NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: DI BAWAH ATAP RUMAH TUA

Hujan di luar markas kepolisian Mapolda Jawa Tengah malam itu seolah tidak punya niat untuk reda. Bagi Ibu Retno, setiap tetesan air yang menghantam kaca spion mobil sedan miliknya terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran total keluarga Wijaya. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, takhta marmer yang beliau bangun dengan kesombongan di Semarang runtuh tak bersisa. Mas Rendra, anak laki-laki kebanggaannya yang mengenakan beskap pengantin, malam ini harus mendekam di balik sel tahanan sementara yang dingin dan berbau pesing atas tuduhan berlapis: penipuan murni, pemalsuan dokumen kependudukan, dan pelanggaran berat hukum perkawinan.

Di dalam mobil yang melaju membelah pekatnya malam menuju Sukorejo—desa asal-usulku—Ibu Retno terus meremas saputangan sutranya hingga lecek. Wajahnya yang biasa anggun kini tampak kusam, pucat, dan dipenuhi gurat keputusasaan yang amat mendalam. Setelah tawarannya ditolak mentah-mentah oleh keluarga Sari yang kaya, otak licik Ibu Retno berputar mencari celah lain. Beliau tahu, saksi kunci yang memegang kartu mati untuk menjebloskan Rendra ke penjara adalah aku, Sri Wahyuni. Jika aku, sebagai istri pertama, maju ke depan penyidik, maka tamatlah riwayat anaknya.

"Kita harus buat Yuni bungkam, Didi. Anak desa itu pasti bisa disogok dengan uang," bisik Ibu Retno dengan suara yang bergetar hebat.

Pak Didi menyetir dengan rahang yang mengatup rapat, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Beliau hanya menghela napas pendek, membiarkan istrinya tenggelam dalam keputusasaan yang memburu waktu sebelum fajar tiba.

Mobil mewah mereka berhenti di depan sebuah rumah tua berdinding papan renggang dengan lantai semen retak-retak. Rumah orang tuaku yang bersahaja tampak sunyi di bawah temaram gerimis Maret. Ibu Retno turun dari mobil dengan langkah yang tergesa-gesa, mengabaikan lumpur desa yang mengotori sepatu mahalnya. Beliau tidak lagi memiliki sisa-sisa keangkuhan seorang nyonya besar pemilik toko tekstil grosir.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kayu jati tua yang sudah kusam itu perlahan terbuka. Sosok pria paruh baya dengan sarung tersampir di pundak melangkah keluar. Bapak. Begitu matanya yang biasa teduh menangkap sosok Ibu Retno dan Pak Didi berdiri di depan rumahnya, rahang Bapak seketika mengeras.

"Mau apa lagi kalian ke sini?!" suara Bapak terdengar berat dan dingin, memecah keheningan malam.

Ibu Retno seketika melangkah maju, lalu tanpa memedulikan harga dirinya lagi, beliau langsung menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Pak Didi... Ibu... tolong, saya datang ke sini dengan niat baik. Saya ingin berbicara dengan Yuni dan Anda selaku orang tuanya."

Mendengar keributan di depan, aku dan Ibu melangkah keluar dari kamar dalam. Tubuhku yang berbalut baju kurung longgar menegang saat melihat wanita yang selama empat bulan ini memperlakukanku bagai pelayan tanpa suara di rumah marmernya. Kulindungi perutku yang berusia empat bulan dengan sebelah tangan, menatapnya dengan tatapan yang kini mati rasa.

"Yuni... Gusti Allah, Yuni, Nduk," Ibu Retno meratap, mencoba mendekatiku namun langsung dihalangi oleh tubuh tegap Bapak yang berdiri pasang badan di depan pintu. "Ibu mohon, Yuni. Tolong selamatkan Mas Rendra-mu. Dia malam ini ditahan di Mapolda karena laporan keluarga Sari."

Bapak mendengus kencang, menatap Ibu Retno dengan pandangan penuh kejijikan. "Lalu apa urusannya dengan anakku? Bukankah pagi tadi anakmu yang tampan dan kaya itu sudah bersanding bahagia di pelaminan bersama wanita pilihannya? Kenapa sekarang kalian mengemis di rumah reot kami?!"

Ibu Retno menangis terisak-isak, wajahnya yang sembap tampak memelas. "Pak, ini semua salah paham. Pernikahan Rendra dan Sari itu hanya di atas kertas, hanya pernikahan simbolis untuk menghindari denda denda emas! Rendra tidak mencintai Sari! Dia hanya mencintai Yuni! Rendra dipaksa!"

Beliau kemudian menatapku dengan tatapan memohon yang luar biasa licik. "Yuni, kamu tahu kan seberapa besar Mas Rendra mencintaimu setiap malam di kamar? Kamu sedang hamil anaknya, Yuni! Kamu pasti tidak mau anakmu lahir tanpa seorang ayah yang mendekam di penjara!"

Aku terdiam, hatiku mencelos mendengar nama Mas Rendra disebut, namun rasa muak karena dikhianati jauh lebih besar dari rasa kasihan apa pun yang tersisa.

"Ibu punya jalan keluar, Yuni," ujar Ibu Retno dengan suara yang menggebu-gebu, mencoba menjual sisa-sisa muslihatnya. "Besok pagi, tim penyidik akan memanggilmu sebagai saksi. Ibu mohon... bersaksilah di depan polisi bahwa pernikahanmu dan Rendra itu tidak pernah terjadi!"

Dar! Kata-kata yang keluar dari mulut Ibu Retno bagai petir yang menyambar di dalam rumah tua kami. Aku membelalakkan mata, tidak percaya dengan kegilaan wanita di hadapanku ini.

"Katakan pada polisi bahwa akta nikah kalian di KUA Sukorejo itu fiktif, atau katakan bahwa kalian hanya menikah siri yang belum diresmikan oleh negara, sehingga status Rendra di KTP lajang itu benar adanya!" lanjut Ibu Retno tanpa malu, suaranya kian cepat. "Jika kamu bersaksi bahwa pernikahan kalian tidak pernah terjadi secara sah, maka pasal perkawinan ganda dan penipuan dokumen itu akan gugur dengan sendirinya! Rendra bisa bebas, Yuni! Dan Ibu berjanji, setelah Rendra bebas, kita akan kembali hidup bersama di Semarang. Ibu tidak akan memarahimu lagi, Ibu berjanji!"

"CUKUP!!!"

Bentakan menggelegar dari Bapak seketika memotong ratapan gila Ibu Retno. Suara Bapak begitu keras hingga bergetar menembus dinding-dinding papan rumah kami. Sepasang mata tua Bapak berkilat tajam bagai belati yang siap menghujam, memancarkan amarah seorang ayah yang harga diri anaknya telah diinjak-injak sampai ke titik paling rendah.

Bapak melangkah maju satu langkah, menunjuk tepat di depan wajah Ibu Retno dengan jarinya yang kasar karena bertahun-tahun menempa ladang.

"Perempuan iblis!" desis Bapak, suaranya bergetar rendah namun beralas ancaman yang luar biasa mengerikan. "Kamu datang ke sini, ke rumahku yang reot ini, setelah memperlakukan anakku bagai budak selama empat bulan! Kamu menjadikannya keset penahan utang emas keluargamu, dan sekarang dengan tidak tahu malunya kamu menyuruh anakku menghapus statusnya sendiri sebagai istri sah?!"

"Pak, tolong pikirkan masa depan cucu Anda—" Ibu Retno mencoba memotong sembari menangis.

"Diam kamu!" bentak Bapak lagi, membuat Ibu Retno tersentak mundur ketakutan. "Kamu menyuruh Yuni berbohong di depan hukum dan mengatakan pernikahannya tidak pernah terjadi? Kamu mau anakku bersaksi bahwa anak yang dikandungnya ini adalah anak haram hasil hubungan tanpa nikah, demi menyelamatkan anak pengecutmu itu?! Hah?!"

Napas Bapak memburu, dadanya kembang kempis menahan murka yang kian memuncak. "Kita memang orang miskin! Rumah kami beralas semen retak dan dinding kami papan lapuk! Tapi asal kamu tahu, Nyonya Retno, harga diri anakku, Sri Wahyuni, tidak akan pernah bisa kamu beli dengan sisa-sisa uang tokomu yang seret itu!"

Ibu yang berdiri di sampingku ikut menangis, memeluk pundakku erat-eratif. "Pulang kalian! Pulang! Jangan berani-berani menginjakkan kaki di halaman rumah kami lagi!" teriak Ibu dengan suara parau.

Bapak berjalan ke arah sudut pintu, mengambil sapu lidi yang tadi digunakannya, lalu mengacungkannya ke arah Ibu Retno dan Pak Didi. "Keluar dari rumahku sekarang juga! Jangan sampai sapu ini memukul wajah sombongmu itu! Jangankan membantu anakmu bebas, besok pagi aku sendiri yang akan mengantarkan Yuni ke Mapolda Jawa Tengah! Kami akan membawa akta nikah yang sah, kami akan membawa alat tes kehamilan ini, dan kami akan memastikan anakmu membusuk di dalam penjara atas setiap tetes keringat dan air mata yang dia peras dari anakku!"

Ibu Retno tertegun, tubuh nyonya besar itu seketika lemas, menyadari bahwa taktik manipulasinya telah membentur dinding karang pertahanan seorang ayah yang tidak bisa disogok oleh apa pun. Pak Didi yang melihat situasi sudah tidak bisa dikendalikan, langsung menarik lengan istrinya secara paksa untuk mundur keluar dari teras rumah.

"Ayo pulang, Retno. Sudah tidak ada gunanya lagi," desis Pak Didi dengan wajah yang sarat akan rasa malu yang teramat dalam.

Ibu Retno terus menangis meraung-raung di tengah gerimis malam Maret, memanggil namaku yang kini menatapnya dengan tatapan dingin tanpa air mata dari balik pintu. Pintu kayu jati tua rumah orang tuaku dibanting keras oleh Bapak tepat di depan wajah mereka, mengakhiri seluruh perjuangan kotor keluarga Wijaya malam itu.

Di dalam keheningan ruang tamu yang remang, Bapak berbalik menatapku. Beliau mengelus kepalaku dengan tangan tuanya yang masih bergetar karena sisa amarah. "Jangan takut, Yuni. Selama Bapak masih bernapas, tidak akan ada satu pun orang kaya dari kota yang bisa mempermainkan hidupmu dan anakmu lagi."

Aku mengangguk pelan, mendekap perutku dengan rasa aman yang hakiki. Janji karma yang tertulis di atas meja rias rumah marmer Semarang itu kini telah resmi berjalan menemui takdirnya, dan fajar esok hari di Mapolda akan menjadi awal dari keruntuhan mutlak keluarga Wijaya yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!