NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sayap Baru Sang Kupu-Kupu

Satu bulan kemudian, badai yang sempat mengguncang Dirgantara Group telah sepenuhnya berlalu, meninggalkan langit yang bersih dan cerah. Sidang perdana kasus Bram dan Arsen menjadi konsumsi publik yang membuktikan bahwa hukum tidak lagi bisa dibeli oleh uang mereka. Dengan bukti-bukti digital yang tak terbantahkan serta kesaksian Rendra, ayah dan anak itu dipastikan akan menghabiskan sisa hidup mereka di balik jeruji besi. Saham perusahaan yang sempat merosot justru melonjak tajam melebihi angka semula, didorong oleh kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Adrian yang bersih dan tegas.

​Malam ini, langit Jakarta bertabur bintang, seolah ikut merayakan pesta resepsi pernikahan akbar Adrian Dirgantara dan Renata yang digelar di Grand Ballroom hotel bintang lima milik keluarga.

​Suasana begitu megah. Ribuan lampu kristal memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Para tamu undangan dari kalangan pejabat, pengusaha internasional, hingga rekan-rekan media berkumpul dengan gaun dan tuksedo terbaik mereka. Namun, perhatian semua orang malam itu hanya tertuju pada satu pelaminan yang dihiasi ribuan bunga mawar putih dan dekorasi sayap kupu-kupu kaca yang estetik.

​Di dalam ruang rias pengantin, Renata berdiri di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk. Malam ini, ia mengenakan gaun pengantin ballgown putih porselen yang dirancang khusus oleh desainer kelas dunia. Bagian belakang gaun itu dihiasi dengan sulaman benang perak halus yang membentuk siluet sayap kupu-kupu yang anggun dan samar. Rambutnya disanggul modern dengan tiara berlian kecil yang berkilau di atas kepalanya.

​Tidak ada lagi kacamata tebal yang menyembunyikan kecerdasannya. Tidak ada lagi topeng renda hitam yang menyembunyikan luka hatinya. Malam ini, ia adalah dirinya yang sepenuhnya Renata, wanita yang telah berhasil melewati badai dendam dan kini siap menyambut lembaran baru.

​Tok, tok.

​Pintu terbuka dan Adrian melangkah masuk. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan setelan tuksedo hitam jahit khusus, lengkap dengan dasi kupu-kupu dan sapu tangan putih di saku jasnya. Langkah kakinya yang tegap terhenti saat matanya menangkap sosok Renata. Untuk kesekian kalinya, sang CEO dingin itu dibuat kehilangan kata-kata oleh pesona istrinya.

​Adrian berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulinnya yang akrab menenangkan saraf Renata yang sempat tegang. Ia mengulurkan tangannya, ibu jarinya mengusap lembut pipi Renata yang merona alami.

​"Kamu cantik sekali, Nyonya Dirgantara," bisik Adrian, suaranya rendah dan sarat akan kekaguman yang mendalam.

​Renata tersenyum, sebuah senyuman tulus yang kini tidak lagi memiliki beban rahasia di dalamnya. "Terima kasih, Tuan Adrian. Anda juga terlihat... tidak buruk malam ini."

​Adrian terkekeh pelan, sebuah suara tawa renyah yang kini lebih sering terdengar sejak Renata masuk ke dalam hidupnya. Ia meraih tangan kanan Renata, menatap jari manis gadis itu di mana cincin berlian emerald kontrak mereka kini telah digantikan oleh cincin pernikahan abadi yang sejati.

​"Apakah kamu siap keluar ke sana? Seluruh dunia sedang menunggu untuk melihat ratuku," tanya Adrian, menawarkan lengannya dengan jantan.

​Renata menatap lengan tegap itu, lalu beralih menatap mata elang Adrian yang kini memancarkan kehangatan mutlak hanya untuk dirinya. "Bersamamu... aku selalu siap, Adrian."

​Pintu ballroom raksasa itu terbuka lebar. Suara riuh terompet fajar dan musik orkestra klasik mengalun megah menyambut langkah kaki Adrian dan Renata yang berjalan beriringan di atas karpet merah. Ribuan lampu flash kamera wartawan saling menyambar, namun kali ini tidak ada satu pun dari mereka yang berniat bersembunyi.

​Mereka berjalan melewati deretan tamu yang bertepuk tangan memberikan penghormatan. Di barisan depan, Tuan Besar Albert Dirgantara berdiri dengan tongkat peraknya, menyambut mereka dengan senyuman bangga seorang kakek yang tahu masa depan kekaisaran bisnisnya berada di tangan yang tepat. Di sudut lain, Mami Sandra dan Baskara juga berdiri, menatap Renata dengan mata yang berkaca-kaca penuh kebahagiaan.

​Saat mereka tiba di tengah lantai dansa, lampu utama meredup, menyisakan satu sorotan cahaya hangat (spotlight) yang mengunci tubuh mereka berdua. Musik berganti menjadi alunan waltz yang lambat dan romantis.

​Adrian melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Renata, menarik tubuh gadis itu merapat ke dadanya yang bidang, sementara tangan kanannya menggenggam jemari mungil Renata dengan erat. Renata menyandarkan tangan kirinya di bahu tegap Adrian, mengikuti ritme langkah kaki sang suami dengan keanggunan yang sempurna.

​Mereka berdansa, berputar perlahan di bawah tatapan kagum ribuan pasang mata. Di dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan, intrik, dan perebutan kekuasaan ini, mereka berhasil menemukan satu kebenaran yang murni—cinta yang tumbuh dari reruntuhan badai.

​"Terima kasih, Renata," bisik Adrian di sela-sela gerakan dansa mereka, menunduk untuk menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih istrinya. "Terima kasih karena telah menjadi kupu-kupu yang berani masuk ke dalam hidupku yang dingin."

​Renata mendongak, menyandarkan keningnya di dada Adrian sekilas sebelum membalas tatapan hangat itu. "Terima kasih juga, Adrian... karena telah menjadi langit tempat kupu-kupu ini akhirnya bisa mengepakkan sayapnya dengan bebas tanpa takut terjatuh lagi."

​Di bawah temaram lampu lantai dansa, Adrian mendekatkan wajahnya perlahan, lalu mengecup bibir Renata dengan kelembutan yang dalam dan penuh janji suci di depan seluruh dunia. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah bergemuruh memenuhi ruangan, mengiringi akhir dari sebuah kisah sandiwara dua identitas, dan menandai awal dari sebuah keabadian yang nyata.

​Sang Kupu-Kupu malam kini telah bertransformasi sepenuhnya, bukan lagi untuk menjebak dalam kegelapan, melainkan untuk terbang tinggi menyongsong cahaya masa depan bersama sang CEO penakluk hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!