NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Lembayung senja mulai menyapu hamparan pucuk teh di perbukitan Jawa Barat, menyisakan semburat jingga yang menenangkan di sela-sela kabut tipis. Bianca—atau yang kini lebih nyaman disapa sebagai Gita—menghela napas panjang sembari melepas celemek kerjanya. Tubuhnya terasa lelah, namun ada kepuasan yang tidak bisa ia beli dengan uang di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa tidur malamnya tidak lagi dikejar rasa bersalah.

Ia merapikan rambutnya yang sedari pagi diikat kuda, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang tampak pucat namun tetap memancarkan keanggunan alami. Dengan tote bag kain di bahu, ia melangkah keluar melalui pintu belakang vila. Ia sengaja tidak tinggal di paviliun pekerja karena ia butuh jarak. Ia butuh sebuah tempat di mana ia benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri tanpa pengawasan siapa pun.

Di sudut lain area perkebunan, sebuah mobil jip terbuka melaju pelan di jalanan berbatu. Arlan Dirgantara, dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, baru saja kembali dari peninjauan pabrik pengolahan teh bersama Pak Arep, asisten kepercayaan ayahnya.

Langkah kaki Arlan mendadak terhenti saat matanya menangkap siluet seorang wanita yang berjalan menjauh di jalan setapak menuju perkampungan warga. Meski hanya mengenakan blus katun sederhana dan celana kain, cara wanita itu berjalan—tegak, tenang, dan berirama—membuat Arlan terpaku. Ada aura yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.

"Itu Neng Gita, Den," ujar Pak Arep tiba-tiba, menyadari arah pandang majikan mudanya.

Arlan tidak mengalihkan matanya. "Dia... pekerja baru di sini?"

"Iya, baru dua mingguan. Meskipun dia baru keluar dari penjara, tapi orangnya sangat sopan, kerjanya gesit. Bapak sama Ibu langsung jatuh hati," tambah Pak Arep dengan nada memuji.

Kata-kata itu bagai petir di siang bolong bagi Arlan. Ia menoleh cepat ke arah Pak Arep dengan kening berkerut tajam.

"Penjara? Maksud Pak Asep, dia mantan narapidana?"

Pak Arep mengangguk santai, tidak menyadari keterkejutan Arlan. "Katanya begitu, Den. Tapi Neng Gita tidak kelihatan seperti orang jahat. Malah dia sangat pintar, bicaranya halus sekali."

Arlan terdiam. Ia menatap kembali punggung Gita yang kini mulai tertutup rimbunnya pohon teh. Seorang mantan narapidana dengan gerak-gerik seperti putri keraton? Ketertarikan yang tadinya hanya sekadar rasa penasaran, kini berubah menjadi teka-teki yang mengusik egonya sebagai seorang pengusaha yang terbiasa membaca karakter orang.

Langkah kaki Arlan bergema di lantai marmer villa saat ia masuk melalui pintu utama. Suasana rumah yang hangat langsung menyambutnya, namun belum sempat ia melepas sepatu, suara lantang ibunya sudah terdengar dari arah ruang tengah.

"Arlan! Kamu ini benar-benar keterlaluan ya!" Bu Anika muncul dengan tangan di pinggang, wajahnya menunjukkan pura-pura marah yang khas. "Baru sampai tadi siang, bukannya istirahat atau menyapa Ibu sama Bapak, malah langsung hilang ke kebun. Memangnya teh-teh itu lebih kangen kamu daripada Ibu?"

Arlan terkekeh kecil. Ia melangkah mendekat dan mencium tangan ibunya, lalu mengecup kening wanita itu dengan sayang.

"Ibu ini kalau sedang marah malah makin mirip anak gadis. Manja sekali."

"Jangan salah, Ibu memang masih gadis di hati," sahut Bu Anika, meski akhirnya tawanya pecah juga. Ia merangkul lengan putra sulungnya itu, membimbingnya menuju sofa empuk di ruang santai. "Tapi serius, Lan. Kamu jangan terlalu memforsir diri. Kamu ke sini untuk menenangkan pikiran, bukan untuk memindahkan kantor Jakarta ke desa."

“Iya, ibuku sayang.”

Mereka duduk bersantai, sementara pelayan lain membawakan teh melati hangat. Arlan menyesap tehnya, namun pikirannya masih tertinggal pada sosok wanita di jalan setapak tadi.

"Bu," Arlan memulai dengan nada santai, mencoba menutupi rasa ingin tahunya. "Tadi aku dengar dari Pak Arep tentang pelayan baru namanya Gita. Ibu benar-benar tahu siapa dia? Pak Arep bilang dia... punya masa lalu di penjara."

Bu Anika menghela napas, wajahnya berubah lembut dan penuh empati. "Ibu tahu semuanya, Lan. Gita sendiri yang jujur sejak hari pertama. Dia menyerahkan semua dokumennya, menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ibu menerimanya karena Ibu melihat ada penyesalan yang tulus di matanya."

Bu Anika menatap putranya dalam-dalam. "Kita tidak berhak menghakimi masa lalu seseorang yang sudah menebus kesalahannya, kan? Dia hanya wanita yang ingin memulai hidup baru."

Arlan mengangguk pelan, meresapi ucapan ibunya. "Kenapa dia tidak tinggal di sini saja? Bukannya di paviliun belakang masih banyak kamar kosong? Rasanya berbahaya membiarkan seorang wanita berjalan sendirian melewati kebun teh saat senja hanya untuk pulang ke kontrakan."

"Ibu sudah menawarkan itu, tapi dia menolak. Katanya dia sudah terlanjur membayar kontrakan untuk tiga bulan ke depan. Dia tipe orang yang tidak enak hati kalau harus membatalkan janji, bahkan pada pemilik kontrakan kecil sekalipun," jelas Bu Anika.

Arlan meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tegas. Ada kilat protektif yang tiba-tiba muncul di matanya—sifat posesif yang selama ini terpendam di balik sikap dinginnya.

"Itu tidak efisien, Bu. Kalau dia sakit karena kehujanan di jalan atau terjadi sesuatu padanya, kita yang rugi kehilangan pekerja berbakat. Besok aku sendiri yang akan bicara dengannya agar dia pindah ke sini."

Bu Anika mengangkat alis, sedikit terkejut dengan nada bicara putranya yang tiba-tiba sangat bertekad. Namun, ia hanya tersenyum simpul.

"Terserah kamu saja, Lan. Tapi ingat, Gita itu berbeda. Dia bukan tipe wanita yang bisa kamu perintah begitu saja."

“Aku tau, Bu.” Sorot mata itu menerawang jauh, membayangkan sosok sang pelayan baru di rumahnya.

**

Malam itu, di kontrakan kayunya yang sederhana, Bianca duduk di dekat jendela. Ia sedang membaca sebuah buku filsafat tua yang ia pinjam dari perpustakaan villa atas izin Pak Reza. Cahaya lampu teplok berpendar, menciptakan bayangan di dinding.

Ia teringat tatapan pria tadi sore—Arlan. Bianca bukan wanita bodoh; ia tahu pria itu memperhatikannya. Selama sepuluh tahun di penjara, ia belajar membaca gerak-gerik manusia hanya dari cara mereka memandang. Arlan memiliki tatapan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik, tapi ada juga gurat luka yang sama dengan yang ia miliki.

Bianca menutup bukunya. Ia mengusap lengannya yang terasa dingin. "Aku ke sini untuk ketenangan, Bianca. Jangan biarkan siapa pun mengusik dinding yang sudah kamu bangun," bisiknya pada diri sendiri.

Namun, di bawah langit desa yang sunyi, ia tidak tahu bahwa Arlan Dirgantara sudah merancang rencana untuk menariknya masuk lebih dalam ke dalam lingkup hidupnya. Dan kali ini, tidak ada jeruji besi yang bisa melindunginya dari perhatian pria itu.

***

1
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!