NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Musuh dalam Selimut

Malam di London terasa lebih menggigit. Di dalam suite hotel yang kini menyerupai pusat komando krisis, suasana begitu hening hingga suara detak jarum jam terdengar seperti palu hakim.

Javian berdiri di depan dinding kaca, membelakangi ruangan. Di layar monitor besar di sampingnya, barisan kode log akses server Talandra Group mengalir deras. Tim IT forensik dari Jakarta bekerja dalam pengawasan ketat melalui sambungan terenkripsi.

Zerya duduk di sofa, memegang cangkir teh yang sudah mendingin. Ia memperhatikan punggung Javian. Pria itu tidak bicara selama satu jam. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan meledak-ledak Aldric.

"Data itu tidak mungkin bocor tanpa akses tingkat direksi," ucap Javian tiba-tiba, suaranya rendah dan tajam. Ia berbalik, matanya menatap Zerya dengan sorot yang dingin sekaligus letih. "Seseorang yang saya percayai selama sepuluh tahun baru saja menjual saya pada ayah Anda."

Zerya meletakkan cangkirnya. "Siapa saja yang memiliki akses ke data strategis itu, Tuan Javian?"

"Hanya tiga orang. Dan ketiganya ada di London saat ini."

Tepat saat itu, asisten senior Javian, Bram, masuk ke ruangan dengan wajah pucat. Ia membawa sebuah tablet. "Tuan, saya menemukan sesuatu. Ada transmisi data tersembunyi yang dilakukan dari jaringan hotel ini dua jam sebelum konferensi pers Nona Zerya dimulai."

Javian mengambil tablet itu. Matanya menyipit. "Siapa?"

"Sinyal itu berasal dari lantai ini, Tuan. Dari kamar salah satu tim hukum kita."

Zerya merasakan bulu kuduknya berdiri. Pengkhianat itu tidak jauh. Dia ada di sini, bernapas di udara yang sama dengan mereka.

"Panggil semuanya ke ruang rapat kecil di bawah," perintah Javian pada Bram. "Jangan sebutkan tentang temuan ini. Katakan kita akan membahas strategi menghadapi FCA besok."

Sepuluh menit kemudian, di sebuah ruang rapat kedap suara yang suram, tiga orang kepercayaan Javian duduk dengan wajah tegang. Javian berdiri di ujung meja, tidak duduk. Zerya berdiri di sudut ruangan, mengamati setiap gerak-gerik mereka: keringat di pelipis, cara mereka memegang pulpen, hingga arah mata mereka.

"Aldric Omerly memiliki informan di ruangan ini," ucap Javian tanpa basa-basi. "Informan itu memberikan data transaksi kepada Julian Vane untuk menghancurkan reputasi Zerya, sekaligus menjebak saya dalam investigasi FCA."

Salah satu pengacara senior, pria paruh baya yang sudah mengabdi lama, angkat bicara. "Tuan Javian, itu tuduhan serius. Kami semua di sini bekerja untuk melindungi Anda."

"Benar," Javian berjalan perlahan mengitari meja. "Masalahnya, pengkhianat tidak pernah terlihat seperti pengkhianat sampai dia tertangkap."

Javian berhenti tepat di belakang kursi Bram, asistennya sendiri yang baru saja memberinya laporan. Keheningan di ruangan itu menjadi begitu padat hingga menyesakkan.

"Bram," panggil Javian pelan. "Kenapa kamu memberikan laporan palsu tentang sinyal wifi tadi?"

Bram membeku. Seluruh ruangan menahan napas.

"Sinyal itu tidak berasal dari kamar tim hukum," lanjut Javian, suaranya kini sekeras baja. "Sinyal itu berasal dari perangkat pribadi yang kamu gunakan saat kita makan malam di The Shard. Kamu tidak hanya mengkhianati perusahaan, Bram. Kamu menjual jadwal pribadi saya kepada Julian Vane."

Bram mencoba berdiri, namun dua orang keamanan Javian yang sudah berjaga di pintu segera menahannya.

Zerya menatap Bram dengan tidak percaya. Pria yang selama ini membukakan pintu untuknya, yang mengatur jadwalnya, ternyata adalah orang yang memberikan pisau kepada Aldric.

"Kenapa?" tanya Zerya, suaranya tercekat.

Bram menunduk, tawanya terdengar pahit. "Karena Aldric menjanjikan sesuatu yang tidak akan pernah diberikan oleh Talandra—kebebasan dari bayang-bayang Javian. Kita semua hanya bidak di papan caturnya, kan?"

Javian tidak membalas. Ia hanya memberi isyarat kepada tim keamanannya untuk membawa Bram keluar.

Setelah ruangan kosong, Javian bersandar di meja, bahunya sedikit turun. Untuk pertama kalinya, Javian terlihat... rapuh.

"Sepuluh tahun," gumam Javian pada dirinya sendiri.

Zerya mendekat. Ia tidak menyentuh Javian, namun ia berdiri cukup dekat agar pria itu tahu dia ada di sana. "Sekarang kita tahu siapa musuhnya, Tuan. Kita bisa mulai membalas."

Javian mendongak. Matanya kembali tajam, namun kali ini ada sesuatu yang baru di sana: kepercayaan yang murni pada Zerya.

"Bram bukan pemain utama," ucap Javian.

"Dia hanya kurir. Julian Vane dan Aldric masih memiliki rencana besar untuk roadshow terakhir di Paris. Dan sekarang, kita akan memberi mereka apa yang mereka inginkan: sebuah kehancuran yang sangat publik."

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!