NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 PERCIKAN DI LABORATORIUM

​Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai laboratorium kimia kelas 2-C. Aroma khas disinfektan dan campuran zat asam langsung menguar begitu pintu ruangan dibuka. Pagi itu, tepat pada jam pelajaran kedua, anak-anak kelas 2-C sudah berdiri mengelilingi meja porselen putih yang dipenuhi oleh berbagai macam peralatan kaca—gelas beker, tabung reaksi, pipet tetes, dan pembakar spiritus. Hari ini adalah jadwal mereka untuk melakukan percobaan pencampuran cairan kimia.

​Kebetulan sekali, Gretta dipasangkan dalam satu kelompok dengan Gian. Di dalam kelompok itu juga terdapat dua siswa lain, melengkapi formasi empat orang per meja.

​Di depan kelas, Bu Yena, guru kimia yang terkenal dengan ketegasannya, berdiri dengan jas laboratorium putih yang rapi. Ia memegang sebuah gelas ukur dan menatap seluruh murid dengan sorot mata yang tajam.

​"Perhatikan baik-baik ke depan, Ibu tidak akan mengulanginya dua kali!" seru Bu Yena, suaranya memantul di dinding ruangan yang kedap suara. Seluruh murid langsung terdiam dan memusatkan perhatian.

​"Hari ini, kita akan mengamati reaksi oksidasi-reduksi dan perubahan warna. Di meja kalian, sudah tersedia larutan Tembaga(II) Sulfat atau CuSO_4 yang berwarna biru terang, serta larutan Natrium Hidroksida. Jika kalian mencampurkan keduanya dengan takaran yang tepat dan perlahan, larutan akan menghasilkan endapan berwarna biru pucat," jelas Bu Yena sambil mencontohkan prosesnya dengan ekstra hati-hati.

​Ia kemudian meletakkan tabung itu dan menunjuk dua botol kaca berlabel merah di sudut meja guru. "Namun, ada satu hal yang sangat penting. Di ujung meja kalian masing-masing, terdapat botol kecil berisi kristal Kalium Permanganat (KMnO_4) dan sebotol cairan pelarut organik, yaitu Etanol murni. Kedua bahan ini hanya boleh digunakan di tahap akhir percobaan dengan pengawasan Ibu."

​Bu Yena menatap tajam satu per satu muridnya. "Bahan-bahan ini sifatnya sangat reaktif. Jika kalian mencampurkan Kalium Permanganat langsung dengan Etanol tanpa pelarut air yang cukup, akan terjadi reaksi eksotermik yang sangat hebat. Reaksi eksotermik adalah pelepasan energi panas secara tiba-tiba ke lingkungan sekitarnya. Jika takarannya salah, campuran itu bisa mendidih seketika, melepaskan gas beracun, dan yang paling fatal—dapat memicu kobaran api atau bahkan ledakan kecil. Jadi, Ibu minta kalian harus ekstra hati-hati dalam mencampurkannya. Jangan sampai ada kecerobohan yang membuat ruangan ini meledak, paham?!"

​"Paham, Bu!" seru anak-anak serempak.

​"Bagus. Silakan kalian mulai mencoba tahapan pertama yang sudah Ibu ajarkan tadi," ujar Bu Yena, memberikan instruksi untuk memulai.

​Anak-anak pun mulai bergerak. Terdengar bunyi denting kaca yang saling bersentuhan. Semua orang berhati-hati dalam meneteskan bahan kimia ke dalam tabung reaksi. Di meja seberang, kelompok Ruby, Nana, dan Reo tampak bekerja sama dengan sangat baik. Reo memegang pipet, sementara Ruby mengamati takaran air. Dalam hitungan detik, mereka berhasil mencampurkan bahan kimia tersebut. Cairan di dalam gelas beker mereka berubah warna menjadi biru pekat yang indah, disusul dengan keluarnya asap putih tipis yang aman. Mereka bersorak karena berhasil.

​Namun, keberhasilan itu tidak terjadi di meja Gretta.

​Sejak awal masuk ke laboratorium, Gretta merasa kurang fokus. Pikirannya melayang, dan tangannya sedikit gemetar. Ia bertugas mengambil pelarut untuk tahap kedua. Namun, karena terburu-buru dan gugup melihat kelompok lain sudah selesai, Gretta salah mengambil botol. Bukannya mengambil botol air suling, tangannya malah meraih botol Etanol murni. Parahnya lagi, ia langsung menuangkannya ke dalam gelas beker kaca yang masih berisi sisa bubuk Kalium Permanganat pekat.

​BSSS! WUSHHH!

​Sebuah suara mendesis keras terdengar seketika. Reaksi eksotermik yang ditakutkan oleh Bu Yena terjadi dalam hitungan detik. Cairan di dalam gelas beker itu mendidih hebat, berubah warna menjadi ungu gelap kemerahan, dan memuntahkan asap tebal. Sedetik kemudian, percikan api berwarna jingga terang menyembur keluar dari mulut gelas, menyambar beberapa lembar kertas petunjuk praktikum di atas meja.

​"AAAKK!"

​Kepanikan langsung pecah. Ruangan yang tadinya penuh konsentrasi berubah menjadi lautan histeris. Anak-anak menjerit dan berhamburan mundur, menjauhi meja. Asap kimia yang berbau menyengat mulai memenuhi udara, membuat mata perih dan napas terasa sesak.

​Gretta mematung. Matanya membelalak lebar, menatap kobaran api yang menari-nari di depannya. Kepanikannya membuat dia mengingat trauma dimasa lalunya. Tubuhnya kaku, keringat dingin mengucur di pelipisnya, dan napasnya tersengal. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya untuk berlari.

​Melihat bahaya itu, Gian bertindak lebih cepat dari siapa pun.

​"Gree! Awas!" teriak Gian.

​Pemuda itu langsung menarik lengan Gretta dengan kuat, membawanya menyingkir ke sudut ruangan yang lebih aman, menjauh dari jangkauan api. Tubuh Gretta yang masih gemetar karena syok kehilangan keseimbangan, tetapi Gian dengan sigap menangkapnya.

​Di tengah kepanikan ruangan, suara jeritan, dan langkah kaki yang berderap keluar dari pintu, Gian justru menarik Gretta ke dalam pelukannya. Ia menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya, melindunginya dari pemandangan api dan asap yang mengepul.

​Di titik itu, waktu seolah berjalan lambat bagi mereka berdua. Kontras dengan suasana laboratorium yang kacau balau, ada ketenangan yang aneh di sudut ruangan tersebut. Gian tahu betul bahwa Gretta memiliki trauma mendalam terhadap hal-hal seperti ini.

​"Tenanglah... aku di sini. Kamu aman," bisik Gian dengan suara baritonnya yang lembut. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala dan rambut Gretta perlahan, menyalurkan rasa aman di tengah kepanikan. Tidak ada yang memperhatikan momen kecil itu karena pandangan semua orang terhalang oleh tebalnya asap kimia.

​Sementara itu, anak-anak yang lain sudah berlarian keluar dari laboratorium sambil terbatuk-batuk.

​"Ada apa ini?! Menyingkir semua!" seru Bu Yena yang datang menerobos kerumunan.

​Dengan sangat sigap, guru kimia itu menarik tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berwarna merah yang tertempel di dinding. Ia mencabut pin pengaman, mengarahkan corongnya ke sumber api di meja kelompok Gian, dan menyemprotkan bubuk karbondioksida putih. SYUUSSS! Dalam hitungan detik, api berhasil dipadamkan sepenuhnya, menyisakan kekacauan berupa bubuk pemadam, gelas kaca yang pecah, dan noda hitam di atas meja.

​Setelah memastikan situasi benar-benar aman dan sistem ventilasi menyedot sisa asap, Bu Yena melangkah keluar laboratorium dengan wajah merah padam karena marah.

​Di luar koridor, Gian baru saja menuntun Gretta keluar. Mereka langsung disambut oleh tatapan cemas dari teman-temannya.

​"Gree! Kamu tidak apa-apa, kan?!" tanya Ruby panik, langsung memegang kedua bahu sahabatnya itu. Ia tahu Gretta dan Gian adalah orang terakhir yang keluar setelah Bu Yena menerobos masuk.

​Gretta menarik napas panjang, berusaha menetralkan detak jantungnya yang masih memburu. Ia melirik sekilas ke arah Gian sebelum menjawab pelan, "Aku tidak apa-apa, Rub."

​Langkah berat sepatu Bu Yena menghentikan kepanikan murid-murid di koridor dan suasana seketika hening

​"Ulah siapa ini? Kelompok siapa yang ceroboh membuat kekacauan seperti ini?!" bentak Bu Yena dengan suara lantang. Matanya memindai seluruh murid.

​Dengan ketakutan, beberapa anak menunjuk ke arah kelompok Gian. Karena satu kelompok terdiri dari empat orang, tatapan Bu Yena langsung tertuju pada Gian, Gretta, dan dua teman kelompoknya yang kini menunduk pucat.

​Tanpa ragu sedikit pun, Gian melangkah maju satu tindak, memosisikan dirinya sedikit di depan Gretta seolah menjadi tameng.

​"Maaf, Bu. Ini kesalahan saya. Saya terlalu terburu-buru dan tidak sengaja mencampurkan Etanol ke dalam larutan sisa oksidator yang salah," ujar Gian dengan nada tenang, berusaha menanggung semua kesalahan itu sendirian.

​Mata Gretta membelalak. Ia menatap punggung tegap Gian dengan tidak percaya. Gian... apa yang kamu lakukan? Itu kan salahku, batin Gretta. Ia berbisik lirih dari belakang, "Gian, apa yang kamu lakukan? Ini salahku..." Namun, pemuda itu sama sekali tidak menoleh dan tetap berdiri tegap.

​"Kamu?!" Bu Yena mengangkat sebelah alisnya, rahangnya mengeras. "Apakah kamu sama sekali tidak memperhatikan apa yang baru saja Ibu ajarkan di depan kelas?! Kesalahan sepele dalam takaran kimia bisa berakibat fatal, Gian!"

​"Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja," jawab Gian lagi sambil menundukkan kepala dengan sopan.

​Bu Yena membuang napas kasar, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. "Sudah! Kalian semua ganti pakaian praktikum kalian dan kembali masuk ke ruang kelas! Pelajaran kimia hari ini Ibu batalkan!" serunya kepada seluruh siswa kelas 2-C.

​"Dan kamu, Gian," Bu Yena menunjuk pemuda itu. "Sebagai hukuman, kamu bersihkan seluruh kekacauan di meja itu sampai bersih. Jangan tinggalkan laboratorium sebelum semuanya kembali seperti semula."

​"Baik, Bu," sahut Gian patuh. Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah kembali ke dalam ruangan laboratorium yang berantakan.

​Satu per satu, murid-murid mulai kembali ke kelas. Ruby menarik pelan lengan Gretta untuk mengajaknya pergi, tetapi kaki Gretta seolah terpaku di lantai keramik koridor. Rasa bersalah menghantam dadanya dengan kuat. Ia tidak bisa membiarkan Gian menanggung hukuman atas kesalahan bodoh yang ia perbuat.

​"Kamu kenapa masih di sini?" tegur Bu Yena yang menyadari bahwa Gretta masih berdiri mematung di tempatnya. Nada bicara guru itu masih terdengar ketus dan galak.

​Gretta menelan ludah, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia melepaskan pegangan Ruby dan melangkah maju menghampiri guru kimianya.

​"Maaf, Bu..." suara Gretta sedikit bergetar, namun perlahan dia memberanikan diri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sebenarnya, ini bukan murni kesalahan Gian. Saya... saya yang salah mengambil botol dan meneteskannya. Saya juga bersalah dalam kejadian ini, Bu. Jadi, saya juga harus dihukum."

​Bu Yena terdiam sejenak. Ia menyipitkan matanya, mengamati raut penyesalan yang tergambar jelas di wajah Gretta. "Emmm..." Bu Yena mengangkat sebelah alisnya, tampaknya sedikit terkejut dengan kejujuran gadis itu, namun ia tidak menunjukkan pelunakan di wajahnya.

​"Begitu rupanya. Karena kamu sudah berani jujur mengakui kesalahanmu..." Bu Yena melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau begitu, kamu bantu Gian untuk membereskan dan mengepel seluruh ruangan laboratorium itu. Pastikan tidak ada sisa bahan kimia atau pecahan kaca yang tertinggal."

​Bu Yena lalu berbalik dan pamit pergi meninggalkan koridor, diiringi bunyi ketukan sepatunya yang menjauh.

​"Baik, Bu. Terima kasih," ucap Gretta sambil menunduk hormat ke arah punggung guru tersebut.

​Setelah Bu Yena menghilang di balik belokan tangga, Gretta memutar tubuhnya dan menatap pintu laboratorium yang setengah terbuka. Ia menarik napas panjang, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang masih menyisakan bau hangus itu, bersiap menghadapi hukumannya, sekaligus menghadapi Gian yang telah melindunginya.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!