Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deg!
Drrrttt... drrrttt...
Tiba-tiba, deringan ponsel di saku Asisten Wira menghentikan langkahnya yang tinggal beberapa senti lagi dari tempat persembunyian Adira. Pria itu segera mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari bawahannya.
Adira, yang sedari tadi menahan napas di sudut ruangan, langsung merasa sangat lega. Memanfaatkan momen saat Wira sedang lengah dan terfokus pada pembicaraan di telepon, gadis itu segera melesat pergi secepat kilat.
Adira berhasil menyelinap masuk ke dalam kamarnya dengan jantung yang masih berdegup kencang. Ia segera menutup pintu dan mengusap dadanya berulang kali untuk menenangkan diri.
"Syukurlah... beruntung mereka tidak menyadarinya," gumam Adira.
Adira duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong; otaknya berpikir keras. Gadis itu terus memutar kembali setiap potongan kalimat yang sempat tertangkap indranya di depan ruangan tadi. Ia mencoba mengingat-ingat apa sebenarnya yang sedang dibicarakan Arlan dengan asistennya.
Sepertinya, ia sempat mendengar pria-pria itu menyebut nama ayahnya.
"Apa aku hanya salah dengar? Atau mereka memang sedang menyebut nama Ayah?" gumam Adira lirih.
Pikirannya kini dipenuhi kecurigaan. Karena jarak dan rasa takut yang melanda saat menguping tadi, Adira memang tidak bisa mendengar dengan jelas seluruh isi percakapan Arlan dan Wira. Namun, penyebutan nama ayahnya dalam suasana yang begitu serius dan rahasia membuat hatinya tidak tenang.
"Tidak, walau bagaimanapun aku tidak akan menyeret Ayah ke dalam masalah ini. Aku sudah menanggung beban sendirian selama delapan tahun, dan aku tidak akan membiarkan Ayah menderita," ujar Adira tegas.
"Jangan sampai mereka tahu... Ayahlah pembunuh yang sebenarnya." Mata gadis itu mulai memanas.
Pikirannya kini dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu dan kenyataan pahit yang ia sembunyikan rapat-rapat. "Kenapa selama delapan tahun aku di penjara, Ayah sama sekali tidak pernah menjengukku?" Suara gadis itu mulai bergetar hebat.
Hatinya terasa perih; ia merasa ayahnya begitu tega mengabaikannya. Padahal, seingat Adira, dulu ayahnya adalah sosok yang akan melakukan apa saja demi dirinya. Adira adalah segalanya bagi sang ayah. Namun, kenapa segalanya berubah drastis? Kenapa ayahnya seolah menghilang ditelan bumi tepat setelah kejadian tragis itu?
***
Adira berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. Ia terdiam sejenak, memori masa lalunya berputar kembali. Ia membandingkan wajahnya yang sekarang dengan wajahnya delapan tahun lalu, saat pertama kali melangkahkan kaki masuk ke dalam penjara.
Kala itu, ia masih sangat belia. Wajahnya masih terlihat kekanakan, penuh harapan, dan polos. Namun, sosok yang terpantul di cermin saat ini hanyalah seorang wanita dewasa yang tampak lelah dan putus asa. Tatapan matanya yang dulu bersinar kini redup, menyimpan beban rahasia dan penderitaan yang begitu berat.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak beraturan sebelum turun ke bawah. Hari ini adalah jadwalnya kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan program kehamilan.
Meski rasa takut menyergap karena prosedur ini terasa begitu asing dan menakutkan baginya, Adira sadar bahwa ia tidak memiliki pilihan. Segala keinginannya tidak akan pernah didengar, apalagi dituruti di mansion ini. Ia terjebak, hanya bisa mengikuti kemauan laki-laki yang menyandang gelar suaminya, namun nyatanya hanya memperalatnya sebagai senjata balas dendam.
"Mungkin aku harus pasrah dengan semua ini... aku harus bisa kuat," gumamnya lirih pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hati yang sebenarnya sudah hancur berkeping-keping.
***
Di rumah sakit, Adira sedang menjalani prosedur pemeriksaan kehamilan. Jika sebelumnya ia ditemani oleh Wira dan dijemput oleh Zo, kali ini gadis itu datang hanya bersama sopir karena kedua pria kepercayaan Arlan tersebut sedang sangat sibuk dengan urusan perusahaan.
Sementara itu, Arlan—seperti biasa—tetap mengurung diri di dalam kamarnya yang gelap. Arlan hanya akan keluar saat malam hari tiba, seolah enggan menampakkan diri di bawah terangnya cahaya matahari.
Adira dilayani oleh Dokter Cindy untuk menjalani prosedur tersebut. Suasana rumah sakit yang dingin membuat Adira merasa sedikit cemas, namun ia tetap berusaha tenang mengikuti setiap tahapan prosesnya.
Setelah beberapa jam, akhirnya prosedur medis itu selesai dilakukan.
"Baiklah Nyonya Adira, kita akan menunggu perkembangannya sampai beberapa minggu ke depan. Mudah-mudahan perkembangan janin dalam kandungan Anda berjalan lancar," ujar Dokter Cindy ramah.
"Terima kasih, Dokter," jawab Adira singkat sembari tersenyum tipis.
"Ehem." Dokter Cindy berdeham pelan. "Sebenarnya, Nyonya Adira bisa saja menjalani kehamilan secara normal karena dari hasil pemeriksaan, Tuan Arlan sangat sehat. Beliau juga memiliki kualitas yang sangat baik," ucap Dokter Cindy dengan nada sedikit ragu, menyampaikan rasa herannya.
Dokter Cindy merasa janggal mengapa pasangan ini memilih untuk melakukan prosedur medis yang rumit, padahal kedua pasiennya dalam kondisi fisik yang sangat sehat untuk melakukan pembuahan secara alami. Baginya, melakukan prosedur ini terasa seperti membuang-buang uang yang pastinya tidak sedikit jumlahnya.
Namun, Dokter Cindy segera tersadar dan membatin; bagi seorang Arlan Erlangga, uang bukanlah apa-apa.
Mendengar keheranan Dokter Cindy, Adira seketika bingung bagaimana harus menanggapinya. Ia hanya terdiam, tak tahu alasan di balik setiap keputusan Arlan yang selalu memaksakan kehendak. Akhirnya, gadis itu memilih untuk tersenyum tipis tanpa ada niat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan dokter tersebut.
"Ah, maaf... sepertinya saya sudah lancang menanyakan hal pribadi," ujar Dokter Cindy merasa tidak enak saat melihat Adira hanya terdiam.
"Tidak apa-apa, Dokter. Kalau begitu, saya pamit dulu," balas Adira sopan.
"Silakan, Nyonya. Kita akan memeriksa kembali perkembangannya setelah dua minggu ke depan," ucap Dokter Cindy ramah.
"Terima kasih, Dokter," pungkas Adira seraya berpamitan dan segera melangkah keluar dari ruang kerja Dokter Cindy.
Saat melewati beberapa perawat di lorong rumah sakit, Adira tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang berbisik-bisik.
"Sudah beberapa hari ini, kok Dokter Teo tidak pernah kelihatan di rumah sakit, ya?" tanya salah seorang perawat.
"Kamu tidak tahu kalau Dokter Teo sudah dipecat secara tidak hormat dari rumah sakit ini?" timpal temannya. "Kabarnya, Direktur sendiri yang datang dan memecatnya. Padahal Dokter Teo itu orangnya baik sekali, tapi nasib kariernya sungguh memilukan."
"Kenapa sampai dipecat? Padahal kualitas kerjanya cukup bagus, lo. Apa mungkin ada masalah pribadi?"
"Tidak tahu, tapi yang pasti pemecatannya mendadak sekali."
Adira yang mendengar percakapan itu langsung tercengang. Ia meremas ujung bajunya kuat-kuat, menyadari bahwa dialah penyebab Dokter Teo kehilangan pekerjaannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan," gumam Adira.
Gadis itu buru-buru berlari keluar dari rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. "Pak, tolong kita ke Grup Angkasa Abadi, ya!" pinta Adira.
"Tapi bukannya Nyonya cuma diizinkan ke rumah sakit oleh Tuan Arlan?" tanya sopir ragu, mengingat instruksi ketat tuannya.
"Tolong, Pak... saya harus bertemu dengan Tuan Zo sekarang juga!" mohon Adira.
Akhirnya, sopir terpaksa menuruti keinginan Adira dan mengantarnya ke kantor pusat Grup Angkasa Abadi. Ia berpikir, karena gadis itu hanya ingin bertemu Tuan Zo, sepertinya itu tidak akan menjadi masalah besar.
Suara langkah sepatu Adira terdengar nyaring saat ia berlari melintasi lobi kantor. Tanpa memedulikan tatapan heran para karyawan dan tanpa bertanya lagi pada resepsionis, ia langsung menuju lift dan naik ke lantai tempat ruang direktur berada.
Begitu pintu lift terbuka, ia langsung berpapasan dengan Wira. "Ada apa, Nyonya?" tanya Wira terkejut melihat kehadiran gadis itu yang tiba-tiba.
"Di mana Tuan Zo? Apakah beliau ada di dalam? Saya ingin bertemu dengannya sekarang!" pinta Adira dengan nada tidak sabaran.
"Tuan Zo ada di ruangannya, Nyonya."
"Saya ingin bertemu dengannya sekarang!"
"Baik, Nyonya, tapi tunggu sebentar, saya izin dulu dengan Tuan Zo."
Wira terlebih dahulu meminta izin kepada Zo melalui interkom. Setelah mendapat persetujuan, Wira pun membukakan pintu dan mempersilakan gadis itu masuk ke dalam ruangan yang luas dan dingin itu.
"Ada keperluan apa sampai kau mencari saya ke sini?" tanya Zo dingin. Ia bahkan tidak menghentikan gerakan jemarinya di atas papan tik komputer. Pandangannya tetap fokus menatap layar di hadapannya seolah kehadiran Adira bukanlah hal yang penting.
"Apa maksud Anda memecat Dokter Teo dari pekerjaannya? Anda tidak pantas melakukan itu!" ucap Adira langsung pada intinya, tanpa basa-basi sedikit pun.
Jari-jemari yang tadinya sibuk menari di atas papan tik tiba-tiba berhenti. Zo mengangkat wajahnya, menatap Adira dengan tatapan yang seolah ingin menerkam wanita itu.
Adira balas menatap tajam pria itu, seolah-olah sangat membencinya. Bagi Adira, Zo sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya hingga harus mengorbankan orang lain.
"Apa pun yang saya lakukan, Anda tidak berhak untuk mempertanyakannya di sini. Anda tidak punya hak untuk bicara," sahut Zo dengan suara rendah namun dingin.
"Tidak bisa seperti itu! Saya tahu saya tidak berhak bicara, tapi Anda memecat orang lain hanya karena berhubungan dengan saya... itu tidak jentle namanya! Anda terlalu banyak mencampuri urusan pribadi saya!" balas Adira, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
Ketegangan di dalam ruangan itu terasa sangat mencekam. Zo berdiri dari kursi kebesarannya, menatap lurus ke dalam mata Adira yang mulai memerah. "Kenapa kalau saya mencampuri urusanmu? Arlan itu sepupuku, dan saya tidak akan membiarkanmu bertindak semena-mena padanya!"
Adira tersenyum sinis. "Saya tidak pernah bertindak semena-mena!" teriak Adira. Matanya memerah menahan amarah, menatap Zo dengan penuh kebencian karena merasa pria itu telah bertindak tidak adil pada Teo.
"Saya tidak melakukan kesalahan sedikit pun! Anda yang terlalu berprasangka buruk pada saya!" seru Adira. "Anda tahu seberapa susah payah dia membangun kariernya, dan Anda mencabutnya dengan cara tidak hormat? Apakah Anda masih punya hati nurani?!"
"Jangan mentang-mentang Anda berkuasa, Anda bisa melakukan segalanya seenaknya!"
Adira menatap Zo dengan napas yang memburu; dadanya kembang kempis karena amarah yang memuncak. "Dan jangan jadikan alasan Tuan Arlan sebagai tameng agar Anda bisa bertindak semena-mena! Anda itu bukan suami saya, jadi Anda tidak berhak bertindak terlalu jauh!"
Mendengar itu, Zo perlahan mendekati Adira, menciptakan aura yang sangat menindas hingga membuat ruangan itu terasa semakin sempit. Tatapannya dingin, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.
Keduanya saling beradu pandang.
"Kau..." Zo berbisik tepat di depan wajah Adira, suaranya rendah namun tajam menghujam. "Hanya hewan peliharaan, yang seharusnya hanya tunduk dan patuh."
Deg!
Kalimat itu membuat Adira terkejut setengah mati. Seluruh tubuhnya mendadak kaku; lidahnya kelu seolah baru saja tersambar petir.
Hewan peliharaan? Kalimat itu... batin Adira seraya menatap Zo dan mengambil langkah mundur.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang