"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. GEMA DI RUANG MUSIK
Genggaman Alana pada secarik kertas kusam itu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Tulisan tangan Elena Volskaya (ibunya), terasa seperti suara dari alam kubur yang memanggilnya untuk bangun. “Carilah kotak di bawah lantai kayu ruang musik.” Pesan itu bukan sekadar petunjuk, itu adalah perintah perang bagi Alana untuk merebut kembali identitasnya yang telah dicuri.
Namun, ada satu masalah besar, ia dikunci di dalam kamar, dan Alexei Dragunov mungkin saat ini sedang dalam perjalanan pulang.
Alana menatap pintu kayu mahoni yang berat itu. Ia tahu mencoba mendobraknya adalah hal konyol. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia teringat pada balkon kamar. Di Jakarta, ayahnya selalu memastikan kamarnya berada di lantai yang mustahil dipanjat, tapi di sini, arsitektur Gothic mansion ini memiliki banyak tonjolan batu dan pilar yang bisa menjadi pijakan.
Tanpa membuang waktu, Alana menyambar jubah wol hitam yang diberikan Ivan tadi. Ia melangkah ke balkon. Udara dingin Rusia langsung menusuk kulitnya seperti ribuan jarum es. Salju yang turun mengaburkan pandangan, namun di bawah temaram lampu taman, ia bisa melihat deretan jendela di lantai bawah. Salah satunya pasti ruang musik.
Dengan nekat, Alana memanjat pagar balkon yang licin karena salju. Ia berpijak pada relief batu singa yang menjorok keluar, perlahan turun menuju balkon di lantai dua yang tampaknya merupakan ruang fungsional. Jemarinya membeku, nyaris kehilangan cengkeraman, namun bayangan wajah ibunya memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.
KLAK.
Ia berhasil mendarat di balkon lantai dua. Dengan sisa tenaga, ia mendorong pintu kaca yang ternyata tidak dikunci, sebuah kecerobohan keamanan yang langka di rumah ini, atau mungkin Alexei terlalu percaya diri bahwa tidak ada yang berani keluar di tengah badai salju.
Alana melangkah masuk. Ruangan itu gelap gulita, namun aroma kayu eboni, damar, dan senar baja langsung menyambut indra penciumannya. Ini adalah ruang musik. Sebuah piano grand Steinway & Sons hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh rak-rak buku partitur dan sebuah harpa tua yang tertutup debu.
"Di mana... di mana kotaknya?" bisik Alana.
Ia berlutut di lantai kayu parket yang dingin. Ia mulai mengetuk-ngetuk lantai satu per satu, mencari suara yang berbeda. Suara hampa. Di luar, suara deru mesin mobil mulai terdengar mendekat. Alexei sudah kembali.
Keringat dingin bercampur dengan tetesan salju yang mencair di dahi Alana. Ia merangkak di bawah bayang-bayang piano. Tok, tok, tok. Masih padat. Ia bergeser ke sudut ruangan, di bawah rak buku tua yang tersembunyi.
DUK.
Suara hampa. Jantung Alana melonjak. Ia meraba celah di antara papan kayu dan menemukan sebuah pengait kecil yang tersembunyi. Dengan tenaga penuh, ia menarik papan itu ke atas. Di baliknya, terkubur di bawah lapisan debu puluhan tahun, terdapat sebuah kotak besi kecil dengan lambang mawar perak, sebuah lambang pribadi Elena Volskaya.
Alana baru saja akan menyentuh kotak itu ketika lampu di lorong luar ruang musik menyala. Suara langkah sepatu yang berat dan berirama, langkah yang sangat ia kenali menggema di lantai marmer.
Alexei.
Alana panik. Jika ia tertangkap di sini, Alexei tidak akan ragu untuk menghukumnya atau, lebih buruk lagi, mengambil kotak ini. Ia dengan cepat memasukkan kotak itu ke dalam saku dalam jubah wolnya yang besar, mengembalikan papan kayu ke tempatnya, dan bersembunyi di balik tirai beludru tebal yang menutupi jendela balkon.
Pintu ruang musik terbuka dengan suara derit yang tajam.
Lampu ruangan dinyalakan. Alexei masuk ke dalam, masih mengenakan kemeja putih yang sedikit ternoda darah di mansetnya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap tajam seperti elang. Ia tidak langsung masuk, namun ia berdiri di ambang pintu, menghirup udara ruangan itu.
"Aku tahu kau di sini, Alana," suara Alexei terdengar datar, namun membawa ancaman yang nyata. "Bau parfum bunga melati dari Jakarta itu... tidak cocok dengan bau salju dan darah di rumah ini."
Alana menahan napas di balik tirai. Ia bisa melihat bayangan Alexei mendekat ke arah piano.
"Keluar. Sebelum aku menarikmu keluar dengan cara yang kasar," Alexei berhenti tepat di depan tirai tempat Alana bersembunyi.
Alana tahu ia sudah kalah. Ia perlahan membuka tirai dan melangkah keluar, mencoba memasang wajah sedingin mungkin meski tubuhnya bergetar karena kedinginan.
"Bagaimana kau bisa keluar dari kamarmu?" tanya Alexei. Ia meraih dagu Alana, merasakan kulit gadis itu yang membeku. "Kau memanjat balkon? Di tengah badai salju seperti ini?"
"Aku butuh udara segar. Kamar itu terasa seperti penjara," jawab Alana menantang.
Alexei menatap mata Alana, mencari kebohongan. Matanya kemudian beralih ke lantai kayu di sudut ruangan yang sedikit berdebu, lalu kembali ke saku jubah Alana yang tampak sedikit menggelembung. Alana bisa merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak. Alexei adalah ahli interogasi, ia pasti menyadarinya.
Namun, alih-alih merampas apa yang ada di saku Alana, Alexei justru melepaskan dagunya dan menghela napas panjang.
"Kau sangat mirip dengan ibumu. Dia juga benci dikurung. Dia sering menyelinap ke sini untuk memainkan lagu-lagu sedih yang membuat ayahku ingin menangis," ucap Alexei dengan nada yang hampir... nostalgia? "Tapi ibumu sudah mati, Alana. Dan jika kau terus bermain api seperti ini, kau akan menyusulnya lebih cepat dari yang kau duga."
"Apa yang kau sembunyikan tentang kematiannya, Alexei?" tuntut Alana. "Nenek bilang dia tidak meninggal karena kecelakaan. Ayahku membohongiku. Dan kau... kau juga bagian dari kebohongan ini."
Alexei melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Alana terdesak ke piano. "Aku menyelamatkan nyawamu malam ini, Alana. Aku bisa saja membiarkan Sergei membunuhmu di gereja dan mengambil wilayah Barat dengan perang terbuka. Tapi aku memilih jalur yang lebih sulit. Jalur yang melibatkanmu."
Ia merunduk, bibirnya berada di depan telinga Alana. "Jika kau ingin tahu kebenarannya, kau harus tetap hidup. Dan untuk tetap hidup, kau harus berhenti bermain detektif di rumahku sendiri. Berikan apa yang kau ambil dari bawah lantai itu."
Alana membeku. "Aku tidak mengambil apa pun."
Alexei menatap saku jubah Alana. "Jangan buat aku menggeledahmu, Alana. Kau tidak akan menyukai bagaimana tanganku menyentuhmu jika aku dalam keadaan marah."
Dalam keheningan yang mencekam, Alana perlahan merogoh sakunya. Namun, bukan kotak besi itu yang ia keluarkan. Ia mengeluarkan sebuah kalung tasbih tua yang ia temukan di atas piano tadi sebagai pengalihan.
"Aku hanya ingin mencari sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan di rumah iblis ini," ucap Alana dengan suara bergetar.
Alexei menatap tasbih itu selama beberapa detik, lalu menatap mata Alana yang tampak tulus namun penuh dengan tekad. sang White Wolf tampak ragu. Ia tahu Alana menyembunyikan sesuatu, namun ada bagian dari dirinya yang ingin melihat sejauh mana gadis ini berani melangkah.
"Kembali ke kamar. Lewat pintu depan," perintah Alexei. "Ivan akan menjagamu di depan pintu. Jika kau mencoba keluar lewat balkon lagi, aku akan memaku jendela itu secara permanen."
Saat Alana berjalan melewati Alexei, pria itu menarik lengannya dengan kasar, membuat tubuh mereka bertabrakan.
"Ingat satu hal, Alana. Di rumah ini, rahasia adalah mata uang. Dan kau baru saja berhutang besar padaku karena aku memilih untuk tidak melihat apa yang sebenarnya ada di balik jubahmu malam ini."
Alexei melepaskannya. Alana berlari keluar ruangan, jantungnya berpacu gila. Ia berhasil. Kotak itu masih ada padanya. Namun, ia menyadari bahwa Alexei membiarkannya pergi bukan karena ia bodoh, tapi karena ia sedang memainkan permainan yang lebih besar.
Begitu sampai di kamarnya dan mengunci pintu, Alana segera membuka kotak besi itu. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil berkarat, sebuah peta lama wilayah Siberia, dan sebuah foto Elena Volskaya yang sedang memegang bayi, bayi yang memiliki tanda lahir unik di bahunya.
Alana meraba bahunya sendiri. Tanda lahir itu ada. Tapi di balik foto itu, ada tulisan yang membuat Alana lemas.
“Dia bukan ayahmu, Alana. Lari sebelum Wira menyadari bahwa kau sudah tahu yang sebenarnya.”
Di luar kamar, Alexei berdiri di kegelapan lorong, menatap pintu kamar istrinya. Ia memutar sebuah koin perak di jemarinya.
"Biarkan dia menemukan sedikit demi sedikit, Ivan," ucap Alexei pada bayangan di ujung lorong. "Saat dia menyadari bahwa ayahnya adalah iblis yang sebenarnya, dia tidak akan punya pilihan selain berlari ke pelukanku."