mata sembab. "Papa... nanti datang?"

"Iya."

Setelah kedua anak itu dibawa naik oleh Bik Ela, ruang keluarga kembali sunyi. Kini hanya tersisa Erwin, Davina, dan beberapa pelayan yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.

Erwin membuka kancing jasnya perlahan, wajahnya tampak dingin. "Davina, aku hanya minta satu hal saja sebelum berangkat ke kantor pagi tadi. Aku hanya minta kamu menjaga mereka sampai aku pulang."

"Mas, aku sudah berusaha."

Erwin menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang. "Berusaha? Kalau itu yang kau sebut berusaha, kenapa anakku berakhir dengan bekas tamparan di wajahnya?"

"Aku... benar-benar khilaf" Davina kehilangan kata-kata.

Erwin memijat pangkal hidungnya. "Kalau kau tidak sanggup mengurus anak-anak, bilang dari awal padaku. Tapi jangan melampiaskan emosimu kepada mereka! Tidak ada alasan yang membenarkan seorang dewasa memukul anak kecil."

Ucapan pria itu membuat Davina mulai merasa terpojok. "Tapi mereka juga salah! Mereka merusak rambutku! Lihat ini!"

Davina menunjuk potongan rambutnya yang tidak rata.

"Gaunku juga rusak! Harga gaun ini ratusan juta!"

Erwin melirik sekilas, lalu kembali menatap wajah Davina. "Kalau begitu, beli lagi."

"Mas?" Davina membelalak.

"Uang bisa membeli gaun baru, tapi masa kecil anakku tidak bisa diulang lagi."

Davina benar-benar tidak menyangka Erwin akan mengatakan kalimat seperti itu padanya, selama ini pria itu selalu memenuhi semua keinginannya. Hari ini, semuanya terasa berbeda.

"Aku hanya kehilangan kesabaran beberapa detik, Mas."

Erwin mengangguk pelan. "Dan beberapa detik itu cukup untuk membuat mereka takut kepadamu."

Tak ada lagi yang bisa dibantah Davina, Ia hanya mengepalkan tangan di balik tubuhnya. Dalam hati, rasa kesal kepada Laura dan Lionel justru semakin membesar.

Semua ini gara-gara dua bocah itu!

Namun, apa boleh buat. Davina terlalu mencintai kemewahan yang bisa diberikan Erwin. Ketampanan pria itu memang menjadi daya tarik, tetapi harta dan statusnya jauh lebih sulit ia lepaskan.

Setelah menarik napas pelan, Davina kembali memasang senyum manis. Ia bergeser mendekat, lalu bergelayut manja di lengan Erwin. "Aku salah... maaf ya, Mas. Aku janji, mulai sekarang aku akan menyayangi kedua anakmu seperti aku menyayangimu."

Erwin hanya mengembuskan napas panjang, Ia tidak langsung menanggapi permintaan maaf itu. Seburuk apa pun dirinya karena telah mengkhianati Naura, ada satu hal yang tidak pernah ia lakukan. Ia tidak pernah tega menyakiti kedua anaknya sendiri.

Sementara itu, di lantai atas.

Bik Ela selesai mengompres pipi Laura yang mulai sedikit membengkak.

"Sudah agak enakan, Non?"

Laura mengangguk pelan. Lionel duduk di samping kakaknya sambil memegang boneka dinosaurus kesayangannya.

"Kak..."

"Hm?"

"Kalau Mama pulang, jangan kasih tahu ya kalau kita nakal terus kakak dipukul Tante."

"Kenapa?"

"Nanti Mama sedih."

Kedua anak itu bahkan lebih memikirkan perasaan ibunya dibanding rasa sakit yang mereka alami sendiri.

Laura mengusap kepala adiknya. "Kamu benar, Dek. Kita jangan bikin Mama sedih, kita harus cepat ketemu Mama.“

"Adek kangen Mama, adek juga mau tidur dipeluk Mama."

Mendengar percakapan kedua anak itu, Bik Ela diam-diam mengusap sudut matanya. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah keluarga Gentala, ia tahu persis siapa yang benar-benar membesarkan kedua anak itu.

Erwin memang ayah yang baik, Ia bekerja keras demi keluarga. Namun hampir semua waktu, perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan diberikan oleh Naura. Tak heran jika kepergian wanita itu meninggalkan lubang besar di rumah ini.

Malam itu...

Setelah memastikan kedua anaknya tertidur, Erwin akhirnya masuk ke kamar utama. Begitu pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Ruangan itu terasa asing baginya. Masih tersisa samar aroma parfum dan pelembut pakaian yang biasa digunakan Naura, seolah menjadi jejak terakhir kehadiran wanita itu. Namun, pemilik aroma tersebut sudah tidak lagi berada di sana.

Tidak ada segelas susu hangat di atas nakas dan tak ada suara lembut yang menyambut kepulangannya. Tidak ada pakaian kerja yang telah disiapkan rapi untuk esok hari.

Erwin berjalan pelan menuju lemari. Saat pintunya dibuka, sisi yang dulu dipenuhi pakaian Naura kini telah kosong. Hanya beberapa hanger yang bergantung tanpa isi, bergoyang pelan ketika tersentuh tangannya.

Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Ia lalu menjatuhkan diri di tepi ranjang, pandangannya menyapu setiap sudut kamar yang kini terasa begitu lengang.

Tanpa sadar, ingatannya kembali pada rutinitas yang selama ini selalu dianggap biasa. Naura selalu bangun sebelum fajar, menyiapkan sarapan, merapikan pakaian kerjanya, membangunkan anak-anak dan semuanya diurus. Malam harinya, wanita itu masih menunggu kepulangannya meski sering kali harus larut.

Semua dilakukan dengan tulus, tanpa pernah menuntut balasan.

Erwin mengusap wajahnya pelan. "Selama ini... apa aku memang menganggap semua pengorbanannya sebagai kewajiban?"

Hanya suara embusan pendingin ruangan yang terdengar samar, di saat itulah ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sekretaris divisi hukum muncul di layar.

>Pak Erwin, besok pagi tim pengacara ingin membahas strategi sidang hak asuh anak.

Erwin membaca pesan itu berulang kali. Biasanya, ia akan langsung memberikan instruksi. Namun kali ini, bayangan Laura yang menahan sakit setelah ditampar dan Lionel yang menangis ketakutan kembali memenuhi pikirannya. Kini, tiba-tiba saja keyakinannya untuk memenangkan hak asuh anak mulai terusik.

1
Ratih Tupperware Denpasar
kak thor kok ga ada lanjutan cerita ini?
Ratih Tupperware Denpasar: ya ditungguin semangat ya kak
total 3 replies
Fey mldn
Naura..........👍👍👍👍👍
Fey mldn
awal ceritanya sungguh menyakitkan dan bikin emosi tapi suka sama karakternya Naura tangguh dan nggak gampang ditindas
aleena
syukurin kamu kalah
🤭🤭
The Way
smga sehat slalu ka
Muft Smoker
ooow berarti bukan salah sakti yg tdk ngurus Tania ,,
krn ibu ny Tania sendiri yg gx kasih tau klo dy lgi hamil ank ny sakti ,,
Nata Abas
cepat sembuh kak... semangat💪💪💪
Rere💚: Nuhun kk🙏😊
total 1 replies
tenny
cepet sehat lagi ya Thor 😍
Rere💚: Iya, makasih kak🙏😊
total 1 replies
Muft Smoker
cepat sehat lgi kak ,,
dulu juga aq pernah ngalamin sama Kya kk ,,
sampe gx bisa dduk terlalu lama ,,
Muft Smoker: betul kak ,,
rasanya tdk bisa di ungkapkn dg kata2 ,,
total 2 replies
Rohmi Yatun
semoga cepet sembuh thor🙏
Rere💚: Nuhun kak 🤧🙏
total 1 replies
Fia Ayu
Si tania ini masih ada hubungan darah kah dengan kel naura, maksudnya, saudara jaaaaauuuuh gitu, mungkin karena hidupnya susah, mereka berasa tidak adil, kenapa naura hidupnya sempurna dia melarat,makanya dia berambisi banget,
Itu menurutku ya🤭🙏🏻
Fia Ayu
Nie kuyang kaga sadar diri banget😏
Muft Smoker
lanjuut kak ,, .
Muft Smoker: eheeeeeeee ,, 🫰🫰🫰🫰🫰😂😂😂😂😂
total 2 replies
Nie
semoga rencana mereka gagal,jgn sampe Naura menderita dan terpisah lagi dari anak²nya ya kak Re...
Muft Smoker
pasti kluargaa Tania
Muft Smoker
aduuh kak si tania buang aj bisa gx 😂😂😂😂
Muft Smoker: yx kak 😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
terlambaat ,, terlambaat pake banget ,,
Muft Smoker
baru skraaang ooh km rasakan ,, tak punya istrii yg ad makhluk halus ,,
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Rhyzca Ayu
Lanjuuuttt~~semangaat thoor☕☕☕🍩🍩🍩
Fia Ayu
Senyumin aja dulu lah😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!