NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Yue Suyin dan Kata Kata yang Terlambat

Wei Hao datang menemui Lin Chen atas kemauannya sendiri.

Saat itu Lin Chen sedang berada di perpustakaan Klan Lin.

Ia tidak datang ke sana karena rasa rindu atau nostalgia terhadap masa lalu. Tujuannya sederhana: mencari informasi.

Sejak mendengar nama Istana Surgawi disebut dalam percakapannya dengan Lin Hai, ada banyak pertanyaan baru yang muncul di benaknya. Ia ingin mencari segala catatan yang berkaitan dengan Istana Surgawi, misi-misi kuno, dan sejarah yang mungkin selama ini sengaja disembunyikan.

Perpustakaan Klan Lin memang tidak besar.

Koleksinya jauh dari sebanding dengan perpustakaan milik sekte besar.

Namun sebagai titik awal, tempat ini masih cukup berguna.

Lin Chen sedang membaca sebuah gulungan tua ketika pintu perpustakaan terbuka.

Suara langkah kaki terdengar.

Ia tidak perlu mengangkat kepala untuk mengetahui siapa yang datang.

Wei Hao.

Di belakangnya berdiri dua pemuda yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Keduanya seperti bayangan yang setia menemani setiap langkahnya.

Wei Hao masih tampil seperti biasanya.

Jubah biru tua dengan bordiran perak yang rapi.

Rambut yang tertata sempurna.

Dan ekspresi seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Begitu melihat Lin Chen, langkahnya terhenti sesaat.

Keterkejutan melintas di wajahnya.

Sangat singkat.

Namun tidak cukup cepat untuk luput dari pengamatan Lin Chen.

Sesaat kemudian, senyum tipis yang biasa ia gunakan kembali muncul.

Senyum yang terlihat ramah di permukaan, tetapi menyimpan terlalu banyak makna untuk benar-benar disebut ramah.

"Lin Chen."

Wei Hao berjalan mendekat. "Jadi kau benar-benar kembali."

Ia tertawa kecil.

"Aku sempat berpikir Gunung Cang Lei sudah menelanmu."

Lin Chen tetap membaca gulungan di tangannya. "Seperti yang bisa kau lihat, aku masih hidup."

Wei Hao mendekat ke meja. "Dengan semua herbal yang diminta?"

"Tentu saja."

Wei Hao menyilangkan tangan di dadanya.

"Aku dengar Gunung Cang Lei cukup berbahaya. Terutama bagi kultivator dengan tingkat kekuatan tertentu."

Nada suaranya terdengar santai. Namun maksud sebenarnya sangat jelas.

Ia sedang mengingatkan Lin Chen tentang masa lalunya.

Atau setidaknya mencoba.

Lin Chen menutup sebagian gulungan yang sedang dibacanya.

"Aku juga mendengar kabar tentang Turnamen Sekte Bulan Perak."

Wei Hao sedikit mengernyit.

Lin Chen melanjutkan dengan tenang. "Babak kedua."

Senyum Wei Hao langsung menegang. Hanya sedikit, tetapi cukup terlihat.

"Itu karena situasinya tidak menguntungkan."

"Situasi tidak menguntungkan bagi semua peserta."

Lin Chen akhirnya mengangkat pandangannya.

Tatapan mereka bertemu. "Namun tidak semua peserta tersingkir di babak kedua."

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Kedua pengikut Wei Hao saling berpandangan.

Mereka tidak terbiasa melihat seseorang berbicara seperti itu kepada Wei Hao.

Terlebih lagi orang itu adalah Lin Chen.

Wei Hao menarik kursi dan duduk di hadapan Lin Chen tanpa diundang.

Ia menopang dagunya dengan satu tangan.

Dari jarak sedekat ini, ia mencoba membaca aura Lin Chen.

Dan untuk pertama kalinya, ia gagal.

Semakin ia mencoba memahami, semakin kabur hasil yang ia dapatkan.

Aura Lin Chen terasa jauh lebih padat dibanding sebelumnya.

Dan yang paling mengganggu, ia tidak bisa memperkirakan tingkat kultivasinya.

Perasaan itu membuat Wei Hao tidak nyaman.

"Kau berubah." Kali ini nada suaranya jauh lebih serius. "Aura yang kau pancarkan berbeda."

Lin Chen hanya tersenyum tipis. "Gunung memiliki caranya sendiri untuk mengubah seseorang."

Wei Hao menyipitkan matanya. "Seberapa besar perubahan itu?"

Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan.

Kini yang berbicara adalah nada sesungguhnya Wei Hao yang sebenarnya.

Orang yang selalu ingin mengetahui segala sesuatu yang bisa menjadi ancaman baginya.

"Karena kalau kau ingin mengatakan bahwa Meridianmu sudah pulih atau kau menemukan teknik rahasia di gunung itu..."

Lin Chen memotong sebelum ia selesai berbicara. "Aku tidak mengklaim apa pun."

Suaranya tetap tenang. "Aku hanya menjalankan tugas yang diberikan klan dan kembali dengan selamat."

Wei Hao menatapnya beberapa saat.

Mencoba mencari celah.

Mencoba membaca kebohongan, namun tidak menemukan apa pun.

Akhirnya ia berdiri. Senyum tipisnya kembali terpasang.

"Tentu saja." Ia merapikan jubahnya. "Kalau begitu, selamat datang kembali, saudara sepupu."

Wei Hao berbalik menuju pintu.

Kedua pengikutnya segera mengikutinya, namun tepat sebelum keluar, ia berhenti.

Tidak menoleh.

Tidak pula bergerak.

Hanya berdiri membelakangi Lin Chen.

"Oh ya." Nada suaranya terdengar santai. "Suyin sempat menanyakan kabarmu."

Lin Chen tidak bereaksi.

Wei Hao melanjutkan. "Lebih dari sekali."

Setelah mengatakan itu, ia langsung melangkah pergi.

Pintu perpustakaan kembali tertutup.

Keheningan memenuhi ruangan itu dan Lin Chen duduk diam beberapa saat.

Tidak karena kata-kata Wei Hao mengusiknya.

Tetapi karena ia sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Kemudian ia membuka kembali gulungan di tangannya.

Tulisan-tulisan kuno itu kembali memenuhi pandangannya.

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Tentang Istana Surgawi.

Tentang orang tuanya.

Tentang Phoenix.

Dan tentang dunia yang ternyata jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

Pada sore harinya, Yue Suyin mencari Lin Chen.

Ia datang ke taman belakang Klan Lin, tepat di bawah pohon plum tua yang menjadi saksi berakhirnya pertunangan mereka beberapa waktu lalu.

Musim semi telah berlalu.

Bunga-bunga plum yang dahulu memenuhi ranting-ranting pohon sudah gugur sejak lama. Kini hanya tersisa dedaunan hijau yang lebat, bergoyang perlahan tertiup angin sore.

Entah mengapa, suasana itu terasa berbeda.

Lin Chen berdiri di dekat kolam kecil di bawah pohon tersebut ketika Yue Suyin menemukannya.

Ia datang sendirian.

Tanpa pengawal.

Tanpa teman.

Bahkan tanpa hiasan rambut yang biasa ia kenakan.

Pakaiannya pun jauh lebih sederhana dibanding biasanya.

Saat berjalan mendekat, langkahnya tampak ragu-ragu.

Seolah ia sudah menyiapkan banyak kata dalam pikirannya, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana ketika benar-benar berhadapan dengannya.

"Lin Chen." Suara Yue Suyin memecah keheningan.

Lin Chen tidak langsung menoleh.

Tatapannya masih tertuju pada taman di depannya.

"Suyin." Nada suaranya tenang. "Wei Hao bilang kau mencariku."

Yue Suyin mengangguk pelan.

"Iya."

Ia berhenti dua langkah di sampingnya.

Beberapa saat berlalu tanpa ada yang berbicara.

"Aku mengkhawatirkan mu."

Lin Chen tersenyum tipis. "Gunung Cang Lei tidak berhasil membunuhku."

"Itu bukan yang kumaksud." Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Akhirnya Lin Chen menoleh.

Tatapan mereka akhirnya bertemu.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Yue Suyin merasa kesulitan membaca ekspresi di wajah pemuda itu.

Dulu ia selalu bisa menebak apa yang dipikirkan Lin Chen.

Sekarang tidak lagi.

"Aku mendengar semuanya setelah kau pergi." Suara Yue Suyin terdengar lebih pelan. "Tentang alasan sebenarnya mereka mengirim mu ke Gunung Cang Lei."

Lin Chen tidak mengatakan apa-apa. Namun diamnya sudah cukup sebagai jawaban.

"Aku tidak tahu sebelumnya." Yue Suyin menundukkan pandangannya sesaat.

Ketika kembali mengangkat wajahnya, ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Penyesalan.

"Ketika aku mengetahui semuanya... sudah terlambat."

Ia menarik napas perlahan. "Aku tidak sempat melakukan apa pun."

"Suyin." Lin Chen memotong dengan lembut.

Bukan karena marah.

Bukan pula karena tidak ingin mendengar, hanya karena ia merasa tidak perlu.

"Kau tidak harus menjelaskan."

"Aku ingin menjelaskan." Ada keteguhan dalam suara Yue Suyin kali ini.

Mungkin untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi.

"Aku tahu." Lin Chen mengangguk pelan.

"Aku mendengarnya." Ia menatapnya beberapa saat sebelum melanjutkan. "Tapi ada sesuatu yang perlu kau pahami."

Angin sore berembus pelan di antara dedaunan.

"Aku tidak kembali ke Klan Lin untuk memperbaiki masa lalu."

Yue Suyin terdiam.

"Aku datang karena ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."

Nada suara Lin Chen tetap tenang. Namun justru karena ketenangan itu, setiap kata terdengar semakin jelas.

"Dan setelah semuanya selesai, aku akan pergi lagi."

Mata Yue Suyin sedikit melebar.

"Pergi?"

"Iya."

"Ke mana?"

Lin Chen memandang ke kejauhan.

Ke arah gedung-gedung Klan Lin yang berdiri kokoh di bawah cahaya matahari sore.

"Ke tempat yang harus kutuju."

Jawaban itu sederhana.

Tetapi Yue Suyin tahu ia tidak akan mendapatkan penjelasan yang lebih rinci.

Lin Chen tersenyum tipis.

"Suyin."

Gadis itu menatapnya.

"Kau memiliki bakat yang luar biasa."

"Jangan sia-siakan bakat itu."

Yue Suyin terdiam.

"Kau masih memiliki masa depan yang cerah."

Lin Chen mengalihkan pandangannya kembali ke taman.

"Tapi jangan membuat keputusan hanya berdasarkan siapa yang terlihat paling kuat saat ini."

Kata-kata itu tidak terdengar seperti sindiran.

Justru itulah yang membuatnya lebih menusuk.

Karena itu adalah kebenaran.

"Dunia kultivasi berubah jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan kebanyakan orang."

Setelah mengatakan itu, Lin Chen mulai melangkah pergi.

Tidak terburu-buru.

Tidak pula menoleh ke belakang.

Yue Suyin berdiri diam di bawah pohon plum tua itu.

Memandangi punggungnya yang perlahan menjauh.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

Permintaan maaf yang sudah berkali-kali ia susun dalam pikirannya.

Pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Cang Lei.

Tentang perubahan besar yang terjadi pada Lin Chen.

Tentang gadis berambut merah yang berjalan bersamanya pagi tadi.

Dan mungkin...

Tentang perasaan yang selama ini ia abaikan hingga semuanya terlambat.

Namun tidak satu pun kata berhasil keluar.

Karena semakin jauh Lin Chen berjalan, semakin ia menyadari satu hal.

Orang yang pergi ke Gunung Cang Lei hampir sebulan lalu dan orang yang baru saja meninggalkannya sekarang adalah dua pribadi yang berbeda.

Dan jarak di antara mereka tidak lagi bisa dijembatani hanya dengan penyesalan.

Angin sore kembali berembus.

Daun-daun plum bergoyang pelan di atas kepalanya.

Sementara kata-kata yang terlambat itu...

tetap tinggal dalam diam.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!