NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 14: UNEK-UNEK YANG TERUNGKAP

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 14: UNEK-UNEK YANG TERUNGKAP

Pagi itu, suasana pagi terasa damai, diselimuti sinar matahari hangat yang masuk lewat celah jendela. Namun, di dalam rumah itu, ada perasaan yang masih tersisa — rasa sesal dan haru yang bercampur jadi satu. Bunda Maria duduk termenung, meluapkan segala rasa yang selama ini terpendam jauh di dalam dadanya. Perlahan namun pasti, ketenangan mulai kembali menyelimuti hati mereka semua, meski di dada setiap orang masih terasa sesak bercampur rasa penyesalan yang mendalam atas perlakuan mereka dulu.

Setelah selesai sarapan pagi yang terasa begitu berkesan penuh kasih sayang, Ria pun bangkit dari duduknya dengan senyum manis yang mulai terukir di bibirnya. Ia merasa bahagia, tapi di sudut hatinya masih ada rasa was-was, takut semua ini hanya mimpi indah yang sebentar lagi lenyap.

"Bunda, Ria pamit berangkat sekolah dulu ya..." ucapnya lembut sambil mencium tangan Bunda dengan sangat sopan dan penuh rasa hormat. "Ayo Dimas, Bagas..." panggilnya pada kedua adiknya.

Adik bungsunya, Fajar, belum ikut karena usianya baru empat tahun — masih terlalu kecil untuk bersekolah.

"Iya Nak... hati-hati di jalan ya, pelan-pelan saja jalannya biar tidak terlambat," jawab Bunda pelan sambil mengusap kepala putri kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.

Seperti kebiasaan setiap hari, sebelum melangkah keluar, Ria mendekat dan mencium tangan Bunda, tangan yang telah melahirkannya, tangan yang senantiasa memeluk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang tulus tanpa syarat. Setelah itu, ia memeluk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, seolah ingin menyalurkan segala rasa cinta yang ada di hatinya lewat pelukan itu.

Namun, saat Ria hendak melangkah keluar dari pintu rumah, tiba-tiba terdengar suara lantaran memanggilnya dari belakang.

"Eh, tunggu dulu, Dik!" seru Bang Arefin dengan nada tegas namun lembut.

Ria pun berhenti dan menoleh bingung. "Ada apa, Bang? Ria mau berangkat sekolah kok, nanti terlambat lho..."

"Abang ikut mengantar!" jawab Bang Arefin tegas sambil berjalan mendekat.

Bang Hamza dan Bang Ardiansyah pun berseru serentak dari dalam rumah, "Abang juga ikut mengantar!"

Ria terkejut sampai membelalakkan matanya, "Lho... emangnya Abang tidak bekerja hari ini? Bukannya biasanya pagi-pagi begini Abang langsung ke ladang atau ke kebun?" tanyanya bingung tak mengerti.

Bang Hamza tersenyum lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut, "Bisa diatur kerjanya nanti, Dik. Mulai hari ini, prioritas kami adalah kamu. Mengantar dan menjagamu itu kewajiban kami sebagai kakak, yang selama dua tahun ini kami lalaikan begitu saja."

Hati Ria langsung bergetar mendengar itu, air matanya kembali menggenang. "Apakah ini nyata? Apakah mereka benar-benar berubah? Rasanya seperti mimpi indah..." batinnya haru.

Mereka pun berjalan beriringan: Ria di tengah, diapit oleh Bang Hamza dan Bang Arefin, sedangkan Bang Ardiansyah berjalan di belakang menjaga Dimas dan Bagas. Warga desa yang melihat pemandangan itu sampai berhenti dan berbisik-bisik kaget, karena selama ini mereka tahu betapa dinginnya hubungan saudara-saudara itu.

Sesampainya di gerbang sekolah, Ria berhenti dan menatap mereka bergantian. "Bang... sudah sampai kok, nanti dikira orang aneh kalau Abang ikut masuk," katanya malu-malu sambil tersenyum.

Bang Arefin menggeleng lalu mengusap pipi adiknya, "Biarkan mereka melihat, biarkan mereka tahu kalau kamu punya kakak-kakak yang sayang banget sama kamu, yang akan lindungi kamu siang dan malam. Jangan takut lagi ya, kalau ada siapa saja yang berani jahat atau mengejek, bilang sama Abang."

Ria hanya bisa mengangguk pelan, menahan tangis bahagia yang hampir tumpah.

"Belajar yang rajin ya, Dik. Nanti pulang sekolah Abang jemput lagi," pesan Bang Hamza sambil mencium kening adiknya.

Ria pun melangkah masuk ke halaman sekolah dengan perasaan yang jauh berbeda dari biasanya. Dulu ia masuk dengan kepala tertunduk dan rasa takut, tapi hari ini ia masuk dengan dada tegap dan hati yang penuh rasa aman. Ia merasa seolah punya tameng yang kuat, enam ksatria yang rela berkorban demi satu-satunya bunga di keluarga mereka.

Di balik pagar sekolah, ketiga abangnya masih berdiri diam menatap punggung adiknya sampai hilang di balik bangunan. Hati mereka terasa lega, meski rasa bersalah masih menyisakan perih. "Maafkan kami ya Dik, baru sekarang kami berani menampakkan diri sebagai kakak yang baik..." batin mereka bersamaan.

 

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!