NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Tempat yang Tidak Dikenal

"Ini tempatnya?”

Suara Alice terdengar pelan, nyaris tertelan oleh sunyinya pinggiran kota. Suaranya sedikit bergema di balik helm yang terasa terlalu besar untuk kepalanya.

Motor Leon berhenti di depan sebuah bangunan tua di pinggiran kota Valmere. Bangunan itu tampak seperti bekas kantor firma hukum yang sudah lama bangkrut, atau mungkin apartemen kelas bawah yang sengaja dibiarkan membusuk oleh pemiliknya.

Tidak mencolok. Tidak mewah. Hanya… sunyi.

Lampu jalan di sekitarnya redup, berkedip tidak stabil seolah sedang sekarat. Tidak banyak kendaraan lewat di area ini; hanya hembusan angin yang memainkan dedaunan kering di aspal yang retak.

Leon tidak langsung menjawab. Ia mematikan mesin motornya. Suara raungan bariton itu menghilang, menyisakan kesunyian yang tiba-tiba terasa memekakkan telinga. Ia turun dari motor terlebih dahulu, lalu berdiri di samping Alice. Tangannya yang masih terbungkus sarung tangan hitam bergerak membuka pengunci helm Alice dengan gerakan yang efisien, namun entah bagaimana, terasa cukup hati-hati.

Alice menarik napas dalam saat helm itu terlepas. Ia membiarkan rambutnya yang berantakan tertiup angin malam yang dingin. Udara di sini berbeda dengan Distrik 6. Tidak ada bau asap knalpot yang pekat. Tidak ada aroma karat atau darah yang menempel di indra penciumannya. Hanya dingin. Dan… tenang.

“Turun,” kata Leon singkat.

Alice mengikuti perintah itu. Namun, saat kakinya menyentuh tanah, lututnya terasa goyah. Ia harus berpegangan pada jok motor sejenak untuk menyeimbangkan diri. Getaran mesin motor itu masih terasa merambat di tulang-tulangnya, sebuah pengingat akan kecepatan gila yang baru saja mereka lalui. Dan di balik pelupuk matanya, bayangan api yang melahap kliniknya masih menari-nari. Merah, panas, dan menghancurkan.

Ia baru saja kehilangan dunianya, dan ia belum sempat menangis.

Leon membuka pintu depan bangunan itu. Bukan dengan kunci logam biasa, melainkan dengan deretan kode angka pada panel digital yang tersembunyi di balik bingkai pintu yang berkarat.

Klik.

Pintu terbuka dengan desisan pelan. Leon masuk lebih dulu. Ia tidak menyalakan lampu utama. Ia bergerak di dalam kegelapan layaknya hantu yang kembali ke sarangnya. Memastikan setiap sudut aman. Memastikan sensor tidak menangkap ada penyusup. Selalu memastikan.

“Masuk,” katanya dari kegelapan di dalam.

Alice melangkah masuk perlahan. Kakinya terasa berat saat melewati ambang pintu. Ruangan itu… sederhana. Jauh dari bayangan Alice tentang markas kriminal atau tempat persembunyian seorang pembunuh bayaran yang penuh dengan senjata berserakan.

Tidak ada kemewahan. Tidak ada kekacauan.

Semuanya rapi. Minimalis. Hanya ada sebuah sofa abu-abu, meja kayu polos, dan rak buku yang hampir kosong. Cahaya bulan masuk melalui celah jendela yang tinggi, memantul di lantai beton yang dipoles mengkilap. Tempat ini tampak seperti seseorang yang tidak ingin meninggalkan jejak—atau seseorang yang siap meninggalkannya dalam hitungan detik.

“Ini rumahmu?” tanya Alice, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Leon menjawab singkat sambil meletakkan helmnya di meja. “Tempat singgah.”

Alice mengangguk pelan. Ia melangkah lebih dalam, menyentuh permukaan meja yang terasa dingin. Matanya menyapu ruangan. Dapur kecil di sudut, sebuah pintu yang tertutup di sisi lain, dan beberapa layar monitor yang mati di atas meja kerja. Semuanya… terlalu teratur. Seperti tidak pernah benar-benar “ditinggali” oleh manusia yang memiliki emosi. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada barang pribadi yang remeh.

Alice berbalik, menatap Leon yang sedang melepaskan jaket taktisnya. Di bawah cahaya remang, postur Leon tampak kokoh namun menyimpan keletihan yang tidak ia tunjukkan.

“Kau sering membawa orang ke sini?” tanya Alice.

Leon berhenti sejenak, tangannya memegang ritsleting jaket. Ia menatap mata Alice untuk sepersekian detik sebelum membuang muka. “Tidak.”

Sunyi kembali menyergap. Alice tidak tahu kenapa, tapi jawaban singkat itu terasa berbeda di telinganya. Ada beban di dalam kata 'tidak' itu, seolah Alice adalah variabel pertama yang merusak keteraturan tempat ini.

Leon berjalan ke dapur kecil. Ia membuka lemari es, mengambil sebotol air mineral dingin, dan meletakkannya di depan Alice. “Minum.”

Alice duduk perlahan di salah satu kursi kayu. Tangannya masih sedikit gemetar saat menggenggam botol plastik itu. Sensasi dingin dari botol meredakan sedikit rasa panas yang masih tertinggal di telapak tangannya. Ia minum. Panjang. Seteguk demi seteguk, seolah air itu adalah satu-satunya hal yang meyakinkannya bahwa ia masih hidup, bahwa paru-parunya masih berfungsi.

Sunyi memenuhi ruangan. Tidak ada lagi suara tembakan yang memekakkan telinga. Tidak ada suara langkah kaki pemburu di atap. Tidak ada ancaman kematian yang mendesak. Hanya… hening.

Hening yang menyiksa.

Alice akhirnya bicara, suaranya serak. “Klinikku…”

Kalimat itu berhenti di tengah jalan. Tenggorokannya terasa tersumbat. Ia teringat mikroskopnya, catatan pasien-pasien miskinnya, dan vial-vial insulin yang ia perjuangkan dengan susah payah. Semuanya sekarang hanya abu di Distrik 6.

Leon tidak memotong. Ia berdiri di dekat jendela, membelakangi Alice, menatap keluar ke kegelapan malam.

Alice menunduk, menatap tetesan air yang jatuh dari botol ke atas meja. “Aku tidak sempat menyelamatkan apa pun.”

Leon menjawab pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya, meskipun masih datar. “Kau selamat.”

Alice mendongak, menatap punggung Leon. Ia tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang akhirnya menerima kekalahan untuk memenangkan nyawa. “Ya. Aku selamat.”

Sunyi lagi. Kali ini, sunyinya sedikit lebih ringan.

Leon memperhatikan Alice dari pantulan kaca jendela. Cara Alice duduk dengan bahu yang merosot, cara tangannya menggenggam botol air seolah itu adalah pegangan terakhirnya pada realitas, dan cara ia menahan isak tangis di balik matanya yang tegar.

Leon tidak tahu bagaimana caranya menenangkan orang. Ia tidak pernah dilatih untuk itu. Baginya, kenyamanan adalah konsep yang asing. Namun, melihat Alice, ia merasa ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya, sebuah gangguan pada protokol dingin yang biasanya ia jalankan.

Leon berkata pelan, "Kau bisa tidur di kamar." Ia menunjuk pintu yang tertutup di sisi kanan.

Alice mengangkat kepala. "Kamu?"

Leon menjawab singkat. "Aku tidak tidur."

Alice mengerutkan kening. Kelelahan membuat logikanya sedikit melambat, tapi ia tahu itu bukan hal normal. "Maksudmu... kau akan berjaga? Semalaman? Itu bukan jawaban normal, Leon."

Leon diam untuk beberapa waktu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Baginya, tidur adalah sebuah kerentanan yang tidak bisa ia toleransi.

“Aku tidak butuh banyak tidur.”

Alice menghela napas kecil, menyadari bahwa Leon tidak akan memberikan penjelasan lebih lanjut. "Baik."

Ia berdiri dari kursi. Tas medis yang berhasil ia bawa tadi masih tersampir di bahunya. Berat tas itu terasa seperti beban masa lalu yang harus ia bawa kemanapun. Ia melangkah menuju pintu kamar, namun langkahnya terhenti.

"Leon."

Leon menoleh sedikit, wajahnya tersembunyi di balik bayangan. "Apa."

Alice ragu sejenak. Ia menatap pria yang baru saja membunuh orang di depannya demi menyelamatkannya. Pria yang menyimpan seribu rahasia mematikan, namun memberinya air minum saat ia hampir kehilangan akal.

Alice berkata pelan, "Terima kasih."

Sunyi. Leon tidak langsung menjawab. Kalimat itu terasa asing baginya. Di dunianya, orang membayar untuk layanan, bukan berterima kasih. Namun, ia hanya mengangguk sedikit. Sebuah gerakan kecil, nyaris tak terlihat, namun bagi Alice, itu sudah cukup.

Alice berjalan masuk ke dalam kamar. Pintu tertutup perlahan dengan bunyi klik yang lembut.

Leon tetap berdiri di ruang utama. Sendiri. Matanya menatap pintu kayu yang tertutup itu selama beberapa detik. Ia bergerak pelan, mematikan lampu utama melalui panel di dinding, menyisakan hanya satu lampu sudut yang memancarkan cahaya redup berwarna amber.

Ia duduk di sofa abu-abu itu. Pistol Glock-nya ia letakkan di atas meja, tepat di samping botol air Alice yang masih tersisa separuh. Tangannya berada di atas lutut, matanya menatap pintu depan. Siap. Selalu siap.

"Leon." Suara Gray masuk melalui earpiece dengan desis halus.

"Status," jawab Leon pelan.

"Lokasi aman untuk sementara. Aku sudah mengalihkan jejak digital motor milikmu melalui tiga server berbeda di Distrik 1. Mereka tidak akan menemukanmu malam ini," lapor Gray.

Leon menghela napas pendek. "Bagus."

Gray diam sejenak di ujung sambungan, seolah sedang menimbang sesuatu. "Dia baik-baik saja?"

Leon melirik ke arah pintu kamar yang tertutup. "Ya."

Sunyi. Gray bertanya lagi, suaranya lebih rendah. "Dan kau?"

“Seperti biasa.” lalu ia mematikan sambungan earpiece-nya.

Di dalam kamar yang gelap, Alice tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi ranjang yang terasa kaku dan bersih. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah kegelapan. Tangannya bergerak menyentuh ritsleting tas medisnya. Di dalamnya, di balik tumpukan kain kasa dan obat-obatan, map cokelat milik ayahnya masih ada.

Rahasia itu masih bersamanya. Rahasia yang membuat kliniknya terbakar. Rahasia yang membuat pria di ruang sebelah harus menjadi mesin pembunuh.

Ia menarik napas panjang. Bau parfum sabun dari seprai yang bersih mengisi paru-parunya, kontras dengan bau mesiu yang baru saja ia rasakan. Ia berbisik sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada kita, Ayah..."

Di ruang utama, Leon masih terjaga. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke kegelapan. Tidak ada otot yang rileks. Fokusnya tetap pada pintu depan, pada suara angin di luar, pada setiap detak jam.

Namun, ia menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun ia menggunakan tempat ini, ruangan itu terasa berbeda. Udara di sekitarnya terasa tidak lagi sepenuhnya kosong.

Malam itu, tidak ada suara tembakan yang memecah kesunyian. Tidak ada darah yang tumpah di atas aspal dingin. Hanya ada dua jiwa yang rusak, yang untuk sementara waktu di bawah atap yang sama, berhenti berlari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!