Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34--Drama Murahan Si BG
Raungan mesin Ducati v2 hitam milik Naufal memecah kesunyian malam di sepanjang jalan
Di belakangnya, Siska berpegangan erat pada jaket kulit Naufal, sesekali ia menghirup aroma maskulin dari tubuh Naufal yang entah kenapa terasa begitu menenangkan.
Aura Ketampanan +15 benar-benar bekerja di luar nalar; Siska yang biasanya galak, kini merasa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat hanya karena aroma parfum Naufal.
Sepanjang jalan Siska merasakan jantung dia semakin berdetak kencang sebab ia bisa berdua apalagi dibonceng oleh pria ini. Itu merupakan keberuntungan yang bahkan tidak pernah dibayangkan!
‘Kya! Naufal ternyata wangi banget,’ batin dia seperti wanita yang sedang keasmaran.
Lalu tiba-tiba Naufal melakukan rem dadakan, gara-gara ada pengendara naik motor asal-asal.
“Ah!” efek dari kejadian tersebut jadi seperti berkah bagi lelaki manapun, siska yang panik memeluk Naufal dari belakang, sangat erat.
Dan tepat saat itu merupakan jarak yang sangat intim, naufal dapat merasakan desira tubuhnya mulai memanas pasalnya dua aset milik.
Dua aset berharga milik Siska yang terasa begitu kenyal dan hangat menekan punggung tegap Naufal dengan sempurna. Tekanan itu tidak main-main; saking eratnya pelukan Siska karena panik, Naufal bisa merasakan detak jantung gadis itu yang berpacu liar melalui punggungnya.
Aura panas menjalar dari titik sentuhan itu ke seluruh saraf Naufal. Sebagai pemuda normal berusia 19 tahun, mendapatkan serangan mendadak seperti ini dari gadis secantik Siska jelas membuat konsentrasinya buyar seketika.
"Eh—Apa yang lo lakuin mesum!" Siska berseru panik, wajahnya kini semerah tomat matang. Ia segera menarik tubuhnya ke belakang, namun tangannya masih gemetar mencengkeram jaket Naufal.
Di belakang dia sudah mencibir khas ucapan dia. “lo pasti sengaja kan barusan!”
"Heh! Enak aja!" Naufal mendengus sambil mencoba menetralkan degup jantungnya yang sempat hilang kendali. "Tadi ada emak-emak potong jalan nggak pakai lampu sein, Sis! Lo mau kita masuk selokan bareng?"
"Halah, alasan klasik !" Siska mencibir, suaranya agak bergetar meski ia berusaha keras terdengar galak. Ia membuang muka, menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar sampai ke telinga.
"Lagian punggung lo keras banget kayak papan cuci, sakit tahu!"
Naufal terkekeh pelan di balik helm fullface-nya. Karakter tsundere Siska memang tidak ada obatnya. "Ya udah, makanya pegangan di behel motor aja kalau nggak mau kena 'papan cuci' lagi. Tapi kalau ada rem mendadak lagi terus lo kejengkang, gue nggak tanggung jawab ya?"
"Naufal mesuuuum! Jalan aja cepetan!" Siska memukul pundak Naufal cukup keras, membuat motor Ducati itu sedikit bergoyang
Naufal hanya menyeringai di balik helm *fullface*-nya. Ia sengaja melintasi depan gerai Central Gadget sekali lagi.
Di sana, Bagas tampak sedang menutup pintu toko dengan bahu yang lunglai. Bagas yang melihat Naufal lewat seketika terkejut. 'Buset sejak kapan bocah miskin dari toko sebelah bisa naik motor gituan? Bonceng cewek cakep lagi?’
Lalu bagas teringat kejadian tadi, toko sebelah mendadak jadi ramai, ia juga dengar kabar desas desus kalau sales OMNI di sana lagi naik daun.
'Ini gak bisa dibiarin, gue gak akan kalah awas aja lo bocah!’
Sang legenda itu benar-benar terpukul mentalnya hari ini.
### **Malam Hari - Rumah Siska
Motor berhenti tepat di depan rumah minimalis Siska. Siska melompat turun dari jok belakang dengan gerakan yang hampir terlalu cepat, seolah-olah kursi motor itu baru saja berubah menjadi bara api.
Ia sibuk merapikan kemeja dan rambutnya yang berantakan, sengaja menghindari kontak mata langsung dengan Naufal.
Kejadian pelukan maut barusan belum bisa dia lupakan terlebih ia sangat merasa tidak memaafkan tindakan pemuda itu yang diklaim sebagai hasil dari tindakan disengaja.
"Udah sampai. Sana balik!" ketus Siska sambil membelakangi Naufal. Tangannya masih gemetar kecil saat memegang pagar rumahnya.
Melihat sosok Naufal sekarang sangat buruk bagi kesehatan jantungnya, ia memang bilang begitu tapi sikap sok jual mahal barusan gak sama dengan hatinya. 'Duh, kok aku malah bilang gitu sih … ucapin makasih, Siska malah!’
Naufal membuka kaca helmnya, menatap punggung Siska dengan seringai jahil.
"Galak amat, Sis. Biasanya kalau orang habis diantar selamat sampai tujuan itu bilang apa ya? Minimal makasih gitu? Atau hati-hati gitu?”
Siska tersentak. ‘tuh kan!’ namun emosi dan harga dirinya tinggi, jadi dia berbalik sebentar, wajahnya masih semerah tomat matang.
"Makasih apanya! Lo yang harusnya makasih, jangan sampai itu motor mahal lo masuk parit gara-gara otaknya mesum terus! Lagian... lagian gue belum maafin kejadian rem mendadak tadi ya! Lo harusnya yang makasih karena dapat pelukan dari tuan putri.”
"Iya, iya, Tuan Putri," jawab Naufal santai.
"Dih, siapa yang lo panggil Tuan Putri! Udah sana pergi, berisik tahu nggak motornya! Malu dilihat tetangga!" Siska mengibaskan tangannya mengusir Naufal, lalu buru-buru membuka kunci pagar.
Tepat sebelum masuk, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Besok... awas aja kalau lo telat. Jangan mentang-mentang habis jualan banyak terus jadi malas."
*BRAK!*
Pintu pagar ditutup dengan keras. Naufal hanya tertawa pelan. Ia tahu di balik sikap judes itu, Siska sedang mati-matian menahan detak jantung yang mungkin terdengar sampai ke seberang jalan.
Melihat respon barusan begitu menggemaskan bagi dia sehingga tanpa sadar dia mau menjahilinya
###
Naufal memacu Ducatinya membelah angin malam Yogyakarta yang dingin. Namun, keheningan malam itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara yang hanya bisa ia dengar.
[Ding!]
[Analisis Hubungan Terdeteksi!]
[Target: Siska (Tsundere berbahaya)]
[Status: Sangat Berkesan - Level 'Nyaman' Meningkat!]
[Tingkat ketertarikan terhada host : 69%]
Lalu, sebuah notifikasi merah muncul dengan logo peringatan yang mencolok.
[Misi Terpicu: 'Counter-Attack Sang Legenda']
[Deskripsi: Bagas alias 'BG' sedang merencanakan untuk menjatuhkan reputasi anda besok pagi. Ia tidak terima takhtanya di are diguncang oleh 'Anak Kemarin Sore'.]
[Tujuan: Gagalkan rencana Bagas dan buat dia kehilangan kredibilitasnya di depan para pelanggan setia.]
[Hadiah: Saldo +Rp 50.000.000 & Mobil Ferrari F8 Spider]
Naufal tersentak selain rencana bagas yang dibocorin oleh sistem, hadiah dari menjalankan misi kali ini gak main-main.
Uang 50 juta sudah lumayan, ditambah sebuah sebuah mobil Ferrari F8 Spider yang merupakan salah satu supercar paling ikonik di dunia dengan mesin V8 yang mampu menyemburkan tenaga luar biasa.
Jika Ducati Panigale saja sudah membuat luar biasa hebat, maka berpaduan antara mobil supercar dan motor ginian sanggup membuat mimpi pria manapun terkabulkan.
"Ferrari F8 Spider..." gumam Naufal di balik helmnya. Matanya berkilat penuh ambisi. "Gila hadiah kali ini mantap, modal mempermalukan orang doang.."
besoknya
Pukul 08.30 WIB, Naufal sampai di toko dengan penampilan yang lebih segar. Aura ketampanan itu terlihat sangat mencolok bagi siapapun yang melihat.
Baru saja ia memarkirkan motor, ia melihat pemandangan yang tidak biasa. Di depan toko tempatnya bekerja, sudah berdiri tiga orang pria berbadan besar dengan wajah garang, mereka membawa sebuah kotak ponsel yang tampak rusak.
"Mana sales yang namanya Naufal?! Keluar lo! Gue beli HP di sini kemarin, baru pakai sejam udah mati total! Gue nggak terima!" teriak salah satu pria itu, sengaja dikeraskan agar orang-orang yang mulai ramai di trotoar menoleh.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN