Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Darsia
"Mayat..... Ada mayat...." Teriakan salah satu warga desa Kalung Ganu pagi itu menggemparkan seluruh desa.
Danu yang pagi itu seperti biasa turun ke sawah pagi-pagi sekali menemukan mayat Aning.
Orang-orang mulai berkumpul. Semua penasaran mayat siapa itu.
"Aning? Bukankah itu Aning, anak Bu Darsia?" Seorang warga desa mengenali mayat tanpa busana itu.
"Kamu yakin itu Aning?" Tanya pak Yuda. Dia sendiri tak yakin, karena kondisi mayat itu begitu mengerikan. Wajahnya di penuhi luka sayatan. Bagian bawahnya mengeluarkan darah yang sudah berubah warna menjadi hitam. Bagian kemaluan robek parah. Sungguh kematian yang tragis.
"Saya yakin pak, itu Aning." Ucap beberapa salah satu ibu yang cukup mengenal Aning.
“Aning anaknya Bu Darsia…”
“Yang rajin itu…”
“Yang suka senyum…”
"Padahal semalam dia masih berjualan di pasar malam. Aku bahkan masih membeli dagangannya." ibu-ibu yang sejak tadi berkumpul mulai bisik-bisik.
Terlihat dari kejauhan pak Warsito yang merupakan RT di desa Kalung Ganu datang dengan tergesa-gesa.
Tadi, saat dia sedang sarapan, beberapa warga desa datang mengabarinya tentang penemuan mayat perempuan itu.
"Astaghfirullah..." Ucap Pak Warsito saat melihat mayat perempuan yang tergeletak di depannya tanpa busana itu.
Pak Wasito berlutut pelan di samping tubuh itu. Tangannya gemetar saat membentangkan sarung lusuh bermotif kotak-kotak cokelat. Ia menutupinya hati-hati tubuh Aning dengan hati-hati.
"Siapa yang menemukan mayat ini lebih dulu?" Tanya Pak Warsito.
"Danu pak." Sahut Pak Yuda.
"Mana Danu."
"Disana Pak." Tunjuk Pak Yuda kearah Danu yang berdiri beberapa langkah dari sana, wajahnya pucat pasi. Tubuhnya masih gemetar.
Pak Warsito mendekat kearah Danu dan mulai menanyakan kronologi dia menemukan mayat Aning.
"Ta....ta....di a....a..aku" Danu terbata-bata.
“A… aku cuma mau ke sawah,” gumamnya berulang-ulang seperti orang kehilangan arah. Setelah di berikan air oleh Pak Warsito Danu pun mulai bercerita bagaimana pagi tadi dia begitu bersemangat ingin ke sawah karena memang beberapa hari lagi waktu panen, jadi seperti biasa jika waktu panen dekat dia akan ke sawah untuk melihat pemandangan sawah milik orang tuanya itu sebelum padi di panen. Menurutnya itu adalah keindahan sebelum kembali menjadi tanah kosong.
Namun, saat berjalan menelusuri padi-padi yang berdiri tegak, dia malah melihat sesuatu dari jauh. Karena penasaran dia pun mendekat. Dan, alangkah terkejutnya dia saat mendapati ternyata itu adalah mayat.
"Pak Yuda, katakan pada warga jangan terlalu dekat. Kita tunggu polisi dari kecamatan.” Seru pak Warsito.
Pak Yuda mengangguk lalu meminta pada orang-orang untuk menjauh dari mayat itu. Tapi, beberapa yang masih penasaran tetap saja berdiri di sana menyaksikan mayat Aning yang begitu tragis.
“Tolong salah satu yang ada disini panggil Bu Darsia,” ucap Pak Warsito pelan.
Beberapa pemuda yang ada disana segera berlari ke arah rumah Aning.
"Assalamualaikum Bu Darsia..." Panggil para pemuda itu.
Setelah beberapa saat, keluarlah Bu Darsia masih memakai mukena.
Karena sehabis solat subuh tadi, entah kenapa dia ketiduran.
"Iya, loh ada apa nduk." Tanya Bu Darsia, karena tidak biasanya anak-anak bujang itu datang pagi-pagi kerumahnya.
Bu Darsia memandang wajah-wajah pucat di hadapannya. Nafas para pemuda itu memburu, seperti habis berlari jauh.
“Ada apa, nduk?” ulangnya, kali ini dengan nada yang mulai tak tenang.
Mereka saling pandang. Tak ada yang berani membuka mulut.
“Ini… ini soal Aning, Bu…” ucap salah satu dari mereka akhirnya, lirih.
"Aning? Aning kenapa nduk?" Bu Darsia mengerutkan keningnya.
“Bu… Aning ditemukan di sawah… dekat pematang milik orang tua Danu…” ucap pemuda itu lagi, terbata.
“Ditemukan? Maksudmu apa?” Alis Bu Darsia kembali berkerut.
"Jangan bercanda nduk, Aning itu ada di dalam." Kata Bu Darsia. Kini giliran pada pemuda itu yang mengerutkan dahinya heran. Apa maksud Bu Darsia jika Aning ada di dalam. Karena, jelas-jelas mayat Aning ada di sawah.
Mereka pun saling pandang.
"Bu, pagi ini Danu menemukan mayat Aning di sawah milik orang tuanya." Akhirnya salah satu dari mereka berkata jujur.
"Jangan bercanda kalian. Aning ada di dalam." Bu Darsia dengan panik Kembali masuk kedalam rumahnya. Para pemuda pun tak mau ketinggalan, mereka naik keatas rumah Bu Darsia dan mengikuti perempuan itu.
"Aning.... Aning... Buka pintunya nak." Teriak Bu Darsia dari luar kamar Aning memanggil putri semata wayangnya itu.
Namun, beberapa kali memanggil tidak ada jawaban.
Para pemuda tadi menyaksikan dengan raut wajah sedih. Mereka kasihan pada Bu Darsia yang tak tahu jika putrinya susah tidak ada.
Bu Darsia lalu membuka pintu kamar Aning. Dan.... Kosong. Kamar itu kosong. Tak ada Aning di dalam.
"Aning... Ning, kamu di mana nak." Panggil Bu Darsia.
"Bu, ibu yang sabar.." salah satu pemuda berkata untuk menguatkan Bu Darsia.
"Aning itu ada nduk. Semalam dia pulang. Dia pulang semalam." Kata Bu Darsia kekeh.
Semalam, Bu Darsia ingat dengan jelas, waktu itu sudah jam dua belas malam. Dia tidak tidur dan menunggu Aning di ruang tamu.
Memang Aning pulang dengan wajah pucat. Bu Darsia juga sempat bertanya apakah anaknya itu sakit. Tapi Aning menggeleng. Aning bahkan masih sempat memberikan hasil dagangannya dan memintanya untuk membeli obat.
"Aning...." Bu Darsia masih berteriak memanggil Aning.
"Bu, Aning sudah nda ada. Sebaiknya ibu ikut kami ke sawah.
“Tidak!” suara Bu Darsia meninggi, nyaris menjerit. “Semalam dia pulang! Dia masuk rumah ini! Dia bicara sama Ibu!”
"Ibu ada buktinya. Uang yang Aning berikan." Bu Darsia berlari ke kamarnya, para pemuda ikut, Bu Darsia lalu membuka lemari tempat dia menyimpan uang. Namun, yang di temukan Bu Darsia bukanlah uang, melainkan beberapa helai daun kering.
Para pemuda saling pandang, bingung dan mulai takut.
“Bu… mayatnya ada di sawah. Kami semua lihat,” ucap salah satu dengan suara bergetar.
Bu Darsia mundur selangkah. Kepalanya menggeleng keras.
“Bu…” suaranya lirih, “kamar Aning bahkan nda seperti habis dipakai semalam.”
Bu Darsia terdiam. Nafasnya mulai tak teratur.
Tangannya gemetar.
“Tidak mungkin… Ibu melihatnya. Ibu mendengar dia bicara…” kekeh Bu Darsia.
"Sebaiknya ibu ikut kita saja untuk memastikan." Ujar salah satu pemuda.
Karena ingin membuktikan jika apa yang dia katakan benar, dan para orang-orang salah. Dan, mayat itu bukan Aning anaknya. Bu Darsia pun ikut ke sawah dengan tubuh lemahnya yang memang sakit-sakitan.