NovelToon NovelToon
In Between

In Between

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Office Romance / Tamat
Popularitas:44.4k
Nilai: 5
Nama Author: PrettyDucki

Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.

Namun hidup punya selera humor yang aneh.

​Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.

Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Wedding Day

Tiga minggu berlalu begitu cepat. Kacau dan terbirit-birit. Bagi Mila, waktu seolah kehilangan porosnya. Hari-harinya habis dalam pusaran fitting baju yang mendadak, tes kesehatan sembunyi-sembunyi, hingga pemilihan katering yang diputuskan hanya dalam satu kali panggilan telepon.

Semua persiapan itu dilakukan dengan kilat, seolah mereka sedang berlomba dengan detak jantung janin di rahim Mila yang tak bisa menunggu lama.

​Namun, hasilnya sungguh kontradiktif.

Hari ini, sebuah ballroom hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan telah disulap menjadi ruang elegan yang didominasi bunga lili putih dan pencahayaan hangat yang memesona. Tak ada jejak kepanikan dari dekorasi yang terlihat begitu sempurna.

Arya benar-benar mewujudkan ucapannya. Meski Mila menganggap pesta untuk 250 orang terlalu berlebihan bagi sebuah "pernikahan darurat", tapi Arya tetap keras kepala.

​​"Cuma 250 orang, kok. Lagian ini demi kenyamanan kamu," dalih Arya saat itu dengan nada yang tak mau dibantah. "Kamu kan lagi hamil, lobi hotel punya sirkulasi udara yang lebih baik. Lagian, kita undang direksi. Nggak mungkin kita biarin mereka keringetan di bawah tenda depan rumah."

Mila akhirnya mengalah. Ia tak lagi memiliki energi untuk berdebat. Lagi pula ia tidak dirugikan, uang yang dipakai juga bukan uangnya.

Kini, Mila berdiri mematung di depan cermin besar ruang transit. Kebaya putih modern dengan detail payet yang rumit membungkus tubuhnya, memberikan kesan elegan yang mahal. Di belakangnya, Mama dan Bimo sedang menyantap sarapan dengan terburu-buru, sementara Nina dan Damian duduk di sofa, sibuk memilih foto untuk diunggah ke Instagram.

Nina sempat syok luar biasa saat tau Mila akan menikah dengan Arya. Baginya, ini adalah validasi bahwa tuduhan Jimmy dan gosip yang beredar di kantor waktu itu benar. Mila terpaksa mengangguk, membiarkan Nina percaya pada narasi "kebablasan karena cinta".

Namun Damian berbeda. Sahabatnya yang satu itu terlalu intuitif untuk bisa dibohongi. Damian bisa merangkai puzzle dengan cepat. Dari malam di club, pernikahan yang terburu-buru, hingga keraguan Mila pada Arya yang mendadak hilang. Saat Mila akhirnya mengaku secara privat padanya, Damian hanya memeluknya erat tanpa menghakimi.

"Lo cantik banget hari ini," puji Nina, memecah sunyi. "Ya kan, Tante? Auranya keluar banget."

"Iya, anak Mama paling cantik," sahut Mama dengan mata yang berkaca-kaca, mencoba memberikan validasi yang sejak tadi Mila cari.

Mila hanya tersenyum tipis. Tangannya tanpa sadar mengelus perutnya yang dibalut stagen kebaya. Meski ia yakin perutnya masih rata, tapi ketakutan itu tetap ada. Takut kalau-kalau ada tamu yang memiliki mata tajam dan mengenali ciri-ciri wanita hamil pada dirinya.

"Kak Tyas diundang nggak, Mbak?" celetuk Bimo tiba-tiba.

Seketika atmosfer di ruangan itu membeku. Sendok Mama berdenting keras di piring.

"Bimo! Mulutnya!" Mama langsung memukul bahu anak bujangnya. "Jangan ngomong sembarangan. Kalau sampai kedengeran Arya, kan nggak enak. Itu masa lalu mbak-mu!"

"Kan cuma nanya, Ma. Mantan kan bisa jadi teman," kilah Bimo sambil meringis mengusap bahunya.

Mila hanya menarik napas panjang, berusaha mengabaikan denyut tidak nyaman di dadanya. Baginya, Tyas adalah rencana masa depannya yang gagal, sementara Arya adalah kecelakaan yang menjadi kenyataannya hari ini.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, prosesi akad dimulai. Layar monitor di ruang transit menyala, menampilkan live feed dari meja akad di ballroom. Mila menatap layar tanpa berkedip. Menyaksikan pria itu duduk tegap di hadapan penghulu dan Bimo yang bertindak sebagai wali pengganti. Di sisi lain Pak Gustav, komisaris Utama dari Mandhala, hadir sebagai saksi nikah. 

Dengan suara bariton yang stabil dan tanpa keraguan, Arya melafalkan ijab kabul dalam satu napas.

"Saya teima nikahnya Camila Hapsari binti Tody Wiranata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Bagaimana saksi?"

"SAH!"

Suara koor itu meledakkan emosi di dada Mila. Air matanya berjatuhan, merusak sebagian riasan di pipinya. Ia tidak tau apakah itu tangis lega karena statusnya kini terlindungi, atau tangis ngeri karena hidup barunya yang penuh rahasia resmi dimulai detik ini juga.

​"Duh, Mbak Mila! Jangan nangis dulu dong, eyeliner-nya luntur nih." MUA yang duduk di sebelahnya langsung merapat dengan kuas dan spons, mencoba membenahi riasan dengan cekatan.

Beberapa saat kemudian, salah seorang staf WO datang untuk menjemput Mila turun ke ballroom.

Begitu pintu besar ballroom terbuka, cahaya lampu kristal dan aroma melati langsung menyergap indranya. Mila melihat Arya di ujung jalan, berdiri mengenakan tuxedo putih yang membuatnya tampak sangat tampan dan berwibawa.

Ada desir aneh di dada Mila. Desir yang dulu akrab setiap kali ia menatap pria itu.

Mila berjalan pelan di atas karpet merah. Lututnya lemas seperti jeli. Pandangannya sedikit mengabur karena kombinasi antara gugup dan mual yang tiba-tiba menyerang. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah lagi, keseimbangannya goyah. Dunia seolah berputar.

Grep.

​Sepasang tangan kokoh menangkap lengannya dengan sigap sebelum Mila benar-benar jatuh. Arya menahan tubuhnya, matanya menatap Mila dengan khawatir.

"Kamu nggak apa-apa? Relax, Mila. Kamu masih bisa berdiri?"

Mila hanya mengangguk kaku. Dan debar jantungnya yang bertalu-talu sama sekali tidak membantu. Ia hanya bisa menarik napas dalam, mencoba menguasai diri. Kemudian mereka berbalik menghadap kamera dan tamu undangan yang hadir.

Saat sesi foto dimulai, mereka bertukar cincin. Lalu Mila meraih tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya, menciumnya takzim, sebuah tanda penyerahan diri pada takdir yang baru. Dan sebagai balasannya, Arya menarik dagu Mila pelan, lalu mendaratkan kecupan lembut dan hangat di keningnya.

Di bawah sorotan lampu dan jepretan kamera, mereka tampak seperti pasangan yang sempurna.  Hanya mereka berdua yang tau, bahwa ini adalah awal dari sebuah sandiwara panjang demi sebuah nyawa kecil di rahim Mila.

.

.

Acara resepsi masih berlangsung. Mila duduk di round table utama, mencoba mengatur napasnya yang masih sering terasa pendek akibat sesak kebaya dan mual yang timbul-tenggelam.

Namun, ketenangannya pecah saat matanya menangkap sosok wanita yang baru saja masuk ke area VIP. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang alami, mengenakan gaun sutra yang tampak mahal. Tanpa ragu, ia menghampiri Arya dan langsung memeluknya, menempelkan kedua pipinya dengan akrab di wajah Arya.

Itu dia. Si cantik bertubuh mungil yang Mila dan Damian lihat di kafe waktu itu.

Mila terdiam, tangannya yang memegang sendok membeku di udara. Dari cara mereka tertawa dan gestur tubuh yang santai, Mila yakin hubungan mereka bukan sekadar teman biasa.

Tanpa diundang, insting kompetitif Mila bangkit. Ia mulai melakukan scanning cepat, membandingkan dirinya dengan wanita itu seolah mereka sedang berada di atas timbangan.

Wanita itu memang sangat cantik. Wajah, hidung, dan bibirnya mungil. Kulitnya terang dan halus seperti porselen. Namun Mila yakin dirinya lebih tinggi sekitar 7 atau 8 cm. Mila juga tau payudaranya lebih besar, dan bokongnya lebih berisi dibandingkan wanita itu.

Tapi masalahnya, Mila tidak tau jenis perempuan seperti apa yang lebih disukai Arya. Cantik manis seperti kelinci? Atau berkharisma dan mencolok seperti merak?

Kemudian ia segera menggeleng pelan, menyadari betapa liar dan konyol pikirannya.

Kenapa juga ia harus membandingkan diri dengan perempuan ini?

Lalu satu pertanyaan yang lebih tajam segera menyusul.

Apakah ini cemburu? Bolehkah ia merasakannya?

​Mereka bahkan belum sempat, atau mungkin sengaja menghindari pembicaraan tentang bagaimana bentuk pernikahan mereka nantinya.

Apakah mereka akan hidup seperti pasutri pada umumnya? Tidur di ranjang yang sama, berbagi cerita sebelum terlelap, dan memupuk kembali puing-puing rasa yang dulu pernah ada? Atau, apakah pernikahan ini hanya kontrak formal yang fungsi utamanya cuma untuk menyematkan nama Arya di kolom ayah pada akta kelahiran bayi mereka nanti?

Jika ini hanya soal status anak, maka kehadiran Danita seharusnya tidak menjadi masalah untuknya. Tapi kenyataannya, melihat kedekatan mereka membuat hati Mila merasa tercubit.

​"Dave jadi dateng?" Suara si cantik memecah lamunan Mila.

​"Tuh, ada di sana." Arya menunjuk ke sebuah meja yang diisi beberapa tamu dari pihak koleganya.

Wanita itu kemudian beralih menatap Mila dengan senyum ramah yang sangat tulus hingga membuat Mila merasa dirinya adalah tokoh antagonis. "Oh, hai, Mila!"

​"Mila, ini Danita. Teman kuliah," Arya memperkenalkan dengan nada yang tampak sengaja dibuat datar.

​"Selamat ya, Mila," ujar Danita riang. Ia kemudian menoleh lagi ke Arya dengan ekspresi polos. "Berarti kosan di Setiabudi nggak jadi dipakai, dong? Sayang banget, padahal tempatnya enak dan strategis loh."

Mila langsung menoleh, melayangkan lirikan maut yang bisa menyayat kulit Arya. Arya langsung tersentak, wajahnya berubah kaku. Ia dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

"Ah, Dan... Dave kayaknya udah nunggu kamu di sana." ujar Arya, suaranya terdengar mendesak.

Danita yang tampak tidak menyadari ketegangan itu hanya mengangguk, melambaikan tangan, lalu berlalu pergi.

​Keheningan yang mencekam jatuh di meja mereka. Mila meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras.

​"Kosan di Setiabudi?" tanya Mila, suaranya rendah tapi penuh tuntutan. "Apa maksud teman kamu tadi?"

​Arya tampak salah tingkah. Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu tangan kanannya naik menggaruk tengkuknya, gestur yang jarang sekali ia lakukan kecuali sedang terpojok.

​"Itu..." Arya berdehem. "Sebenarnya aku yang nyewa kosan itu."

"Maksudnya?"

"Aku minta Damian bilang ke kamu kalau kosan itu punya temannya yang batal pakai. Aku cuma mau pastiin kamu tinggal di tempat yang lebih aman dan layak."

​Mila merasa darahnya mendidih. Rasa kesal seketika memenuhi dadanya. Ia merasa bodoh karena selama ini percaya pada cerita Damian, merasa dikasihani oleh Arya yang bergerak dari belakang seperti dalang yang mengatur hidupnya.

Mila mengepalkan tangan di bawah meja, kukunya menekan telapak tangan agar ia tidak meledak sekarang juga.

​"Jadi selama ini kamu bohongin aku? Kamu bodoh-bodohin aku kayak aku ini anak kecil yang nggak bisa urus hidupku sendiri?" bisik Mila pedas.

​"Mila, bukan gitu, aku cuma mau bantu--"

​"Terserah." Mila membuang muka, menatap ke arah tamu dengan senyum palsu yang ia paksakan kembali muncul. "Nggak usah ngomong sama aku sampai acara ini selesai."

Arya hanya bisa terdiam, menatap piringnya dengan perasaan campur aduk. Sadar bahwa malam pertamanya sebagai suami mungkin tidak akan berjalan sehangat kecupan kening di sesi foto tadi.

Beginikah kehidupan rumah tangga?

...***...

1
My_Lucia
kamu yg doyan juga mil🤭
My_Lucia
Astaga Nina 🤣🤣
sempet" nya kepikiran fulus
My_Lucia
🤣🤣🤣 kacau Mila lakinya malah di siksa
My_Lucia
kann... kannn.. pak Rusdi tertekan
kasian bngt dia gegara kelakuan absurd Mila 🤣
My_Lucia
yang panik pak Rusdi ga sih.. secara dia yang bawa mobil... pasti tangannya udah geter itu 🤭
My_Lucia
anggap aja ngidam terakhir sebelum launching 🤣
My_Lucia
syok bngt ini pasti apalagi kalau denger lagi ngemall 🤣
My_Lucia
curiga sama judulnya .. mereka happy ending kan 🤭
T.N
Lebih lemes ya dari Damian si Jimmy ini🤭
T.N
menikah mestipun kesannya terpaksa setidaknya Mila beban yg kamu tanggung tdk sendiri,
PrettyDuck: mila tuh sebenernya emang pingin dinikahin, tapi dia takut kecewa lagi sama arya 🥴
makasih ya kakk, udah ikut meramaikan cerita ini dan berkenan komen, semoga betah sampai ending ❤️❤️
total 1 replies
T.N
jgn bilang kalo mama Arya yg ngerebut papanya Mila
T.N
boro-boro kepikiran jg ngga Mila🤭
RahmaYesi
namanya juga lagi emosi, ya apa aja bisa keluar dari mulut. Kamu gak jahat kok Mila
RahmaYesi
oh syukurlah bukan hamil. aduh pikiranku udah kemana mana nih Thor 😁 maaf ya Mila 😂
RahmaYesi
Mila bolak balik ke toilet, muntah kan ya? apa Mila hamil??
PrettyDuck: bukan kak. efek minum postinor 🙈
total 1 replies
T.N
mulai goyah rupanya...
My_Lucia
ngakakak 🤣🤣🤣
My_Lucia
makan tuh tiket black pink 🤣🤣🤣
repot kan nin 😭
My_Lucia
nah lohhh ... hayoo
My_Lucia
nah kan... gue juga ngeriii Nin... pasti itu perut buncit ikut naik turun kan 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!