Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb31
Ryn menarik kedua koper besar miliknya setelah mengurus imigrasi. Sedangkan Jian terlelap dalam gendongan pengasuh bernama Yifan. Bibi Yifan masih kerabat Vennie, maka dari itu Ryn sangat berterima kasih pada sang ibu sambung karena telah dipertemukan dengan pengasuh yang sangat menyayangi Jian.
"Bi apa kau lelah? Bagaimana kalau kita makan lebih dulu?" Zhao Ryn hampir dua puluh lima tahun namun jauh lebih dewasa dibanding sebelum ia memiliki Jian.
Bass dan Zhu Ma menjadi saksi bagaimana Ryn bertumbuh menjadi pribadi yang tenang dan bertambah ramah pada siapapun.
"Saya aman nona. Lebih baik segera ke tempat tinggal, kasihan tuan muda." Keduanya berdiri mencari keberadaan penjemput yang telah dijanjikan.
"Jian bibi, panggil saja Jian." Koreksi Ryn, sedangkan Yifan tahu siapa ayah Jian dan memang sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Baik non. Nah itu orangnya muncul." Ryn mengikuti arah pandang Yifan.
Kaget sekaligus tak menyangka bahwa pihak rumah sakit itu adalah Alea. Dokter sekaligus teman lama Ryn. Ryn mematung tanpa tahu harus bereaksi seperti apa melihat Alea semakin mendekat ke arahnya.
"Hai Ryn,,, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Belum sempat Ryn menyapa Alea berhamburan memeluknya hingga sedikit terhuyung.
Alea, dia bahkan tidak membencinya sama sekali setelah Ryn pergi begitu saja meninggalkan Sian yang sedang terluka parah. Apakah Sian akan sama seperti Alea? Atau justru sangat membenci kemunculannya. Perlahan tangan Ryn membalas pelukan Alea.
"Lea, maafkan aku." Hanya bisika parau terdengar oleh Alea disisa pertahanan Ryn, mencoba tidak menangis terisak.
"Semua sudah berlalu Ryn. Selamat datang kembali." Sambutnya hangat. Mendengar kabar kedatangan Ryn dari sang kekasih membuat Alea bersemangat mengambil alih tugas menjemput Ryn di bandara internasional Guangzhou.
Keduanya saling melepaskan pelukan. Pandangan Alea langsung tertuju pada Yifan bersama anak kecil dalam gendongannya.
"Mereka siapa Ryn?" Tanya Alea penasaran.
"Bibi Yifan masih kerabat nyonya Vennie, dan anak,,,"
"Oh aku lupa, kau pasti lelah Ryn. Aku akan mengantar kalian ke rumah dinas, disana kita bisa mengobrol banyak nanti ayo!" Belum selesai Ryn menjelaskan Alea terburu-buru mengajaknya pergi. Dokter itu bahkan mengambil alih satu koper untuk ia bawa agar Ryn tidak kesusahan.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan mereka lalui, Ryn akhirnya tiba di sebuah rumah di kompleks perumahan elit dengan akses keamanan tinggi. Padahal ia hanya seorang staf ahli gizi di rumah sakit tempat bekerja barunya.
"Aku tahu kalian pasti lapar jadi sengaja meminta juru masak menyiapkan makan malam." Alea diikuti Ryn juga Yifan memasuki ruang tamu.
"Aku tidak menerima laporan kau membawa keluarga, jadi kamarnya masih seadanya selain milikmu. Aku akan mengatur orang menyiapkan..."
"Lea..." Panggil Ryn menghentikan ucapan Alea, ia bahkan mencekal lembut pergelangan tangan sang sahabat.
"Ya Ryn? Kau butuh sesuatu?" Tanyanya memastikan.
"Ini sangat berlebihan, dan kau menjemputku. Apa rumah sakit itu milik Sian?" Bukan hal sulit untuk Ryn menebak hasil dugaannya. Alea hanya bisa menghela nafas bersiap menjelaskan.
"Semua tidak ada unsur kesengajaan Ryn. Sian membeli rumah sakit itu setelah dia berhasil dari masa kritis. Proses balik nama berjalan lambat dan alot. Kami semua tidak mengira yang di kirim kampus di Munich ternyata kau." Mendengar Alea berkata jujur Ryn percaya. Karena Alea memiliki sifat yang sangat Ryn sukai meski dulu dia pernah menutupi kenyataan Sian telah memaksanya hamil.
"Terima kasih Lea, ini sudah malam kau juga harus beristirahat. Kita bisa bertemu lagi lain waktu." Tanpa memberi tanggapan apapun Ryn memilih menyudahi pertemuan mereka. Alea hanya mengangguk tersenyum kemudian memeluk Ryn sekali lagi sebelum pamit.
"Terima kasih kau sudah kembali Ryn. Kau tahu aku menyayangimu." Ungkap Alea.
"Nona, apa nona akan menyembunyikan kebenarannya?" Yifan usai meletakkan Jian di tempat tidur milik Ryn menanyakan keputusan Ryn.
"Aku takut Bibi, Lee Tak sangat kejam. Bagaimana jika dia menyakiti Jian?" Tubuh Ryn gemetar mengingat bagaimana Sian ditusuk oleh orang suruhan Lee Tak. Jangan, Jian adalah belahan jiwanya. Jika Lee Tak mau Ryn sampai kapanpun tidak akan pernah bersama Sian.
"Tenangkan dirimu nona. Semua akan baik-baik saja. Sementara Jian adalah putraku, biar mereka tahu seperti itu. Mengerti?" Selain seagai pengasuh Jian rupanya Yifan merupakan pengasuh Ryn.
Ryn ketika baru pindah ke Jerman memerlukan terapi mental menghadapi dunia barunya sebagai calon ibu juga seorang mahasiswa. Vennie secara khusus mendatangkan Yifan, therapist bagian psikiatri di rumah sakit yang sama dengan Zhu Ma.
Baik Vennie, Zhu Ma dan Vick sekalipun membayar mahal tugas Yifan hanya agar Ryn bisa sembuh dari semua rasa trauma yang ia alami. Perlahan tapi pasti Ryn benar-benar merasa hidupnya jauh lebih baik.
"Ya Bibi kau benar. Ternyata aku belum siap menghadapi mereka." Keluhnya menyesali kepulangannya. Ryn tidak tahu tempatnya bekerja merupakan milik Sian. Kalau saja dari awal mengatahui semuanya jelas Ryn menolak ajakan tes di Munich Hospital.
"Kau pasti bisa Ryn. Selagi Jian tidak berinteraksi langsung dengan mereka aku rasa Jian akan aman. Vick juga selalu mengawasi kita." Yifan benar, apalagi Bass sebentar lagi menyusul.
"Terima kasih untuk hari ini Bibi. Sebaiknya kita beristirahat." Ryn pamit ke kamar menyusul Jian. Sedangkan Yifan harus menyimpan makanan ke dalam lemari pendingin karena mereka terlalu lelah untuk sekedar makan malam.
***
Suasana sarapan pagi di panti Jompo begitu hangat dan ramai. Sian terpaksa menginap karena paksaan Sansan. Sian adalah donatur tetap di tempat neneknya tinggal.
"Kau masih saja memikirkan wanita itu?" Setiap melihat Sian bersikap dingin pada Lusi Sansan selalu tidak suka, tak segan menyalahkan Ryn yang malah pergi begitu saja saat Sian terluka.
Sansan sendiri penasaran seperti apa Ryn sehingga membuat Sian berubah jadi semakin pendiam. Karena ia belum sempat bertemu bahkan mengobrol langsung dengannya. Sansan sempat ke rumah sakit saat Ryn collapse namun tidak bisa menjenguknya sama sekali.
"Nenek, sudah kukatakan jangan melakukan perjodohan. Biarkan Lusi menjalani kehidupannya." Sian bukan membenci Lusi dia hanya memberi penegasan mereka tidak akan pernah berhasil. Karena hati Sian masih dan selalu untuk Ryn.
"Ck, kalau belum dicoba mana kau tahu." Sansan berdecak kesal melihat sikap Sian. Lalu ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
"Pantas saja." Gumamnya pelan. Ia mendapat bocoran informasi jika wanita yang Sian cintai telah kembali ke Jasata.
"Aku mengerti. Kau boleh pergi bekerja." Tiba-tiba saja Sansan melepaskan Sian dengan mudah. Tak ada drama menahan atau mengatur waktu bersama Lusi seperti biasa.
"Sian,,, " Sapa Lusi sebelum pria matang itu meninggalkan beranda panti.
"Kau tidak perlu memikirkan perkataan Nenek. Aku hanya merasa nenek mencemaskan cucunya. Maaf jika kau terbebani oleh kehadiranku." Sudah lama Lusi ingin menyampaikan perasaannya hanya saja nyalinya selalu menciut melihat sikap dingin Sian. Meskipun dia bersikap sopan padanya selama ini.
"Jangan khawatir. Kau sudah bekerja keras menjaga nenek, Jun sudah mengirim bonus untukmu." Ungkap Sian kemudian pergi meninggalkan Lusi yang termenung mendengarnya.
"Bukan uang yang aku inginkan Sian, tapi kau." Bisiknya lirih tanpa bisa Sian dengar.
***
Ryn memasuki lobby rumah sakit usai turun dari taksi yang ia tumpangi. Jarak dari perumahan ke rumah sakit memakan waktu sekitar lima belas menit perjalanan jika tidak macet. Jian tinggal bersama Yifan karena belum waktunya dia preschool. Jadi Ryn cukup tenang memikirkan keamanannya.
"Selamat pagi Ryn. Kau siap bertugas?" Alea seperti biasa menyambut hangat kedatangan Ryn.
"Kau juga pindah kesini dokter?" Melihat Alea memakai seragam Ryn terkejut dia akan selalu bertemu dengan Alea. Apalagi Sian, ayah anaknya itu juga mungkin
bisa sering mengunjungi rumah sakit.
"Aku pindah semenjak Sian mengambil alih. Bukan karena paksaan, aku juga ingin suasana baru." Alea menuntun Ryn menuju tempatnya bertugas.
Dapur rumah sakit, Ryn selalu merasa tenang saat dirinya sibuk di dapur. Seakan dunianya aman dari orang-orang yang selalu berbuat jahat padanya.
"Selamat bekerja Ryn. Semoga kau betah." Ucap Alea lalu keluar dari sana.
Ryn melakukan perkenalan dengan bagian gizi, dirinya akan menjadi staf ahli baru memimpin mereka.
"Wah, meskipun bahan sederhana dengan gizi cukup masakan Ibu Ryn sangat enak. Pantas saja jauh-jauh datang dari Jerman." Puji salah satu bawahan Ryn. Ryn hanya tersenyum simpul mendengarnya.
"Aku harap kita bisa melakukan yang terbaik kedepannya." Ryn meminta mereka bersiap mengirim jatah makan para pasien sesuai kebutuhan.
Lelah memasak Ryn kembali ke ruang kerja. Membuat laporan dan pemesanan bahan baku harian.
Tok tok...
"Masuk." Mendengar pintu diketuk seseorang Ryn lantas mempersilahkan masuk. Ia pikir bawahannya atau mungkin saja itu Alea.
"Apa aku mengganggu waktumu ibu Ryn?" Suara itu,,,
Sian, secepat itu dia menemuinya? Ryn gugup setengah mati. Ia bingung harus bersikap seperti apa.