Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Benturan keras itu datang tanpa jeda, menghantam pintu depan dengan kekuatan yang akhirnya membuat kayu tua itu menyerah, retak, lalu patah dalam satu tarikan napas yang terasa panjang, hingga daun pintu terbuka paksa dan angin malam langsung menerobos masuk membawa dingin, debu, dan bau asing yang menusuk indra.
Di ambang pintu, sosok-sosok berjubah hitam itu berdiri, wajah mereka tersembunyi di balik topeng besi yang menyerupai tengkorak dan rahang binatang, sementara di tangan mereka, senjata berkilau memantulkan cahaya bulan yang redup.
“Mereka ada di sini,” salah satu dari mereka bersuara dengan nada parau yang terdengar tidak wajar, namun kalimat itu bahkan belum sepenuhnya selesai ketika auman keras memecah udara dan Leonard sudah lebih dulu bergerak.
Tubuh hitamnya melesat maju tanpa ragu, menghantam sosok paling depan dengan kekuatan yang membuatnya terlempar keluar dari ambang pintu, jatuh keras ke tanah dengan senjata yang terlepas dari genggamannya, sementara yang lain langsung bereaksi, sebagian terkejut, sebagian marah.
“Serang! Tangkap dia!” teriak seseorang dari belakang, mencoba mengendalikan situasi yang mulai kacau.
Dua orang maju bersamaan, pedang mereka menyapu udara dengan cepat, namun Leonard tidak pernah berada di titik yang mereka incar, tubuhnya bergerak lincah menghindar, lalu membalas dengan satu ayunan cakar yang cukup untuk membuat salah satu dari mereka kehilangan senjata dan mundur dengan jeritan tertahan saat goresan itu menembus pertahanan mereka.
Di dalam pondok, Alexandria berdiri di belakangnya, jantungnya berdetak cepat namun matanya tetap fokus mengikuti setiap gerakan Leonard, melihat bagaimana ia bertarung bukan hanya dengan kekuatan, tapi dengan naluri yang tajam dan tujuan yang jelas, yaitu melindunginya.
“Aku tidak akan diam saja,” gumamnya pelan, tangannya sudah bergerak sebelum pikirannya selesai merangkai keputusan.
Ia meraih botol dan ramuan yang tadi ia siapkan, bau pedas langsung menyengat hidung bahkan sebelum cairan itu dituangkan, namun ia tidak ragu, hanya mencari celah, hanya menunggu satu momen yang tepat.
“Leonard, ke samping!” teriaknya, suaranya tegas meski napasnya tidak stabil.
Leonard langsung merespons, mundur sekejap dengan gerakan cepat yang membuka ruang, dan tanpa menunggu lebih lama, Alexandria melempar botol itu tepat ke tengah kelompok mereka, membuatnya pecah dan menyebarkan cairan pedas yang langsung memicu kekacauan.
Teriakan pecah hampir bersamaan, beberapa dari mereka memegangi wajah dan mata, batuk, mengumpat, sementara yang lain mundur refleks karena bau menyengat yang memenuhi udara.
Leonard melihat itu, melihat bagaimana Alexandria berdiri di sisinya, bukan lagi hanya dilindungi, tapi ikut bertarung, dan sesuatu di dalam dirinya bergerak lebih kuat dari sebelumnya.
“Sekarang!” teriak salah satu dari mereka yang masih bisa berpikir jernih, lalu sebuah tombak melesat lurus ke arah Alexandria yang masih berdiri dekat pintu.
“Jangan sentuh dia,” suara Leonard keluar lebih dalam, lebih berat, membawa sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya liar.
Ia melompat tanpa berpikir, menempatkan tubuhnya di depan Alexandria tepat saat tombak itu menghantam bahunya, merobek kulit dan mengalirkan darah segar yang langsung terlihat jelas di bawah cahaya bulan.
“Leonard!” suara Alexandria pecah, tubuhnya bergerak mendekat dengan panik yang tidak bisa ia sembunyikan.
Namun Leonard tidak mundur, rasa sakit itu justru memicu sesuatu yang selama ini terkunci di dalam dirinya, napasnya berubah, tubuhnya menegang, dan cahaya mulai muncul dari balik bulu hitamnya, awalnya samar lalu semakin terang hingga udara di sekitar mereka ikut bergetar.
Para penyerang mulai ragu, langkah mereka melambat, beberapa bahkan mundur saat melihat cahaya itu semakin kuat.
“Apa yang terjadi…” salah satu dari mereka berbisik, suaranya goyah.
Leonard mengaum, tapi auman itu kini bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam, lebih sadar, dan ketika cahaya itu mencapai puncaknya, semuanya berubah dalam satu ledakan kecil yang memaksa semua orang memejamkan mata.
Saat cahaya itu mereda, tidak ada lagi sosok macan kumbang di sana.
Yang berdiri di depan mereka kini adalah seorang pria, tinggi dan tegap, tubuhnya kuat dengan otot yang terbentuk jelas, rambut hitamnya sedikit berantakan, dan matanya tetap sama, keemasan, tajam, dan penuh kendali.
Alexandria terpaku, napasnya tertahan saat menatap sosok di depannya, sosok yang selama ini hanya ia lihat dalam mimpi dan bayangan.
“Leonard…” suaranya nyaris hilang, tapi cukup untuk membuat pria itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu, dan sejenak, semua kemarahan di mata Leonard melembut hanya karena melihatnya.
“Aku baik-baik saja,” katanya pelan, suaranya dalam dan nyata, bukan lagi sekadar gema dari mimpi.
Ia tidak berhenti lama, hanya memastikan Alexandria aman sebelum kembali menghadap musuhnya, aura di sekitarnya berubah sepenuhnya, bukan lagi sekadar pelindung, tapi ancaman yang tidak bisa diabaikan.
“Kalian datang ke sini untuk mencariku,” ucapnya tenang, namun setiap kata terasa berat, “kalian mengganggu rumahku, dan kalian berani menyentuh sesuatu yang menjadi milikku.”
Langkahnya maju satu, cukup untuk membuat mereka tanpa sadar mundur.
“Sekarang kalian akan membayarnya.”
Pemimpin mereka masih mencoba bertahan, meski jelas ketakutan mulai merayap dalam suaranya. “Dia cuma satu orang, serang!”
Mereka maju, tapi semuanya berakhir jauh lebih cepat dari yang mereka kira.
Leonard bergerak tanpa ragu, menangkap serangan pertama dengan tangan kosong, memutar pergelangan lawannya hingga terdengar suara patah yang membuat yang lain terdiam sejenak, lalu melempar tubuh itu ke samping sebelum beralih ke lawan berikutnya, menangkis, menyerang, dan menjatuhkan mereka satu per satu dengan efisiensi yang tidak memberi ruang untuk perlawanan.
Dalam hitungan detik, mereka yang tadi berdiri kini tergeletak di tanah, tersisa satu orang yang bahkan tidak lagi yakin harus bertarung atau lari.
“Siapa kau…” tanyanya dengan suara gemetar.
“Aku Leonard,” jawabnya singkat, matanya tidak berpaling, “dan sampaikan pada Lord Valerius bahwa aku masih hidup.”
Ia melangkah lebih dekat, cukup untuk membuat lawannya mundur satu langkah lagi.
“Jika dia ingin aku, biarkan dia datang sendiri.”
Hening sesaat sebelum kata terakhir keluar.
“Pergi.”
Dan mereka benar-benar pergi, tanpa berani menoleh, membawa ketakutan yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Keheningan kembali turun perlahan, tapi kali ini terasa berat oleh sisa adrenalin dan napas yang belum sepenuhnya stabil.
Leonard berdiri beberapa detik, memastikan semuanya benar-benar aman, sebelum akhirnya tubuhnya melemah, kakinya goyah, dan ia berlutut tanpa bisa menahan lagi.
“Leonard!” Alexandria langsung berlari menghampirinya, berlutut di depannya tanpa peduli darah yang menempel di tubuh pria itu.
Tangannya memegang wajah Leonard, matanya berkaca-kaca, napasnya tidak teratur.
“Kamu… kamu benar-benar…” kalimatnya tidak selesai, tapi perasaannya sudah jelas.
Leonard tersenyum tipis, lelah namun hangat, lalu mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Alexandria untuk pertama kalinya sebagai manusia, sentuhan itu nyata, hangat, dan membuat Alexandria memejamkan mata sesaat seolah takut ini akan hilang jika ia berkedip.
“Aku di sini,” bisiknya pelan.
Alexandria menahan tangannya di sana, menempelkan pipinya lebih dalam, tidak ingin melepas.
“Aku bangga padamu,” ucapnya lirih, namun penuh.
Leonard tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menatapnya lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka menghilang, dan di bawah cahaya bulan yang tenang setelah badai, dua jiwa itu akhirnya berdiri tanpa batas, tanpa rahasia, tanpa jarak, sebagai dua manusia yang saling menemukan di tengah kekacauan.