NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Membersihkan Jamban dan Rencana Tersembunyi

“Namaku Han Yu, penjaga keamanan sektor ini,” ucap pria berseragam biru itu sambil mengais telinganya. “Karena kalian berdua sudah melanggar ketenangan publik dan hampir menyebabkan kematian, aku punya hadiah spesial untuk kalian.”

Xiao Chen mencoba memprotes. “Senior, dia yang memulai lebih dulu! Dia menyerang Nona Lin!”

Han Yu hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Xiao Chen diam. “Aku tidak peduli siapa yang memulai atau siapa yang punya alasan paling menyedihkan. Di mataku, kalian berdua hanya membuat keributan. Sebagai hukuman, selama seminggu ke depan, kalian ditugaskan untuk membersihkan seluruh penampungan kotoran di asrama bawah dan menyapu seluruh pelataran Pos Kedua setiap pagi sebelum fajar.”

Mendengar hukuman itu, wajah Lei Bao berubah menjadi pucat pasi. Membersihkan kotoran? Bagi pria yang menganggap dirinya "Raja Murid Gagal", hukuman ini lebih menyakitkan daripada dipukuli sampai mati. Sementara itu, Xiao Chen hanya mengepalkan tangannya, menerima kenyataan pahit itu dengan geram.

“Mengapa masih diam di sana? Apakah kalian mengharapkan aku memberikan medali kehormatan?” suara Han Yu terdengar datar, namun mengandung tekanan Qi yang cukup untuk membuat bulu kuduk Xiao Chen dan Lei Bao berdiri. “Atau kalian ingin aku menambah durasi hukuman menjadi satu bulan?”

Xiao Chen adalah yang pertama bereaksi. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan amarah yang membara di dadanya. Matanya melirik ke arah Lin Xueyan yang masih berdiri mematung. Ada rasa pahit yang menjalar di lidahnya. Ia berniat menjadi pelindung, namun pada akhirnya, ia justru mempermalukan dirinya sendiri dengan hukuman yang begitu rendah. Dengan gerakan kaku, Xiao Chen menyarungkan kembali pedang berkaratnya ke dalam kain usang yang melilitnya.

“Saya menerima hukuman ini, Senior Han,” ucap Xiao Chen dengan suara rendah, kepalanya tertunduk namun tangannya mengepal sangat kuat hingga buku-bukunya memutih.

Di sisi lain, Lei Bao tampak seperti patung tanah liat yang baru saja disiram air bah. Seluruh harga diri yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun di Pos Kedua runtuh dalam sekejap mata. Baginya, dipukuli sampai babak belur di arena duel masih jauh lebih terhormat daripada harus memegang sapu dan berurusan dengan kotoran manusia. Ia adalah pria yang memuja kekuatan fisik, dan kini, kekuatan itu dipaksa untuk melayani tugas yang paling menjijikkan.

Han Yu tidak mempedulikan gejolak batin keduanya. Ia menguap lebar sekali lagi, memperlihatkan betapa tidak berartinya drama ini bagi hidupnya.

“Bagus. Mulai besok pagi, sebelum ayam jantan pertama berkokok, aku ingin melihat pelataran ini bersih tanpa satu pun helai daun kering. Dan mengenai penampungan kotoran... yah, aku sarankan kalian tidak sarapan terlalu banyak sebelum mulai bekerja. Jika ada laporan dari murid lain bahwa tempat itu masih bau, hukuman kalian akan digandakan,” ucap Han Yu sambil berbalik pergi. Langkahnya terlihat lambat, namun setiap pijakannya seolah-olah melipat jarak, membuatnya menghilang di balik kerimbunan bambu ungu dalam hitungan detik.

Kerumunan penonton perlahan mulai bubar. Beberapa orang menatap Lei Bao dengan tatapan mengejek, sementara yang lain hanya menggelengkan kepala. Status Lei Bao sebagai raja tanpa mahkota di antara murid gagal telah hancur total.

Li Fan yang masih duduk santai di atas bukit rumput mengamati seluruh kejadian itu dengan mata yang tajam. Ia memperhatikan bagaimana Lei Bao perlahan-lahan berdiri, langkahnya gontai seolah-olah beban ribuan ton sedang menekan pundaknya. Tidak ada lagi kilatan amarah di mata pria besar itu, yang tersisa hanyalah kekosongan yang sangat layu.

“Tianyu, lihatlah pria besar itu,” ucap Li Fan sambil menunjuk Lei Bao dengan potongan tulang rusa di tangannya. “Apakah kau melihat sesuatu?”

Jin Tianyu yang sedang sibuk mengelap sisa minyak di sudut bibirnya menoleh. “Dia terlihat... sangat menyedihkan, Tuan Muda. Seperti anjing yang kehujanan dan kehilangan tulang buruannya.”

Li Fan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. “Lebih dari itu, Tianyu. Dia sedang mengalami kematian jiwa. Di dunia ini, luka fisik bisa disembuhkan dengan pil alkimia tingkat rendah sekalipun. Tapi ketika harga diri seseorang diinjak-injak sampai ke tingkat yang paling kotor, hanya ada dua kemungkinan: dia akan membusuk di sana, atau dia akan lahir kembali menjadi monster yang berbeda.”

Li Fan turun dari bukit dengan gerakan yang elegan, diikuti oleh Jin Tianyu yang masih mengunyah camilan terakhirnya. Mereka berjalan melewati jalan setapak yang sejajar dengan tempat Lei Bao berdiri. Saat jarak mereka hanya beberapa langkah, Li Fan bisa mencium aroma putus asa yang menguar dari tubuh pria itu.

Lei Bao sama sekali tidak menyadari kehadiran Li Fan. Matanya hanya terpaku pada permukaan air sungai yang biru. Di kepalanya, mungkin ia sedang melihat kembali masa lalunya, mengingat wajah tunangannya yang kini berada di puncak gunung, dan membandingkannya dengan dirinya yang sebentar lagi akan bergelut dengan bau busuk.

“Dunia memang kejam bagi mereka yang tidak memiliki cukup bakat untuk terbang, namun memiliki terlalu banyak harga diri untuk merangkak,” gumam Li Fan saat mereka melintasi Lei Bao.

Suara Li Fan yang tenang itu seolah-olah menembus kabut depresi Lei Bao. Pria besar itu sedikit menoleh, matanya yang layu bertemu dengan tatapan Li Fan yang penuh dengan pengetahuan kuno yang tak terjelaskan. Untuk sesaat, Lei Bao merasa seolah-olah sedang ditatap oleh entitas yang jauh lebih tinggi daripada murid dalam mana pun yang pernah ia temui. Namun, sebelum ia bisa memproses perasaan itu, Li Fan sudah berjalan menjauh bersama pengawalnya yang berbadan besar.

“Tuan Muda, apakah kau merasa kasihan padanya?” tanya Jin Tianyu dengan polos saat mereka sudah agak jauh.

Li Fan tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun mengandung nada sinis. “Kasihan? Tidak, Tianyu. Aku hanya bersimpati pada usahanya yang salah arah. Aku berpikir ini seperti versi dirimu jika tidak bertemu denganku. Seorang pekerja keras yang terjebak dalam sistem yang dirancang untuk menghancurkan mereka yang tidak memiliki latar belakang atau bakat luar biasa. Bedanya, dia memilih untuk menindas yang lebih lemah untuk merasa kuat, sedangkan kau... kau hanya sibuk memikirkan perutmu.”

Jin Tianyu nyengir lebar. “Perut yang kenyang membuat pikiran tenang, Tuan Muda!”

Li Fan menepuk bahu Jin Tianyu. “Tepat sekali. Tapi ada pelajaran penting di sini. Jangan pernah membiarkan dirimu jatuh ke posisi di mana orang lain bisa menentukan kapan kau harus memegang sapu dan kapan kau harus memegang pedang. Kekuatan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku secara universal, dan di tempat seperti Sekte Awan Azure ini, inflasi harga diri terjadi setiap detik.”

Mereka terus berjalan menuju asrama, melewati beberapa kelompok calon murid yang masih membicarakan kekalahan Lei Bao. Li Fan memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Pos Kedua ini jauh lebih menarik daripada yang ia duga sebelumnya. Ada intrik, ada pahlawan tersembunyi seperti Xiao Chen, ada jenius dingin seperti Lin Xueyan, dan ada sampah berhati besar seperti Lei Bao.

“Tianyu, besok pagi kita tidak akan ikut latihan di air terjun dulu,” ujar Li Fan tiba-tiba.

“Eh? Kenapa, Tuan Muda? Bukankah Tuan Muda bilang air terjun itu bagus untuk penguatan tulang?”

Li Fan menyeringai nakal. “Aku punya rencana lain. Jika kita ingin naik ke Pos Ketiga dengan cepat, kita butuh lebih dari sekadar latihan fisik. Kita butuh ‘hiburan’ tambahan. Dan aku rasa, pemandangan seorang raja murid gagal yang sedang membersihkan penampungan kotoran akan menjadi awal yang bagus untuk rencana baruku.”

Li Fan sebenarnya merasa bahwa Lei Bao bisa menjadi pion yang berguna. Pria itu memiliki fondasi fisik yang kuat berkat latihan bertahun-tahun di bawah air terjun, meskipun nadinya terbatas. Dengan sedikit "sentuhan" dari pengetahuan Li Fan, bahkan seekor ulat bulu pun bisa dipaksa memiliki sayap naga.

Malam itu, di dalam kamar penginapan, Li Fan kembali duduk bersila. Ia memejamkan matanya, membiarkan kesadarannya melayang ke dalam Dantiannya yang luas. Sembilan nadi surgawinya berputar dengan anggun, menyerap sisa-sisa energi dari makanan yang ia konsumsi dan Qi dari udara pegunungan.

Di luar, bulan purnama bersinar terang, menyinari wajah Xiao Chen yang sedang bersandar di bawah pohon sambil menatap langit dengan dendam, menyinari Lin Xueyan yang bermeditasi dengan dingin di paviliun wanita, dan menyinari Lei Bao yang masih duduk di tepi sungai, air matanya perlahan jatuh menyatu dengan air sungai yang dingin.

“Nikmati malam terakhirmu sebagai manusia fana yang sombong, Lei Bao,” bisik Li Fan di dalam hatinya. “Karena besok, aku akan menunjukkan padamu bahwa terkadang, dasar jurang adalah tempat terbaik untuk mulai membangun menara yang bisa mencapai langit.”

Jin Tianyu yang sudah tidur lelap tiba-tiba mengigau. “Satu paha ayam lagi... satu lagi...”

Li Fan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Dan kau, Tianyu... kau harus belajar bahwa dunia ini tidak hanya terdiri dari daging rusa dan ayam panggang. Tapi selama kau mengikutiku, setidaknya perutmu tidak akan pernah kosong.”

Dengan itu, Li Fan kembali masuk ke dalam keadaan meditasi yang mendalam, mempersiapkan diri untuk kejutan yang akan ia berikan pada pagi hari yang berbau kotoran tersebut. Ia tahu, di tempat seperti ini, cara terbaik untuk mendapatkan kesetiaan seseorang bukanlah dengan emas atau kata-kata manis, melainkan dengan memberikan harapan di saat mereka merasa sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!