Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Siapa Ayah Mikaila?
Roni menghentikan mobil di parkiran basement apartemen. Ia langsung berbalik dan menatap Althan dengan tajam.
"Turun, kita perlu bicara,"
Althan berdecak. Meski begitu, ia menurut dan turun dari sana, disusul oleh Vivi dan Mikaila kemudian.
Roni berjalan menuju lift duluan, sementara di belakang ada Althan dan Vivi yang menggendong Mikaila. Melihat Vivi tampak kerepotan menggendong anaknya, Althan berusaha menawarkan diri.
"Sini, biar aku yang gendong,"
"Nggak!" Belum sampai sedetik, Mikaila sudah menolak. "Aku nggak mau sama oom jahat!"
Raut muka Althan langsung berubah menjadi sedih. Ia sadar kalau sekarang dirinya pasti kelihatan menakutkan di mata gadis kecil itu.
Bagaimana tidak? Mikaila melihat di depan matanya sendiri kalau orang yang ia anggap Ayah dipukuli oleh om om yang baru pernah ditemuinya sekali.
Biasanya, Althan tidak akan peduli dengan ucapan orang lain tentang dirinya. Tapi, karena Mikaila, dia sekarang jadi tau kalau harus berhati-hati dalam bertindak. Ia tak mau dibenci oleh gadis kecil itu lagi.
Sesampainya di apartemen, Roni langsung memerintahkan Althan duduk di sofa.
"Jelaskan Althan, apa yang terjadi," perintah Roni tegas.
Vivi sedikit terkejut, karena baru kali ini ia mendengar suara Roni yang begitu serius. Biasanya pria itu sikapnya lembut dan santai.
Althan menundukkan kepala. "Aku..."
Ringgg!!
"Shit!" Terdengar suara ponsel Roni berbunyi. "Siapa lagi yang menelepon di saat begini? Astaga, Bu CEO!"
Vivi dan Althan langsung menatap ke arah Roni. Roni mengacungkan telunjuk di depan bibir, pertanda agar mereka diam.
"Halo, Bu? Iya, saya sudah bersama Althan sekarang. Sekarang? Ah, baik Bu,"
Althan dan Vivi tidak bisa mendengar ucapan Bu CEO terhadap Roni, tapi mereka tau kalau sepertinya beliau marah besar, karena wajah Roni terlihat begitu cemas.
"Aku harus ke agensi dulu, Bu CEO memanggil," ujar Roni sambil menggaruk kepalanya, sepertinya dia sangat frustasi dengan keadaan saat ini. "Vivi, tolong kamu jaga Althan supaya dia tidak kemana-mana,"
"Baik Mas," jawab Vivi kepada Roni yang sudah berjalan ke arah pintu. Pria itu pun kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
Sepeninggal Roni, suasana di ruangan itu menjadi hening.
Vivi dan Althan saling tatap. Althan lalu menundukkan kepala, sementara Vivi menghela napas panjang.
"Mikaila, Nak," Vivi kemudian mengusap lembut kepala putrinya. "Kamu main di dekat kolam sana dulu, bisa?"
Mikaila terdiam sejenak. Ia menatap ke arah Althan dengan ragu.
"Tapi Ma, gimana kalau oom jahat ini jahatin Mama?"
Vivi tersenyum. "Tidak kok, tenang saja. Tadi itu cuma salah paham. Mikaila jangan takut ya," katanya menenangkan.
Mikaila tidak langsung pergi. Ia lebih dulu menatap tajam Althan, lalu berkata dengan nada setengah berbisik.
"Kalau oom ini jahatin Mama, bilang aku aja. Nanti biar aku pukul kepalanya,"
Vivi memejamkan mata menahan tawa.
Jujur, sebenarnya ucapan Mikaila terdengar sangat lucu. Tapi, sekarang situasinya sedang serius, tentu saja tidak pas untuk tertawa.
"Sudahlah, Mikaila tidak usah khawatir, Mikaila main saja, ya?"
"Iya Ma," akhirnya kali ini Mikaila mengangguk. Tapi sembari keluar ke arah kolam, ia berjalan mundur sambil menatap Althan tajam.
Meskipun hanya dengan anak kecil, entah kenapa Althan merasa sangat terintimidasi. Dan setelah Mikaila pergi, kini ia harus menghadapi versi besarnya, Vivi.
"Althan," panggil wanita itu dengan suara rendah. "Coba jelaskan apa yang terjadi,"
Althan menatap Vivi takut takut. Jujur, melihat Vivi yang begitu serius membuatnya gugup. Dulu Vivi selalu menggunakan tatapan itu saat marah padanya.
"Aku tau aku salah. Tadi aku mengira kalau pria itu adalah suami mu yang sedang selingkuh," jawab Althan dengan lirih.
"Hah? Suamiku?" Vivi terheran-heran mendengar penjelasan Althan. "Bagaimana bisa kamu menyimpulkan kalau Mas Johan adalah suamiku?!"
"Habisnya..." Althan menggerak gerakkan jemarinya, kebiasaan saat ia gugup. "Waktu itu Mikaila memanggilnya Ayah,"
Alis Vivi bertaut. "Bagaimana kamu bisa tau Mikaila memanggilnya Ayah?"
Althan menelan ludah. Mau bagaimana lagi, Sudah terlanjur begini, tentu ia harus berkata jujur.
"Aku mendengarnya saat duduk di taman sekolah bersama Mikaila,"
"Apa?!" Saking kagetnya, Vivi sampai berdiri dari duduknya. "Kamu menemui Mikaila di sekolah? Kapan?"
"Eng, sekitar minggu lalu,"
Vivi menghela napas panjang. "Bagaimana kamu bisa tau sekolah Mikaila?!"
Pertanyaan Vivi makin mendetail, mau tak mau, Althan harus mengakui perbuatannya.
"Yah... Aku.. sengaja mengikuti kalian berdua," jawabnya dengan nada terbata.
"Hah?! Sudah gila ya kamu!" Sekarang, emosi Vivi benar-benar sudah memuncak. "Ngapain sih kamu ngelakuin itu? Apa tujuan kamu, hah?!"
"Aku penasaran Vivi," Althan menatap Vivi dengan mata berkaca kaca. "Awalnya aku tak sengaja melihat kamu bersama seorang anak perempuan. Tentu saja aku bertanya tanya, siapa anak perempuan itu? Apa hubungannya dengan kamu? Lalu aku dengar kamu sudah punya anak, menurut kamu siapa yang tidak kaget? Lima tahun kita berpisah, dan tiba-tiba saja kamu sudah punya anak! Wajar kan kalau aku penasaran?!"
Vivi menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Lalu, setelah kamu mengikuti kami, apa kamu masih belum puas? Sampai kamu harus mengikuti kami lagi tadi?"
"Kalau tadi aku tidak berniat mengikuti kalian,"
Kening Vivi berkerut. "Lalu?"
Althan tidak langsung menjawab. Ia terlebih dulu mengeluarkan benda benda yang ia simpan di saku celananya sejak tadi, lalu mengulurkannya kepada Vivi. "Aku ingin mengembalikan ini,"
Vivi menatap benda benda di tangan Althan dengan mulut membisu. Di sana ada ponselnya yang hilang sejak kemarin, seperti yang ia duga, pasti ketinggalan di sini. Lalu, ada gelang benang merah yang sudah utuh seperti sedia kala.
Vivi meraih ponselnya dari tangan Althan. "Aku hanya akan menerima ini, sisanya terserah kamu,"
Althan menatap gelang berbenang merah di tangannya dengan tatapan nanar.
"Vivi, aku tau aku salah. Tidak seharusnya aku memutuskan gelang ini. Sekarang, aku sudah memperbaikinya lagi. Aku mohon, terimalah,"
"Sudah aku bilang, aku tidak tau soal gelang itu,"
"Kamu bohong," Althan menggeleng gelengkan kepalanya. "Jelas jelas kamu bilang sama Babg Roni kalau kamu mencari ini,"
Vivi sontak menatap Althan. Ah, dia lupa kalau kemarin sempat menelepon Roni menanyakan perihal gelang ini.
"Padahal jelas jelas kamu masih menyimpan perasaan kamu padaku, Vivi. Tapi, kenapa kamu bersikap sebaliknya?"
Vivi memejamkan mata. Tidak, ia tak boleh goyah hanya dengan ucapan ucapan itu.
"Althan, percakapan kita sekarang sudah keluar dari jalur. Sekarang, aku hanya ingin membahas soal Johan. Aku ingin kamu bertanggungjawab atas dia,"
"Aku akan bertanggungjawab. Tapi, jawab pertanyaan ku, siapa ayahnya Mikaila sebenarnya, Vivi?"
Vivi terdiam sejenak, menenangkan ekspresi, lalu menjawab dengan datar. "Bukan urusan kamu,"
"Apa ayahnya itu aku?"
Vivi menatap tajam ke arah Althan. "Dia anakku, tidak ada hubungannya dengan kamu sama sekali,"
"Oh, ya? Lalu, siapa ayah Mikaila yang sebenarnya? Apa kamu bisa tunjukkan padaku?"
"Sebenarnya apa peduli mu, Althan? Tidak usah mengurusi urusanku, urus urusanmu sendiri!"
Vivi berbalik badan, ingin menghindari percakapan ini dengan pergi dari sana. Tapi, Althan tak memberinya kesempatan.
Dalam sekejap, Althan bangkit. Tangannya bergerak cepat, meraih pergelangan tangan Vivi sebelum wanita itu sempat menjauh.
"Althan—!" protes Vivi tertahan.
Dengan satu tarikan kuat, tubuh Vivi kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke belakang hingga akhirnya tubuhnya jatuh terduduk di atas sofa. Belum sempat ia mengatur napas, Althan sudah lebih dulu mendekat.
Pria itu menahan kedua sisi tubuh Vivi, membuatnya tak punya ruang untuk kabur.
"Jangan menghindar!" suara Althan rendah, tapi penuh tekanan.
Vivi menatapnya marah, napasnya naik turun. "Lepasin aku!"
Namun Althan tidak bergeming. Tatapannya justru semakin dalam, seolah mencoba menembus pertahanan Vivi yang selama ini ia bangun.
"Katakan, Vivi," ucapnya pelan, namun penuh emosi yang tertahan. "Sebenarnya, apa yang sudah kamu sembunyikan dariku selama ini?!"
"Ini bukan urusanmu!" Vivi berusaha mendorong dada Althan, tapi pria itu tetap menahan posisinya.
"Bagaimana itu bisa bukan urusanku?" balas Althan cepat, suaranya meninggi. "Kalau kemungkinan terbesarnya justru aku adalah ayah dari anakmu?!"
Vivi tersentak. Kata kata Althan membuatnya terdiam sejenak.
Air mata Althan mengalir perlahan. "Kamu..."
BYURRR!
"Mama!"
Tiba-tiba suara benda tercebur ke dalam kolam memecah suasana, disusul teriakan panik Mikaila.
"Astaga!" Vivi sontak mendorong Althan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung. "Mikaila!"
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara