NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Tuduhan Palsu Sang Ketua OSIS

****

Malam mencekam di bawah jembatan layang akhirnya berlalu, namun sisa-sisa kepanikan dari aksi kejar-kejaran di jalan raya masih membekas nyata di dalam benakku. Pagi ini, SMA Tunas Bangsa kembali diselimuti oleh kabut tipis pasca-hujan. Suasana koridor sekolah terasa jauh lebih dingin dari biasanya, menyimpan sebuah ketegangan pekat yang seolah siap meledak kapan saja.

Aku berjalan menyusuri koridor gedung utama dengan langkah kaki yang sangat pelan dan ragu-ragu. Jaket rajut hitam tebal yang kupakai kemarin sengaja kutinggalkan di rumah, digantikan oleh seragam putih abu-abu standar sekolah yang terasa kaku. Jantungku berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan setiap kali kakiku melangkah mendekati ruang kelas XII MIPA 2. Aku tahu betul, setelah kegagalan Devan mengejarku dan Saka tadi malam, hari ini tidak akan berjalan dengan mudah.

Begitu aku mendorong pintu kelas, atmosfer di dalam ruangan seketika berubah hening. Murid-murid yang biasanya sibuk mengobrol di pagi hari mendadak menghentikan aktivitas mereka, memalingkan wajah dan melemparkan tatapan mata yang dipenuhi rasa penasaran sekaligus ngeri ke arahku.

Aku mengembuskan napas pendek, mencoba menguatkan mental, lalu berjalan menuju mejaku di barisan paling depan. Di sana, Devan sudah duduk dengan tegap. Penampilannya pagi ini benar-benar tanpa cela sedikit pun—kemeja putihnya disetrika sangat rapi, dasinya terpasang sempurna, dan plester medis di sudut bibirnya sudah diganti dengan yang baru. Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatianku. Pergelangan tangan kirinya tampak kosong melongpong. Jam tangan mewah miliknya yang kini berada di tangan Saka tidak lagi melingkar di sana.

Devan mendongak saat aku menarik kursi di sebelahnya. Sebuah senyuman ramah dan teduh terukir di wajah tampannya, sebuah senyuman formalitas yang kini justru terlihat seperti seringai monster yang siap menerkamku.

"Selamat pagi, sayang. Kamu sudah datang?" tanya Devan dengan nada suara yang sangat lembut, seolah-olah aksi kejar-kejaran maut di jalan raya tadi malam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. "Gimana kondisi kepala kamu? Sudah mendingan setelah jalan-jalan cari udara segar semalam?"

Aku menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram rok abu-abuku di bawah kolong meja untuk menyembunyikan tanganku yang bergetar. "Sudah agak mendingan, Dev," jawabku berbohong dengan suara yang nyaris berupa bisikan pendek.

"Baguslah kalau begitu," balas Devan pendek. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke arah buku catatan OSIS di atas meja, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya. Ketenangan Devan yang tidak wajar ini justru membuat lambungku terasa diaduk-aduk oleh rasa mual akibat ketakutan yang luar biasa. Dia sedang menyusun rencana, dan aku tidak tahu kapan bom waktu itu akan diledakkan.

Bom waktu itu akhirnya resmi diledakkan tepat setelah bel tanda istirahat pertama berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Namun, alih-alih berdua bersamaku di kelas, Devan langsung bangkit dari kursinya dengan membawa beberapa lembar berkas laporan resmi bersampul merah.

"Mikaela, ikut aku ke ruang kepala sekolah sekarang," kata Devan. Kali ini, dia tidak menggunakan kata "sayang" atau nada suara yang lembut di depan umum. Suaranya terdengar sangat formal, dingin, dan sarat akan otoritas mutlak sebagai seorang Ketua OSIS.

Jantungku seketika mencelos ke dasar perut. "Ada apa lagi, Dev?"

"Ikut saja. Kamu akan tahu di sana," jawab Devan dingin, lalu melangkah lebar mendahuluiku tanpa berniat menggandeng tanganku seperti biasanya.

Aku berjalan di belakangnya dengan kaki yang terasa lemas seperti jeli. Risa yang melihatku dari barisan kursi belakang hanya bisa melemparkan tatapan mata yang dipenuhi rasa cemas yang mendalam tanpa bisa berbuat apa-apa. Di sepanjang koridor menuju gedung administrasi, Devan tetap berjalan tegak membelah kerumunan murid, memancarkan aura dominasi yang luar biasa pekat.

Begitu kami mendorong pintu kaca ruang kepala sekolah yang buram, suasana di dalam ruangan sudah sangat menegangkan. Di balik meja besar bermaterial kayu jati, Kepala Sekolah, Pak Malik, sedang duduk dengan kening yang berkerut dalam. Dan yang membuat napas resmi tertahan di tenggorokanku adalah keberadaan sosok Saka Aditya yang sudah berdiri kaku di sudut ruangan, didampingi oleh wali kelasnya dan dua orang petugas keamanan sekolah.

Saka masih mengenakan seragam rapi dimasukkan, namun mata elangnya menatap lurus ke arah Devan dengan kilat amarah yang tertahan hebat. Perubahan penampilannya yang bersih tidak bisa menyembunyikan aura berandal ugal-ugalan yang kini siap meledak kembali di dalam dirinya.

"Silakan duduk, Devan, Mikaela," kata Pak Malik dengan nada suara yang berat dan sangat serius.

Kami berdua duduk di kursi yang tersisa di hadapan meja kepala sekolah. Aku melirik Saka sekilas, mencoba mencari tahu apa yang terjadi melalui tatapan matanya, namun Saka tetap berfokus menatap Devan dengan rahang yang mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol memerah.

"Pak Malik, sebagai Ketua OSIS, saya datang ke sini untuk menyerahkan bukti laporan pelanggaran berat dan tindak kriminalitas yang kembali dilakukan oleh siswa atas nama Saka Aditya dari kelas XII IPS 3," Devan membuka suara terlebih dahulu. Dia meletakkan berkas bersampul merah itu di atas meja Pak Malik dengan gerakan yang sangat tenang dan teratur.

"Pelanggaran apa lagi yang dilakukan Saka, Devan? Bukankah draf pemecatannya kemarin sudah dibatalkan karena kamu mengaku luka di bibirmu murni karena jatuh?" tanya Pak Malik sambil membuka lembaran berkas tersebut.

Devan memajukan posisi duduknya, memasang wajah yang dipenuhi keprihatinan palsu yang sangat meyakinkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Benar, Pak. Kemarin saya sengaja melindungi Saka karena mengira dia bisa berubah menjadi lebih baik dengan mematuhi aturan sekolah. Namun, tindakan Saka tadi malam sudah benar-benar melewati batas hukum dan membahayakan keselamatan nyawa siswi kita, Mikaela."

Devan mengalihkan pandangannya sekilas ke arahku, sebuah tatapan dingin yang membuatku membeku di tempat.

"Tadi malam, Saka Aditya sengaja menghadang Mikaela di jalan raya saat Mikaela sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan belajar kelompok. Saka memeras emosi Mikaela, lalu secara paksa mencuri jam tangan mewah milik saya yang kebetulan sedang dibawa oleh Mikaela untuk diperbaiki," tutur Devan dengan narasi yang berputar balik seratus delapan puluh derajat dari kenyataan asli.

"Bukan cuma itu, Pak Malik," lanjut Devan dengan intonasi suara yang semakin meyakinkan, menunjuk ke arah selembar kertas foto cetak yang terselip di dalam berkas merah. "Ketika saya mencoba datang untuk melerai dan mengambil kembali barang milik saya di jalan komplek, Saka justru bertindak kriminal. Dia membawa kabur Mikaela menggunakan motor sport-nya secara ugal-ugalan, menerobos lampu merah, dan dengan sengaja mencoba menabrakkan motornya ke arah mobil saya hingga menyebabkan moncong mobil saya rusak parah karena menghindari tabrakan maut tersebut. Ini adalah tindakan percobaan pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan, Pak."

"Devan, lo bohong! Gak kayak gitu kejadiannya!" bentak Saka frustrasi dari sudut ruangan, berniat merangsek maju untuk menghajar Devan kembali jika tidak ditahan oleh dua orang petugas keamanan sekolah di sampingnya. "Lo yang mengancam Mika di ruang OSIS! Lo yang mengejar kita kayak orang kesetanan semalam, bajingan!"

"Diam kamu, Saka! Menjaga sopan santun kamu di ruang kepala sekolah!" bentak Pak Malik keras, memukul meja kerjanya hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaring. Beliau kemudian mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepadaku, menatapku dengan pandangan yang sangat menuntut.

"Mikaela... sebagai korban yang berada di tempat kejadian tadi malam, Bapak mau mendengar kesaksian langsung dari kamu," kata Pak Malik dengan nada suara yang merendah namun penuh penekanan. "Apakah benar semua penuturan yang disampaikan oleh Ketua OSIS Devan Dirgantara? Apakah benar Saka Aditya telah mencuri jam tangan Devan dan membawa kamu kabur secara paksa di jalan raya?"

Darahku rasanya langsung membeku seketika itu juga di atas kursi ruang kepala sekolah yang dingin. Seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan seolah menguap habis, meninggalkanku yang tercekik di dalam dilema yang teramat sangat menyiksa.

Aku melirik ke arah Devan. Sang Ketua OSIS manipulatif itu sedang menatapku dengan senyuman tipis khasnya yang penuh kemenangan, sebuah kilat ancaman yang sangat jelas terpatri di matanya: *Jika kamu berani membantah ucapan aku, rekaman suara tangisan kamu di ruang OSIS akan aku sebar ke dinas pendidikan dan masa depan Saka akan hancur detik ini juga.*

Di sisi lain, aku menatap Saka. Cowok *red flag* ugal-ugalan yang semalam mempertaruhkan nyawanya demi membawaku pergi dari sangkar emas itu, kini sedang menatapku dengan binar mata yang bergetar hebat—sebuah binar mata seorang sahabat yang sedang menanti, apakah aku akan kembali mengkhianatinya demi melindunginya, ataukah aku akan berani menghancurkan seluruh dinding kebohongan ini bersamanya di depan kepala sekolah. Tuduhan palsu Devan telah disusun dengan sangat matang, dan masa depan Saka Aditya kini benar-benar berada di ujung telunjukku yang gemetar.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Oh my god, Devan Dirgantara bener-bener definisi ular berbisa tingkat korporat!** Taktik manipulasi dan pemutarbalikan fakta yang dia lakukan di ruang kepala sekolah bener-bener rapi, kalkulatif, dan mematikan banget di Bab 17 ini. Dia sengaja memutarbalikkan fakta kejadian kejar-kejaran tadi malam menjadi kasus pencurian jam tangan dengan kekerasan dan percobaan pembunuhan! Strategi *red flag* yang bikin tensi cerita meroket tajam sampai ke ubun-ubun!

> Sekarang Mikaela kembali berada di posisi yang sangat terjepit dan serbasalah. Di satu sisi dia diancam pake rekaman suara rahasia milik Devan, di sisi lain dia gak mau melihat Saka dikeluarkan dari sekolah atas tuduhan kriminal palsu yang dijatuhkan oleh si Ketua OSIS posesif tersebut. Benar-benar sebuah klimaks masa SMA yang menegangkan!

> Menurut kalian, kira-kira keputusan apa yang bakal diambil Mika di depan Pak Malik? Apakah dia terpaksa mendukung kebohongan Devan lagi, atau Saka punya kartu as lain buat mematahkan tuduhan palsu ini?

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!