NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - Rave Tidak Tenang

Sore turun perlahan di sekitar kampus, membawa cahaya jingga yang menempel di dinding-dinding gedung tua dan aspal halaman yang sejak pagi ramai diinjak banyak orang. Festival tahunan hampir selesai. Tenda mulai dibongkar satu per satu, musik dari panggung utama dimatikan, dan mahasiswa yang sejak siang memenuhi area kampus kini berangsur pulang sambil membawa poster, kardus, atau sisa makanan dari stand.

Di tengah suasana yang mulai lengang itu, Raveon Arshen melangkah santai melewati gerbang samping sambil membawa paper bag berisi dua gelas kopi dingin. Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi jelas terarah. Ia datang bukan karena ada urusan penting atau karena diminta siapa pun. Ia hanya tahu Airel menjaga stand sejak siang, dan pengalaman bertahun-tahun mengajarinya satu hal sederhana, jika Airel terlalu sibuk, ia akan lupa makan lalu pura-pura baik-baik saja.

Rave mengangkat paper bag sedikit sambil mendecak pelan. “Kalau gue setia begini, minimal dibalas traktir seumur hidup,” gumamnya sendiri. Angin sore meniup rambut depannya hingga menutupi mata. Ia menepisnya malas, lalu menyeberang ke arah lapangan utama dengan pandangan sibuk mencari satu sosok yang sudah terlalu dikenalnya.

Matanya menyisir sisa keramaian, melewati panitia yang sedang menggulung kabel, mahasiswa yang berfoto terakhir kali di depan backdrop acara, dan penjaga stand yang mulai menutup meja dagangan. Namun orang yang ia cari belum terlihat. Sebelum sempat berjalan lebih jauh, pandangannya justru berhenti pada seseorang yang berdiri di dekat panggung.

Seorang pria tinggi sedang menurunkan kamera dari lehernya. Jaket hitam digantung di satu bahu, lengan kemeja abu digulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan oleh angin. Wajahnya tenang dengan ekspresi datar yang nyaris sulit dibaca. Ia berbicara singkat dengan panitia lain lalu menerima beberapa lembar kertas seolah terbiasa berada di tengah keramaian tanpa benar-benar menjadi bagian darinya.

Rave melambat.

Tidak ada yang aneh seharusnya. Itu hanya mahasiswa lain yang ikut membantu dokumentasi acara. Namun entah kenapa, langkahnya berhenti sendiri.

Ada sesuatu pada wajah pria itu. Bukan detail yang jelas seperti bentuk mata atau garis rahang. Lebih seperti kesan lama yang tiba-tiba muncul dan mengetuk bagian ingatan yang selama ini diam.

Rave menatap lebih lama.

Pria itu menoleh setengah karena dipanggil seseorang. Cahaya senja jatuh di sisi wajahnya, memperjelas profil yang tegas dan sorot mata yang terlalu tenang. Saat itulah dada Rave menegang pelan.

Ia pernah melihat kesan seperti itu.

Bertahun-tahun lalu.

Dalam tubuh lebih kecil, dengan seragam sekolah kusut, lutut lecet, mata waspada, dan cara berdiri seolah siap melindungi sesuatu yang lebih penting dari dirinya sendiri.

Mustahil.

“Mas.”

Suara seorang panitia memecah lamunannya. “File fotonya nanti dikirim ke grup ya.”

Pria itu mengangguk singkat. “Oke.”

Suara rendah, datar, tanpa banyak nada.

Nama yang beberapa minggu terakhir sering disebut Airel mendadak muncul jelas di kepala Rave.

Zev.

Jadi ini Zevarion Hale.

Pria yang membuat Airel lebih sering tersenyum saat menatap ponsel. Pria yang namanya beberapa kali keluar tanpa sengaja di tengah obrolan. Pria yang kehadirannya mengubah suasana hati seorang perempuan yang selama ini terlalu pandai menyimpan semuanya sendiri.

Dan sekarang, tanpa alasan yang jelas, pria itu juga membuat masa lalu bergerak pelan di kepala Rave.

Ia tidak suka teka-teki. Karena itu Rave langsung berjalan mendekat.

Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Zev sedang memasukkan kamera ke tas hitam di kakinya. Rave berhenti tepat di depan pria itu sambil mengangkat dagu sedikit.

“Permisi.”

Zev mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu, dan rasa tidak nyaman di dada Rave justru makin jelas. Mata pria ini tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Terlalu matang untuk usia mereka. Terlalu hati-hati untuk seseorang yang tampak santai.

“Iya?” tanya Zev.

Rave sadar ia sempat diam terlalu lama. Ia mengangkat paper bag di tangan kanannya. “Santai. Gue nyari Airel.”

Nama itu membuat ekspresi Zev berubah tipis. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup terlihat bagi orang yang terbiasa membaca orang lain.

“Dia di stand buku,” jawab Zev.

“Tau tempatnya?”

Zev menunjuk ke sisi timur lapangan. “Dekat gedung perpustakaan.”

“Thanks.”

Rave berbalik hendak pergi, tetapi rasa penasaran menahan langkahnya lagi. Ia menoleh setengah dan kembali menatap pria di belakangnya.

“Eh.”

Zev menatap lagi.

“Kita pernah ketemu?”

“Kayaknya enggak.”

“Yakin?”

“Harusnya.”

Jawaban itu keluar singkat, tetapi ada jeda kecil sebelum kata terakhir. Rave menangkapnya dengan jelas. Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak berisi curiga daripada ramah.

“Harusnya?”

Zev mengalihkan pandangan ke lapangan yang mulai sepi. “Ingatan gue enggak terlalu lengkap.”

Rave mengernyit.

“Aneh.”

“Banyak yang bilang gitu.”

Rave tertawa kecil lalu menepuk paper bag di tangannya. “Oke. Thanks, Zev.”

Ia sengaja menekankan nama itu. Zev hanya mengangguk tanpa bereaksi.

Rave berjalan menjauh, tetapi pikirannya tertinggal di belakang. Ingatan tidak lengkap. Wajah familiar. Perubahan halus saat nama Airel disebut. Dan sesuatu di sorot mata pria itu yang terasa terlalu tua untuk disebut kebetulan.

Saat sampai di stand buku, Airel sedang berjongkok membereskan kardus berisi sisa stok novel. Rambutnya diikat asal, lengan kemeja digulung, pipinya sedikit kusam karena lelah seharian.

“Kamu lama banget,” katanya tanpa menoleh.

“Aku sempat ketemu pacarmu.”

Airel langsung menegakkan badan dan menatapnya. “Apa?”

Rave menyerahkan satu gelas kopi. “Nah, ekspresi itu menarik.”

“Rave.”

“Tenang. Bercanda.”

Airel menerima gelas itu dengan pipi yang mulai berwarna. “Dia bukan pacarku.”

“Belum.”

“Rave.”

“Baik, baik. Belum resmi.”

Airel memukul lengannya pelan. Rave tertawa, tetapi tawanya tidak bertahan lama. Ia justru diam sambil memperhatikan wajah temannya itu.

Airel memang berubah.

Bukan sekadar lebih sering tersenyum. Bahunya terlihat lebih ringan. Matanya lebih hidup. Bahkan saat lelah, ada semacam cahaya kecil yang dulu jarang terlihat. Sebagai orang yang sudah lama ada di sekitar hidup Airel, Rave tahu perubahan seperti itu tidak datang tanpa sebab.

Dan ia harus mengakui sesuatu yang tidak ia sukai.

Zev membawa pengaruh baik.

Masalahnya, pria itu juga membawa sesuatu yang lama.

“Kamu kenapa?” tanya Airel.

Rave tersadar. “Kenapa apanya?”

“Kamu dari tadi mikir.”

“Aku emang punya otak.”

“Bukan itu.”

Airel menatapnya lebih teliti. “Kamu habis ketemu Zev?”

“Iya.”

“Terus?”

Rave bersandar di meja stand sambil melipat tangan. “Terus mukanya ngeselin.”

Airel memutar mata. “Kamu cemburu ya?”

“Aku jijik dengar kalimat itu.”

Namun candaan tidak cukup menghapus pikirannya. Ia kembali melirik ke arah lapangan. Dari kejauhan, Zev sedang berjalan menjauh sambil membawa tas kamera di pundak. Siluet itu lagi-lagi menabrak satu kenangan lama.

Tujuh tahun lalu, hujan turun deras di taman kecil dekat jembatan lama. Rave datang terlambat karena mencari Airel yang belum pulang. Saat menemukannya, Airel sedang menangis dengan lutut kotor dan tangan gemetar.

Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki.

Baju sekolahnya basah kuyup. Siku kirinya lecet. Napasnya tersengal seperti habis berkelahi atau berlari jauh. Namun ia tetap berdiri sedikit di depan Airel, seolah tanpa sadar menjaga jarak antara gadis kecil itu dan dunia luar.

Saat Rave datang, anak itu hanya menatap sebentar lalu pergi tanpa bicara.

Wajahnya kabur dimakan waktu.

Tetapi kesannya tertinggal.

Sorot mata tenang yang aneh untuk anak seusia itu. Cara diam yang seolah menyimpan terlalu banyak hal. Dan kebiasaan melindungi tanpa minta dilihat.

Kini kesan yang sama muncul di wajah Zev.

Mustahil.

Anak-anak berubah. Tubuh berubah. Nama bisa berubah. Kehidupan apalagi.

Namun beberapa tatapan memang tidak pernah benar-benar berganti.

“Airel,” panggil Rave lebih pelan.

“Hm?”

“Zev itu pernah cerita masa kecilnya?”

Airel terlihat heran. “Sedikit. Kenapa?”

“Sedikit gimana?”

“Katanya banyak bagian yang kosong. Dia sendiri bingung sama beberapa hal.”

Rave menatap lurus ke depan.

Semakin aneh.

“Ada apa sih?” tanya Airel.

Ia menggeleng pelan. “Belum tahu.”

“Rave.”

“Serius. Aku belum tahu.”

Airel melangkah mendekat satu langkah. “Kamu bikin aku takut.”

Rave menahan napas sebentar lalu memaksakan senyum kecil agar suaranya terdengar ringan. “Aku cuma ngerasa pernah lihat dia.”

“Di mana?”

“Itu masalahnya.”

Ia menatap Airel beberapa detik. Wajah gadis itu berubah hati-hati, seolah namanya saja sudah cukup membuat suasana berbeda.

“Kalau nanti aku tanya sesuatu soal tujuh tahun lalu, kamu jawab jujur ya.”

Ekspresi Airel langsung menegang. Waktu itu masih punya kuasa sebesar itu atas dirinya.

“Kamu kenapa bahas itu lagi?”

“Karena mungkin ada sesuatu yang kelewat.”

Airel menggenggam gelas kopinya lebih erat. Rave tahu ia sedang membuka pintu yang selama ini berusaha ditutup rapat oleh temannya. Namun jika firasatnya benar, pintu itu memang harus dibuka sebelum semuanya berjalan lebih jauh.

Malam mulai turun saat mereka membereskan stand bersama. Lampu halaman menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning di jalan setapak yang basah sisa hujan kemarin. Panitia terakhir mulai pulang sambil membawa sisa perlengkapan.

Di kejauhan, Zev terlihat berdiri sebentar dekat gerbang. Ia tidak mendekat. Hanya menoleh ke arah stand buku, memastikan Airel masih di sana. Setelah beberapa detik, ia memasukkan tangan ke saku lalu berjalan pergi.

Rave menangkap gerakan itu.

Diam-diam memperhatikan.

Menjaga dari jauh.

Sama seperti dulu.

Ia menatap punggung pria itu sampai hilang di tikungan jalan. Lalu di dalam kepalanya, kemungkinan yang sejak tadi terdengar gila mulai tersusun pelan.

Bagaimana jika Zevarion Hale bukan orang baru dalam hidup Airel.

Bagaimana jika ia adalah seseorang yang pernah pergi, lalu kembali dengan nama lain.

Dan jika itu benar, kenapa pria itu sendiri tampak seperti orang yang kehilangan jalan menuju masa lalunya.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!