NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di Balik Asap

Bau asap dan rasa marah yang membara seolah terasa menyelimuti seluruh ruang tengah vila, meski lokasi kebakaran berjarak beberapa kilometer dari tempat mereka berdiri. Alex berdiri tegak, punggungnya lurus kaku, dan bayangan cahaya lampu ruangan membuat raut wajahnya tampak lebih gelap dan mengerikan dari biasanya. Amarahnya tidak lagi meledak dalam bentakan, melainkan berubah menjadi ketenangan yang jauh lebih menakutkan tanda bahwa ia sudah memutuskan sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.

“Kita ke sana sekarang,” perintah Alex dengan suara rendah namun tegas, tanpa membuang waktu sedetik pun.

Aulia segera bangkit berdiri, meski hatinya berdebar kencang, ia tidak mau ditinggalkan begitu saja. “Aku ikut juga.”

Alex menoleh, matanya menatap wanita itu sejenak, ingin melarangnya karena takut ada bahaya tersembunyi di lokasi kejadian, namun melihat ketegasan di tatapan Aulia membuatnya mengangguk pelan. Ia tahu, Aulia bukan lagi wanita yang hanya bisa menunggu di balik pintu. Ia adalah bagian dari perjuangan ini.

“Baik, tapi kau tetap di sampingku dan jangan melangkah ke area yang berbahaya,” tegas Alex.

Dalam waktu singkat, iring-iringan mobil melaju kencang menuju lokasi rumah produksi. Sesampainya di sana, pemandangan yang terlihat membuat dada Aulia terasa sesak. Api sudah berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran, menyisakan tumpukan puing hitam, asap tipis yang masih mengepul, dan bau gosong yang menusuk hidung. Tempat yang dulu penuh warna, alat desain, kain-kain indah, dan naskah cerita yang telah mereka persiapkan selama berbulan-bulan kini berubah menjadi abu dan kerusakan parah.

Aulia melangkah mendekat perlahan, matanya berkaca-kaca melihat sisa-sisa sketsa dan peralatan kerjanya yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Ia telah mencurahkan waktu, tenaga, dan seluruh pikirannya untuk proyek ini, melihatnya hancur dalam semalam terasa seperti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Alex berdiri di sampingnya, tangannya segera melingkar erat di bahu Aulia, memberikan kekuatan tanpa perlu banyak bicara. Ia menatap puing-puing itu dengan tatapan tajam, seolah sedang membaca jejak kejahatan yang tertinggal. Rio dan timnya sudah mulai menyelidiki setiap sudut, mengumpulkan sisa barang yang mungkin masih utuh dan mencari bukti tambahan.

“Bos, sesuai dugaan. Api dipicu dari beberapa titik sekaligus menggunakan cairan yang mudah terbakar. Ini jelas bukan kecelakaan biasa,” lapor Rio sambil memegang sebotol sampel sisa cairan yang ditemukan. “Dan saksi yang melihat mobilnya sudah kami catat keterangannya. Plat nomornya terdaftar atas nama perusahaan yang terafiliasi dengan Ramon Salazar.”

Mendengar itu, genggaman tangan Alex di bahu Aulia semakin erat. “Dia ingin menghancurkan semangat kita. Dia pikir dengan membakar tempat ini, proyek kita akan berhenti dan aku akan mundur karena kekalahan.”

Aulia mengusap sudut matanya yang basah, lalu menoleh menatap Alex dengan tatapan yang tidak lagi lemah, melainkan penuh semangat juang. “Dia salah besar, Alex. Barang-barang fisik memang bisa dibakar, tapi ide, konsep, dan kerja keras kita tidak akan pernah habis. Aku masih mengingat setiap detail desain, setiap sketsa yang pernah kubuat. Kita bisa memulainya lagi.”

Kata-kata itu seperti percikan api yang membangkitkan tekad Alex. Ia menatap wajah Aulia dengan rasa bangga yang meluap-luap. Wanita ini tidak hanya cantik, tapi juga memiliki ketegaran yang luar biasa.

“Kau benar. Jika dia ingin main api, maka aku akan tunjukkan padanya siapa yang sesungguhnya menguasai kobaran api ini,” ucap Alex dingin. “Rio, kumpulkan semua bukti yang ada. Besok pagi kita mulai langkah pertama. Kita tidak hanya akan memulihkan proyek ini, tapi juga menjatuhkan Ramon Salazar selamanya.”

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hening namun penuh perhitungan. Sesampainya kembali di vila, meski larut malam, mereka tidak langsung beristirahat. Di ruang kerja yang tenang, Alex mulai menyusun strategi, sementara Aulia duduk di sampingnya, mencatat dan memberikan masukan yang sering kali justru membuka sudut pandang baru yang tidak terpikirkan oleh Alex.

“Di dunia bisnis, dia mengandalkan kecepatan dan modal besar,” kata Aulia sambil menunjuk peta jaringan perusahaan yang tergambar di atas kertas. “Tapi dia lemah pada kepercayaan dan transparansi. Jika kita membocorkan laporan aliran dana yang mencurigakan itu ke lembaga pengawas keuangan, mereka akan mulai memeriksa seluruh transaksinya. Saat itu terjadi, mitra-mitranya akan mulai ragu dan mundur satu per satu.”

Alex tersenyum tipis, senyum yang penuh persetujuan. “Pandanganmu tajam, Sayang. Sementara itu, di jalur lain, aku akan menggerakkan orang-orang di bawah untuk memutus aksesnya ke jalur pasokan barang dan layanan yang selama ini ia gunakan. Tanpa dukungan dari dua sisi itu, kerajaannya akan runtuh dengan sendirinya.”

Namun, di tengah kesibukan menyusun rencana, suasana berubah seketika saat suara ketukan pintu terdengar, diikuti oleh kedatangan seseorang yang membuat suasana menjadi sedikit tegang. Isabella Voss datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mengenakan pakaian malam yang masih sama mewahnya, seolah baru saja kembali dari pesta juga.

“Maaf mengganggu di jam selarut ini,” ucap Isabella dengan nada sopan namun tatapannya langsung tertuju pada Alex, hampir mengabaikan kehadiran Aulia yang duduk di sebelahnya. “Aku mendengar kabar tentang kebakaran tadi. Aku khawatir dan ingin memastikan kau baik-baik saja, Alex. Jika kau butuh bantuan dana atau tempat sementara untuk melanjutkan proyek, perusahaanku siap membantu kapan saja.”

Niatnya terlihat mulia, namun nada bicaranya dan cara ia menatap Alex membuat Aulia kembali merasakan rasa tidak nyaman yang sama seperti tadi malam. Rasa cemburu yang halus kembali menyelinap masuk ke dalam hatinya, membuat ia menunduk sebentar, berusaha menahan perasaan itu agar tidak terlihat.

Alex segera berdiri dan menutup buku catatannya, sikapnya terlihat lebih menjaga jarak dibandingkan sebelumnya. “Terima kasih atas perhatianmu, Isabella. Tapi ini urusan internal Surya Corp. Kami sudah punya rencana sendiri untuk mengatasinya. Tidak perlu bantuan dari pihak luar.”

Jawaban tegas itu membuat Isabella tertegun sedikit, namun ia tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat, mencoba menatap mata Alex secara langsung. “Alex, kau tidak perlu bersikap dingin padaku. Kita pernah bekerja sama bertahun-tahun. Aku lebih mengerti cara kerja di dunia ini dibandingkan orang lain. Mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh orang yang baru terjun ke dunia bisnis…”

Kalimat itu jelas menyindir posisi Aulia, menyiratkan bahwa wanita muda itu tidak mampu membantu Alex menghadapi masalah seberat ini. Mendengar itu, amarah Alex perlahan naik, namun sebelum ia sempat berbicara, Aulia sudah berdiri dengan tenang, wajahnya datar namun matanya tajam.

“Terima kasih atas kepedulian Anda, Nona Isabella,” ucap Aulia dengan nada halus namun tegas. “Tapi mungkin Anda belum mengerti satu hal. Di rumah ini, di sisi Alex, tidak ada pembagian peran antara siapa yang lebih mengerti atau lebih tua. Kami berbagi segala hal mulai dari kebahagiaan, beban, hingga cara menghadapi masalah. Bantuan yang datang dengan harapan untuk menggantikan posisi seseorang justru akan menjadi beban, bukan solusi.”

Kata-kata itu tepat sasaran, membuat wajah Isabella memerah karena malu dan marah. Ia menatap Aulia dengan pandangan benci, lalu beralih menatap Alex berharap pria itu akan membela dirinya. Namun, Alex justru melangkah berdiri tepat di samping Aulia, tangannya melingkar di pinggang wanita itu dengan tegas sebagai tanda dukungan mutlak.

“Aulia benar. Satu-satunya pendamping dan mitra yang aku butuhkan sudah berdiri di sini. Jika kau datang hanya untuk menawarkan bantuan dengan syarat tertentu, maka lebih baik kau pergi sekarang. Jangan sampai kehadiranmu justru membuat suasana menjadi tidak menyenangkan,” ucap Alex dengan nada dingin yang membuat Isabella sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Aulia.

Dengan wajah kecewa dan marah yang tertahan, Isabella akhirnya mengangguk kaku. “Baiklah. Aku hanya mencoba membantu. Semoga kau tidak menyesal memilih jalan ini, Alex.” Setelah berkata begitu, ia berbalik dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.

Begitu pintu tertutup, Alex segera menoleh menghadap Aulia, melihat raut wajah wanita itu yang terlihat masih sedikit tertekan. Ia mengangkat kedua tangannya, memegang wajah Aulia dengan lembut.

“Kau cemburu lagi?” tanyanya lembut, kali ini dengan senyum kecil yang menghibur.

Aulia menghela napas panjang, lalu menatap mata Alex dengan jujur. “Mungkin ya. Setiap kali dia muncul dan berbicara seolah dia lebih tahu segalanya, aku merasa ada jarak yang ingin dia ciptakan di antara kita. Aku takut dia akan memengaruhimu dengan cara apa pun.”

Alex tertawa pelan, suara yang rendah dan menenangkan. Ia menarik Aulia masuk ke dalam pelukan erat, membiarkan wanita itu bersandar di dadanya mendengarkan detak jantungnya yang stabil.

“Dengarkan aku, Sayang. Rasa cemburu itu wajar, tapi ingatlah satu hal: hati dan pikiranku sudah sepenuhnya menjadi milikmu sejak kau menerima tawaran itu. Isabella, Ramon, atau siapa pun di luar sana tidak memiliki kekuatan untuk memisahkan kita selama kita tetap berdiri berdampingan. Dunia luar mungkin penuh tipu daya, tapi di dalam rumah tangga ini, hanya ada kepercayaan dan cinta kita berdua.”

Aulia meremas pinggang baju Alex erat-erat, merasa seluruh keraguan dan rasa cemburunya perlahan hilang digantikan oleh rasa aman yang mendalam. “Maafkan aku. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatimu.”

“Dan itulah kenyataannya,” bisik Alex, lalu mencium keningnya dengan lembut.

Namun kedamaian itu kembali terganggu, kali ini bukan dari kedatangan tamu yang tidak diinginkan, melainkan dari kabar yang datang lewat telepon genggam Rio. Wajah Rio yang baru saja mengantar tamu keluar berubah kembali menjadi pucat dan tegang saat ia mendengarkan laporan dari anak buahnya. Ia segera berjalan cepat mendekati Alex dan Aulia.

“Bos… ada laporan baru yang sangat mendesak. Tim pengawas yang bertugas mengamankan kampus tempat Nona Aulia berkuliah melaporkan ada gerakan mencurigakan. Beberapa orang asing terlihat mengintai area parkiran dan jalan masuk utama sejak tadi malam. Bahkan, mereka sempat mencoba menyamar sebagai petugas keamanan untuk memeriksa jadwal perkuliahan Aulia.”

Berita itu membuat suasana seketika berubah menjadi dingin mencekam. Tatapan Alex langsung berubah menjadi gelap dan penuh bahaya. Ramon Salazar sudah kehabisan akal dalam urusan bisnis, sehingga ia berani menurunkan standar dengan menyerang sasaran paling lemah dan paling berharga bagi Alex Aulia.

“Dia berani mengincar tempat yang seharusnya aman dan jauh dari dunia ini,” desis Alex, suaranya rendah namun mengandung amarah yang meledak siap meluap. “Dia benar-benar ingin mati dengan cara yang paling menyakitkan.”

Aulia merasa jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut pada dirinya sendiri, melainkan karena ia tahu bahwa jika Ramon sampai melangkah sejauh ini, maka perang yang akan terjadi selanjutnya tidak akan lagi mengenal batas apa pun.

“Dia ingin memancingmu keluar, Alex. Dia tahu kau akan bertindak nekat jika keselamatanku terancam,” ucap Aulia dengan suara sedikit bergetar namun tetap tenang.

“Memancing atau tidak, dia sudah melampaui garis batas terakhir,” jawab Alex tajam. “Jika dia mengira mengancam keselamatanmu akan membuatku mundur, dia salah besar. Justru dengan tindakan ini, dia baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri.”

Namun, sebelum mereka sempat menyusun langkah pencegahan lebih lanjut, ponsel Alex berdering keras. Nomor yang tertera tidak dikenal, namun Alex mengangkatnya dengan cepat. Di seberang sana, terdengar suara tawa dingin dan sombong yang langsung dikenali oleh telinganya suara Ramon Salazar.

“Selamat malam, Alex. Kudengar kau baru saja kehilangan tempat kerjamu. Dan sekarang, apakah kau sudah mendengar kabar tentang orang yang paling kau sayangi? Jika kau ingin Aulia tetap aman dan bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, datanglah sendirian ke tempat yang akan kukirimkan alamatnya. Jangan bawa pengawal, jangan bawa senjata. Kalau tidak… kau akan menyesal seumur hidup.”

Telepon itu langsung terputus, meninggalkan keheningan yang mencekam dan penuh ketegangan. Wajah Alex seketika berubah mengerikan, matanya menyala seperti api yang siap melahap segalanya. Ramon tidak hanya mengancam, ia sudah mulai menjalankan rencana terakhirnya menjerat Alex ke dalam perangkap maut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!