Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kebenaran Berdarah di Balik Lambang
Angin lembah bertiup dingin, membawa serta bau mesiu, darah, dan kematian yang masih menguar di udara. Di sekeliling mereka, tubuh-tubuh korban pertempuran masih tergeletak diam di tanah. Beberapa adalah musuh yang kini terbukti membawa lambang sama dengan mereka, sebagian lagi adalah kawan-kawan Raka yang gugur di medan perang pertama ini.
Namun, Raka tidak memedulikan semuanya. Matanya terpaku pada lambang merah darah yang tersulam di lengan jasad musuh itu. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh kain itu, seolah ia sedang menyentuh luka lama yang sudah membusuk selama lima belas tahun.
Di sampingnya, Reza, Dedi, dan Bara berdiri diam, wajah mereka pucat pasi. Mereka yang tadinya hanya tahu bahwa mereka bekerja untuk satu organisasi besar dan mulia, kini menyadari bahwa mereka baru saja menumpahkan darah sesama saudara sendiri. Kekacauan, rasa bingung, dan rasa takut bercampur aduk di mata mereka.
Mayor Seno menghela napas panjang, napas yang terasa berat dan penuh beban seumur hidup. Ia melangkah mendekat, berlutut di samping Raka, dan dengan perlahan menutup mata jasad prajurit musuh itu dengan tangannya sendiri. Ia tidak terlihat seperti seorang pemenang yang baru saja mengalahkan musuh. Ia terlihat seperti seorang pria yang sedang menyesali dosa besar yang tak pernah bisa ia hapus.
"Sudah cukup, Raka..." ucap Seno pelan, suaranya serak dan berat. "Kau sudah melihat apa yang tidak seharusnya dilihat oleh siapa pun yang masih ingin tidur nyenyak di malam hari. Tapi takdir sepertinya memang menginginkan kau tahu semuanya... sekarang juga."
Seno berdiri tegak, menatap ke arah anak buahnya yang kini berkumpul mengelilinginya, menunggu penjelasan dengan napas tertahan. Ia menatap satu per satu wajah mereka—wajah-wajah muda yang penuh harapan, yang datang ke sini mencari nafkah, mencari masa depan, tanpa tahu bahwa mereka sedang masuk ke dalam pusaran dosa yang mengerikan.
"Kalian semua masuk ke Garuda Security dengan cerita yang sama: kami adalah pasukan elit, kami pelindung keamanan, kami mitra negara, kami organisasi yang berjuang demi keadilan dan ketertiban," kata Seno mulai bercerita, suaranya bergema di antara dinding-dinding tebing. "Itu adalah kebenaran... setengah kebenaran. Separuh lagi adalah kebohongan, darah, dan pengkhianatan yang begitu gelap hingga langit pun menolak melihatnya."
Ia menunjuk ke arah lambang Garuda emas di lengan mereka, lalu menunjuk ke arah lambang merah di jasad itu.
"Garuda Security didirikan dua puluh tahun lalu oleh dua orang sahabat dekat, dua prajurit terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Salah satunya adalah Jenderal Agus, yang sekarang menjadi pemimpin tertinggi kalian. Dan yang satu lagi... adalah Letnan Kolonel Dirgantara Pratama."
Nama itu disebutkan. Nama yang selama ini hanya ada dalam bisikan, dalam mimpi, dan dalam bayangan samar.
Raka merasa kakinya lemas seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Mulutnya kering. Ia menatap Seno lekat-lekat, takut sekaligus berharap mendengar kata-kata selanjutnya.
"Dirgantara Pratama bukan sekadar pendiri," lanjut Seno, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Dia adalah jiwa dari organisasi ini. Dia adalah prajurit terhebat, paling jujur, paling berani, dan paling berprinsip. Dia yang menyusun taktik, dia yang melatih pasukan pertama, dia yang membuat nama Garuda Security disegani dunia. Dia punya mimpi besar: menjadikan organisasi ini kekuatan yang digunakan untuk melindungi yang lemah, menegakkan kebenaran, dan membantu mereka yang tidak punya kekuatan untuk membela diri."
Seno diam sejenak, menelan ludah yang terasa pahit.
"Tapi mimpi itu hancur lebur lima belas tahun yang lalu. Saat kami mendapatkan tugas besar dari pihak berwenang untuk mengamankan sebuah penemuan... sebuah penemuan yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan dunia. Di sebuah lokasi terpencil, kami menemukan sesuatu yang disebut Sumber Unggul. Sebuah bahan mentah yang sangat langka, sangat berharga, dan sangat berbahaya. Bahan itu bisa digunakan untuk sumber energi tak terbatas yang bisa menyejahterakan jutaan orang... tapi juga bisa diubah menjadi senjata pemusnah massal yang bisa menghancurkan satu kota dalam sekejap mata."
Raka menoleh ke arah truk tertutup yang terparkir diam di jalan raya, masih dijaga ketat oleh beberapa prajurit. Perutnya mual. Ia mulai mengerti.
"Dan di situlah perpecahan terjadi," lanjut Seno, suaranya mulai bergetar menahan emosi. "Jenderal Agus dan sebagian besar pemimpin tinggi lainnya melihat benda itu sebagai kekayaan tak terhingga, sebagai kekuasaan mutlak. Mereka ingin menjualnya ke penawar tertinggi, ingin menggunakannya untuk menguasai segalanya, ingin menjadikan Garuda Security penguasa dunia bayangan. Tapi Dirgantara... Dirgantara tidak mau. Dia tahu bahayanya. Dia tahu benda itu terlalu berbahaya untuk dimiliki siapa pun. Dia ingin menghancurkannya, atau menyerahkannya ke pihak berwenang agar dijaga dengan aman."
"Persahabatan itu berakhir di sana. Kepercayaan hancur. Dan terjadilah apa yang kami sebut Hari Pengkhianatan."
Seno menatap tepat ke mata Raka, matanya basah dan penuh penyesalan yang mendalam.
"Jenderal Agus dan pengikut setianya—yang kini kami sebut Kubu Merah—menuduh Dirgantara pengkhianat. Mereka menyebar kabar bahwa Dirgantara ingin menjual rahasia negara ke musuh. Mereka mengirim pasukan untuk menangkapnya, atau membunuhnya. Dan Dirgantara... dia tidak mau melawan. Dia tidak mau menumpahkan darah anak buahnya sendiri. Dia mencoba lari membawa sampel Sumber Unggul itu agar tidak jatuh ke tangan mereka. Tapi dia dikepung di tempat yang tidak jauh dari sini... di lembah ini sendiri."
Raka menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di matanya. Potongan-potongan ingatan masa kecilnya, cerita ibunya yang selalu berakhir dengan tangisan, kepergian ayahnya yang tak pernah kembali... semuanya menyatu menjadi satu gambaran yang menyakitkan.
"Ayahku..." bisik Raka parau, suaranya hampir tak terdengar. "Ayahku dibunuh oleh orang-orang yang dia percaya. Dibunuh oleh kawan-kawannya sendiri."
"Ya, Raka," jawab Seno tegas namun lembut. "Dirgantara Pratama adalah ayahmu. Dia gugur di sini, di tanah ini, lima belas tahun yang lalu. Dia gugur melawan pasukan yang dikirim oleh sahabatnya sendiri. Dia mati demi menjaga dunia agar aman dari bahaya benda itu. Tapi sebelum dia mati, dia berhasil membagi Sumber Unggul itu menjadi dua bagian. Satu bagian jatuh ke tangan Kubu Merah, yang kini menguasai sebagian besar organisasi. Dan satu bagian lagi... hilang. Tidak ada yang tahu ke mana. Kubu Merah mencari bagian itu bertahun-tahun, tapi tidak pernah ketemu. Mereka mengira bagian itu sudah hancur atau tersembunyi di tempat yang tidak diketahui."
Seno menunjuk ke arah truk tertutup itu.
"Dan barang yang kita bawa hari ini... adalah sisa-sisa yang berhasil kami dapatkan dari penelitian kami belakangan ini. Ini adalah bagian yang paling berharga dan paling berbahaya. Kubu Merah tahu kami menemukannya. Mereka ingin merebutnya. Mereka ingin menyatukan kembali semua bagian Sumber Unggul itu agar mereka bisa menguasai segalanya. Dan kami... kami yang masih setia pada prinsip asli Dirgantara, kami yang kini disebut Kubu Emas... kami berjuang mati-matian untuk menjaganya agar tidak jatuh ke tangan mereka. Kami berjuang untuk memenuhi janji kami pada almarhum ayahmu."
Keheningan panjang menyelimuti lembah itu. Hanya terdengar suara isak tangis tertahan dari Raka, dan napas berat dari Bara, Reza, Dedi, serta yang lain. Dunia mereka yang tadinya hitam dan putih, jelas antara benar dan salah, kini berubah menjadi abu-abu yang kelam dan membingungkan.
Reza, yang selama ini paling keras kepala dan paling membenci Raka, kini berlutut di tanah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa malu yang luar biasa menghantam dadanya. Ia membenci anak seorang pahlawan. Ia ingin menjatuhkan anak satu-satunya orang yang berjuang demi kebenaran.
"Maafkan aku, Raka..." ucap Reza parau, suaranya penuh penyesalan. "Aku bodoh sekali. Aku buta oleh rasa iri. Aku tidak tahu... aku sama sekali tidak tahu."
Dedi di sampingnya juga mengangguk lemah, wajahnya pucat. "Kami pikir kami bekerja untuk kebaikan. Kami pikir musuh ada di luar sana... ternyata musuh ada di pucuk pimpinan kami sendiri. Dan kami... kami hampir saja membunuh anak satu-satunya orang yang paling berhak menuntut balas pada organisasi ini."
Raka mengusap air matanya, menegakkan tubuhnya kembali. Rasa sedih dan sakit hati perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kuat, lebih panas, dan lebih tajam. Dendam. Tapi bukan dendam buta. Dendam yang bercampur dengan rasa hormat, rasa tanggung jawab, dan tekad baja.
Ia berjalan mendekati Mayor Seno, menatapnya dengan mata yang kini sama tajamnya dengan mata ayahnya dulu.
"Jadi Jenderal Agus... orang yang selama ini memandangku dengan tatapan aneh, orang yang bilang dia ingin melihat apakah aku akan menjadi penyelamat atau pembinasa... dia tahu semuanya dari awal, kan? Dia tahu siapa aku. Dia tahu aku anak laki-laki orang yang dia khianati dan bunuh."
Mayor Seno mengangguk pelan.
"Benar. Jenderal Agus adalah pemimpin Kubu Merah, tapi ada bagian dari hatinya yang masih tersisa rasa bersalah dan rasa hormat pada Dirgantara. Dia tahu siapa kau sejak kau mendaftar masuk. Dia sengaja membiarkanmu masuk, sengaja melatihmu, sengaja memberimu kebebasan. Dia ingin tahu... apakah darah ayahmu yang berani dan jujur itu masih ada padamu. Dia ingin tahu apakah kau akan membalas dendam padanya, atau kau akan memaafkan dan menjadi pemimpin yang menyatukan kembali organisasi yang hancur ini."
Seno meletakkan tangannya di bahu Raka, menatapnya dengan pandangan serius dan penuh harap.
"Dan hari ini... kau menjawab semua pertanyaannya. Kau memimpin pasukan baru mengalahkan pasukan elit Kubu Merah. Kau menyelamatkan kawanmu sekalipun mereka membenci kau. Kau bertindak dengan cerdas, berani, dan berprinsip... persis seperti ayahmu. Kau sudah membuktikan bahwa kau adalah pewaris sejati Dirgantara Pratama. Kau adalah pemimpin yang kami tunggu-tunggu selama lima belas tahun ini."
Raka menoleh ke arah truk besar itu, ke arah muatan berbahaya yang menjadi sumber segala masalah ini.
"Jadi sekarang apa, Pak?" tanya Raka tegas, suaranya sudah kembali tenang dan berwibawa, meski hatinya masih berdarah. "Apa rencana kita selanjutnya? Apakah kita akan terus membawa benda ini? Apakah kita akan terus berperang melawan saudara sendiri? Dan apa yang harus aku lakukan... sebagai anak Dirgantara, dan sebagai Kopral Garuda Security?"
Mayor Seno menunjuk ke arah jalan yang masih terhalang longsoran batu di depan.
"Kita harus tetap lanjutkan misi ini sampai selesai. Kita harus mengantar muatan ini ke Pos Pengamanan Utara, tempat di mana kubu kami lebih kuat dan lebih aman. Di sana, kau akan bertemu dengan Jenderal Agus. Di sana, kau akan mendengar penjelasan langsung dari mulutnya sendiri. Dan di sana... kau harus membuat keputusan terbesar dalam hidupmu, Raka."
Seno berhenti sejenak, kata-katanya terasa berat dan menentukan.
"Kau harus memilih... Apakah kau akan membalas dendam atas kematian ayahmu dan menghancurkan Garuda Security sampai ke akar-akarnya... atau kau akan memperbaiki apa yang rusak, membersihkan apa yang kotor, dan memimpin organisasi ini kembali ke jalan yang benar, seperti mimpi ayahmu dulu."
Raka mengangkat kepalanya, menatap langit yang kini mulai gelap. Di langit itu, ia melihat bayangan wajah ayahnya, tersenyum bangga namun juga sedih. Ia teringat ibunya, yang selalu berpesan agar ia menjadi orang baik, agar ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia teringat Bara, Rio, Reza, Dedi, dan semua kawan-kawannya yang kini bersandar padanya, yang kini menganggapnya pemimpin dan harapan mereka.
Ia menundukkan pandangannya kembali ke tanah, ke tanah tempat darah ayahnya tumpah lima belas tahun lalu.
"Ayahku mati bukan untuk membalas dendam," gumam Raka pelan namun tegas. "Ayahku mati demi melindungi orang lain, demi menjaga keamanan, demi kebenaran. Dendam akan melahap kita sendiri, Pak. Dendam hanya akan menambah tumpukan mayat dan dosa."
Ia berbalik menghadap seluruh timnya, mengangkat suaranya agar semua orang mendengar dan percaya.
"Tapi kebenaran harus ditegakkan. Kejahatan harus dihentikan. Dan apa yang rusak harus diperbaiki. Mulai detik ini, kita bukan lagi sekadar pasukan pengawal bayaran. Kita adalah penjaga kebenaran. Kita akan membawa muatan ini ke tujuan dengan selamat. Kita akan menghadapi siapa saja yang menghalangi, baik itu musuh dari luar maupun pengkhianat dari dalam. Dan kita akan mengubah Garuda Security... menjadi apa yang seharusnya menjadi tempat ini."
Raka melangkah maju, mengambil alih kendali sepenuhnya.
"Bersihkan medan ini! Tandai kawan yang gugur agar bisa dijemput! Perbaiki jalan yang tertutup! Kita berangkat dalam lima belas menit! Kita harus sampai di pos utara sebelum matahari terbit besok! Dan ingat... kita tidak bertempur demi uang. Kita bertempur demi kehormatan nama Dirgantara Pratama! Kita bertempur demi masa depan yang lebih bersih!"
Semua prajurit, yang baru saja mengetahui kebenaran pahit itu, mengangkat kepala mereka dengan mata berbinar-binar. Rasa takut mereka hilang, rasa bingung mereka lenyap. Digantikan oleh rasa hormat yang tak terhingga, rasa bangga, dan tekad baja. Mereka bukan lagi anak buah yang dipaksa. Mereka adalah pengikut yang memilih jalan ini atas kehendak hati sendiri.
Reza dan Dedi berlari mendekat, berdiri di samping Raka sebagai wakil terpercayanya.
"Kami ikut kau sampai mati, Raka," ucap Reza lantang dan tulus. "Ke mana pun kau pergi, apa pun keputusanmu. Kami sudah salah menilai kau, dan kami akan menebusnya dengan darah kami sendiri jika perlu."
Bara menepuk bahu sahabatnya itu, senyum bangga mengembang di wajahnya.
"Aku bilang kan? Kau bukan anak desa biasa. Kau lahir untuk hal besar, Raka. Dan sekarang... perjalanan sesungguhnya baru benar-benar dimulai."
Mereka mulai bekerja cepat, membersihkan puing-puing, mengurus korban, dan menyiapkan kendaraan kembali. Di balik semak-semak jauh di atas bukit, sepasang mata mengamati semuanya. Mata itu milik seorang pengintai Kubu Merah yang berhasil lolos. Ia melihat semuanya. Ia mendengar semuanya. Dan sekarang, ia bergegas pergi membawa kabar penting yang akan mengguncang seluruh organisasi: Anak Dirgantara sudah tahu kebenaran. Dan dia tidak datang untuk tunduk. Dia datang untuk memimpin.
Konvoi itu kembali bergerak, melaju menembus kegelapan malam. Di dalam truk, Raka duduk diam di samping muatan rahasia itu. Di tangannya, ia memegang selembar foto tua yang diberikan Mayor Seno tadi—foto ayahnya muda, tersenyum gagah dengan seragam lengkap.
"Ayah..." bisik Raka pelan di tengah deru mesin. "Tenanglah. Aku di sini sekarang. Aku akan menyelesaikan apa yang Ayah mulai. Aku akan menjaga apa yang Ayah lindungi dengan nyawamu. Dan aku akan memastikan... tidak ada lagi darah yang tertumpah sia-sia demi keserakahan manusia."
Di depan sana, masih ada ratusan kilometer jalan berbahaya yang harus ditempuh. Masih ada musuh-musuh yang lebih kuat, lebih licik, dan lebih kejam yang menunggu. Masih ada Jenderal Agus, sang dalang segalanya, yang menanti keputusan Raka.
Dan di dalam hati Raka, beban berat pewaris takdir itu kini dipikulnya dengan gagah berani. Dia bukan lagi sekadar anak desa yang butuh uang untuk ibunya. Dia bukan lagi sekadar prajurit baru yang belajar bertahan hidup.
Dia adalah Raka Pratama... Pewaris Kehormatan, Pemimpin Kubu Emas, dan satu-satunya harapan untuk menyelamatkan atau menghancurkan kerajaan bayangan yang dibangun di atas darah dan pengkhianatan ini.