Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem Arcelia Meningkat
Malam semakin larut.
Setelah percakapan menegangkan di ruang tamu utama, semua orang akhirnya kembali ke kamar masing-masing dengan pikiran kacau.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa tenang malam itu terutama Arcelia Vareinne.
Begitu pintu kamarnya tertutup, tubuhnya langsung terasa lebih berat dibanding sebelumnya.
Lilian panik melihat wajah Arcelia yang semakin pucat. “Nona!” katanya sambil mendekati Arcelia.
“Aku tidak apa-apa…” kata Arcelia sambil mengibaskan tangannya memberi isyarat kepada Lilian untuk mundur dan tidak terlalu khawatir.
Tapi suuaranya terdengar semakin lemah sekarang karena efek racun yang tertahan selama bertahun-tahun mulai terasa jelas setelah emosinya terkuras sepanjang malam.
Namun Lilian bukannya mundur malah buru-buru membantu Arcelia duduk di tepi tempat tidur. “Saya akan segera memanggil tabib!” kata Lilian tegas.
“Tidak perlu.” kata Arcelia sambil memegang tangan Lilian.
“Tapi—” kata Lilian.
Tiba-tiba cahaya biru lembut muncul di udara yang mengejutkan Lilian dan Arcelia.
“A-Apa itu?!” kata Lilian, tubuhnya gemetar karena ketakutan.
Partikel cahaya berputar perlahan di depan Arcelia semakin lama cahaya semakin terang.
Lalu suara sistem terdengar lebih jelas dibanding biasanya.
[Misi selesai.]
[Misi: Temukan bukti racun.]
[Status: Berhasil.]
[Menghitung hadiah…]
Layar biru transparan yang muncul didepan mata Arcelia menunjukkan tanda loading dan
[10%... 30%...70%....100%]
[Penghitung hadian telah selesai]
Tiba-tiba ruangan dipenuhi cahaya putih kebiruan.
Angin lembut berputar di sekitar Arcelia hingga rambut panjangnya sedikit terangkat.
Mata merah anggurnya menyipit karena silau. Dan detik berikutnya sesuatu kecil melompat keluar dari kumpulan cahaya itu.
“Kyuu!” kata hewan yang keluar dari gumpalan cahaya itu.
"ahh.. Apa itu" Lilian menjerit pelan.
Makhluk kecil berbulu putih mendarat di atas tempat tidur dengan ringan.
Tubuhnya menyerupai rubah kecil, tetapi jauh lebih indah dibanding hewan biasa.
Bulunya putih lembut dengan gradasi merah muda samar di ujung ekor dan telinganya. Mata birunya bersinar terang seperti kristal.
Makhluk itu mengibaskan ekornya yang halus sebelum mendekat pada Arcelia.
“Kyuu!” katanya.
Arcelia terkejut dan hanya diam saja. “…Apa ini?” kata Arcelia tubuhnya sedikit gemetar karena takut.
Bagaimana tidak takut, karena dia baru pertama kali mengalami hal ini bahkan tubuh asli Arcelia belum pernah melihat fenomena ini.
Tiba-tiba layar biru transparan kemvali muncul,
[Sistem berhasil berevolusi.]
[Mode pendamping aktif.]
[Pendamping sistem telah terwujud.]
Rubah kecil itu langsung melompat ke pangkuan Arcelia dan menggesekkan kepalanya manja ditubuh Arcelia.
Lilian terlihat seperti hampir pingsan. “N-Nona… makhluk apa itu?!” tanya Lilian dengan tubuh gemetar.
“Aku juga baru melihatnya.” kata Arcelia.
"Bentuknya seperti seekor rubah dari duniaku, tapi warnanya berbeda dari biasanya." batin Arcelia sambil menatap rubah itu.
Rubah kecil tersebut menatap Arcelia dengan mata berbinar. Lalu suara imut terdengar di dalam kepala Arcelia.
“Senang bertemu denganmu, Tuan Rumah!” kata rubah itu
Arcelia langsung terdiam. “Kau bisa bicara?” kata Arcelia dia berbicara dengan bahasa manusia.
“Tentu saja! Sistem sekarang sudah naik tingkat karena anda berhasil menyelesaikan misi." kata Rubah itu.
Makhluk itu berputar bangga di atas tempat tidur. “Mulai sekarang aku bisa membantu lebih banyak!” katanya.
Lilian jelas tidak bisa mendengar suara sistem. Karena Lilian itu hanya melihat Arcelia yang sedang menatap rubah kecil dengan ekspresi aneh.
“Nona…” kata Lilian pelan.
“Dia sedang bicara di kepalaku.” kata Arcelia yang mengetahui kebingungan Lilian.
"tapi saya takut nona." kata Lilian sambil memegang lengan Arcelia dengan gemetar.
"hahaha.. Tenanglah jangan takut. ini hanya hewan kecil yang lucu." kata Arcelia menenangkan Lilian.
Rubah tersebut tiba-tiba berdiri tegak.
[Hadiah tambahan diberikan.]
[Skill baru diperoleh.]
[Analisis Tingkat Menengah.]
[Deteksi Emosi Lv.2.]
[Ketahanan Racun Lv.2.]
Cahaya biru kembali muncul sesaat sebelum perlahan menghilang masuk kedalam tubuh Arcelia.
Hanya Arcelia yang melihat cahaya itu, kemudian tubuh Arcelia terasa sedikit lebih ringan.
Meskipun tidak pulih sepenuhnya namun terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
Rubah kecil itu tampak puas.
“Sekarang racun biasa tidak akan mudah memengaruhimu lagi!” katanya.
“Bagus.” kata Arcelia sambil mengangkat tangan kanannya, dan tangan kirinya menepuk-nepuk lengannya.
“Dan aku juga bisa membantu mendeteksi jika ada bahaya!” katanya.
Makhluk itu mengangkat kepala dengan bangga.
Arcelia memperhatikannya beberapa detik. “Kamu punya nama?” tanya Arcelia.
Rubah kecil langsung diam. Lalu ekornya bergerak pelan. “…Belum ada.” kata rubah kecil itu.
“Kalau begitu aku akan memberimu nama.” kata Arcelia, jari-jarinya menyentuh dagu sambil memikirkan sebuah nama yang bagus.
Mata birunya milik rubah itu langsung berbinar. “Benarkah?!” katanya dengan penuh semangat.
Arcelia berhenti berfikir karena sudah menemukan sebuah nama yang sangat cocok untuknya.
"ah aku tau." kata Arcelia sambil memetik jarinya.
"karena Bulunya putih lembut seperti salju, tetapi ujung ekornya memiliki warna merah muda samar yang indah jadi aku beri nama Auriel.” kata Arcelia sambil tersenyum senang.
Rubah kecil itu langsung terkejut dan berfikir. “A-Auriel…” Ekor mungilnya bergerak cepat penuh semangat.
“Aku suka! Baiklah mulai sekarang namaku Auriel." kata Rubah itu.
Makhluk kecil itu langsung melompat mengitari Arcelia dengan gembira.
Lilian yang melihat semuanya tampak semakin bingung.
“Nona… kenapa tiba-tiba dia berputar-putar?” tanya Lilian.
“Karena sekarang dia sedang senang.” kata Arcelia sambil tersenyum dan menatap rubah itu.
“Apa diia benar-benar mengerti manusia?” tanya Lilian penasaran.
“Kurasa begitu. Karena kami berbicara lewat pikiran” kata Arcelia menjelaskan pada Lilian.
Auriel berhenti di atas bantal lalu duduk anggun. Kini matanya terlihat jauh lebih serius.
“Tuan Rumah.” panggil Auriel tiba-tiba.
“Ada apa?” kata Arcelia sambil mengerutkan dahinya.
“Ada sesuatu yang harus kau ketahui.” kata Auriel.
Nada suaranya berubah berbeda tidak lagi ceria seperti tadi dia berubah kemode serius.
Arcelia langsung menyadarinya. “Apa? Pasti ada masalah besar." tanya Arcelia yang juga berubah sereius.
Auriel mengibaskan ekornya perlahan. “Orang yang meracunimu bukan hanya Elena.” kata Auriel.
Mata Arcelia langsung menyipit “Aku memang sudah menduganya.” kata Arcelia.
“Dibelakang Elena ada seseorang yang lebih berbahaya. Elena dijadikan bidik pion oleh orang itu.” kata Auriel menjelaskan.
Lilian yang tidak mendengar percakapan itu tampak bingung melihat ekspresi Arcelia yang berubah serius namun juga tidak berani bertanya.
“Seseorang itu siapa?" tanya Arcelia.
Auriel terdiam sesaat. “Festival Kekaisaran nanti bukan hanya sekadar pesta. Itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.” kata Auriel serius.
Tatapan Arcelia berubah tajam perlahan. "jadi benar, ada sesuatu yang akan terjadi di festival itu. Dan kemungkinan besar dirinya adalah target utama mereka." batin Arcelia.