NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Serangan Malam dan Kekuatan yang Terbangun

Benturan keras di pintu depan terdengar lagi, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Kunci kayu yang sudah tua itu akhirnya tidak kuat menahan beban. Dengan suara krak yang memecah keheningan malam, kunci itu patah, dan pintu kayu itu terbuka paksa.

Angin malam yang dingin langsung menyerbu masuk, membawa serta debu dan daun kering.

Dan di ambang pintu yang terbuka itu, muncul sosok-sosok gelap yang mengenakan jubah hitam panjang. Wajah mereka tertutup oleh topeng besi yang menyeramkan, berbentuk seperti tengkorak atau binatang buas, sehingga tidak ada satu pun bagian wajah mereka yang terlihat. Di tangan mereka, berkilauan senjata tajam—pedang dan tombak yang dingin di bawah cahaya bulan yang remang.

"Mereka ada di sini!" seru salah satu dari sosok itu dengan suara parau dan terdistorsi, seolah menggunakan sihir untuk menyamarkan suaranya.

Tapi sebelum sosok itu bisa melangkah lebih jauh masuk ke dalam pondok, sebuah auman menggelegar terdengar.

Leonard—yang sudah siap sejak tadi—melompat maju dengan kecepatan yang luar biasa, bagaikan panah yang lepas dari busurnya. Tubuhnya yang besar dan kekar menghantam sosok di depan pintu itu dengan kekuatan yang dahsyat.

Sosok itu terlempar mundur beberapa meter, jatuh tersungkur ke tanah di teras depan, senjatanya terlempar jauh. Teman-temannya berteriak kaget, tidak menyangka serangan secepat itu dari seekor macan kumbang yang mereka anggap hanya sebagai binatang buas biasa.

"Tangkap dia! Jangan biarkan dia melukai kita!" teriak sosok lain, yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu.

Dua sosok lainnya segera maju, mengayunkan pedang mereka ke arah Leonard. Tapi Leonard bukanlah lawan yang mudah. Ia bergerak dengan lincah, menghindari tebasan pedang dengan mudah seolah ia bisa memprediksi gerakan musuhnya. Dengan satu sapuan cakar yang cepat dan kuat, ia memukul tangan salah satu sosok itu, membuat pedangnya terlepas dan terbang ke udara.

Suara dentang besi terdengar nyaring saat pedang itu jatuh ke tanah. Sosok itu menjerit kesakitan saat cakar Leonard sedikit saja menggores lengannya, menembus baju besi yang ia kenakan.

Di dalam pondok, Alexandria berdiri mematung di belakang Leonard saat serangan itu dimulai. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tidak membiarkan rasa takut itu melumpuhkannya. Ia melihat Leonard bertarung dengan gagah berani, melindunginya dengan segenap kekuatannya. Tapi ia juga melihat bahwa musuh-musuh itu tidak sedikit—ada sekitar lima atau enam orang, dan mereka terlatih dalam bertarung.

"Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini," bisik Alexandria pada dirinya sendiri. Ia harus membantu. Ia harus melakukan sesuatu.

Matanya berkeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan. Pandangannya tertuju pada toples-toples ramuan yang ia buat siang tadi. Salah satunya adalah ramuan cabai dan tanaman beracun ringan yang ia racik untuk menjaga hewan liar agar tidak mendekati gudang makanan. Itu tidak mematikan, tapi sangat menyakitkan jika terkena mata atau kulit.

Dengan cepat, Alexandria mengambil toples itu, serta sebuah botol kaca kosong yang lehernya sempit. Ia menuangkan sebagian cairan pedas itu ke dalam botol, lalu menyumbatnya dengan gabus. Ini akan menjadi bom molotov sederhana, meski tanpa api.

Alexandria menghela napas panjang, mengumpulkan keberaniannya. Ia melihat kesempatan saat Leonard sedang berhadapan dengan tiga musuh di teras depan, membiarkan sisi samping pondok sedikit terbuka.

"Leonard! Menyingkir sedikit!" teriak Alexandria sekuat tenaga.

Leonard, yang mendengar suara kekasihnya, seketika mengerti. Dengan gerakan cepat, ia melompat mundur, menjauh dari kelompok musuh yang sedang berkumpul.

Saat itulah, Alexandria berlari keluar dari pondok, mengayunkan lengannya dengan sekuat tenaga, dan melempar botol kaca itu tepat ke arah tengah-tengah kelompok musuh yang sedang bingung melihat gerakan Leonard.

Brak!

Botol itu pecah berkeping-keping saat menyentuh tanah di tengah mereka. Cairan pedas dan menyengat itu tumpah kemana-mana, mengenai kaki, tangan, dan bahkan wajah beberapa dari sosok berjubah itu.

"Aduh! Mataku! Mataku terbakar!" teriak salah satu dari mereka, suaranya panik dan penuh kesakitan.

Yang lain pun mulai batuk-batuk dan mengibas-ngibaskan tangan mereka, terganggu oleh bau tajam dan rasa perih yang menyerang kulit dan mata mereka.

"Bagus, Alexandria! Serangan yang hebat!" batin Leonard bersorak.

Ia tidak menyangka Alexandria punya keberanian dan strategi secepat itu. Melihat wanitanya berjuang bersamanya membuat semangat dan kekuatannya meningkat berkali-kali lipat.

"Serang mereka sekarang! Sebelum mereka pulih!" teriak pemimpin kelompok itu, yang ternyata berhasil menghindari cairan itu.

Ia mencoba mengayunkan tombaknya ke arah Alexandria yang masih berdiri di dekat pintu.

"Jangan sentuh dia!" auman Leonard, kali ini suaranya terdengar berbeda—lebih berat, lebih dalam, dan ada getaran aneh yang menyertainya, seolah bukan hanya suara hewan.

Leonard melompat ke depan, menempatkan dirinya di antara Alexandria dan tombak yang datang. Tombak itu menyengat bahu Leonard, membuat kulitnya robek dan darah segar segera mengalir.

"Leonard!" jerit Alexandria, matanya terbelalak melihat darah di bahu kekasihnya.

Rasa takut bercampur dengan rasa marah yang meledak-ledak. "Kau berani melukainya!"

Tapi Leonard tidak memedulikan lukanya. Rasa sakit itu justru memicu sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini terpendam, sesuatu yang terkunci oleh kutukan namun mulai terbangun karena rasa marah dan keinginan kuat untuk melindungi.

Tiba-tiba, tubuh Leonard mulai bersinar. Cahaya keemasan yang menyilaukan mulai memancar dari dalam bulu hitamnya, semakin terang, semakin panas. Udara di sekitar mereka bergetar, dan angin kencang tiba-tiba berhembus, menerbangkan jubah dan topeng musuh-musuh itu.

"Apa ini? Apa yang terjadi?" teriak salah satu musuh, ketakutan melihat cahaya aneh itu.

Leonard mengaum lagi, tapi kali ini auman itu berubah menjadi suara yang terdengar seperti teriakan manusia yang penuh emosi. Tubuhnya membesar sejenak, lalu... buk!

Sebuah ledakan cahaya kecil terjadi, membuat semua orang harus memejamkan mata sejenak.

Saat cahaya itu mereda dan mata mereka bisa terbuka kembali, pemandangan di teras depan pondok itu membuat semua orang ternganga.

Tidak ada lagi seekor macan kumbang yang berdiri di sana.

Yang berdiri di tempat itu sekarang adalah seorang pria.

Seorang pria jangkung dan berotot, dengan kulit yang tampak sehat dan kuat. Rambutnya hitam legam, agak panjang dan sedikit berantakan karena pertarungan, namun tetap terlihat gagah. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan... matanya. Matanya tetap sama, mata yang begitu familiar bagi Alexandria—mata berwarna keemasan yang menyala dengan api kemarahan dan kekuatan.

Pria itu hanya mengenakan potongan kain kasar yang melilit pinggangnya, menampakkan tubuhnya yang dipenuhi otot-otot yang terbentuk sempurna. Dan di bahu kirinya, terlihat luka goresan yang sama dengan yang dialami macan kumbang tadi, masih mengeluarkan darah segar.

Alexandria menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak, air mata langsung menggenang. Ini... ini adalah pria di mimpinya! Ini adalah pria di sketsa buku ayahnya! Ini adalah Leonard! Leonard dalam wujud manusianya yang sebenarnya!

"Kau..." bisik Alexandria, suaranya bergetar. "Leonard..."

Pria itu—Leonard—menoleh sedikit ke arah Alexandria, dan sejenak, tatapan marahnya melembut saat melihat wajah kekasihnya.

"Aku baik-baik saja, Alexandria," katanya.

Suaranya dalam, serak, namun sangat jelas dan menenangkan. Itu adalah suara yang selama ini hanya didengar Alexandria dalam mimpi.

Kemudian, Leonard kembali menatap musuh-musuhnya yang kini berdiri mematung, wajah mereka pucat pasi di balik topeng yang sebagian sudah terlepas. Mereka terlihat ketakutan setengah mati melihat transformasi yang baru saja terjadi di depan mata mereka.

"Kalian datang ke sini untuk mencariku," kata Leonard, suaranya dingin dan penuh wibawa, setiap kata terdengar berat dan mengintimidasi.

"Kalian berani mengganggu kedamaian rumahku. Dan kalian berani melukai wanita yang aku cintai."

Leonard melangkah maju satu langkah, dan hanya dengan langkah itu, tanah di bawah kakinya seolah bergetar. Aura yang dipancarkannya bukan lagi aura seekor hewan, tapi aura seorang pejuang, aura seorang pangeran dari dunia lain yang penuh kekuatan.

"Sekarang... kalian akan membayarnya," lanjut Leonard, matanya yang keemasan menyala tajam.

Musuh-musuh itu saling berpandangan, terlihat ragu dan takut. Pemimpinnya berteriak, mencoba mempertahankan wibawanya, "Jangan takut! Dia cuma satu orang! Serang! Tangkap dia hidup-hidup atau mati! Lord Valerius akan memberi hadiah besar!"

Namun, semangat mereka sudah goyah. Meskipun begitu, mereka tetap maju, mengayunkan senjata mereka ke arah Leonard yang baru saja berubah wujud dan masih memiliki luka di bahunya. Mereka berpikir dia masih lemah.

Mereka salah besar.

Leonard bergerak dengan kecepatan yang melebihi mata manusia biasa. Sebelum pedang musuh pertama bisa menyentuhnya, Leonard sudah menangkap pergelangan tangan musuh itu dengan satu tangannya. Dengan mudah, ia memutar tangan itu, mendengar suara patah tulang yang mengerikan.

"Aaaarrgh!" jerit musuh itu kesakitan.

Leonard melemparnya ke samping seolah ia hanya boneka kain, membuatnya menabrak temannya yang lain. Dengan tangan kosong, Leonard menangkis serangan pedang dari musuh kedua, lalu memukul perutnya dengan pukulan yang cepat dan kuat, membuat musuh itu terbatuk darah dan terpelanting mundur.

Alexandria berdiri di dekat pintu, memegangi dadanya, menatap Leonard dengan mata berbinar.

Ia takjub, ia bangga, dan ia semakin jatuh cinta melihat pria itu bertarung dengan begitu gagah dan kuat. Ia tahu bahwa Leonard hebat, tapi melihatnya dalam wujud manusianya yang sebenarnya, menggunakan kekuatannya dengan begitu mahir, adalah pemandangan yang luar biasa.

Dalam waktu singkat, lima atau enam orang musuh yang terlatih itu sudah terbaring di tanah, mengerang kesakitan dan ketakutan. Hanya tersisa pemimpin mereka yang masih berdiri, gemetar hebat, pedangnya terangkat lemah di depannya.

"Si... siapa kau?" tanya pemimpin itu dengan suara terbata-bata. "Kau bukan sekadar binatang terkutuk..."

"Aku adalah Leonard," jawab pria itu dengan dingin, matanya menatap tajam ke arah pemimpin itu.

"Dan tempat ini, serta wanita di sana, adalah sesuatu yang tidak boleh kalian sentuh. Katakan pada Lord Valerius—katakan padanya bahwa aku masih hidup. Katakan padanya bahwa aku tidak akan membiarkan dia merusak apa pun yang menjadi milikku. Dan katakan padanya... aku akan datang untuknya."

Pemimpin itu tampak lega karena tidak dibunuh saat itu juga. Ia segera mengangguk-angguk panik.

"Baik! Baiklah! Aku akan menyampaikannya! Sekarang... bolehkah kami pergi?"

"Pergi," perintah Leonard.

"Dan jangan pernah kembali ke sini lagi. Jika aku melihat salah satu dari kalian melangkah ke hutan ini lagi, aku tidak akan sebaik hati ini kali ini."

Tanpa perlu disuruh dua kali, pemimpin itu segera memberi isyarat pada anak buahnya yang masih bisa berjalan untuk mengangkat yang terluka. Mereka berjalan mundur, tidak berani memunggungkan punggung pada Leonard, sampai mereka cukup jauh, lalu mereka berlari sekencang-kencangnya menjauh dari pondok itu, menghilang ke dalam kegelapan hutan.

Setelah memastikan musuh-musuh itu benar-benar pergi, Leonard akhirnya menurunkan pertahanannya. Tubuhnya yang tegap tiba-tiba terasa lemas. Luka di bahunya terasa semakin perih, dan efek dari transformasi yang tiba-tiba itu mulai terasa. Kakinya gemetar, dan ia pun perlahan berlutut di tanah.

"Leonard!" jerit Alexandria, yang langsung berlari menghampirinya.

Ia berlutut di hadapan pria itu, segera memeluknya dengan erat, tidak peduli bahwa ada darah yang menempel di tubuh Leonard.

"Leonard... kamu... kamu benar-benar kamu..." air matanya mengalir deras, bercampur rasa lega dan bahagia.

Leonard menatapnya, tersenyum lemah, lalu mengangkat tangannya yang bebas—tangan manusia yang hangat dan nyata—untuk menyentuh pipi Alexandria.

"Aku di sini, Alexandria. Aku ada di sini..." suaranya lembut, penuh kasih sayang.

"Akhirnya... aku bisa menyentuhmu, bisa berbicara padamu... sebagai diriku sendiri."

Sentuhan itu terasa begitu nyata, begitu hangat. Alexandria memegang tangan Leonard yang ada di pipinya, menempelkan pipinya lebih erat ke telapak tangan itu.

"Kamu hebat, Leonard. Kamu sangat hebat. Aku bangga padamu."

Malam itu, di bawah sinar bulan, di teras depan pondok yang baru saja menjadi medan pertempuran, dua jiwa yang saling mencintai akhirnya bertemu dalam wujud yang utuh.

Rahasia terbesar telah terungkap, ancaman telah dihadapi, dan ikatan di antara mereka kini menjadi sesuatu yang tak terhancurkan. Namun, mereka tahu bahwa ini bukanlah akhir.

Perang dengan Lord Valerius baru saja dimulai, dan perjalanan untuk membebaskan Leonard sepenuhnya dari kutukan masih panjang.

Tapi untuk malam ini, mereka hanya ingin menikmati momen indah di mana mereka akhirnya bisa bersama, sepenuhnya, sebagai manusia dan manusia, sebagai kekasih yang ditakdirkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!