Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Sandiwara di Ruang 701
Ponsel itu jatuh dengan bunyi buk yang tumpul di atas karpet tebal kamar VIP Rumah Sakit Internasional Surabaya. Adnan terpaku sejenak, menatap benda persegi itu seolah-olah seluruh dunia dan rahasianya baru saja tumpah ke lantai.
Namun, kejutan yang lebih besar justru datang dari sentuhan tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dingin, lembut, namun terasa seperti lilitan ular yang siap menyuntikkan bisa.
"Mas... aku kangen kamu," bisik Arini lagi.
Suaranya serau, penuh dengan getaran kerapuhan yang dipaksakan. Mata Arini yang sayu menatap Adnan dengan binar yang tampak begitu tulus. Sebuah akting yang jika Adnan tidak memegang bukti dari Reza. Mungkin akan membuatnya luluh dan bertekuk lutut memohon maaf karena telah mencurigainya.
Adnan menarik napas dalam, membiarkan oksigen yang berbau antiseptik memenuhi paru-parunya. Ia harus menjadi aktor yang lebih hebat dari istrinya sendiri. Ia harus membangun sebuah gedung kebohongan yang fondasinya terbuat dari dendam. Namun fasadnya tampak seperti cinta yang utuh dan tulus tanpa cela.
"Aku juga kangen kamu, Rin," jawab Adnan pelan. Suaranya rendah, berat, dan mengandung nada kasih sayang yang ia paksa keluar dari tenggorokannya yang terasa kering.
Ia membungkuk, memungut ponselnya dengan tangan yang stabil. Sebuah prestasi luar biasa mengingat detak jantungnya sedang berpacu karena amarah. Ia meletakkan ponsel itu di meja nakas.
Lalu kembali menatap Arini di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Wajah Arini tampak pucat, namun bibirnya yang kemerahan memberikan kontras yang aneh. Adnan tahu, beberapa menit lalu, bibir itu mungkin baru saja menyesap pengkhianatan bersama Bagaskara.
Sebuah ide gila, sebuah eksperimen psikologis yang kejam. Mendadak melintas di benak Adnan. Ia ingin menguji sejauh mana kadar keberanian dan kebusukan wanita di depannya ini. Ia ingin memvalidasi laporan CCTV dari Reza dengan caranya sendiri.
Jika Bagas baru saja keluar dari sini sepuluh menit yang lalu setelah melakukan perjamuan itu. Maka Arini seharusnya menolakku dengan dalih sakit, pikir Adnan dengan logika dingin seorang arsitek.
Adnan memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke leher Arini. Ia menghirup dalam-dalam aroma di sana. Benar saja, di antara bau obat-obatan. Ada sisa aroma parfum pria yang sangat tipis, sebuah jejak yang tak sempat dibasuh oleh keringat. Rasa muak naik hingga ke tenggorokan, namun Adnan justru mempererat pegangannya pada bahu Arini.
"Benarkah kamu kangen, Rin?" bisik Adnan di telinga istrinya.
"Kalau begitu, buktikan. Aku juga sangat merindukanmu setelah berhari-hari di Jakarta. Rasanya sesak sekali menahan rindu ini sendirian."
Tangan Adnan bergerak pelan, membelai pipi Arini lalu turun ke tulang selangkanya yang menonjol di balik baju pasien. Ia memberikan tatapan lapar yang ia buat-buat. Sebuah sandiwara yang menuntut energi luar biasa. Dalam hatinya, ia merasa sedang menyentuh bangkai yang mulai membusuk. Namun di luar, ia tampak seperti suami yang sedang dilanda gairah.
Adnan menunggu. Ia menunggu kalimat penolakan yang logis. Ia menunggu Arini berkata, "Mas, aku masih pusing," atau "Mas, tubuhku masih lemas," atau setidaknya "Jangan di sini, ini rumah sakit, aku takut suster masuk," namun, kenyataan justru menampar wajah Adnan lebih keras dari apa pun.
Arini tidak menolak. Sebaliknya, sebuah senyum manja dan penuh kemenangan merekah di bibirnya. Ia justru menarik leher Adnan lebih dekat. Membiarkan jemari suaminya meraba kain baju pasiennya yang longgar.
"Apa pun untukmu, Sayangku, aku milikmu selamanya," bisik Arini tanpa ragu sedikit pun.
Dengan gerakan yang bahkan terlihat antusias. Tangan Arini yang bebas mulai membuka kancing atas baju pasiennya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putihnya di bawah lampu temaram. Ia menatap Adnan dengan tatapan menantang, seolah ia adalah istri paling setia di dunia yang siap melayani suaminya kapan saja dan di mana saja.
Darah Adnan seolah membeku menjadi kristal es di dalam nadinya. Luar biasa, batinnya berteriak muak. Wanita ini baru saja melayani laki-laki lain di ranjang ini.
Membiarkan tubuhnya dijamah oleh pembunuh Jo dan Bima, dan sekarang dia siap melayaniku tanpa rasa malu sedikit pun? Berapa banyak nyawa yang dia miliki dalam satu tubuh? Bagaimana dia bisa membagi rahimnya untuk dua pria dalam waktu yang hampir bersamaan?
Rasa mual itu kini menjadi fisik.
Adnan merasa lambungnya bergejolak hebat. Melihat Arini yang begitu siap justru membuat Adnan merasa kotor. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Karena sempat berpikir untuk menyentuh wanita ini, bahkan hanya untuk sebuah tes.
Sebelum kancing ketiga terbuka, Adnan segera menahan tangan Arini. Ia tertawa kecil, sebuah tawa yang ia buat sedemikian rupa agar terdengar seperti tawa seorang pria yang sedang menggoda istrinya dengan penuh perhatian.
"Eh, tunggu dulu, Sayang," Adnan menarik tangannya kembali. Pura-pura bersikap dewasa dan penuh perlindungan.
"Aku hanya bercanda. Kamu ini baru saja siuman dari kondisi kritis. Masa langsung mau diajak begituan? Aku tidak sekejam itu sampai tega menyiksa istriku yang sedang sakit."
Arini mengerucutkan bibirnya, tampak sedikit kecewa. Sebuah kekecewaan yang Adnan tahu hannyalah bagian dari protokol istri idaman yang sedang ia mainkan.
"Tapi aku serius, Mas. Aku ingin membuktikan kalau cintaku padamu tidak berubah meski aku sempat salah jalan karena mabuk kemarin,” ucap Arini seolah membuat perisai dinding tebal dengan penipuan realita dalam kewarasan Adnan.
"Nanti saja kalau kita sudah di rumah, dan kamu sudah benar-benar sehat. Aku ingin kita melakukannya dengan sempurna, bukan di tempat berbau obat seperti ini," Adnan mengusap dahi Arini dengan lembut. Lalu dengan tangan yang berusaha tetap stabil, ia mengancingkan kembali baju pasien istrinya.
Adnan kemudian naik ke atas ranjang pasien yang cukup luas untuk ukuran kelas eksekutif itu. Ia berbaring di samping Arini, menarik selimut putih tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua. Ia melingkarkan lengannya di bahu Arini, membiarkan istrinya itu menyandarkan kepala di dadanya.
Di dalam dekapan itu, Arini mendesah lega. Adnan bisa merasakan detak jantung Arini yang mulai melambat dan tenang. Wanita itu merasa telah berhasil memenangkan kembali kepercayaan suaminya.
Ia merasa posisinya sebagai Nyonya Adnan yang terhormat masih aman di balik tembok kebohongan yang ia bangun bersama Bagaskara. Ia merasa kejahatannya telah terkubur sempurna di bawah tumpukan data yang dihapus semalam.
Namun, di bawah permukaan selimut itu, Adnan sedang menatap langit-langit ruangan dengan mata yang terjaga sepenuhnya, Ia tidak berkedip. Setiap embusan napas Arini yang mengenai lehernya terasa seperti lelehan asam yang membakar kulitnya.
Setiap detak jantung Arini yang terasa di dadanya. Seolah menjadi alarm pengingat akan setiap kebohongan yang telah terucap dan setiap tetes darah Jo dan Bima yang tumpah.
Tidurlah yang nyenyak, Arini, batin Adnan. Nikmati pelukan terakhir ini, karena ini adalah pelukan terakhir yang tulus dari seorang pria yang pernah sangat mencintaimu.
Dalam kegelapan yang sunyi, Adnan mulai menyusun rencana untuk hari esok dengan presisi seorang arsitek yang sedang merancang penghancuran sebuah gedung tua yang sudah tak layak huni.
Ia tahu, ia tidak bisa melakukan ini sendirian di Surabaya. Jika lawan di baliknya adalah seseorang yang sanggup melenyapkan Jo dan Bima. Ia butuh benteng pertahanan yang lebih kuat, dan benteng itu adalah akar dari keberadaannya orang tuanya.
Besok, setelah urusan administrasi keluar dari rumah sakit selesai. Aku tidak akan membawanya pulang ke rumah kami. Rencana Adnan mulai terbentuk secara sistematis.
Rumah itu sudah terkontaminasi oleh bayang-bayang Bagas. Aku akan membawanya ke rumah Papa dan Mama. Di sana, di bawah pengawasan Papa, dia tidak akan bisa lari. Dia tidak akan bisa menghubungi siapa pun tanpa terpantau.
Adnan tahu ia harus berterus terang pada ayahnya. Pak Darmawan adalah mantan detektif swasta yang memiliki jaringan intelijen sendiri. Jika ayahnya tahu tentang pengkhianatan ini, apalagi tentang keterlibatan Bagaskara dalam kematian Jo dan Bima.
Maka Arini tidak akan hanya berhadapan dengan sebuah surat cerai. Ia akan berhadapan dengan murka seorang Macan Tua yang tidurnya baru saja diusik. Bahkan Sang Papa adalah seorang pria terkejam pada masanya.
Aku akan meminta Papa dan Mama ikut bersandiwara. Pikir Adnan sambil terus mengusap bahu Arini dengan gerakan mekanis. Biarkan mereka bersikap manis di depan Arini.
Menyambutnya seolah-olah dia tetap menantu kesayangan. Biarkan Arini terjebak dalam rasa aman yang palsu. Sementara di balik layar, kami menyiapkan jerat hukum yang akan mematikan karier dan kebebasan Bagaskara selamanya.
Adnan mengeratkan pelukannya pada Arini. Arini membalasnya dengan memeluk pinggang Adnan, mengeratkan tubuhnya seolah mencari perlindungan. Bagi Arini, ini adalah pelukan penebusan. Namun bagi Adnan, ini adalah cara untuk memastikan mangsanya tidak lepas sebelum jaring benar-benar terpasang.
"Mas... terima kasih ya," gumam Arini pelan, suaranya mulai berat karena kantuk.
"Terima kasih untuk apa, Rin?"
"Terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku janji, aku akan jadi istri yang lebih baik lagi."
Adnan hanya mengangguk kecil di kegelapan. Ia tidak ingin mengeluarkan suara lagi karena ia takut suaranya akan pecah oleh kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun.
Malam itu, di Ruang 701, perjamuan sandiwara itu mencapai puncaknya. Sang istri tertidur lelap dengan mimpi kemenangan yang palsu. Sementara sang suami tetap terjaga, memandangi bayangan lampu jalan yang menembus celah gorden. Menghitung setiap detik menuju fajar yang akan membawa mereka pada sebuah perjalanan tanpa jalan kembali.
Adnan tahu, hari esok bukan sekadar kepulangan dari rumah sakit. Hari esok adalah awal dari prosesi pemakaman bagi pernikahan mereka dan ia akan memastikan bahwa Arini tidak akan menyadari kematian hubungan mereka sampai tanah benar-benar menutupi seluruh hidupnya.
Pukul tiga pagi, Adnan sempat melirik ponselnya sekali lagi. Pesan singkat dari Reza masuk, semua sudah siap, Nan. Intelku sudah berada di posisi masing-masing. Begitu kamu keluar dari RS, kami akan membayangi dari jarak aman. Jangan buat gerakan yang memancing kecurigaan.
Adnan menghapus pesan itu, lalu meletakkan kembali ponselnya. Ia memejamkan mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk membayangkan wajah Jo dan Bima. Ia berbisik dalam hati, sebuah janji yang suci.
Tunggu aku, Jo. Tunggu aku, Bima. Keadilan untuk kalian akan dimulai besok pagi.
Ia kembali memeluk Arini, namun kali ini dengan perasaan yang berbeda.
Ia tidak lagi melihat Arini sebagai manusia, melainkan sebagai objek yang harus ia manipulasi demi sebuah tujuan akhir. Pembersihan total dan dalam kedinginan hatinya. Adnan menyadari bahwa ia telah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri malam ini.
Namun ia tidak peduli, karena di dunia yang penuh dengan arsitektur pengkhianatan. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menjadi penguasa dari labirin itu sendiri.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...