NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 03: Dad, Aku Ingin Mommy

"Dad, aku ingin Mommy." ucap Lena menatap lirih pada Reno.

Reno tersenyum, "Mommy Len adalah Mommy Bella, nanti kita ke rumah Mommy Bella, okay?" Reno mengelus kepala Lena dengan sayang.

Lena menggeleng lesu, ia bersedekap dada dan membuang pandangannya pada sang Daddy.

Zavia, Kakak kandung Reno, yang baru masuk ke dalam dan melihat percakapan keduanya pun menghela napasnya panjang.

"Ren, putrimu menginginkan seorang Mommy. Kamu jangan egois seperti itu dong, kasihan Lena." ujar Zavia lalu mendekati Lena.

"Lena, gimana keadaanmu sayang?" Zavia mengecup kening Lena dengan lembut, "Lena, Bunda membawakan makanan kesukaanmu, pizza! Lena mau makan sekarang?" tanya Zavia membuka kardus berbentuk kotak yang berisi pizza yang masih hangat itu.

"Tidak Bunda, Len masih kenyang, Len baru selesai makan." balas Lena pelan.

Ya, Lena memanggil Zavia dengan sebutan Bunda, persis anak-anak Zavia memanggil Zavia seperti itu.

"Abang Azam dan Kakak Vania ada di luar, Lena mau keluar?" tanya Zavia. Azam dan Vania adalah anak-anaknya. Azam sudah berumur dua belas tahun, sedangkan Vania masih seumuran dengan Lena, hanya berbeda satu tahun. Vellena berusia lima tahun sementara Vania enam tahun, lebih tua satu tahun dari Lena.

Lena tersenyum, "Iya Bunda, mau!" ucapnya girang.

"Ayo Bunda temani...." Zavia menuntun Lena keluar dari kamarnya, diikuti oleh Reno di belakangnya.

Ketika cucu-cucunya berkumpul, Tuan Samuel dan Nyonya Ellen sangat bahagia dan begitu antusias bermain dengan mereka.

Hari ini adalah hari minggu, mereka semua sedang berlibur dan menikmati hari libur mereka.

Reno mendudukkan dirinya di samping Zavia dan suaminya Zavia, Noah.

"Lihatlah putrimu Ren, apa kamu tidak merasa kasihan dengan Lena? dia tadi berkata menginginkan seorang Mommy, jangan egois Ren, ingat, Bella sudah tenang di sana dan bahkan Kakak ingat sekali saat itu Bella mengatakan kamu harus menikah lagi untuk Lena." ujar Zavia menatap adiknya.

Reno bergeming, ia masih memandangi keponakan dan putrinya bermain dengan Opa dan Omanya, serta didampingi oleh para suster-suster mereka masing-masing.

"Ren, dengarkan?!" lanjut Zavia lagi sedikit memekik.

Reno menggerakkan tubuhnya, menatap Zavia, "Aku tidak ingin menikah lagi." ucapnya lalu memandang lurus ke depan.

Zavia menghela napasnya panjang, "Kamu benar-benar egois Reno. Kasihan Lena, dia itu putrimu, dia butuh kasih sayang seorang Ibu di umurnya yang masih kecil seperti itu!" tegas Zavia.

Reno menghela napasnya pelan, "Sudahlah Kak, namanya juga anak-anak, besok-besok juga sudah lupa lagi." ucapnya lalu beranjak dari duduknya.

Reno menghilang. Laki-laki itu menaiki tangga, mungkin masuk ke dalam kamarnya. Zavia tidak peduli dengan itu, justru merasa kesal.

"Sudah Bun, mungkin Reno ingin mendamaikan hatinya lebih dulu, tunggu waktunya saja... kalau sudah ada yang dicintainya lagi, pasti ada keinginan untuk menikah lagi." ucap Noah mengelus pundak istrinya.

Zavia mengangguk, "Iya Mas, aku cuman kasihan saja pada Lena." sanggahnya.

"Ada apa Zavia? Noah?" tanya Mommy Ellen lalu mendudukkan dirinya di samping Noah.

"Reno Mom... tadi Lena meminta seorang Mommy...." cerita Zavia.

"Sudah-sudah, cukup! Mommy mengerti. Memang anak itu selalu mementingkan keadaan dirinya saja." potong Mommy Ellen ketika Zavia mulai bercerita.

Zavia mengangguk, "Apa Daddy dan Mommy tidak meminta Reno untuk menikah lagi?"

"Sudah sampai berbusa Mommy dan Daddy berkata seperti itu, Zav. Lihat saja karakter adikmu yang keras kepala itu, susah kalau bukan kemauannya sendiri. Padahal kalau dia memahami, Lena itu jadi sering sakit ketika dia menginginkan seorang Mommy, sampai Mommy nangis dan sesak." ujar Mommy Ellen, mengeluarkan air matanya di ujung matanya, "Sudahlah biarkan saja, do'akan yang terbaik untuk Reno." sambungnya.

Zavia dan Noah sama-sama mengangguk.

Reno turun dari tangga dengan pakaian yang sudah rapih.

"Mom, aku ingin pergi dulu...." pamit Reno mencium punggung tangan Mommy Ellen. Ia juga menjabat tangan Zavia dan Noah.

"Pergi kemana? berkencan atau bekerja?" tanya Zavia menggoda.

"Sudah pasti bekerja. Tidak ada lagi selain itu." jawab Mommy Ellen.

Reno mengangguk, "Jordi sudah menungguku. Lena, Daddy kerja dulu, Len hati-hati di sini, selalu jadi anak baik dan menurut dengan Opa dan Oma." Reno menghampiri Lena dan mencium puncak kepalanya serta kedua pipinya.

"Dad, jangan pulang lama-lama... aku ingin tidur ditemani Daddy." pinta Lena menatap Reno.

Reno mengangguk, "Daddy pulang cepat, nanti malam Daddy akan menemani Len tidur, Daddy berangkat dulu... Azam, Vania, Uncle pergi dulu." pamit Reno.

"Yes, Uncle!" seru keduanya.

"Dad, Reno ada urusan pekerjaan." Reno menatap Daddy Samuel.

"Ya Ren, pergilah, hati-hati." sahut Daddy Samuel.

Reno mengangguk, ia mencium punggung tangan Daddy Samuel dan berjalan keluar rumah.

"Begitulah adikmu, Zav." ucap Daddy Samuel yang sedaritadi mendengar percakapan di sofa.

Zavia mengangguk, "Tidak apa-apa Dad, kata Mas Noah belum waktunya saja."

Daddy Samuel mengangguk, "Ya lihat saja, tadi kalian dengarkan Reno berjanji pada Lena untuk menemaninya tidur, tapi Reno pasti mengingkarinya, entah dia itu bekerja apa...."

Padahal Reno menggantikan Daddy nya menjabat di perusahaan besar di bidang usaha sebagai direktur utama. Daddy Samuel tahu betul pekerjaan di sana seperti apa, tapi Reno selalu saja pulang malam dan hari-hari libur tetap berangkat, Daddy Samuel sampai tidak habis pikir, tapi sedikit bersyukur karena di tangan Reno, perusahaannya mulai lebih maju dan terkenal, mungkin berkat doa, usaha dan kerja kerasnya Reno.

Mommy Ellen menghela napasnya berat, "Mommy sampai pusing lihat Reno, tidak ada capek-capeknya, berangkat pagi dan pulang larut malam."

"Daddy berniat ingin menjodohkan Reno dengan putri keluarga Bertram. Namanya Fiona, Fiona juga sudah lama menyukai Reno." ucap Daddy Samuel.

Mommy Ellen dan Zavia melebarkan matanya.

"Mommy setuju kalau Reno menyetujuinya."

"Ya Mom, Zavia juga." tambah Zavia.

"Nanti Daddy coba mengatakannya pada Reno, Fiona itu gadis yang cantik dan pintar."

Mommy Ellen mengangguk, "Tapi jangan lupakan cucu kita, karena Reno selain mencari istri pun harus mencari Ibu untuk Lena." jelas Mommy Ellen.

"Tentu saja Mom, Daddy tidak akan melupakan itu." balas Daddy Samuel.

***

Kini, sepasang kekasih, Deana dan Arya sedang menikmati angin pantai yang berhembus menyapu wajah-wajahnya dengan lembut.

"Mas, aku ma-mau kita putus." ucap Deana hampir tak terdengar. Ia menundukkan kepalanya, hatinya tidak rela ketika mulutnya mengeluarkan kata-kata yang melukai hatinya itu.

Arya menyorot Deana dengan tajam, "Kenapa? apa maumu hah!" ucapnya frustasi.

"Aku bukan perempuan yang baik untuk Mas Arya." sahut Deana meremas kedua tangannya.

"Lalu perempuan yang baik untuk Irgi? begitu?"

Deana menggeleng, Arya selalu saja mengaitkan dengan teman kerjanya, padahal Irgi sudah memiliki seorang istri.

"Lalu?"

Deana menggeleng, "Maafkan aku Mas."

Arya menghela napasnya panjang, "Aku mencintaimu Dea, selamanya. Jangan katakan itu lagi padaku, aku tidak menyukainya. Aku selalu berusaha untuk bekerja lebih keras supaya bisa cepat menikahimu." ucapnya dengan nada yang lebih dikontrol, Arya merengkuh pundak Deana dan membawa Deana ke dalam pelukannya.

Deana menangis tersendu, ingin bercerita pun ia masih tak rela, ia takut Arya marah dan justru menceritakannya pada Ibunya, Deana tidak mau itu terjadi, ia harus waspada.

"Sudah jangan menangis. Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan itu, hm?" tanya Arya.

Lagi dan lagi Deana menggelengkan kepalanya, "Tak apa Mas, aku hanya sedang lelah bekerja."

Arya mengangguk, "Kalau sudah jadi istriku, kamu tak perlu bekerja lagi."

Deana mengangguk sembari tersenyum tipis, "Iya, Mas."

1
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!