Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Adaptasi dan Kebahagiaan Baru
Satu bulan setelah kelahiran Kirana, kehidupan keluarga Mahardika berubah total. Bukan hanya berubah, tapi jungkir balik. Tapi entah kenapa, di tengah semua kekacauan itu, mereka semua tersenyum. Bahkan Reyhan yang dulu sangat teratur dan perfeksionis, sekarang jadi ahli multitasking dengan mata panda.
Pagi itu, Kamis jam enam pagi, Reyhan sedang video conference dengan klien dari Jepang. Meeting penting yang sudah dijadwalkan berminggu-minggu. Ia duduk di ruang kerja dengan kemeja formal, rambut rapi disisir ke belakang, background virtual yang profesional. Dari atas meja, penampilannya sempurna.
Tapi di bawah meja? Celana training kusut dan kaki telanjang. Dan yang lebih penting, di pangkuannya ada Kirana yang sedang tidur pulas, terbungkus selimut pink. Gendongan baby carrier menyangganya dengan aman.
"So, Mr. Mahardika, about the AI integration timeline..." suara klien terdengar serius.
Tiba-tiba, Kirana terbangun. Matanya membuka, lalu langsung menangis keras. "WAAAAAAHHHHHHH!"
Wajah Reyhan pucat. Refleks, ia menekan tombol mute. Sambil mengguncang-guncang Kirana dengan panik, ia berbisik, "Sshhh, sayang, please. Ayah lagi meeting penting. Please don't cry..."
Tapi Kirana tidak peduli. Tangisannya makin menjadi-jadi.
Di layar, klien-kliennya menatap bingung karena Reyhan tiba-tiba mute dan hanya diam sambil mulut komat-kamit. Dengan satu tangan menggendong Kirana, tangan satunya mengetik di kolom chat: "Sorry, technical issue. One moment please."
Ia berlari ke kamar dengan langkah super cepat tapi tetap hati-hati tidak mau Kirana terguncang. "ALYA! TOLONG! KIRANA NANGIS DAN AKU LAGI MEETING!" bisiknya sambil mengetuk pintu.
Alya yang baru saja tertidur setelah menyusui jam empat pagi terbangun kaget. Matanya masih separuh terpejam saat membuka pintu. "Kasih ke Mama. Dia laper lagi kayaknya."
Reyhan menyerahkan Kirana dengan sangat hati-hati, seperti menyerahkan bom waktu. Lalu berlari kembali ke ruang kerja.
Ia duduk, napas terengah-engah, unmute, dan berkata seformal mungkin, "I apologize for the interruption. Please continue."
Klien Jepangnya tersenyum. Bukan senyum sinis, tapi hangat. "Mr. Mahardika, you have a new baby?"
Reyhan membeku. "Yes. One month old. I'm very sorry"
"No need to apologize! Congratulations! I have three children. I understand. Babies don't care about meeting schedules." Klien itu tertawa.
Reyhan tersenyum lega. "Thank you for understanding."
Meeting berlanjut, tapi setiap lima menit ia melirik pintu, waspada akan tangisan susulan. Beruntung, Kirana sudah tenang di pelukan Alya.
Siang Hari Drama Popok
Siang itu, Reyhan mencoba memasak makan siang sambil menggendong Kirana dengan baby carrier. Setiap kali ia letakkan, Kirana langsung nangis. Jadi ya sudah, masak sambil gendong.
"Oke, putri Ayah, kita lagi masak nasi goreng. Ini namanya bawang. B-A-W-A-N-G. Nanti kalau kamu udah besar, Ayah ajarin masak juga ya," katanya sambil memotong bawang dengan satu tangan skill yang ia pelajari dalam sebulan terakhir.
Arka pulang sekolah, langsung masuk dapur dengan tas masih di punggung. "Ayah, aku laper. Makan siang udah siap?"
"Sebentar lagi, Nak. Ayah lagi masak."
Tiba-tiba Arka mengendus. "Ayah, Kirana ngompol. Bau."
Reyhan berhenti memotong. Ia mengendus-endus aroma di sekitar Kirana. "Oh no. Oke... masak dulu atau ganti popok dulu... masak dulu atau ganti popok dulu..."
"GANTI POPOK DULU, YAH! Bau banget!" Arka memegang hidung.
"Oke, oke." Reyhan matikan kompor, bawa Kirana ke kamar. Arka mengikuti di belakang.
Di kamar, saat popok dibuka, mereka menemukan bencana. Poop meledak ke mana-mana punggung Kirana, baju, bahkan gendongan.
"Oh my God..." Reyhan menatap horror. "Ini... ini poop-pocalypse."
Arka di ambang pintu mata lebar. "Ayah... kamu butuh bantuan?"
"Nak, bisa tolong panggilin Mama?"
"Mama lagi tidur. Mama bilang jangan ganggu kecuali emergency."
"INI EMERGENCY! LIHAT INI! INI BUKAN CUMA POOP! INI TSUNAMI POOP!"
Arka lari memanggil ibunya.
Lima menit kemudian, Alya masuk dengan mata masih sayu, melihat situasi, lalu tertawa terbahak-bahak. "Rey... kamu kesusahan sama diaper blowout?"
"INI BUKAN DIAPER BLOWOUT! INI DIAPER NUCLEAR EXPLOSION!"
Alya tertawa sambil membantu. Mereka bekerja sebagai tim: Alya memegang Kirana, Reyhan membersihkan dengan baby wipes, Arka menyiapkan baju bersih. Lima belas menit kemudian, Kirana bersih, wangi, dan tersenyum.
"Dia senyum," kata Reyhan tidak percaya. "Dia bikin bencana, terus dia senyum. Manipulatif sekali."
"Dia anak kamu. Tentu aja manipulatif."
"ALYA!"
Mereka bertiga tertawa, lelah tapi bahagia.
Sore Hari Istirahat yang Layak
Setelah drama popok dan makan siang tertunda, Kirana akhirnya tidur nyenyak di box baby-nya. Reyhan dan Alya ambruk di sofa.
"Rey," bisik Alya, "Kirana tidur. Ini kesempatan langka. Kita tidur juga yuk."
"Nggak bisa. Aku harus selesaiin proposal klien. Deadline jam enam."
"Rey, kamu udah nggak tidur sejak kemarin." Alya menarik suaminya berbaring, kepala Reyhan di pangkuannya. "Tidur lima belas menit aja. Aku yang jaga. Kalau Kirana bangun, aku urus."
"Tapi proposal"
"Proposal bisa nunggu. Kesehatan kamu nggak."
Reyhan terlalu lelah untuk berdebat. Dalam hitungan detik, ia tertidur pulas.
Alya mengusap rambutnya dengan lembut. Kamu kerja terlalu keras, Rey. Tapi aku tahu kamu lakukan ini semua untuk kami.
Satu jam kemudian, Reyhan terbangun kaget. "JAM BERAPA?! PROPOSAL"
"Sshhh, pelan-pelan. Kirana masih tidur." Alya tersenyum. "Jam setengah lima. Kamu masih punya waktu."
"Kenapa nggak bangunin aku?"
"Karena kamu butuh tidur. Sekarang kamu lebih fresh, bisa selesaiin lebih cepat."
Reyhan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. "Makasih udah jaga aku."
"Sama-sama. Sekarang ayo selesaiin proposal. Aku siapin kopi."
Jumat Pagi Eczema Muncul
Jumat pagi, Alya memandikan Kirana seperti biasa. Tapi kali ini, ia melihat bercak merah kecil di pipi dan dahi Kirana. Sedikit bersisik.
"Rey, sini!" panggilnya cemas.
Reyhan yang sedang siap-siap kerja langsung masuk kamar mandi. "Ada apa?"
"Lihat ini. Kirana ada ruam."
Reyhan memeriksa. "Ini... eczema kayaknya. Baby eczema."
"Berbahaya?"
"Nggak, tapi bikin gatal. Kita harus ke dokter."
"Hari ini?"
"Iya. Aku cancel meeting."
Di klinik anak, dr. Anisa dokter yang dulu menangani Arka menyambut mereka. "Wah, ini pasti baby Kirana! Umur satu bulan ya?"
Setelah periksa, dr. Anisa bilang, "Ini infant eczema. Tidak berbahaya, tapi bikin nggak nyaman. Biasanya genetik. Ibu atau Bapak punya riwayat alergi?"
Alya mengangguk. "Saya dulu eczema parah sampai SD."
"Nah, kemungkinan Kirana mewarisi. Saya kasih moisturizer dan cream hydrocortisone yang mild. Juga, Ibu perlu ganti sabun, deterjen, dan hindari makanan high allergen seperti susu sapi, telur, kacang, seafood."
Alya langsung pusing. "Dok, itu hampir semua protein yang saya makan..."
"Saya tahu. Tapi ini sementara. Biasanya setelah enam bulan, sistem pencernaan bayi lebih matang, eczema berkurang."
Di mobil, Alya menangis. "Ini salah aku. Aku warisi dia eczema."
"Hey." Reyhan menepi, memeluknya. "Ini bukan salah kamu. Genetik nggak bisa dikontrol. Kita akan urus ini bareng-bareng."
"Tapi aku harus stop semua makanan favorit."
"Untuk Kirana, kamu rela?"
Alya mengangguk sambil menangis. "Tentu aja."
"Nah. Jadi kita fokus bikin Kirana lebih baik. Deal?"
"Deal."
Minggu Pagi Waktu Ayah dan Arka
Minggu pagi, sesuai janji, adalah waktu khusus Ayah dan Arka. Mereka pergi ke toko elektronik beli komponen robot baru.
Alya sendirian di rumah dengan Kirana. Pertama kalinya sejak Kirana lahir.
Ia duduk di sofa, menyusui Kirana sambil menikmati ketenangan. "Kirana, ini pertama kalinya cuma kita berdua. Mama dan Kirana time."
Kirana menatapnya dengan mata bulat, fokus penuh.
"Mama sempat takut waktu hamil kamu. Takut nggak bisa jadi ibu baik buat dua anak. Tapi sekarang..." Air matanya jatuh. "Sekarang Mama ngerti. Cinta itu nggak terbagi. Cinta itu bertambah. Mama sayang Arka, dan Mama sayang kamu, sama besarnya."
Kirana selesai menyusu. Alya mengangkatnya untuk disendawakan. Saat dipangku menghadap bahu, tangan mungil Kirana meraih rambut Alya.
"Aduh, sayang, itu sakit." Tapi Alya tersenyum. "Nggak apa-apa, Mama nggak akan lepas."
Ia berjalan mondar-mandir, menyanyikan nina bobo pelan. Kirana mulai terlelap.
"Mama sayang kamu, Kirana. Sangat, sangat sayang."
Sore Hari Pulang dengan Cerita
Reyhan dan Arka pulang dengan kantong penuh komponen robot. Mereka menemukan Alya tertidur di sofa, Kirana tidur di dadanya. Damai sekali.
Reyhan langsung foto. Arka berjinjit mendekat. "Ayah, Mama cantik ya?"
"Sangat cantik. Mama kamu wanita tercantik."
"Kirana juga cantik?"
"Sangat. Kirana dapat dari Mama."
"Terus aku dapat dari siapa?"
"Kamu dapat gantengnya dari Ayah."
"AYAH NGGAK GANTENG! AYAH BIASA AJA!" Arka terkikik.
Suara mereka membangunkan Alya. "Kalian udah pulang?"
"Iya. Kayaknya kalian lagi bonding." Reyhan tersenyum.
Arka mendekati Kirana, mengelus kepalanya lembut. "Kirana, Kakak pulang. Kakak beli komponen robot baru. Nanti kalau udah besar, kakak ajarin bikin robot ya."
Kirana membuka mata sebentar, menatap Arka, lalu tersenyum kecil.
"MAMA! AYAH! KIRANA SENYUM! DIA SUKA AKU!"
Reyhan dan Alya tertawa. Biarkan Arka percaya itu senyum untuknya.
Malam Hari Refleksi
Setelah anak-anak tidur, Reyhan dan Alya duduk di teras belakang dengan teh hangat. Moment langka.
"Rey, satu bulan ini chaos banget ya."
"Sangat chaos." Reyhan tertawa. "Tapi aku happy."
"Kamu nggak nyesel? Hidup jadi nggak teratur, nggak bisa fokus kerja?"
Reyhan menatap Alya serius. "Alya, aku nggak akan pernah nyesel. Ya, aku lelah. Ya, aku nggak bisa tidur nyenyak. Tapi aku punya keluarga lengkap. Kamu, Arka, Kirana. Itu lebih berharga dari apapun."
Air mata Alya jatuh.
"Dan yang paling aku syukuri, aku ada waktu Kirana lahir. Aku nggak miss momen-momen penting kayak dulu sama Arka. Itu gift paling berharga."
Alya memeluknya erat. "Makasih, Rey. Makasih udah jadi ayah dan suami luar biasa."
"Makasih juga udah kasih aku dua anak amazing."
Di dalam rumah, Arka tidur dengan mimpi robot. Kirana tidur nyenyak, dikelilingi cinta keluarga.
Keluarga Mahardika. Utuh, lengkap, dan sangat, sangat bahagia.
[Bersambung]