NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16 — Perlindungan Sementara

Hujan turun tipis saat mobil berhenti di depan gerbang rumah sakit jiwa. Lampu-lampu kuning di halaman memantul di aspal basah, membuat bayangan pohon tampak seperti tangan-tangan panjang yang meraih. Dimas mematikan mesin, tapi tidak langsung membuka pintu. Dadanya terasa sesak—seperti kembali ke titik awal, ke tempat di mana semuanya bermula.

Aluna menatap bangunan itu dari balik kaca. Matanya yang biasanya kosong kini bergetar oleh ketakutan yang sangat dikenalnya. Jemarinya mencengkeram bros kupu-kupu perak di dada, begitu kuat hingga ruas-ruasnya memutih.

“Tidak,” katanya pelan. “Mas bohong.”

Dimas menelan ludah. “Alun, dengarkan Mas. Ini cuma sementara. Di luar tidak aman.”

Aluna menggeleng keras. “Mereka di sini. Suara-suara itu di sini.” Ia mulai bergumam, lagu yang patah-patah, kupu-kupu terbang… sayapnya tiga… suaranya bergetar.

Di kursi belakang, Digo menatap lurus ke depan. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Aku tidak mau masuk lagi,” katanya, suaranya datar tapi tajam. “Kau bisa jaga Aluna. Aku di rumah saja.”

Dimas menoleh. “Tidak. Marco sudah tahu kita bergerak. Dia menyebut malam ini.”

“Aku bisa mati di rumahku sendiri,” balas Digo dingin. “Tidak di kandang ini.”

Kata kandang menghantam Dimas. Ia teringat jeruji, pintu besi, bau disinfektan. Ia juga teringat janji—bahwa ia tak akan memenjarakan keluarganya lagi.

“Bang,” Dimas merendahkan suara, “aku tidak akan memintamu kalau ini tidak perlu.”

Digo tertawa kecil tanpa humor. “Kau selalu bilang begitu.”

Hening menggantung. Hujan makin rapat, mengetuk atap mobil seperti hitungan mundur. Dari kejauhan, pintu geser rumah sakit terbuka, seorang perawat berdiri menunggu—Sania. Tatapannya bertanya tanpa memaksa.

Dimas membuka pintu dan berlutut di depan Aluna. “Alun, lihat Mas.” Ia menunggu sampai mata itu menemuinya. “Mas tidak meninggalkan kamu. Mas cuma memastikan kamu aman. Kau saksi. Mereka takut padamu.”

Aluna berbisik, “Aku melihat.”

“Aku tahu.” Dimas mengangguk. “Dan karena itu, Mas harus melindungimu.”

Air mata jatuh di pipi Aluna. Ia mengangguk kecil, lalu memeluk Dimas dengan tiba-tiba. Tubuhnya gemetar. “Jangan lama.”

“Tidak lama,” janji Dimas, lagi.

Digo mengalihkan pandangan. Tangannya mengepal di sandaran kursi roda. “Aku ikut,” katanya akhirnya, nyaris seperti kalah. “Kalau dia di sini, aku juga di sini.”

Dimas menatapnya, terkejut sekaligus lega. “Bang—”

“Jangan terima kasih,” potong Digo. “Aku melakukan ini karena Marco. Bukan karena kau.”

Mereka turun dari mobil. Udara dingin memeluk. Sania menghampiri, suaranya tenang. “Kamar sudah disiapkan. Terpisah tapi berdekatan.”

Digo mendengus. “Terpisah?”

“Keamanan,” jawab Sania. “Dan ketenangan.”

Lorong-lorong itu menyambut dengan cahaya putih dan bau obat. Setiap langkah mengaduk kenangan lama—jeritan, pintu dikunci, malam tanpa jam. Aluna berjalan di antara mereka, kepalanya menunduk, bros berkilau kecil di dadanya seperti jangkar rapuh.

Di depan pintu kamar Aluna, Dimas berhenti. “Mas di sini,” katanya. “Sebentar lagi.”

Aluna menatap ruangan itu—ranjang rapi, jendela berjeruji. Nafasnya tercekat. “Jangan kunci.”

Sania mengangguk. “Tidak dikunci. Ada pengamanan di luar.”

Aluna masuk. Ia duduk di ranjang, memeluk lutut. Dimas menahan diri untuk tidak memeluknya lagi—takut jika melepaskan nanti akan lebih sakit. “Mas pergi ya,” katanya pelan. “Tidur.”

Aluna mengangguk, lalu menyanyikan satu baris lirih. Sayapnya tiga… suaranya memudar.

Pintu ditutup perlahan.

Di kamar Digo, suasana lebih dingin. Digo memutar kursi rodanya menjauh dari ranjang. “Kau menang,” katanya tanpa menatap. “Tapi kalau ini berakhir buruk—”

“Aku yang bertanggung jawab,” potong Dimas. “Seperti seharusnya.”

Digo menoleh. Matanya merah, marah dan lelah. “Aku tidak marah padamu,” katanya pelan. “Aku marah pada dunia yang selalu memilih terlambat.”

Dimas mengangguk. “Aku juga.”

Ketika Dimas melangkah keluar, pintu tertutup, lorong kembali sunyi. Ia berdiri lama, mendengarkan—tidak ada jeritan, tidak ada tembakan. Hanya detak jantungnya sendiri.

Di luar, hujan berhenti. Langit masih gelap, tapi awan mulai terbelah tipis. Perlindungan sementara telah dipilih—keputusan pahit demi satu tujuan: bertahan sampai kebenaran benar-benar aman.

Dimas menarik napas panjang. Ini bukan kemenangan.

Ini penundaan sebelum badai.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!