Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Tidak sesuai kata hati.
Pak Harra tertawa terbahak melihat kecemasan sahabatnya, pria penyabar itu sekarang tidak pernah lagi menjadi pria penyabar setelah memiliki seorang putri. Bahkan kedatangannya hari ini karena Pak Herliz memprotes keras atas keputusannya untuk memasukkan nama Letnan Rinto dalam team seleksi tentara wanita.
"Anak laki-laki mu sudah jadi tentara, kenapa kau masih ingin anak perempuanmu jadi tentara??" Tanya panglima daerah satu.
"Aku takut Anye di apa-apakan laki-laki, kalau dia jadi tentara, aku tidak lagi khawatir. Sebagai seorang ayah, aku tidak mungkin bisa terus menjaganya. Aku curiga ada campur tangan Rinto yang buat Anye nggak mau jadi tentara." Jawab Pak Herliz.
"Sepengetahuanku, Rinto tidak begitu. Dia satu letting dengan mantuku, Rade. Sikap kerasnya hanya karena dia satu nenek moyang dengan Rade, tapi aku yakin Rinto itu tidak se b******n yang kau pikirkan, Mas." Ujar Pak Harra.
"Jadi aku harus bagaimana???"
"Itu urusan anak muda, biarkan saja mereka. Tidak akan terjadi sesuatu dengan Anye." Kata Pak Harra.
"Aku nggak gila. Anye juga masih kecil, nggak ada pacar-pacaran..!!" Omel geram Pak Herliz.
"Nggak usah pacaran, langsung saja nikahkan, seperti Ririe dan Rade." Bujuk Pak Harra.
"Aku masih waras, Kang."
Pak Harra menggeleng, beliau tertawa saja sambil meneguk kopi hitam di hadapannya. Dulu, Herliz adalah orang yang paling tenang di antara para sahabat, tapi setelah memiliki anak perempuan, semua berubah seakan pria itu jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada seorang perempuan dan sifat protektif nya itu terkadang di luar jalur.
'Apa hanya perasaanku saja, Herliz dan Rinto itu sama-sama protektif, tapi dari cara Rinto menjaga Anye, sudah jelas Letnan muda itu lebih protektif karena.. Jatuh cinta yang tidak di rasa.'
...
"Kamu naksir putrinya Kadis?" Tanya Pak Harra memastikan secara langsung pada Bang Rinto agar hatinya tidak semakin bertanya-tanya.
"Siap.. Tidak berani, Panglima."
"Alasannya??" Pak Harra masih terus penasaran.
"Ijin, kami tidak setara. Saya hanya bawahan, tidak setara dengan putri panglima. Setelah ini Kadis akan menjabat sebagai panglima daerah dua, tidak mungkin saya berani mendekati putri seorang panglima." Jawab Bang Rinto.
"Kalah kau sama Rade. Rade saja berani nyamber putri saya." Ejek Pak Harra dengan sengaja.
"Siap." Seperti ada sesuatu yang mengganjal tapi Bang Rinto tidak mampu untuk mengungkapkannya.
"Kalau ada apa-apa, cerita sama saya..!! Kau sendiri yang 'dengan lancang' menghubungi saya untuk membawamu kesini, tapi kenapa tiba-tiba kamu mundur teratur??" Tanya Pak Harra lagi.
"Siap. Ijin, Panglima. Saya hanya ingin memastikan Anye dalam keadaan baik disini. Untuk selebihnya, saya tidak berani banyak berharap. Cukup melihatnya aman, saya sudah tenang." Jawab Bang Rinto.
Pak Harra tersenyum kecut. Ia masih tidak paham dengan sikap Letnan Rinto tapi sebagai seseorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, jelas Letnan Rinto sedang jatuh cinta.
"Boleh saya beri saran??"
"Siap."
"Setiap manusia memiliki jalan masa lalu, tapi jangan juga mematahkan masa depan. Saya kenal kamu tidak satu atau dua hari. Kalau kamu memang suka, cepat maju, lamar dia. Hatimu akan lebih sakit melihat dia bersanding dengan laki-laki lain." Ujar Pak Harra.
"Jika itu membuatnya bahagia, tidak masalah, saya ikhlas." Bang Rinto menatap kosong meja kerja di hadapannya.
"Naahh.. Itu kau ada rasa. Lantas kenapa menyerah sebelum berperang???" Tegur Bang Rinto.
Pada akhirnya, bibir Bang Rinto bergetar dengan mata mulai berkaca-kaca meskipun sikapnya mencoba untuk tenang. "Saya takut sakit, atau mungkin malah saya yang menyakiti Anye."
Pak Harra lagi-lagi menghela nafas panjang. "Saya lamarkan??"
Bang Rinto mengepalkan jemarinya, ia mulai merasa gelisah. Usianya bisa di bilang matang tapi Anye.. Saat dirinya menjadi 'Black Mamba', 'Bunga Anyelir' masih ingin bebas menggapai cita-citanya.
Jujur dalam hati kecilnya sudah ingin memiliki buah hatinya sendiri tapi dirinya juga tidak sanggup membuat Anye patah arang, ia juga tidak ingin egois mematahkan impian gadis itu apalagi menikahinya bahkan sampai punya anak.
"Saya....... Ijin.. Terima kasih banyak, Panglima. Tapi saya tidak ada hati dengan putri Kadis." Jawab Bang Rinto.
Pak Harra menepuk keningnya. "Ya sudah. Saya harap kamu benar-benar kuat. Ingat ya, jangan buat onar karena keputusanmu. Jaga kestabilan emosi..!! Sumbu pendekmu itu bahaya, Rin."
"Siap, Panglima."
~
Baru saja Bang Rinto keluar dari ruang gedung, ia melihat beberapa orang anggota sedang mengobrol dengan Anye. Mereka tertawa seolah tanpa beban.
Bang Rinto pun segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri. Ketiga orang anggota disana langsung diam dan memberi hormat.
"Selamat malam, Let."
"Hmm.." Jawabnya menanggapi. "Apa kalian tidak ada kegiatan?? Piket lorong atau bersihkan toilet bisa, kan??"
"Siap.. Sudah jam fakultatif, Let."
"Kalau begitu saya beri perintah, kalian rapikan pot bunga berdasarkan warna, berurutan dari warna yang paling tua di kiri sampai yang paling muda di kanan. Kerjakan sekarang..!!!!!!!!" Perintah Bang Rinto.
"Siaapp..!!!!" Ketiga anggota pun langsung bergegas mengerjakan perintah tersebut.
Dari jauh Pak Harra kembali menepuk dahinya. "Belum juga sepuluh menit, sudah kumat sumbu pendeknya. Sudah cemburuan parah, nggak mau ngaku pula."
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪