NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Gedung Percy Group masih menyala terang meskipun waktu telah lewat jauh dari jam kerja.

Lantai paling atas—ruang kerja CEO—menjadi satu-satunya titik yang tetap hidup di tengah gedung yang mulai lengang.

Dinding kaca besar memperlihatkan gemerlap kota di bawah sana, namun pria yang berdiri di baliknya sama sekali tidak tertarik pada pemandangan itu.

Nial berdiri di depan meja kerjanya.

Kemeja putihnya sudah sedikit kusut, dua kancing teratas terbuka, lengan digulung hingga siku.

Wajahnya tampak lelah—bukan lelah biasa, melainkan jenis kelelahan yang datang dari pikiran yang tidak pernah berhenti bekerja.

Namun meski begitu, ia tidak berniat pulang.

Tumpukan dokumen terbuka di hadapannya. Angka-angka, kontrak, laporan keuangan—semuanya ia baca dengan fokus yang hampir berlebihan, seolah sedang mencoba menenggelamkan sesuatu.

Atau … menghindarinya.

Pintu ruangan terbuka tanpa suara.

Rayden masuk dengan langkah tenang, seperti biasa. Tatapannya langsung menangkap kondisi ruangan—dan tentu saja, kondisi pria di balik meja itu.

Berantakan … dengan caranya sendiri.

Ia menghela napas. Prihatin melihat kondisi Tuannya. Kemarin pria itu mabuk - mabukan. Hari ini dia bekerja hingga larut malam.

“Sudah lewat tengah malam, Tuan,” ucap Rayden, suaranya datar namun jelas. “Anda belum berhenti sejak sore.”

Tidak ada jawaban.

Nial bahkan tidak mengangkat kepalanya.

Pena di tangannya tetap bergerak, menandai beberapa bagian dokumen dengan garis tegas.

“Ada rapat penting besok pagi,” lanjut Rayden. “Jika Anda terus seperti ini, performa Anda akan terganggu.”

Masih tidak ada respon. Seolah kata - kata itu hanya angin lewat.

Rayden menghela napas pelan. Ia melangkah lebih dekat, berdiri di sisi meja. “Tuan, Anda perlu istirahat.”

“Keluar kalau tidak ada hal penting.” Jawaban itu datang cepat. Dingin. Tanpa menoleh.

Rayden sedikit memiringkan kepala, menatap pria di depannya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau begitu, saya akan langsung ke inti.”

Ia berhenti sejenak. Menimbang. Lalu—

“Saya mendapat kabar tentang Nona Queen.”

Gerakan tangan Nial terhenti. Seketika.

Pena yang sebelumnya bergerak stabil kini diam di atas kertas, meninggalkan garis tinta yang terputus.

Sunyi.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Nial tidak langsung mengangkat kepala. Namun rahangnya mengeras. Dan itu cukup bagi Rayden untuk melanjutkan.

“Ada keributan di kediaman Arresta saat Nona Queen pulang,” ucapnya tenang. “Cukup besar untuk menarik perhatian beberapa pihak internal. Informasi ini saya dapat dari orang kita yang—”

“Apa aku bertanya?” Suara Nial memotong. Pelan. Dingin.

Perlahan, Nial mengangkat kepalanya. Tatapannya lurus ke arah Rayden. Kosong … tapi berbahaya.

“Apa aku terlihat seperti seseorang yang ingin tahu tentang dia?” lanjutnya datar.

Rayden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap balik, tanpa gentar.

Beberapa detik hening menggantung di antara mereka. Lalu, tanpa mengubah ekspresinya, Rayden berkata, “Tidak, Tuan.”

Ia berhenti sejenak, sebelum menambahkan dengan nada yang sama tenangnya—

“Tapi tangan Anda berhenti saat saya menyebut namanya.”

Pena di tangan Nial masih diam. Tatapannya tidak berpaling. Namun ada sesuatu yang berubah—

tipis, hampir tidak terlihat.

Rayden melanjutkan, seolah tidak terganggu oleh atmosfer yang mulai menekan.

“Keributan itu melibatkan Nona Queen dan Nyonya Helena,” ujarnya. “Beberapa sumber menyebutkan bahwa ada konflik pribadi yang cukup serius … hingga menyangkut asal - usul Nona Queen.”

Tidak ada respon. Namun kali ini, Nial tidak memotong.

Rayden menyipitkan mata sedikit, mengamati.

“Setelah itu, Nona Queen terlihat kembali ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Kondisinya—”

“Cukup.”

Kali ini suara Nial lebih rendah. Namun jauh lebih tegas. Ia meletakkan pena itu perlahan di atas meja.

Tangannya kemudian bersandar di permukaan meja, jemarinya mengetuk pelan—ritme yang tidak teratur.

“Tugasmu bukan melaporkan kehidupan pribadi seseorang,” ucapnya dingin. “Fokus pada perusahaan.”

Rayden mengangguk kecil. “Dimengerti.”

Nial menatapnya tajam. “Ada lagi?”

"Tidak, Tuan."

"Kalau begitu pergilah."

Rayden menunduk sedikit. “Baik.” Ia berbalik, berjalan menuju pintu.

Klik.

Pintu tertutup dengan bunyi pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak Rayden keluar, ruangan itu benar - benar sunyi.

Nial tidak bergerak.

Tatapannya kosong, namun rahangnya mengeras. Pikirannya berisik—terlalu berisik untuk ruangan yang setenang ini.

Ia mencoba kembali ke dokumen di mejanya, namun gagal. Huruf-huruf itu seperti kehilangan makna. Yang tersisa hanya satu hal—

Queen.

Napasnya berubah berat. Tangannya mengepal pelan, lalu tiba-tiba—

PRANG!

Sebuah paperweight kaca melayang dari tangannya, menghantam dinding dan pecah berkeping-keping di lantai.

"Brengsek..."

Desisan itu keluar pelan, tapi sarat emosi yang hampir meledak.

“Siapa kau…” gumamnya pelan. Nada suaranya rendah, serak, tapi penuh tekanan yang menyesakkan. “Siapa kau sampai berani membuatku semenderita ini?”

•••

Pagi di kediaman Arresta datang dengan cara yang tenang.

Sinar matahari menembus tirai tinggi aula utama, memantul di lantai marmer yang mengilap. Segalanya tampak seperti biasa—rapi, teratur, sempurna.

Di ruang makan, meja panjang telah kembali dipenuhi hidangan sarapan. Roti hangat, telur, buah segar, kopi hitam—semuanya tersaji tanpa cela.

Namun sekali lagi—ada kursi kosong.

Kali ini tidak hanya satu, melainkan dua.

Kursi Queen dan juga Axel.

Louis Arresta duduk di tempatnya, mengenakan setelan rapi seperti biasa. Namun wajahnya tidak menunjukkan ketenangan seorang kepala keluarga.

Matanya jatuh pada kursi itu.

Lama.

Rahangnya mengeras.

“Sudah cukup.”

Suara itu rendah, tapi tegas.

Seorang pelayan yang berdiri tak jauh langsung menunduk. “Anda butuh sesuatu, Tuan?”

“Panggil Queen untuk sarapan,” perintah Louis tanpa mengalihkan pandangannya. “Aku sudah cukup membiarkan dia mengurung diri di kamar selama beberapa hari.”

“Baik, Tuan.”

Pelayan itu segera bergerak. Langkahnya cepat, namun tetap teratur, menaiki tangga menuju lantai dua. Lorong panjang terasa sunyi saat ia berhenti di depan pintu kamar Queen.

Tok… tok…

“Permisi, Nona. Tuan Louis meminta Anda turun untuk sarapan.”

Tidak ada jawaban. Pelayan itu mengernyit sedikit.

Ia mencoba lagi.

Tok… tok…

“Nona Queen?”

Tetap hening.

Ragu sejenak, pelayan itu akhirnya membuka pintu perlahan.

Klik.

Pintu terbuka. Dan—Kosong.

Tempat tidur terlihat rapi. Tidak ada tanda seseorang tidur di sana.

Pelayan itu membeku beberapa detik, sebelum buru-buru menutup pintu kembali dan berbalik.

Langkahnya kini lebih cepat.

Lebih tergesa.

Ia kembali ke ruang makan dengan napas sedikit tertahan.

“Tuan…!”

Louis menoleh tajam. “Apa?”

Pelayan itu menunduk dalam. “Nona Queen … tidak ada di kamarnya.”

“Apa maksudmu tidak ada?” tanya Louis.

“Saya sudah memeriksa, Tuan. Kamar Nona Queen kosong.”

Kursi Louis bergeser keras saat ia berdiri. “Cari dia,” perintahnya tajam. “Periksa taman. Kolam. Semua sudut rumah ini. Sekarang.”

“Baik, Tuan!”

Beberapa pelayan langsung bergerak cepat, berpencar ke seluruh penjuru kediaman.

Langkah kaki terdengar berlarian.

Pintu terbuka dan tertutup.

Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi kacau.

Namun—Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit.

Satu per satu pelayan kembali. Dengan jawaban yang sama.

“Tidak ditemukan, Tuan.”

“Tidak ada di taman, Tuan.”

“Area belakang juga kosong.”

Setiap laporan membuat ekspresi Louis semakin gelap. Hingga akhirnya Ia berbalik tajam. Matanya langsung tertuju pada satu orang.

Helena.

Wanita itu duduk, wajahnya tetap angkuh … namun kini ada sedikit kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

“Ini akibat ulahmu.” Suara Louis rendah. Namun penuh amarah yang nyata.

Helena mengerutkan kening. “Jangan mulai lagi, Louis.”

“Jangan?” Louis tertawa pendek, tanpa humor. “Anakku hilang dari rumah ini, dan kau bilang jangan?”

“Dia bukan anakku,” balas Helena dingin, meski nadanya sedikit goyah.

“Dia anakku!” bentak Louis, suaranya menggema di seluruh ruangan. “Dan dia tinggal di rumah ini! Itu berarti keselamatannya tanggung jawab kita!”

Helena mengangkat dagunya. “Sudahlah. Mungkin dia hanya pergi mencari perhatian, seperti biasa.”

Kalimat itu merupakan kesalahan besar.

Louis melangkah maju satu langkah, tatapannya berubah tajam. “Jika terjadi sesuatu padanya … aku tidak akan pernah memaafkanmu, Helena.”

Untuk pertama kalinya, Helena benar-benar terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban—

tapi karena tahu … kali ini Louis tidak main-main.

Namun ia tetap tidak mau kalah.

“Kalau dia cukup lemah untuk kabur hanya karena beberapa kata—”

“Beberapa kata?” potong Louis tajam. “Kau menghancurkan hidupnya dalam satu sore, Helena!”

“Dia seharusnya tahu sejak awal!” balas Helena. “Aku hanya mempercepat hal yang tidak bisa dihindari!”

“Dengan cara itu?!”

“Dengan cara apa pun!” suara Helena meninggi. “Aku sudah muak hidup dalam kebohongan!”

“Cukup.” Louis mengangkat tangannya. Ia berpaling dari Helena, wajahnya masih tegang.

“Panggil Axel,” perintahnya pada pelayan. “Sekarang.”

“Baik, Tuan.”

Salah satu pelayan segera pergi. Namun tidak lama—ia kembali. Dengan wajah ragu.

“Tuan … Maaf. Tuan Axel juga tidak ada di kamarnya.”

Louis langsung menoleh. “Apa?”

Pelayan itu menelan ludah, lalu mengulurkan sesuatu. “Ini … ditemukan di meja kamar Tuan Axel.”

Sepucuk surat. Kecil. Sederhana. Namun cukup untuk membuat firasat buruk merayap naik.

Louis menyambarnya hampir kasar. Tangannya membuka lipatan kertas itu dengan cepat. Matanya membaca isi di dalamnya—Dan membeku.

Tulisan tangan itu tegas. Singkat. Tidak bertele-tele.

Khas Axel.

"Tidak perlu mencari Queen. Mulai sekarang, dia akan tinggal denganku."

Tatapan Louis terpaku pada kertas itu. Rahangnya mengeras. Tangannya perlahan mengepal … hingga kertas itu ikut terlipat di dalam genggamannya.

Langkah heels terdengar pelan di lantai marmer.

Helena mendekat. Tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan sedikit pun.

“Apa isinya?” tanyanya dingin.

Louis tidak menjawab. Itu cukup sebagai jawaban.

Helena tidak menunggu izin. Dengan satu gerakan cepat, ia merebut surat itu dari tangan Louis. Kertas itu terbuka kembali di tangannya.

Matanya menyapu tulisan singkat itu—sekali. Dua kali. Lalu— Ia tertawa.

“Luar biasa…” gumamnya, masih dengan senyum sinis yang mulai terbentuk. “Benar-benar luar biasa.”

Ia mengangkat pandangannya, menatap lurus ke depan seolah sedang mencerna ironi yang terlalu sempurna.

“Anak ini…” lanjutnya pelan, “…ibunya mati-matian membenci anak hasil perselingkuhan Ayahnya—”

Ia berhenti sejenak. Lalu tersenyum lebih lebar. “—tapi dia justru mati-matian ingin melindunginya.”

Helena kemudian menoleh. Tatapannya mengunci Louis.

“Jadi? Kau lega sekarang?”

Louis tidak menjawab.

Namun ekspresinya sudah cukup. Dan Helena melihat itu. Tentu saja ia melihatnya. Senyumnya berubah—lebih tajam, lebih sinis.

“Kau senang karena Axel memilih untuk melindungi anak hasil selingkuhanmu?”

Louis menatap Helena. Lama. Dalam. Dan untuk pertama kalinya—tidak ada usaha untuk menahan apa pun di balik tatapannya.

“Setidaknya, ada seseorang di rumah ini yang masih punya hati.”

Seketika—Wajah Helena berubah. Senyumnya lenyap. Matanya membesar, dipenuhi amarah yang langsung meledak.

“Beraninya kau bicara soal hati padaku!” bentaknya, suaranya bergetar oleh kemarahan.

kali ini—Louis tidak membalas. Ia hanya menatap Helena. Dingin. Datar. Tanpa sedikit pun emosi yang bisa dibaca.

Tatapan itu bertahan beberapa detik—cukup lama untuk membuat amarah Helena terasa sia-sia.

Lalu, tanpa satu kata pun … Louis berbalik. Dan pergi. Meninggalkan Helena di tengah ruangan yang berantakan—dan kemarahan yang tidak lagi punya arah.

“Arrgghh!”

Teriakan Helena menggema keras di seluruh ruangan.

Tanpa berpikir, tangannya menyambar vas bunga kristal di atas meja—dan melemparkannya ke lantai.

PRANG!

Pecahan kaca berhamburan ke segala arah.

Napas Helena memburu, dadanya naik turun dengan emosi yang tak terkendali.

"Tuan, Nyonya..." seorang pelayan hendak menghampiri Helena, namun suara Louis langsung menghentikannya.

"Biarkan saja." Perintah Louis, sambil menaiki anak tangga.

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!