NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Bagian dari Siklus

Saskia berjalan menyusuri trotoar Jalan Basuki Rahmat tanpa arah yang jelas. Angkutan desa yang tadi membawanya dari terminal sudah lama pergi.

Kakinya terus melangkah, melewati pertokoan, melewati pedagang kaki lima, melewati gedung-gedung perkantoran. Map plastik di tangannya sesekali menyenggol pinggulnya sendiri.

Si Belang.

Nama itu berputar-putar di kepalanya seperti jarum fonograf yang tersangkut di alur piringan hitam.

Selama tiga minggu terakhir, setiap pagi ia bangun dan hal pertama yang ia lihat adalah Si Belang. Sapi itu selalu berdiri di sudut kandang, menatapnya dengan mata coklat yang tenang, seolah berkata: "Aku masih disini. Aku belum mati."

Setiap kali ia mimisan setelah menggunakan Air Suci, Si Belang mendekat dan menjilat tangannya. Lidahnya yang kasar selalu berhasil membuat Saskia tersenyum meskipun kepalanya pusing dan hidungnya masih berdarah.

Dan sekarang Chef Kusuma minta ia memotongnya.

"Koen meneh, Mbak?"

Saskia mendongak. Ia berdiri di depan sebuah restoran Jepang. Bukan restoran mewah. Hanya resto kecil dengan pintu kaca dan lampion merah. Di depannya, seorang laki-laki dengan celemek putih sedang menyapu.

Restoran keempat.

Sebelum ke Hotel Tugu, ia sudah mendatangi tiga restoran lain. Restoran Italia di Jalan Semeru. Steakhouse di Jalan Kahuripan. Hotel berbintang tiga di dekat alun-alun. Semuanya menolak. Dua di antaranya bahkan tidak mau menerima proposalnya.

"Tidak usah," kata laki-laki itu sebelum Saskia sempat membuka mulut. "Kami sudah punya supplier tetap."

"Sapi saya kualitas premium. Data pertumbuhannya..."

"Datanya bisa direkayasa, Mbak. Saya tahu. Banyak yang kayak gini." Laki-laki itu menunjuk map di tangan Saskia dengan gagang sapunya. "Bawa proposal, foto-foto, data-data. Tapi begitu dikirim sampel, dagingnya alot kayak karet. Maaf ya, Mbak. Cari yang lain saja."

Pintu kaca ditutup. Lampion merah bergoyang tertiup angin.

Empat penolakan dalam sehari.

Saskia mundur dari depan restoran itu. Kakinya membawanya ke halte bus yang kosong. Ia duduk di bangku besi yang catnya sudah mengelupas. Map plastik ia letakkan di sampingnya.

Air matanya tidak keluar. Entah karena tubuhnya terlalu dehidrasi, atau karena otaknya terlalu lelah untuk memproduksi emosi. Ia hanya duduk diam, menatap jalan raya yang mulai sepi karena matahari sudah condong ke barat.

Pilihannya jelas.

Pilihan pertama: potong Si Belang. Blind test sukses. Hotel Tugu jadi pelanggan tetap. Uang mulai masuk. Peternakan punya reputasi. Bibi Laras dan Paman Harto tidak bisa lagi mengancam dengan seenaknya karena ia punya pemasukan tetap.

Pilihan kedua: jangan potong Si Belang. Cari sapi lain. Tapi sapi lain tidak punya data sebaik Si Belang. Limosin betina masih dalam pemulihan. Madura jantan masih terlalu muda, marblingnya belum terbentuk sempurna. Ndut terlalu tua, dagingnya pasti alot.

Tanpa blind test yang sukses, tidak ada kontrak. Tanpa kontrak, tidak ada pemasukan. Tanpa pemasukan, utang koperasi tidak terbayar. Tanah disita. Sapi-sapi dijual paksa. Semua yang ia bangun dalam tiga minggu terakhir akan lenyap.

"Ini bukan pilihan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Ini jebakan."

Ia dokter hewan. Sumpah profesinya adalah menyelamatkan nyawa, bukan mengakhiri. Tapi ia juga manusia yang butuh bertahan hidup. Dan di dunia peternakan, menyembelih sapi untuk dimakan adalah bagian dari siklus yang tidak bisa dihindari.

Tapi Si Belang...

Saskia menggeleng. Ia tidak boleh berpikir seperti ini. Ia tidak boleh terikat secara emosional pada ternaknya sendiri. Itu aturan pertama yang dipelajari semua dokter hewan. Jangan terikat. Jangan memberi nama. Jangan...

Tapi ia sudah memberi nama. Ia sudah terikat. Si Belang bukan cuma ternak. Si Belang adalah pasien pertamanya di kehidupan ini. Si Belang adalah...

Suara klakson keras membuyarkan pikirannya.

Saskia mendongak. Sebuah Alphard hitam mengkilap melintas di depannya, melaju dengan kecepatan sedang. Kacanya gelap, tidak tembus pandang. Mobil mewah yang kontras dengan jalanan Malang yang mulai lengang.

Dan kemudian...

DOR!

Ban belakang mobil itu meledak.

Alphard hitam itu oleng. Sopirnya berusaha mengendalikan kemudi, tapi mobil itu sudah kehilangan keseimbangan. Beruntung kecepatannya tidak tinggi. Mobil itu menepi dengan bunyi decit ban yang tersisa, berhenti tepat di depan halte di mana Saskia duduk.

Saskia berdiri. Refleks.

Pintu belakang Alphard terbuka. Seorang laki-laki turun. Setelan jas abu-abu gelap, potongan sempurna. Sepatu pantofel mengilap. Rambut hitam disisir rapi ke belakang. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar. Wajahnya...

Saskia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena laki-laki itu langsung berbalik, memeriksa ban belakang yang kempes total. Tapi ia bisa melihat rahangnya yang tegas, dagunya yang sedikit terangkat, dan caranya berdiri yang memancarkan otoritas.

Sopir keluar dari kursi depan, panik. "Maaf, Pak. Saya tidak lihat ada paku. Mungkin dari jalan tadi..."

"Tidak apa. Ganti saja."

Suara itu. Dalam. Tenang. Tapi ada nada dingin di dalamnya yang membuat sopir itu langsung bergerak cepat membuka bagasi.

Saskia masih berdiri di halte. Map plastiknya lupa ia ambil. Pikirannya masih terbelah antara Si Belang dan kontrak Hotel Tugu. Alphard hitam di depannya hanyalah gangguan kecil dalam drama yang jauh lebih besar.

Sampai ia mendengar suara teriakan dari kejauhan.

"TOLONG! ADA YANG BISA BANTU?! SAPI MELAHIRKAN SUNGSANG! DARURAT!"

Saskia menoleh. Jantungnya yang tadi berdetak lambat karena kelelahan, sekarang berdetak cepat.

Sapi melahirkan sungsang. Distokia. Kalau tidak segera ditangani, induknya mati. Anaknya juga.

Kakinya bergerak sebelum otaknya memproses.

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!