Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana tegang di ruang kelas yang masih remang itu mendadak pecah oleh suara derap langkah kaki yang kecil namun sangat berisik. Sandi dan Anggita yang sedang dalam momen emosional otomatis menoleh ke arah pintu.
"SANSAN!!!"
Suara melengking itu disusul oleh bayangan seseorang yang berlari secepat kilat menghampiri mereka. Belum sempat Sandi menyapa, serentetan serangan mendarat di lengannya. Cubit! Cubit!
Saskia muncul dengan wajah ditekuk dan napas terengah-engah, jemarinya lincah menyasar kulit lengan Sandi yang tidak tertutup seragam. "Kamu tuh ya! Jahat banget sih, San! Orang lagi mau ngomong penting malah dimatiin teleponnya. Kamu sengaja ya?!"
Sandi meringis, berusaha menghalau serangan jemari maut Saskia. "Aduh! Lah, bukan gue yang matiin, Oneng! Itu koin gue yang sudah habis ditelan mesin! Lepasin, Sas, sakit tahu!"
Saskia akhirnya berhenti mencubit namun tetap cemberut maksimal. "Lagian kamu teleponan sama Mamaku lama banget sih. Aku kan juga mau ngobrol sama kamu, San. Masa aku cuma kebagian suara tut... tut... tut... doang?"
Sandi mengusap lengannya yang merah. "Kan gue telepon emang misi utamanya buat ngabarin Nyokap lo soal pertemuan besok. Lagian lo sendiri yang iseng banget pakai acara angkat-angkat telepon rumah segala."
"Ya orang aku lagi duduk di sofa tepat di sebelah telepon, pas telepon berdering ya aku angkatlah! Takutnya ada info penting atau darurat," bela Saskia tidak mau kalah.
"Lah, emang yang gue omongin ke Nyokap lo itu info penting, Saskia Fiana Putri!" balas Sandi gemas.
Saskia akhirnya menyerah berdebat karena merasa logikanya selalu mental kalau berhadapan dengan Sandi. "Iiiihhh, Sandi mah! Nggak ada mau ngalahnya kalau ngomong sama aku!"
"Bukannya nggak mau ngalah, gue cuma sedang membela diri dari fitnah keji lo yang bilang gue sengaja matiin telepon," sahut Sandi sambil terkekeh.
Anggita, yang sedari tadi menyimak drama sepasang sahabat itu, akhirnya tak tahan untuk tidak tertawa kecil. Sisa-sisa kesedihannya menguap begitu saja melihat tingkah konyol mereka. Ia memukul bahu Sandi dengan akrab. "Lo tuh ya, San! Emang nggak bisa bikin gue lama-lama kesel sama lo. Pasti ada saja jalannya buat bikin gue ketawa lagi."
Saskia baru menyadari kehadiran Anggita secara penuh. "Eh, ada Anggita toh? Pagi, Nggi!"
"Pagi, Sas," jawab Anggita sambil menyeka sisa air mata di sudut matanya yang masih sedikit sembab.
Saskia menyipitkan mata, mencondongkan wajahnya ke arah Anggita. "Eh... kamu kenapa, Nggi? Kok matanya merah kayak habis nangis gitu?"
Anggita menggeleng cepat. "Nggak apa-apa kok, Sas. Tadi cuma kemasukan debu saja pas naik tangga."
Namun, Saskia tidak percaya begitu saja. Ia langsung menoleh tajam ke arah Sandi, tangannya kembali bergerak melancarkan pukulan-pukulan ringan ke lengan Sandi. "Ihhh, SANDI!! Kamu apain Anggita pagi-pagi sampai nangis begitu?! Kamu... kamu berbuat mesum ya ke Anggita?!"
Mata Sandi nyaris keluar mendengar tuduhan itu. "Eh, setan lo ya! Mulut lo gue cabein juga nih lama-lama! Sembarangan saja kalau ngomong! Baru juga dibilang fitnah lo itu keji, malah ditambah lagi levelnya. Oneng banget sih lo!"
Anggita tertawa geli melihat wajah frustrasi Sandi. Tuduhan absurd Saskia benar-benar menjadi obat penawar suasana yang paling ampuh. Akhirnya, di dalam kelas yang mulai diterangi sinar matahari pagi, tawa Kelompok Sableng kembali pecah, menyatukan kembali kepingan-kepingan persahabatan yang sempat retak karena gengsi dan air mata.
Suasana kelas 3-A yang biasanya riuh mendadak berubah menjadi hening saat bel masuk berbunyi nyaring, menandakan dimulainya jam pelajaran yang terasa berjalan begitu monoton. Deretan rumus di papan tulis dan penjelasan guru seolah hanya menjadi latar belakang bagi pikiran Sandi yang terus berputar memikirkan rencana sore nanti. Waktu istirahat pun berlalu tanpa ada kejadian luar biasa, hingga akhirnya bel pulang sekolah yang dinanti-nanti berdentang, membebaskan para siswa dari belenggu rutinitas akademik.
Kelompok Sableng—Sandi, Anggita, Vino, dan Andra—melangkah beriringan menuju parkiran motor, diikuti oleh Saskia yang berjalan dengan langkah riang di samping Sandi. Namun, pemandangan di halaman sekolah membuat langkah mereka tertahan. Mobil sedan mewah milik keluarga Saskia sudah terparkir manis di sana. Yang mengejutkan, Mama Saskia tidak menunggu di dalam mobil ber-AC, melainkan sudah berdiri tegak di samping pintu, matanya menyapu kerumunan siswa hingga tertuju tepat pada sosok yang ia cari.
"Mama!" seru Saskia manja sembari berlari kecil hendak memeluk ibunya.
Namun, di luar dugaan, Mama Saskia justru melangkah melewati anak kandungnya sendiri seolah Saskia hanyalah embusan angin lewat. Beliau langsung menghampiri Sandi dengan wajah penuh antusiasme. "Sandi! Tante cuma mau mastiin sekali lagi ya, awas kalau sampai nggak jadi datang sore ini. Tante sudah pesan bahan makanan spesial dan sudah mulai masak-masak di rumah."
Sandi yang sedikit terkejut dengan sambutan hangat itu langsung mengangguk sopan. "Iya, Tante. Sandi sudah sampaikan amanah Tante ke Ibu kemarin malam. Nanti sehabis Sandi pulang sekolah dan mandi biar segar, Sandi langsung bareng Ibu meluncur ke Pondok Indah."
Mama Saskia tersenyum puas, guratan wajahnya memancarkan kelegaan yang nyata. "Bagus kalau begitu. Tante duluan ya, mau bantu orang rumah beres-beres. Hati-hati di jalan ya, San."
Sandi mengangguk takzim. "Hati-hati juga, Tante."
Baru setelah urusannya dengan Sandi selesai, Mama Saskia menoleh ke arah putri semata wayangnya yang kini sudah melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut tajam. "Ayo, Sas, kita pulang sekarang."
"Malas sama Mama! Pelit banget perhatiannya," gerutu Saskia dengan nada merajuk yang kental. "Masa aku yang panggil-panggil dari jauh malah dicuekin, malah Sandi yang pertama kali dihampiri. Anak Mama itu sebenarnya siapa sih? Aku atau Sandi?"
Mama Saskia terkekeh melihat kecemburuan putrinya, lalu beralih menatap Anggita, Andra, dan Vino yang menahan tawa di belakang Sandi. "Iya, maaf sayang. Mama tadi cuma mau pastiin biar Sandi nggak lupa jalan ke rumah kita. Ayo ah, keburu sore nanti jalanan Jakarta macetnya nggak masuk akal. Kalau kamu masih cemberut begini, nanti Sandi jadi segan lho mau main ke rumah."
Mendengar nama Sandi dibawa-bawa sebagai "ancaman", pertahanan Saskia langsung runtuh seketika. Sifat manjanya kembali muncul saat ia mengangguk pelan pada ibunya. "Iya deh, ayo pulang. San, Nggi, Vin, Ndra... aku pamit duluan ya! Sampai ketemu besok lagi di sekolah!" serunya sembari melambaikan tangan dari balik kaca mobil yang mulai bergerak meninggalkan area sekolah.
Sepeninggal mobil Saskia, suasana di parkiran mendadak berubah menjadi ajang interogasi dadakan. Anggita berdehem keras sembari menyenggol bahu Sandi. "Ehem... jadi, ada misi rahasia apa nih sampai lo harus ke rumah Saskia bareng nyokap lo, San?"
Andra ikut menimpali dengan nada menyelidik yang dibuat-buat. "Ho'oh, bau-baunya ada hal terselubung nih. Masa iya cuma sekadar makan malam biasa sampai nyokapnya Saskia seheboh itu?"
Vino pun tak mau ketinggalan menjahili sahabatnya. "Ya... pokoknya kalau nanti ada pengumuman penting atau janur kuning yang mau melengkung, jangan lupa undang-undang kita lah ya. Minimal kasih tahu kalau sudah ada tanggal mainnya."
Sandi menatap ketiga sahabatnya itu dengan pandangan malas, seolah sedang menghadapi sekumpulan anak TK. "Lo semua kayaknya sudah benar-benar ketularan virus 'Oneng'-nya Saskia ya? Pikiran kalian jauh banget melesatnya. Berasumsi tanpa dasar yang pasti itu namanya fitnah, dan fitnah itu lebih kejam daripada nggak dikasih contekan PR!"
"Ya habisnya, San," sela Anggita sembari menunjuk ke arah bekas parkiran mobil tadi. "Nyokapnya Saskia itu kelihatan antusias banget. Sampai anaknya sendiri dilewati demi bicara sama lo. Itu kan tanda-tanda besar."
Andra dan Vino mengangguk serempak, mengamini ucapan sang ketua kelas.
Sandi menghela napas panjang, mencoba menjelaskan realita yang sebenarnya. "Dengerin ya, dari kemarin-kemarin itu Tante Desi memang kepingin banget ketemu sama Ibu gue. Katanya mau kenalan sesama orang tua. Terus beliau maksa gue sama Ibu buat datang makan malam di sana hari ini. Padahal gue sama Ibu sudah coba menolak secara halus karena sungkan, tapi ya itu... watak Tante Desi keras kepalanya persis banget sama Saskia. Kalau sudah punya mau, nggak bisa diganggu gugat."
Anggita, Andra, dan Vino akhirnya terkekeh geli, membayangkan betapa sulitnya Sandi bernegosiasi dengan replika Saskia versi dewasa.
"Yaudah, mending kita cabut sekarang," ajak Sandi sembari menyalakan mesin motor Ninja hijaunya. "Hari Senin begini macetnya nggak ketulungan, apalagi jalur ke arah selatan."
Vino mengangguk setuju sambil mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Iya nih, tenaga gue sudah habis dikuras sama pelajaran Pak Gunawan tadi. Stres banget gue, masa rumus matematikanya sama tapi dia pakai cara penyelesaian yang beda banget dari buku paket? Bikin otak gue korsleting."
"Yah, begitulah Pak Gunawan," sahut Anggita santai. "Tujuannya kan memang biar kita nggak cuma hafal rumus, tapi bisa diajak debat di kelas."
Sandi terkekeh kecil melihat penderitaan teman-temannya. Saat mereka mulai menaiki motor masing-masing, Andra memberikan serangan terakhir. "Yaudah, sekarang kita balik saja. Kasihan Sandi, sudah ditunggu sama Ibunya buat dandan rapi mau ketemu calon mertua di Pondok Indah!"
"Setan lo, Ndra!" teriak Sandi sambil tertawa, meski pipinya sedikit memerah.
Tawa Kelompok Sableng pecah untuk terakhir kalinya sore itu di halaman sekolah. Satu per satu motor mereka menderu, meninggalkan gerbang sekolah menuju rumah masing-masing.
Sinar matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta saat Sandi memacu Ninja hijaunya membelah kepadatan jalanan. Pikirannya melayang pada sambutan antusias Mama Saskia di sekolah tadi, membuatnya semakin tak sabar sekaligus sedikit tegang. Begitu sampai di depan rumahnya yang bersahaja, Sandi mendapati suasana rumah sudah sepi dari bunyi papan gilas; Ibunya rupanya baru saja selesai membersihkan diri.
"Sandi pulang, Bu! Wah, Ibu sudah segar banget nih, sudah selesai mandi ya?" sapa Sandi sembari memarkirkan motornya di teras.
Ibu Sandi menoleh dengan wajah yang nampak jauh lebih rileks dari biasanya. Senyum teduh tersungging di bibirnya yang sedikit dipoles lipstik tipis. "Iya, San. Kan Ibu sudah janji mau menemani kamu ke rumah temanmu itu. Ibu nggak mau bikin kamu malu kalau Ibu telat atau masih bau sabun cuci. Kamu buruan mandi sana, jangan sampai kita kemalaman sampainya. Kasihan mereka kalau nunggu terlalu lama buat makan malam."
"Siap, Bos! Sandi mandi kilat, langsung siap-siap ya, Bu," jawab Sandi semangat. Ia segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang seketika mengusir rasa penat sisa pelajaran di sekolah tadi.
Tak butuh waktu lama bagi Sandi untuk bersiap. Ia mengenakan kemeja rapi yang sudah disetrika licin oleh Ibunya. Saat keluar dari kamar, ia terpaku sejenak melihat sosok Ibunya yang sudah berdiri anggun di ruang tamu. Ibunya mengenakan setelan baju kurung yang sopan dengan kerudung senada, nampak jauh lebih cantik dan berwibawa meski tetap memancarkan kesederhanaan.
Sandi tersenyum sangat manis, rasa bangga membuncah di dadanya. "Waduh, ayo Ibu Negara yang cantik... Kereta Kencana Ninja sudah menanti di depan istana kita," canda Sandi sembari membungkuk hormat layaknya seorang pelayan kerajaan.
Ibu Sandi terkekeh kecil, mencubit pelan lengan anaknya. "Kamu ini ada-ada saja, San. Ayo berangkat, keburu macet nanti jalannya."
Sandi membantu Ibunya mengenakan helm dengan telaten, memastikan talinya terpasang dengan benar—persis seperti yang ia lakukan pada Saskia beberapa hari lalu. Setelah mesin Ninja 2-tak itu menderu garing, Ibunya naik ke boncengan dengan pegangan yang erat pada bahu Sandi.
Mereka pun mulai membelah aspal menuju kawasan elit Pondok Indah. Di atas motor, Ibu Sandi hanya diam menatap punggung tegap anaknya, sementara Sandi fokus menembus kemacetan, membawa "permata" paling berharganya untuk bertamu ke rumah salah satu orang terkaya di Jakarta.
Ninja hijau Sandi perlahan melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi di kawasan Pondok Indah. Suasana lingkungan yang asri dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala memberikan kesan eksklusif. Sandi memutar kunci kontak, mematikan mesinnya, dan seketika kesunyian menyergap.
Ibu Sandi tertegun. Matanya menyapu bangunan megah di balik gerbang yang nampak seperti istana modern. "San? Kita nggak salah alamat, kan? Ini beneran rumah teman kamu?" bisiknya ragu.
Sandi terkekeh, berusaha mencairkan suasana. "Bener, Bu. Ini rumah si Oneng. Kenapa? Gede ya? Mirip pasar grosir baju di Tanah Abang?"
Ibunya mengangguk pelan, raut wajahnya nampak tegang. "Iya, gede banget, San. Ibu jadi ciut... Kita pulang saja yuk? Ibu canggung mau masuk ke rumah semewah ini."
Melihat ibunya yang merasa minder, Sandi sempat ingin menuruti. "Yaudah, ayo kita balik kanan. Nanti kalau Tante Desi tanya besok, Sandi cari alasan yang masuk akal deh. Bilang saja ban motor bocor atau apa gitu."
Ibu Sandi mengangguk setuju, merasa lega. Namun, baru saja Sandi hendak menyalakan mesin motornya—grung!—terdengar suara teriakan melengking dari balik gerbang.
"SANSAN!!"
Pintu gerbang kecil terbuka dengan sentakan keras. Sosok gadis dengan rambut terurai berlari terburu-buru keluar.
"Itu Saskia, San?" tanya Ibu Sandi, membatalkan niatnya untuk turun dari motor.
"Iya, Bu. Itu dia si Oneng," sahut Sandi sambil menarik gas pelan, menggoda Saskia yang sudah panik.
"SANDI!!!" Saskia langsung menyambar lengan Sandi, menarik-narik jaketnya dengan tenaga yang lumayan kuat. "Iiiihhh! Kamu mau ke mana lagi? Baru sampai kok sudah mau pergi!"
"Ibu gue kira ini pasar grosiran baju, Sas. Makanya mau balik," celetuk Sandi asal.
Cubit! Sebuah cubitan mendarat di pinggang Sandi dari arah belakang. "Kamu ini, malu-maluin Ibu saja, San!" tegur Ibunya pelan tapi tajam.
Sandi meringis sambil tertawa. "Jadi kita nggak jadi pulang, Bu?"
"Ya sudah kepatut (terlanjur) ketahuan sama tuan rumahnya. Mau nggak mau masuk, daripada nggak enak," jawab Ibu Sandi pasrah namun tersenyum.
Sandi menoleh ke arah Saskia yang masih memegangi motornya. "Sas?".
"Iya San!" jawab Saskia yang masih memasang senyumnya yang tidak pudar.
"Minggir, Pe'a! Gue mau masuk. Kalau lo berdiri di situ kayak patung selamat datang, gimana motor gue mau lewat?" celetuk Sandi.
Saskia tersentak, lalu buru-buru melompat ke samping. "Eh, iya iya! Maaf ya, San. Kirain kamu beneran mau kabur. Ternyata cuma gara-gara aku ngalangin jalan toh."
Ibu Sandi hanya bisa menggelengkan kepalanya da menahan tawa melihat kelakuan dua remaja didepannya itu.
Sandi membawa motornya masuk ke halaman luas yang beralaskan konblok rapi, diikuti Saskia yang berjalan cepat di sampingnya. Begitu motor terparkir sempurna di bawah carport, Sandi turun dan dengan telaten membantu ibunya melepaskan helm.
Saskia berdiri di sisi lain, menatap Ibu Sandi dengan senyum semringah yang tak kunjung hilang. Sandi yang menyadari itu langsung berceletuk, "Ngapa lo, Sas? Kesambet setan pohon mangga lo yang pendek itu?"
"Mana ada aku kesambet!" seru Saskia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lah, tadi cengar-cengir nggak jelas, gue kira saraf lo ada yang putus," goda Sandi lagi.
Saskia refleks mencubit lengan Sandi. "Iiiihhh Sandi mah jahat banget sih! Aku senyum kan karena senang kamu beneran datang bawa Ibu!"
Ibu Sandi terkekeh melihat interaksi mereka yang seperti kucing dan anjing. "Jadi, kamu yang namanya Saskia ya?"
Saskia langsung berhenti mencubit. Ia segera memasang wajah paling manis dan sopan. "Iya, Tante. Aku Saskia, teman Sandi dari SD Bhayangkara dan sekarang aku sekelas lagi sama Sandi di SMP Pejuang Bangsa." Saskia meraih tangan Ibu Sandi dan menciumnya dengan sangat takzim.
Sandi mendengus kecil. "Lo saja yang maksa pindah ke Pejuang Bangsa. Padahal di Bhayangkara fasilitasnya lebih oke, kan?"
"Kan di Bhayangkara sudah nggak ada kamu! Aku pindah ke Pejuang Bangsa karena aku tahu ada kamu di sana yang bisa jagain aku," jawab Saskia jujur tanpa malu-malu.
"Dih, emang gue babysitter lo apa?"
"Iiiih kamu mah! Aku kan nyaman kalau ada kamu. Kamu itu bis—"
"Saskia!! Kenapa tamunya dibiarkan di luar saja?"
Suara Tante Desi memecah perdebatan mereka. Beliau melangkah keluar dari pintu utama dengan pakaian yang rapi namun santai. "Halo Sandi, dan halo Jeng..."
Ibu Sandi menyambut uluran tangan itu dengan sopan. "Cukup panggil saya Lisa saja, Bu."
Mama Saskia tersenyum lebar, menjabat tangan Ibu Sandi dengan hangat. "Iya Jeng Lisa, saya Desi, mamanya Saskia. Akhirnya kita bisa ketemu juga ya. Salam kenal."
"Ayo, silakan masuk. Sudah mau Magrib, nggak bagus bicara di luar rumah. Angin malam nggak sehat," ajak Mama Saskia dengan ramah.
Mereka berempat pun melangkah masuk ke dalam rumah yang interiornya jauh lebih mewah daripada bagian luarnya. Sandi berjalan di paling belakang, sesekali melirik Saskia yang nampak sangat bersemangat menunjukkan setiap sudut rumahnya.