NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Yang Terlalu Tenang

Di Sumberarum, bahkan ayam berkokok pada jam yang sama.

Fariz tumbuh dengan suara itu — kokok pertama sebelum subuh, kokok kedua saat langit belum sepenuhnya putih. Ia tidak pernah bertanya mengapa. Di desa ini, hal-hal yang terlalu teratur tidak membuat orang penasaran. Mereka menerimanya — seperti menerima udara, seperti menerima tanah yang selalu subur meski kemarau panjang, seperti menerima bahwa hidup memang begini adanya dan tidak perlu ditanyakan lebih jauh.

Fariz tidak tahu kapan ia mulai belajar bahwa tidak perlu adalah sesuatu yang dipelajari, bukan sesuatu yang lahir.

Kabut merambat rendah di antara sawah setiap pagi, menutup tanah seperti selimut yang tidak pernah kusut. Para petani melangkah ke ladang dengan ritme yang seragam — cangkul di bahu, kepala sedikit tertunduk, langkah yang dijaga tetap seirama. Fariz hafal wajah mereka semua. Hafal senyum mereka juga: senyum yang berhenti sebelum benar-benar terbuka, seperti seseorang yang hampir mengatakan sesuatu lalu memutuskan tidak jadi.

Ia tidak pernah tahu itu aneh. Tidak sampai akhir-akhir ini.

Darma Wijaya berdiri di pusat simpul itu semua.

Setiap kali warga berpapasan dengannya, kepala mereka menunduk sedikit — gerakan kecil, nyaris tak disadari, seperti refleks yang diwariskan tanpa pernah diajarkan. Bukan takut. Bukan pula hormat yang berlebihan. Hanya kebiasaan yang sudah terlalu lama diulang hingga tidak lagi terasa seperti kebiasaan.

Di Sumberarum, kepatuhan tidak diperintah.

Ia tumbuh diam-diam, dari bawah, mengikat tanpa suara.

Fariz tahu ini sekarang. Tapi pengetahuan dan keberanian adalah dua hal berbeda, dan ia selalu lebih banyak punya yang pertama.

Fariz sesekali melihat Aisyah.

Di jalan tanah depan masjid. Di sudut halaman lumbung saat hajatan. Di kerumunan yang selalu ada tapi tidak pernah menutup jarak di antara mereka.

Ia tidak pernah berbicara dengannya. Bukan karena tidak ada kesempatan — tapi karena setiap kali kesempatan itu muncul, ada sesuatu di dalam dirinya yang memilih mundur. Kebiasaan lama. Refleks yang sudah terlalu dalam tertanam: jangan melangkah terlalu jauh. Jangan mengambil lebih dari yang kamu layak terima.

Jadi ia hanya melihat.

Dari jarak yang aman. Dari sudut yang tidak ketahuan.

Cara Aisyah berjalan — tidak terburu-buru, tidak pula lambat, seperti seseorang yang tahu ke mana ia pergi tapi tidak merasa perlu membuktikannya. Cara rambutnya bergerak tertutup kerudung saat angin lewat. Cara matanya kadang berhenti di suatu titik di kejauhan, menatap sesuatu yang tidak ada di sana, lalu kembali seperti tidak terjadi apa-apa.

Fariz pernah ingin tahu apa yang ia lihat di titik kosong itu.

Tapi ia tidak pernah bertanya. Tentu saja tidak.

Suatu siang, di masjid desa, nama Kyai Salman meluncur dari mulut imam di akhir doa.

Hanya sepintas. Hampir terselip.

Tapi udara di dalam ruangan mengeras.

Beberapa jamaah menunduk lebih lama dari biasanya. Ada yang menarik napas, lalu menahannya seperti orang yang tidak mau suaranya terdengar. Setelah salam, tidak satu pun suara pecah — warga bergerak keluar dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, seolah pintu masjid adalah sesuatu yang harus segera mereka lewati.

"Pak," bisik Fariz saat mereka berjalan pulang, "kenapa setiap nama Kyai Salman disebut, orang-orang langsung—"

Sucipto berhenti melangkah.

"Ssst." Suaranya rendah, nyaris tidak keluar. Matanya menyapu sekitar — kiri, kanan — seperti orang yang memastikan tidak ada yang terlalu dekat.

Lalu ia melangkah lagi. Lebih cepat. Meninggalkan Fariz setengah langkah di belakang.

Fariz mengikuti.

Seperti biasa. Seperti selalu.

Di sela jalan pulang, Sucipto melempar senyum tipis pada beberapa jamaah yang berpapasan — senyum yang terlalu rapi untuk disebut santai. Fariz melihat senyum itu dan menyadari sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya: ayahnya juga belajar senyum yang sama. Senyum yang berhenti sebelum benar-benar terbuka.

Sore belum turun ketika suara pengeras memecah udara desa.

"Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian!" Motor melaju pelan di jalan tanah, suara lelaki itu berulang dari ujung ke ujung. "Sore ini Pak Kades mengundang seluruh warga ke lumbung desa. Ada acara khusus. Jangan terlambat. Makanan sudah disiapkan."

Di dapur, Ratna menata piring di meja kayu yang mulai kusam tanpa menoleh.

"Pak Darma mau bikin acara apalagi?" tanyanya.

"Entahlah," jawab Sucipto sambil menggantungkan peci di paku belakang pintu, nada suaranya menutup percakapan sebelum sempat dibuka.

Makan malam berlalu seperti biasa — nasi putih, tahu goreng, tumis bayam. Fariz menyuap pelan, matanya jatuh ke buku agama lusuh di tepi meja, sampulnya sudah pudar, baunya masih menyimpan debu rak tua.

"Pak," katanya hati-hati, "di buku yang aku baca... ulama sufi katanya bisa lihat hal-hal yang orang biasa nggak bisa."

Sendok Sucipto berhenti di udara.

"Kamu masih percaya begituan?" katanya singkat. Lalu, seolah tak ingin jeda itu tumbuh, "Sore nanti temani bapak ke lumbung desa. Itu saja."

Fariz mengangguk.

Itu saja. Dua kata yang sudah ia hafal artinya sejak kecil: percakapan selesai, kamu tidak perlu berpendapat lebih jauh.

Tapi mulutnya terlanjur terbuka.

"Katanya Kyai Salman—"

"Hush."

Tatapan Sucipto berubah. Bukan marah — tapi cukup tajam untuk membuat Fariz menelan sisa kata-katanya bulat-bulat. Ia menunduk ke piringnya. Menyuap. Mengunyah. Diam.

Seperti yang sudah ia pelajari untuk dilakukan.

Jalan tanah menuju lumbung desa dipenuhi arus warga yang berjalan beriringan. Tidak ada tawa. Hanya suara sandal dan langkah yang dijaga tetap seirama, seperti prosesi yang sudah hafal urutannya.

Di halaman lumbung, para tokoh desa sudah duduk berderet rapi. Darma Wijaya berada di depan.

Dan Aisyah di sisinya.

Fariz tidak bermaksud mencarinya di antara kerumunan itu. Tapi matanya sudah menemukan sebelum pikirannya sempat memutuskan — kebiasaan lama yang satu ini tidak pernah bisa ia padamkan.

Aisyah duduk tegak di kursinya, tangan di pangkuan, pandangan ke depan. Dari sini, dari jarak ini, Fariz tidak bisa membaca wajahnya. Ia tidak pernah bisa. Jarak selalu terlalu jauh, selalu terlalu aman, selalu ia yang memilih untuk mempertahankannya.

Sucipto bersalaman dengan Darma — pelukan singkat, hangat tapi terukur.

"Pak Cipto." Darma menepuk pundak Sucipto dengan telapak tangan yang terlalu mantap untuk sekadar salam. "Sudah saya siapkan tempat untuk bapak dan Fariz."

Saat Fariz melangkah melewati Aisyah, perempuan itu melirik ke arahnya.

Sepersekian detik. Cukup lama untuk saling menyadari. Terlalu singkat untuk disebut pertemuan.

Fariz berpaling lebih dulu.

Kenapa selalu kamu yang lebih dulu berpaling? sesuatu bertanya di dalam kepalanya. Tapi ia tidak menjawab. Ia sudah lama terbiasa tidak menjawab pertanyaannya sendiri.

Ketika halaman penuh, Darma Wijaya berdiri. Mikrofon digenggamnya mantap.

"Bapak, ibu sekalian." Suaranya tenang, menyapu barisan wajah di hadapannya. "Terima kasih sudah hadir."

Ia berhenti sejenak — membiarkan sunyi turun, membiarkan perhatian merapat.

"Bertahun-tahun desa ini diberi kesuburan. Sawah tak pernah benar-benar kering. Ternak tumbuh gemuk. Karena itu..." ia menekankan kata berikutnya dengan pelan, "kebiasaan ini harus kita jaga."

Di belakangnya, beberapa orang bergerak bersiap.

"Tapi sebelum itu," lanjutnya, lebih pelan, "mari kita berdoa agar berkah ini tidak terputus."

Semua mata terpejam hampir bersamaan.

Fariz ikut memejamkan mata. Tapi di balik kelopaknya, bukan doa yang muncul — hanya wajah Kyai Salman yang tidak pernah ia lihat langsung, hanya nama yang selalu diucapkan dengan nada yang membuat udara mengeras.

Dari dalam lumbung, seorang lelaki tua keluar membawa wadah tanah liat. Asap tipis mengepul darinya. Ia berjalan perlahan mengitari kerumunan, meniupkan bara dupa yang menyala redup — bau kemenyan menyusup ke udara, menyentuh dada, menenangkan sekaligus menekan seperti tangan yang merangkul terlalu erat.

Tidak ada suara.

Bahkan angin terasa ragu untuk lewat.

Fariz membuka sedikit matanya — dan ia melihat Aisyah.

Perempuan itu tidak terpejam. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah ayahnya yang berdiri dengan kepala sedikit tertunduk dalam doa. Ada sesuatu dalam cara Aisyah berdiri — terlalu tegak, terlalu diam — seperti seseorang yang sudah hafal semua ini tapi tidak lagi tahu bagaimana merasakannya.

Atau, pikir Fariz, seseorang yang tahu sesuatu yang tidak ingin ia ketahui.

Ia menutup matanya kembali.

Meja-meja mulai dikerumuni. Warga berbaris rapi, saling memberi jalan, menyendok hidangan dengan wajah tenang yang nyaris seragam.

Fariz mengambil piring. Ikut antre. Ikut makan.

Tapi di sela cahaya lampu dan bayangan yang jatuh tidak merata, ia merasakan sesuatu — bukan melihat, bukan mendengar. Hanya perasaan seperti mata yang tidak berkedip, dari suatu arah yang tidak bisa ia tunjuk, mengikuti setiap gerakannya.

Ia menoleh.

Di sudut halaman, di luar jangkauan lampu, seseorang berdiri.

Bukan warga yang ia kenal. Terlalu diam untuk sekadar berdiri. Terlalu gelap untuk dilihat dengan jelas. Tapi ia bisa merasakan arah tatapannya — tepat ke sini, tepat ke arah Fariz, tanpa bergerak sedikit pun.

Fariz berkedip.

Sosok itu tidak ada lagi.

Hanya kegelapan di sudut halaman, dan kerumunan yang makan dengan tenang di sekelilingnya.

Fariz meletakkan piring.

Ia tidak lapar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak bisa memaksa dirinya untuk pura-pura lapar.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!