NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Bangun~

Angin musim dingin London menusuk tulang, seolah-olah memiliki niat sendiri untuk menguji ketahanan siapa pun yang berani berjalan di trotoar basah itu.

Christina merapatkan syal wol tebalnya, mencoba menahan hawa dingin yang menyelinap di antara kerah jaketnya. Di tangannya, sebuah kantong kertas cokelat berisi bunga gypsophila putih, bunga favorit neneknya, tergoyang pelan seiring langkah kakinya.

London hari itu tampak abu-abu, langit rendah seolah menekan atap-atap rumah bata merah yang berbaris rapi. Napas Christina mengepul di udara, menciptakan awan kecil yang cepat hilang ditelan angin. Ia sampai di depan sebuah motor tua, mesinnya sudah dingin, sama seperti suasana hatinya sore itu. Motor itu adalah satu-satunya harta berharga selain rumah yang ditinggalkan neneknya.

Dengan gerakan terbiasa, Christina menyalakan mesin. Suara dengungan halus memecah kesunyian jalanan sepi. Ia mengenakan helm, memastikan bunga di dalam tas khusus di bagian belakang motor tetap aman, lalu melaju perlahan.

Perjalanan menuju rumah neneknya di pinggiran kota tidak memakan waktu lama, namun cukup untuk membuat jari-jarinya kaku. Rumah itu berdiri tegak, meski cat putihnya mulai mengelupas di beberapa bagian, menunjukkan usia dan kurangnya perawatan. Taman kecil di depannya ditumbuhi semak-semak yang sudah gugur daunnya, hanya menyisakan ranting-ranting hitam yang menari-nari ditiup angin.

Christina mematikan mesin dan turun. Keheningan menyambutnya. Bukan keheningan yang menakutkan, melainkan keheningan yang penuh kenangan. Ia membuka pintu kayu ek yang berat itu dengan kunci yang sudah usang.

"Halo, Nek," bisiknya pelan pada ruangan kosong, seolah mengharapkan jawaban dari dinding-dinding yang penuh foto lama.

Aroma khas rumah itu masih sama. Campuran antara teh Earl Grey yang sudah kering, buku-buku tua, dan sedikit aroma lavender dari sachet yang dulu selalu diletakkan neneknya di laci meja. Christina meletakkan bunga di atas meja dapur, lalu menyalakan perapian. Api mulai menyala, memberikan kehangatan pertama yang ia rasakan sejak meninggalkan toko bunga tadi siang.

Di luar, salju mulai turun tipis-tipis, menutupi jalan dan taman dengan selimut putih. Christina duduk di kursi goyang dekat perapian, memandangi api yang menari. Menciptakan bayangan panjang di dinding ruang tamu yang penuh debu waktu. Namun, perhatian Christina sepenuhnya tersita pada sesuatu yang mustahil. Di tengah badai salju yang membekukan London, seekor kupu-kupu kecil hinggap di ujung meja samping kursinya.

Bukan sembarang kupu-kupu. Sayapnya berwarna merah darah yang pekat, namun di setiap kepakan sayapnya, cahaya biru elektrik berpendar, seolah-olah ada galaksi mini yang terperangkap di balik urat-urat tipis sayap itu. Warnanya berdenyut selaras dengan detak jantung Christina yang tiba-tiba memacu cepat.

"Mustahil," gumam Christina, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin di luar. "Tidak ada kupu-kupu di musim dingin. Apalagi yang bersinar seperti itu."

Tanpa sadar, tubuhnya bergerak sendiri. Ia mencondongkan badan, matanya yang biru sebening es mengikuti setiap gerakan makhluk ajaib itu. Kupu-kupu itu tidak terbang menjauh, melainkan berputar pelan di atas permukaan meja kayu ek yang sudah tergores, seolah mengundang Christina untuk mendekat.

Jari Christina terulur, gemetar sedikit karena dingin dan antisipasi. Ujung jarinya hampir menyentuh sayap merah itu.

"Siapa kamu?" bisiknya.

Saat kulit Christina bersentuhan dengan cahaya biru dari sayap kupu-kupu itu, dunia seakan berhenti berdetak.

Tidak ada ledakan, tidak ada suara keras. Hanya keheningan yang absolut.

Kupu-kupu itu tidak terbang, melainkan hancur seketika menjadi ribuan serpihan cahaya halus, seperti debu emas yang dicampur safir. Namun, alih-alih jatuh ke meja, serpihan cahaya itu justru merayap naik. Mereka bergerak liar namun terarah, menyusuri ujung jari Christina, merambat ke telapak tangan, lalu menembus kulitnya tanpa rasa sakit.

Rasanya aneh. Bukan panas, bukan pula dingin. Rasanya seperti aliran listrik statis yang lembut, namun membawa beban emosi yang begitu berat, kesedihan yang mendalam, kerinduan yang tak tersampaikan, dan sebuah rahasia yang telah tertahan selama puluhan tahun.

Christina mencoba menarik tangannya, tapi tubuhnya lumpuh. Cahaya itu terus mengalir deras, masuk melalui pembuluh darahnya, menuju dadanya, dan akhirnya menetap di pusat jiwanya.

"Ahhh..." desisnya pelan, napasnya tercekat.

Matanya membelalak. Pupilnya yang biru seakan diserap oleh cahaya yang kini berputar di dalam dirinya. Pandangannya mulai kabur. Api di perapian, bayangan di dinding, bahkan butiran salju yang menempel di jendela, semuanya mulai memudar, digantikan oleh kabut abu-abu yang tebal.

Suara angin di luar lenyap. Suara detak jam dinding berhenti.

Jiwa Christina terasa ditarik paksa, terseret masuk ke dalam sebuah ruang dimensi yang tak bertepi. Di sini, hukum fisika seolah tidak berlaku. Ia melayang tanpa gravitasi, dikelilingi oleh ribuan gelembung cahaya berwarna-warni yang berdenyut lembut.

Brak!

Sebuah gelembung pecah tepat di pelipisnya. Seketika, banjir ingatan yang bukan miliknya membanjiri pikiran Christina.

Brak! Brak! Brak!

Gelembung-gelembung lain menyusul, masing-masing membawa fragmen memori asing. Menghantam secara membabi buta...

Rasa sakit yang tajam di kepalanya perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang aneh.

Christina membuka mata.

Napasnya tercekat. Ia tidak lagi duduk di kursi goyang dekat perapian tua. Ia terbaring di atas kasur yang luas, selembar kain sutra halus berwarna krem membalut tubuhnya, terasa hangat dan nyaman di kulit. Aroma ruangan ini berbeda... Bukan lagi bau buku tua dan lavender, melainkan campuran wangi bunga malam yang manis dan dupa yang menenangkan.

Perlahan, ia beranjak duduk. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dipoles licin, terasa dingin namun tidak menusuk tulang seperti lantai di rumah neneknya. Ruangan ini asing, penuh dengan perabotan ukiran rumit yang belum pernah ia lihat sebelumnya, namun anehnya... rasanya familiar. Seolah-olah ia sudah bangun di kamar ini ribuan kali sebelumnya. Ingatan barunya berbisik bahwa ini adalah kamarnya, tempat ia berlindung selama dua puluh tahun terakhir.

Dengan langkah gontai, Christina berjalan menuju cermin besar berbingkai perak yang berdiri di sudut ruangan. Jantungnya berdegup kencang, seolah firasat buruk, atau mungkin harapan aneh sedang menunggu di balik kaca itu.

Saat ia mendekat, sosok yang memantul di cermin membuatnya terpaku.

Bukan wajah Christina yang biasa ia kenal. Gadis di cermin itu memiliki rambut panjang berwarna perak murni yang jatuh bergelombang hingga pinggang, berkilau tertimpa cahaya lampu kristal. Namun yang paling menakutkan sekaligus memukau adalah matanya. Bola mata biru esnya telah hilang, digantikan oleh sepasang mata berwarna ungu tua yang bercahaya lembut, penuh dengan kedalaman misteri dan kekuatan yang belum tergali.

Gadis itu mengenakan piyama sutra tipis berwarna putih gading yang tampak mahal, sangat berbeda dari baju tidur flanel usang yang biasa ia pakai di London.

Christina mengangkat tangan, menyentuh pipinya sendiri di cermin. Gadis bermata ungu itu melakukan hal yang sama.

"Siapa... siapa aku?" bisiknya. Suaranya terdengar sama, namun ada nada otoritas dan kelembutan baru yang tidak ia kenali.

Memori baru itu kini utuh di kepalanya. Ia tahu nama gadis ini. Ia tahu di mana ia berada. Tapi di sudut paling dalam hatinya, jiwa Christina yang asli masih berteriak, bingung bagaimana seorang gadis London biasa bisa berubah menjadi bangsawan asing dengan mata ungu dan rambut perak dalam sekejap mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!