NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part II

Hari itu, setelah latihan usai dan semua pulang dengan hati gembira karena kemajuan mereka, Dika melangkah pulang dengan langkah makin berisi. Di dalam tasnya, selain buku pelajaran dan catatan strategi bola, sekarang ada niat baru yang kuat: mengasah bakat suaranya.

Sesampainya di rumah, seperti biasa Dika membantu Ibu membereskan rumah dan makan malam bersama keluarga. Kali ini, Dika berusaha sedikit memberanikan diri untuk menguji bakat barunya itu. Saat sedang makan malam dan suasana hangat tercipta, Dika mulai menyanyikan lagu yang tadi siang dia nyanyikan di lapangan, tapi kali ini dengan suara yang lebih jelas dan lantang, namun tetap lembut.

Seketika, sendok di tangan Ibu berhenti bergerak di udara. Mata Ibu membelalak lebar menatap anak sulungnya itu. Ayah yang biasanya tenang dan kaku, mengangkat wajahnya perlahan, tatapannya penuh keterkejutan bercampur haru. Rina yang sedang mengunyah nasi, sampai lupa menelan karena terpesona mendengar suara kakaknya.

Dika menyelesaikan lagu itu dengan nada tinggi yang panjang dan indah, lalu menatap kedua orang tuanya dengan senyum malu-malu.

"Bagaimana, Bu? Yah? Suaraku... gimana?" tanyanya pelan.

Ibu langsung meletakkan sendoknya, berjalan memutar meja makan, lalu memeluk erat Dika dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena haru dan bangga.

"Ya Allah, Nak... Suaramu... indah sekali... sangat menyentuh hati Ibu. Sejak kapan kamu bisa bernyanyi seindah ini? Ibu nggak pernah tahu kamu punya bakat sebesar ini. Tadi pas kamu nyanyi, rasanya hati Ibu tenang dan damai sekali, seolah semua beban hilang," ucap Ibu dengan suara gemetar menahan tangis bahagia.

Ayah mengangguk mantap, wajahnya tersenyum lebar—senyum bangga yang sangat dalam. Beliau menatap Dika dengan pandangan baru.

"Kamu benar-benar anak ajaib, Le. Bakatmu nggak cuma satu, nggak cuma dua. Di sepak bola kamu hebat, di sekolah kamu makin pintar, ternyata di seni suara pun kamu punya anugerah besar dari Tuhan. Ingat pesan Ayah: setiap bakat yang kamu punya, harus kamu asah, kamu jaga, dan kamu gunakan untuk hal baik. Jangan disia-siakan. Kalau kamu mau belajar menyanyi dengan serius, Ayah sama Ibu dukung sepenuhnya. Nanti kalau butuh biaya les atau buku pelajaran, bilang saja sama Ayah."

Rina langsung melompat dari kursinya, berlari ke arah Dika dan memeluk kakinya sambil berseru riang.

"HORE! Kakak penyanyi! Nanti kalau Kakak sudah jadi penyanyi terkenal, Rina mau jadi penyanyi juga ya! Ajari aku ya Kak! Suara Kakak bagus banget, lebih bagus dari penyanyi di TV!"

Hati Dika terasa penuh meluap. Dukungan keluarga ini adalah bahan bakar paling dahsyat baginya. Dia makin yakin, keputusannya untuk mengembangkan bakat menyanyi itu adalah keputusan yang paling tepat. Dia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk melihat senyum bahagia orang-orang yang dicintainya.

Malam itu, di kamarnya, Dika segera menuliskan jadwal harian barunya di buku catatan kesayangannya. Di samping jadwal lari pagi, latihan teknik bola, dan jadwal ke warnet untuk memantau Bitcoin, kini tertulis jelas:

JADWAL HARIAN - TAMBAHAN:

- Pagi: Latihan pernapasan vokal 15 menit sebelum berangkat sekolah.

- Siang: Latihan intonasi dan penghafalan nada sambil istirahat.

- Malam: Belajar teori musik, teknik vokal, dan berlatih lagu baru minimal 30 menit sebelum tidur.

- Catatan: Mulai cari buku panduan menyanyi, dengarkan lagu-lagu berkualitas untuk mempelajari gaya bernyanyi yang benar.

Dika tersenyum puas melihat jadwal itu. Hidupnya kini terstruktur sangat rapi dan penuh tujuan. Dia sadar, waktu adalah aset paling berharga yang dia miliki sekarang, dan dia tidak akan membuang sedetik pun.

Keesokan harinya, Dika berangkat sekolah dengan semangat baru. Di perjalanan, dia sudah mulai berlatih pernapasan diafragma seperti yang pernah dia baca di artikel-artikel kesehatan dan seni suara di masa depan. Dia menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu menghembuskannya perlahan dan teratur. Rio yang berjalan di sampingnya melihat tingkah sahabatnya itu dengan wajah bingung.

"Dik... kamu ngapain ngos-ngosan sendiri kayak orang habis lari maraton? Nggak sakit kan paru-parunya?" tanya Rio cemas.

"Ini latihan, Rio. Latihan dasar buat nyanyi. Pernapasan itu kunci utama. Kalau napas kita panjang dan kuat, suara kita bakal stabil, kuat, dan bisa menyanyikan nada panjang tanpa putus-putus. Sama persis kayak di sepak bola, pernapasan yang baik bikin kita nggak gampang lelah lari bolak-balik sepanjang pertandingan. Semuanya saling nyambung, tahu nggak?" jelas Dika dengan antusias.

Rio menggeleng-gelengkan kepala takjub. "Duh, kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Kamu jago banget nyambung-nyambungkan hal yang beda jadi satu kesatuan. Pokoknya aku salut deh sama kamu. Apa saja yang kamu pelajari, pasti ada gunanya buat masa depan."

Sesampainya di sekolah, hari itu terasa lebih istimewa. Pak Budi, yang sudah mengamati perubahan luar biasa pada tim sepak bola sekolahnya, datang menghampiri Dika dan teman-temannya saat jam istirahat. Wajah Pak Budi tampak berseri-seri dan bangga sekali.

"Saya lihat perubahan besar pada kalian semua, apalagi kamu Dika," kata Pak Budi sambil menepuk bahu Dika dengan kekaguman. "Latihan tambahan yang kalian lakukan sepulang sekolah itu terlihat hasilnya sekali. Gerakan kalian lebih rapi, pemahaman kalian lebih dalam. Dan ada kabar gembira. Bulan depan akan diadakan seleksi terbuka untuk masuk Tim Sepak Bola Kota. Anak-anak terbaik dari seluruh sekolah di sini akan dikumpulkan untuk dibentuk tim inti mewakili kota kita ke tingkat provinsi. Saya sudah mendaftarkan nama kalian semua, khususnya kamu, Dika, dan kamu Raka. Saya yakin kalian berdua pasti terpilih."

Berita itu sontak membuat hati Dika berdebar kencang. Ini dia! Langkah besar pertamanya menuju panggung yang lebih luas. Seleksi Tim Kota adalah gerbang awal menuju tim tingkat nasional, menuju akademi besar, dan menuju mimpi Piala Dunia itu.

"Terima kasih banyak, Pak! Kami akan berjuang sekuat tenaga, kami janji!" jawab Dika dengan mata berbinar semangat.

"Bagus. Nah, karena persaingannya bakal ketat sekali, mulai besok saya bakal ikut gabung latihan sama kalian sepulang sekolah. Kita tambah intensitasnya. Saya ingin melihat kemampuan terbaik kalian. Dan... saya dengar kabar baru lagi nih," Pak Budi tersenyum jahil, menatap Dika lekat-lekat. "Katanya kamu bukan cuma jago nendang bola ya? Katanya suaramu merdu sekali sampai bikin teman-temanmu takjub? Besok kalau latihan istirahat, nyanyikan Bapak satu lagu ya. Penasaran nih, apakah benar anak didik saya ini jenius sejati di segala hal."

Wajah Dika memerah malu, sementara Rio dan Raka langsung tertawa keras sambil bersorak.

"Siap, Pak! Nanti Dika nyanyikan lagu kebangsaan deh, biar makin semangat latihannya!" seru Rio mewakili Dika, membuat suasana makin hangat dan gembira.

Hari itu berakhir dengan perasaan yang meluap-luap bagi Dika. Di depan matanya, jalan menuju kesuksesan terbuka semakin lebar. Ada seleksi besar yang menunggu, ada rencana investasi masa depan yang harus dijalankan, dan ada bakat menyanyi baru yang harus diasah. Dika sadar, tantangan ke depannya akan makin berat, makin banyak tenaga dan waktu yang dibutuhkan. Tapi dia tidak gentar. Justru, dia merasa hidupnya makin berwarna, makin bermakna, dan makin indah.

Malam itu, Dika kembali duduk di meja belajarnya, menatap langit malam yang bertabur bintang. Di dalam hatinya, dia berjanji pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.

"Aku akan gunakan kesempatan kedua ini sebaik-baiknya. Aku akan jadi pemain bola hebat yang membanggakan bangsa, aku akan jadi penyanyi yang karyanya dikenang banyak orang, dan aku akan jadi anak yang membahagiakan kedua orang tuanya. Apapun yang terjadi, aku tidak akan berhenti belajar, tidak akan berhenti berjuang. Aku akan menaklukkan dunia dengan caraku sendiri."

Perjalanan ini masih sangat panjang. Seleksi Tim Kota, pembelian Bitcoin pertama, dan perjalanan karier menyanyi baru saja dimulai. Dika tahu, kisah hidupnya baru saja masuk ke babak yang jauh lebih seru, jauh lebih menantang, dan jauh lebih gemilang.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!