NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Bersama Liam

Liam menahan daun pintu kamar Cassie dengan telapak tangannya, mencegah pintu itu tertutup sepenuhnya. Langkahnya yang tadi hendak beranjak ke kamarnya sendiri mendadak terhenti.

Ia berdiri di sana, menatap Cassie dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya, bukan tatapan seorang bos besar, melainkan tatapan pria yang sedang dilanda kegelisahan.

​"Cassie," panggilnya rendah.

​Cassie menghentikan gerakannya, menatap Liam dengan dahi berkerut. "Ya? Ada barang yang tertinggal?"

​Liam berdeham, ia mengalihkan pandangannya sejenak ke arah koridor sebelum kembali menatap mata Cassie.

"Yang tadi…" Liam berdeham pelan, jelas tidak nyaman dengan kalimat yang akan keluar. "Kau… sekarang sudah siap?"

Liam mengusap tengkuknya, sebuah kebiasaan yang hanya muncul saat ia benar-benar kikuk.

"Aku tidak memaksa," katanya cepat, hampir defensif. "Aku hanya… kita sempat— waktu itu di sofa… dan aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku hanya ingin tahu apakah kau nyaman sekarang."

​Cassie terpaku. Awalnya ia bingung, otaknya mencoba memproses ke mana arah pertanyaan Liam yang tiba-tiba ini.

Namun, saat ia melihat telinga Liam sedikit memerah dan bagaimana pria itu menghindari kontak mata langsung, sebuah ingatan melintas di kepala Cassie.

​Ingatan tentang momen panas di sofa ruang tamu yang terpaksa berhenti total karena Jino dan Marco tiba-tiba pulang sambil berteriak-teriak.

​Wajah Cassie seketika memanas, merah padam hingga ke leher.

"Liam! Kau... kau menanyakan itu sekarang?" bisiknya dengan nada antara malu dan tidak percaya.

​"Aku hanya... menagih janji yang terus-menerus tertunda," gumam Liam, suaranya kini terdengar lebih berani meski ia masih terlihat sedikit salah tingkah.

Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memasuki ruang pribadi Cassie.

"Kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri setiap kali melihatmu, apalagi setelah kejadian semalam di dapur?"

​Cassie menggigit bibir bawahnya, ia meremas pegangan pintu.

"Aku pikir kau sudah lupa karena sibuk mengurus dokumen legalitas itu."

​"Aku tidak pernah melupakan hal-hal penting, Cassie," balas Liam.

Ia kini sudah berdiri tepat di depan Cassie, tangannya yang tadi menahan pintu kini berpindah untuk mengusap pipi Cassie dengan sangat lembut.

"Jadi? Tidak ada Jino, tidak ada Marco malam ini."

​Cassie menatap dada Liam yang naik turun dengan teratur, merasakan aura pria itu yang begitu mendominasi namun penuh kasih. Rasa malu itu masih ada, tapi keinginan untuk menjadi milik Liam sepenuhnya malam ini jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan gangguan Jino.

​"Pintu kamarnya... harus dikunci rapat kali ini," bisik Cassie pelan, nyaris tak terdengar.

​Senyum miring Liam muncul, senyum kemenangan yang sangat tipis. Tanpa menunggu kata kedua, ia menutup pintu kamar itu dengan satu sentakan kaki dan memutar kunci.

Pintu kamar tertutup rapat, suara kunci yang berputar terdengar kecil namun terasa seperti garis batas yang jelas antara dunia luar dan ruang kecil milik Cassie. Di luar sana masih ada bisnis, masa lalu, dan orang-orang yang selalu menuntut Liam untuk kuat. Di dalam sini, hanya ada napas mereka yang perlahan menjadi tidak teratur.

Cassie masih berdiri dekat pintu ketika Liam mendekat. Jarak di antara mereka menghilang tanpa terasa. Tangannya yang hangat naik perlahan ke pipi Cassie, seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan yang akan hilang begitu ia memejamkan mata.

Ciuman itu datang pelan di awal. Tidak tergesa, tidak seperti momen-momen sebelumnya yang selalu terpotong oleh keadaan. Kali ini Liam berhenti cukup lama, memberi ruang bagi Cassie untuk mundur jika ia mau. Tapi Cassie tidak bergerak. Jemarinya justru mencengkeram kemeja Liam, gugup sekaligus mencari pegangan.

Liam jelas lebih berpengalaman. Gerakannya tenang, tahu kapan harus berhenti dan kapan harus mendekat. Namun justru karena itu, ia bisa merasakan setiap perubahan kecil dari Cassie.

Napas yang tertahan. Bahu yang menegang. Cara Cassie mencoba mengikuti ritmenya meski masih canggung.

Alkohol yang tadi diminumnya membuat batas kesabarannya sedikit menipis. Setelah berhari-hari menahan diri, kedekatan itu terasa seperti sesuatu yang akhirnya ia dapatkan kembali setelah hampir kehilangan segalanya.

Tangannya bergerak lebih cepat dari biasanya, ciumannya berubah lebih dalam, lebih lapar.

Cassie terkejut oleh perubahan itu. Ada momen ketika ia menarik napas tajam, tubuhnya sedikit menegang karena rasa asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Liam baru menyadarinya beberapa detik kemudian. Ia berhenti, dahinya menempel pada dahi Cassie, napasnya masih berat.

"Hei…" gumamnya pelan, suaranya kembali turun, lebih sadar. Tangannya berpindah mengusap rambut Cassie yang berantakan. "Kau baik-baik saja?"

Cassie mengangguk kecil, pipinya merah, matanya sedikit berair bukan karena takut, tapi karena semuanya terasa terlalu baru sekaligus terlalu intens. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya mendekat lagi, memberi jawaban tanpa kata bahwa ia ingin tetap di sana.

Kali ini Liam bergerak lebih pelan. Tidak lagi terburu oleh keinginan, melainkan oleh kesadaran bahwa ini adalah pertama kalinya bagi Cassie.

Ia menahan dirinya, menyesuaikan ritme, membiarkan Cassie terbiasa dengan kedekatan itu sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi dorongan tergesa, hanya kehangatan yang perlahan memenuhi ruangan.

Di luar kamar, rumah besar itu sunyi. Tidak ada suara Jino yang berisik, tidak ada langkah Marco di koridor. Hanya suara napas yang akhirnya mulai selaras, dan rasa canggung yang perlahan berubah menjadi kepercayaan.

***

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari balik gorden, menyinari kamar yang menjadi saksi bisu peristiwa semalam.

Cassie mengerang pelan saat mencoba mengubah posisi tidurnya, ada rasa nyeri yang asing dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya.

Saat ia menyibakkan selimut, matanya tertuju pada noda merah kecil di atas sprei putih, sebuah tanda permanen bahwa hidupnya tak akan pernah sama lagi. Ia telah menyerahkan segalanya, seluruh dirinya, kepada pria itu.

​Ia menoleh dan mendapati Liam sudah duduk di sofa sudut kamar. Pria itu tampak santai, hanya mengenakan kaos hitam berkualitas tinggi dan celana kain gelap. Di tangannya terselip sebatang rokok yang asapnya mulai memenuhi sudut ruangan.

​"Matikan itu, Liam," suara Cassie terdengar parau dan lemas. "Aku tidak suka kamarku jadi bau asap rokok."

​Liam menoleh, menatap Cassie dengan sorot mata yang jauh lebih lunak dari biasanya. Tanpa membantah, ia langsung mematikan rokoknya di asbak kayu yang entah sejak kapan ada di sana.

​"Maaf," ucap Liam pendek. Ia bangkit dan berjalan menuju tepi tempat tidur, lalu duduk di samping Cassie. Matanya sempat melirik noda di sprei, dan kilat rasa bersalah kembali muncul, namun dengan cepat ia tutupi dengan senyum miring khasnya.

​"Bagaimana? Masih sanggup jalan ke kampus, atau mau kubuatkan surat izin sakit dengan alasan 'kelelahan luar biasa'?" goda Liam, suaranya rendah dan serak, terdengar sangat menggoda di telinga Cassie.

​Cassie langsung menarik selimut hingga menutupi dagunya, wajahnya memerah padam. "Liam! Jangan mulai, ya. Aku tetap mau kuliah."

​Liam terkekeh, ia mengulurkan tangan untuk mengusap rambut berantakan Cassie. "Kalau kau butuh waktu untuk istirahat, katakan saja. Aku tidak keberatan menjagamu di sini seharian."

​Ia lalu mengecup dahi Cassie lama.

"Tapi karena kau bersikeras, aku akan mengantarmu. Sore nanti aku jemput tepat waktu. setelah itu aku harus pergi sebentar untuk makan malam bisnis itu."

​Cassie mengangguk pelan, meskipun dalam hati ia merasa sedikit berat membiarkan Liam pergi.

1
Rosna Wati
Demi kamu cassie
Riska Noor
manisnya liam
Donna
Malah fokus ke kesalahan oranglain
Ella Elli
yeehh🤣
Ella Elli
dih malah jadi Cassie yang minta maaf 😒
npd jangan2 nih si liam
Rosna Wati
pergi dari rumahnya liam..
Ella Elli
Sampe lupa kemaren abis ngapin sama Cassie 😌
Ella Elli
Emang dasarnya gamon 😭
Ella Elli
OMG
Ella Elli
🤣🤣
Donna
Yaudah lah sama Amanda aja, sama2 udah dewasa juga kan
Donna
Si Liam ini cowo ter plin plan
Donna
bisa-bisanya
Donna
terlalu aman bahasanya 🤣
Four Forme: kurang berani gtu ya 🙈
total 1 replies
Donna
ini lagi anu kah?🤣
Donna
akal akalan
Donna
yang mulai bawa bawa masa lalu siapaaaaa
Donna
tuh kan masih cinta si liam mah
Donna
hadeuh
Harley
/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!