🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persiapan Menuju Pusat Dunia
Debu yang dibawa rombongan Pangeran Hao perlahan menghilang tertiup angin, namun ketegangan dan ancaman yang mereka tinggalkan masih terasa berat menggantung di udara. Xiao Chen berdiri diam di depan gerbang, menatap jalan kosong yang baru saja dilewati pasukan itu, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Aura dingin dan berbahaya kembali menyelimuti dirinya, tapi kali ini bukan lagi aura ketakutan atau keputusasaan, melainkan aura kesiapan bertempur yang tajam dan mematikan.
Shen Yue berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang namun matanya berkilat serius. Ia menyentuh lengan kekasihnya pelan, memecah keheningan yang menegangkan itu.
"Pangeran Hao benar-benar berbeda dari Mu Ran," ucap Shen Yue pelan namun jelas. "Mu Ran bermain dengan kata-kata, intrik, dan ingin terlihat cerdas. Tapi Hao... dia bermain dengan kekerasan, kekuasaan, dan keinginan menguasai mutlak. Dia tidak peduli cara apa yang dipakai, asalkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sekarang... dia menginginkan dua hal: kekuasaan tertinggi... dan kita."
Xiao Chen menoleh, menatap wanita di sampingnya dengan pandangan penuh tekad. Ia mengangguk mantap.
"Kau benar. Hao adalah panglima tertinggi angkatan perang. Pasukan di seluruh negeri sebagian besar berada di bawah perintahnya. Dia kejam, tidak punya belas kasih, dan dia sudah lama mengincar takhta Kaisar. Selama ini dia menahan diri karena belum punya kekuatan pendukung yang cukup. Tapi sekarang... setelah melihat apa yang kau lakukan, apa yang kita miliki... dia berpikir bahwa kita adalah kunci yang dia butuhkan untuk memenangkan segalanya."
Xiao Chen menghela napas panjang, lalu berbalik memberi perintah tegas pada A-Ming yang berdiri siaga di dekatnya.
"A-Ming! Panggil semua pemimpin pasukan kita ke ruang rapat utama dalam satu jam. Kirim utusan rahasia ke semua markas kita di penjuru negeri. Beritahu mereka untuk bersiaga penuh, waspada terhadap setiap gerakan pasukan kerajaan, dan siap bergerak kapan saja atas perintahku. Mulai detik ini, tidak ada yang masuk atau keluar dari kediaman ini tanpa diperiksa tiga kali lipat. Perkuat pertahanan di setiap sudut, terutama di sekitar taman belakang dan kamar Nona Yue."
"Siap, Tuan Muda! Segera saya laksanakan!" jawab A-Ming tegas, lalu berlari pergi dengan langkah cepat.
Setelah A-Ming pergi, Xiao Chen kembali menatap Shen Yue, kali ini pandangannya melembut namun masih menyimpan kekhawatiran mendalam. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu di tangannya yang besar dan hangat.
"Yue, apa pun yang terjadi... apa pun rencana jahat yang mereka siapkan di Gunung Suci... kau harus tahu satu hal. Gunung Suci bukan tempat biasa. Tempat itu adalah puncak tertinggi di negeri ini, terletak di perbatasan utara, jauh di dalam pegunungan yang tertutup kabut tebal sepanjang tahun. Konon, di sanalah letak akar bumi, tempat di mana energi alam paling kuat dan paling liar berkumpul. Dulu, tempat itu dianggap suci dan penuh berkah... tapi belakangan ini, banyak kabar buruk yang datang dari sana. Orang-orang yang pergi ke sana sering tidak kembali, atau kembali dengan jiwa yang rusak dan kosong."
Xiao Chen berhenti sejenak, menatap lekat-lekat mata jernih itu.
"Pangeran Hao bilang Kaisar akan mengumumkan peran baru kita. Aku takut... mereka tidak akan mengumumkan kita sebagai pahlawan atau pejabat. Aku takut mereka berencana mengorbankan kita, atau memaksamu menyerahkan kekuatanmu demi ritual kekuasaan mereka. Di tempat seperti Gunung Suci, di mana energi alam begitu kuat... siapa pun yang menguasai tempat itu bisa melakukan hal-hal di luar nalar."
Shen Yue tersenyum tipis, mengusap pipi pria itu dengan lembut. Ia tidak terlihat takut sedikit pun. Justru, matanya berkilat penuh rasa penasaran dan kesiapan.
"Gunung Suci... pusat energi alam... tempat di mana langit dan bumi bertemu..." gumam Shen Yue pelan, seolah sedang memproses informasi itu jauh di dalam pikirannya. "Xiao Yi, justru di situlah tempat yang paling cocok untuk kita. Kau lupa? Segala kekuatan yang kita miliki, segala kehidupan yang tumbuh di sini... semuanya berasal dari hubungan kita dengan alam. Di sini, di kediaman ini, aku hanya menyentuh sebagian kecil saja. Tapi di Gunung Suci... di pusat kekuatan itu... mungkin di sanalah kita akan benar-benar mengetahui siapa diri kita sebenarnya, dan seberapa besar kekuatan yang kita miliki."
Ia menatap lurus ke arah taman belakang yang kini mekar indah.
"Dan jangan khawatir. Mereka berpikir mereka bisa menggunakan tempat itu untuk menguasai kita atau mengambil apa yang kita miliki. Tapi mereka lupa... alam tidak memihak pada kekuasaan atau pedang. Alam memihak pada kehidupan, pada ketulusan, pada kasih sayang. Dan di sana... di tengah energi alam yang paling murni itu... akulah yang akan menjadi penguasanya. Karena akulah yang mendengar, mengerti, dan merawatnya."
Tiba-tiba, suasana di sekitar mereka sedikit berubah. Aura Xiao Chen beralih, menjadi lebih cerah dan bersemangat. Senyum lebar menghiasi wajah tampannya, matanya berbinar antusias—itu adalah Xiao Lei yang mengambil alih kendali.
"Betul! Betul sekali!" seru Xiao Lei dengan suara ceria namun tegas. "Kita jangan takut duluan! Gunung Suci? Pusat energi? Itu malah tempat asyik banget! Kalau Hao dan Kaisar mau main trik kotor di sana... biar mereka lihat apa artinya berhadapan dengan kita! Yue bisa panggil kekuatan alam, aku bisa jadi pengalih perhatian paling hebat, dan Xiao Mo... wah, Xiao Mo bakal senang banget di sana. Tempat yang sepi, dingin, dan penuh kabut? Itu surga buat dia buat mengintai dan mengerjai musuh! Kita bakal bikin mereka kaget sampai jatuh dari gunung!"
Namun, belum selesai suara Xiao Lei menghilang, udara di sekitar menjadi lebih dingin, lebih hening, dan lebih tajam. Sosok Xiao Mo muncul, berdiri diam di samping mereka, tatapannya jauh ke arah utara, ke arah Gunung Suci yang jauh di kejauhan sana. Wajahnya datar, namun suaranya terdengar rendah, serak, dan penuh peringatan.
"Aku merasakannya..." bisik Xiao Mo pelan, matanya menyipit tajam. "Di sana... ada kegelapan. Ada niat jahat yang sangat besar. Bukan hanya Hao, bukan hanya Kaisar... ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tua, yang kuat, yang haus akan kekuatan. Mereka tidak hanya ingin menguasai negeri ini... mereka ingin mengubah hukum alam itu sendiri. Dan mereka butuh Yue untuk itu... karena Yue adalah murni, Yue adalah kehidupan... hal yang paling dibenci oleh kegelapan itu."
Xiao Mo menoleh, menatap Shen Yue dengan pandangan paling serius yang pernah ia tunjukkan.
"Tapi aku janji... aku akan lebih waspada dari biasanya. Di tempat yang penuh kabut dan bayangan seperti itu... akulah yang paling berkuasa. Tidak ada bahaya yang bisa mendekat tanpa aku tahu duluan. Dan siapa pun yang berani menyakiti rambutmu... aku akan buat mereka hilang selamanya, tertelan oleh kegelapan yang mereka panggil sendiri."
Xiao Chen kembali mengambil alih kendali, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap Shen Yue dengan pandangan yang makin bulat tekadnya.
"Baik. Tiga hari lagi kita berangkat ke Gunung Suci. Dan selama tiga hari ini, kita tidak akan membuang waktu sedikit pun. Kita akan bersiap, berlatih, dan memperkuat segalanya—baik fisik, pikiran, maupun kekuatan yang kita miliki."
Mereka berdua berjalan kembali menuju taman belakang, tempat kehidupan dan kekuatan mereka bermula. Di sana, di tengah-tengah lautan bunga yang mekar indah itu, Shen Yue berlutut perlahan, meletakkan tangannya ke atas tanah yang kini subur, hangat, dan berdenyut hidup. Xiao Chen berlutut di sebelahnya, memegang tangan gadis itu, menyatukan energi mereka berdua.
"Di sini, dari sini... kita akan ambil kekuatan untuk perjalanan ini," ucap Shen Yue pelan, matanya terpejam merasakan aliran energi yang mengalir deras masuk ke dalam dirinya, masuk ke dalam diri Xiao Chen, menyatukan jiwa mereka dengan bumi di bawah kaki mereka.
Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga yang kian kuat. Kelopak-kelopak bunga bergetar seolah bernyanyi, akar-akarnya saling berpaut di dalam tanah, mengirimkan pesan kekuatan dan perlindungan.
Shen Yue membuka matanya, matanya kini berkilat dengan cahaya hijau samar yang lembut namun berwibawa. Ia menunjuk ke arah bunga mawar raksasa di tengah taman itu—bunga yang menjadi simbol diri mereka.
"Xiao Yi, potonglah beberapa tangkai bunga ini, lengkap dengan duri-durinya. Bawalah sebagai senjata kita. Bukan untuk menusuk... tapi karena bunga ini mengandung esensi kita. Ke mana pun kita pergi, apa pun yang kita hadapi... bagian dari taman ini, bagian dari kita... akan selalu ada bersama kita, melindungi kita."
Lalu ia menunjuk ke arah tanaman-tanaman obat, tanaman rambat yang kuat, dan rumput-rumput liar yang sering dianggap remeh namun sangat tangguh.
"Dan ambil juga tanaman ini, dan ini... Tanaman yang bisa tumbuh di mana saja, yang kuat, yang menyembuhkan, yang membalut luka, dan yang bisa menjerat musuh. Aku akan siapkan ramuan, aku akan siapkan benih-benih istimewa. Di Gunung Suci nanti... kita tidak akan datang dengan tangan kosong. Kita akan membawa kehidupan ke tempat yang mungkin sudah lama mati atau dikuasai kegelapan. Dan kita akan membuktikan... bahwa di mana pun kita berada, di tanah apa pun kita berpijak... kita akan tumbuh, kita akan mekar, dan kita akan menang."
Xiao Chen mengangguk patuh, melaksanakan apa yang diminta kekasihnya dengan penuh rasa hormat dan kagum. Ia melihat bagaimana Shen Yue bergerak di antara bunga-bunga itu, berbicara pada mereka, menyentuh mereka, dan mengumpulkan kekuatan yang tak kasat mata namun sangat nyata. Ia sadar sekarang: Shen Yue bukan sekadar wanita biasa yang pandai bercocok tanam. Shen Yue adalah seorang Penguasa Alam, penjaga keseimbangan, makhluk yang lahir untuk menjembatani dunia manusia dengan kekuatan besar bumi dan langit.
Dan ia... Xiao Chen, pria yang dulu dianggap kutukan, iblis, dan bahaya... kini ditakdirkan menjadi perisai, pedang, dan pendamping setia bagi wanita hebat ini. Ditakdirkan menjadi duri yang kokoh melindungi kelopak yang indah ini sampai kapan pun.
Tiga hari berlalu dalam kesibukan yang penuh makna. Kediaman Xiao berubah menjadi benteng persiapan yang tenang namun sangat kuat. Pasukan pribadi Xiao Chen bersiap lengkap, senjata disiapkan, strategi disusun. Namun kekuatan terbesar mereka tetaplah di taman belakang. Di sana, Shen Yue bekerja tanpa lelah, menyiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan, menyatukan energi, dan berbicara dengan alam seolah berbicara dengan sahabat lama.
Hari keberangkatan pun tiba.
Pagi itu, langit sedikit mendung, awan kelabu berarak perlahan menutupi matahari, menciptakan suasana yang dingin dan misterius. Di halaman depan, rombongan perjalanan sudah siap. Kali ini bukan hanya kereta kencana mewah seperti saat ke istana dulu. Kali ini ada puluhan kereta barang berisi perlengkapan, pasukan elit yang siap tempur, dan perlengkapan khusus yang disiapkan Shen Yue.
Xiao Chen berdiri di depan pintu utama, mengenakan pakaian perjalanan berwarna hitam dan hijau gelap, pas dan kokoh, pedang panjang tergantung di pinggangnya. Wajahnya tegas, matanya tajam, memancarkan aura pemimpin yang hebat.
Shen Yue muncul dari pintu, berjalan mendekat dengan anggun namun mantap. Ia mengenakan gaun perjalanan berwarna hijau daun berhias sulaman benang emas membentuk pola akar dan sulur tanaman. Di pinggangnya tergantung kantong-kantong kecil berisi benih dan ramuan, dan di tangannya, ia memegang sebatang tongkat kecil yang terbuat dari kayu mawar tua, kokoh dan indah, berukir halus di sekujur batangnya. Di ujung tongkat itu, mekar satu kuntum bunga mawar merah yang hidup dan nyata.
Ia tidak tampak seperti wanita bangsawan yang akan menghadiri pesta. Ia tampak seperti seorang Ratu yang akan pergi menaklukkan alam semesta.
Mata Xiao Chen berbinar bangga melihat penampilan kekasihnya. Ia berjalan mendekat, menyambut uluran tangan gadis itu.
"Kau tampak luar biasa, Yue..." bisik Xiao Chen pelan, penuh kekaguman. "Siapa pun yang melihatmu sekarang pasti sadar... kau bukan lagi tamu undangan. Kau adalah kekuatan utama yang datang mengambil hakmu."
Shen Yue tersenyum, meremas tangan kekasihnya erat.
"Dan kau tampak seperti pelindung terkuat yang pernah ada, Xiao Yi. Ingat... ke mana pun kita pergi, apa pun yang terjadi di Gunung Suci nanti... kita adalah satu. Duri dan Kelopak. Tidak terpisahkan."
Xiao Chen mengangguk, lalu berbalik menatap seluruh rombongan yang sudah siap. Suaranya menggelegar lantang dan tegas, bergema ke seluruh penjuru kediaman.
"Berangkat! Menuju Gunung Suci!"
Kereta-kereta mulai bergerak perlahan, meninggalkan gerbang kediaman Xiao untuk kedua kalinya. Namun kali ini, perjalanan mereka bukan menuju istana emas yang penuh kepalsuan. Kali ini, perjalanan mereka menuju tempat tertinggi, terkuat, dan paling berbahaya di negeri ini. Menuju tempat di mana rahasia besar akan terungkap, pertempuran sesungguhnya akan dimulai, dan takdir mereka berdua akan ditentukan selamanya.
Di kejauhan, di ufuk utara, siluet Gunung Suci tampak samar tersembunyi di balik kabut tebal, menjulang tinggi menembus awan, seolah menunggu kedatangan mereka. Di sana, Pangeran Hao, Kaisar, dan kekuatan gelap yang tersembunyi sudah bersiap menanti.
Dan di dalam hati mereka berdua, satu keyakinan tumbuh makin kuat: Apa pun bahaya yang ada di depan... mereka akan menghadapinya bersama. Dan pada akhirnya... kebenaran, kehidupan, dan cinta... akan menang atas segala kegelapan.