NovelToon NovelToon
CEO'S Second Chance: Membeli Hati Sang Mantan

CEO'S Second Chance: Membeli Hati Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nge Game

Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
​Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
​Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
​Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
​Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Penyatuan di Puncak Kekaisaran

Pintu lift privat berderit halus sebelum terbuka lebar, menyambut Devan dan Mentari kembali ke dalam kemewahan penthouse lantai lima puluh lima. Suasana di dalam ruangan utama terasa jauh lebih intim malam ini. Lampu-lampu sorot besar yang biasanya menerangi setiap sudut telah dimatikan, menyisakan pendaran lampu gantung kristal yang temaram dan cahaya gemerlap kota Jakarta yang menembus dinding-dinding kaca raksasa.

​Devan tidak menurunkan Mentari dari gendongannya. Pria itu terus melangkah tegap, melewati lorong panjang berlantai marmer dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajah tampannya. Mentari menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur namun terasa begitu cepat—sebuah bukti bahwa sang CEO yang selalu dingin dan tenang di depan dewan direksi kini sedang disergap rasa gugup dan gairah yang membara.

​"Devan... turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," bisik Mentari pelan, jemarinya meremas kain jas sutra yang dikenakan suaminya.

​"Tidak," sahut Devan singkat, suaranya bariton, berat, dan tak terbantahkan. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ganda kamar tidur utama yang telah dihiasi oleh kelopak bunga mawar merah dan aromaterapi lavender yang menenangkan. "Mulai malam ini, kamu tidak perlu repot-repot melangkah sendiri jika aku ada di sampingmu, Mentari."

​Dengan satu dorongan kaki, pintu kamar terbuka. Devan melangkah masuk lalu menurunkan Mentari secara perlahan di tepi ranjang berukuran king size yang diselimuti sprei sutra putih bersih.

​Mentari merapikan gaun pesta malamnya yang sedikit tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya. Wajahnya yang memerah diterpa cahaya lampu tidur yang temaram membuat kecantikannya malam ini tampak begitu memikat.

​Ketika ia mendongak, Devan sudah melepaskan jas hitamnya dan melemparkannya sembarangan ke atas kursi. Pria itu membebaskan dua kancing teratas kemeja putihnya, melonggarkan dasi kupu-kupunya, lalu merangkak naik ke atas ranjang dengan gerakan lambat laksana seekor singa yang sedang mengunci mangsanya.

​Mentari menelan ludahnya, jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan waktu. Sembilan tahun berpisah dan melalui berbagai macam teror serta benteng keposesifan Devan, malam ini adalah momen di mana mereka benar-benar menyatu tanpa ada lagi sekat kebohongan atau rasa takut.

​Devan berlutut di hadapan Mentari, mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi wanita yang kini resmi menjadi istrinya. Tangannya yang hangat dan kokoh merambat turun, membelai garis leher hingga ke tulang selangka Mentari yang terekspos. Sentuhan itu membuat bulu kuduk Mentari berdiri, memicu desiran halus yang menyengat hingga ke dasar perutnya.

​"Apakah kamu takut padaku, Mentari?" tanya Devan lirih. Sepasang mata elangnya menatap dalam, mencari kepastian di dasar jiwa Mentari.

​Mentari menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia meraih tangan Devan yang ada di dadanya, menggenggamnya erat dan menempelkannya di atas detak jantungnya sendiri yang bergemuruh. "Aku tidak pernah takut padamu, Devan. Dulu aku lari karena ingin melindungimu, tapi malam ini... aku di sini karena aku mencintaimu. Sepenuh jiwa dan ragaku."

​Kata-kata sederhana itu laksana pemantik api yang membakar sisa-sisa pertahanan emosi Devan. Pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka. Embusan napasnya yang hangat berbau mint menerpa bibir Mentari.

​"Terima kasih... terima kasih karena sudah kembali padaku, Nyonya Elvano," bisik Devan, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman yang dalam, hangat, dan penuh dengan keposesifan yang tulus di bibir Mentari.

​Ciuman itu mulanya lembut, namun dengan cepat berubah menjadi tuntutan yang menuntut kepemilikan mutlak. Lidah Devan menerobos masuk, menyesap kehangatan rongga mulut Mentari, menyapu setiap sudutnya dengan keahlian yang membuat Mentari melenguh halus. Jemari Devan bergerak gesit ke bagian belakang gaun malam Mentari, menarik zipper gaun itu hingga terbuka sepenuhnya.

​Kain sutra mahal itu meluncur jatuh, mengekspos lekuk tubuh indah Mentari yang hanya terbalut pakaian dalam renda hitam sempit. Devan merebahkan tubuh Mentari secara perlahan ke atas tumpukan bantal empuk, mematikan seluruh jarak yang tersisa di antara mereka.

​"Kamu begitu indah, Mentari... Milikku sepenuhnya," geram Devan rendah di ceruk leher istrinya.

​Bibir Devan berpindah dari mulut menuju leher jenjang Mentari, meninggalkan jejak-jejak ciuman basah dan gigitan-gigitan kecil yang menghantarkan sengatan gairah menembus kesadaran Mentari. Jemari tebal Devan menyusuri pinggul Mentari, meremas lembut daging hangat di sana saat tangannya yang lain meloloskan kemeja putihnya sendiri, membiarkan dada bidang berkulit tan yang berotot itu bergesekan langsung dengan kulit halus Mentari.

​Mentari mendesah pasrah saat tangan Devan dengan terampil melepaskan kaitan bra rendanya. Buah dada yang ranum dan kencang itu kini terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Devan. Pria itu menunduk, mengulum salah satu puncaknya yang sudah mengeras, menyesapnya dengan irama teratur sembari jemarinya memainkan puncak yang lain.

​"Nngghh... Devan..." desah Mentari tertahan, jemarinya mencengkeram erat bahu kokoh Devan, melengkungkan punggungnya menikmati sensasi nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa hangat berdenyut hebat di area intimnya, menandakan ia telah sepenuhnya siap untuk sang suami.

​Tanpa membuang waktu, Devan menyingkirkan sisa helai kain yang menghalangi penyatuan mereka. Kehangatan tubuh mereka yang polos bertemu sepenuhnya. Saat Devan memposisikan dirinya di antara kedua paha Mentari yang terbuka pasrah, mata mereka saling mengunci—menyalurkan seluruh rindu, cinta, dan hasrat yang tertahan selama sembilan tahun lamanya.

​Dengan satu dorongan lambat namun dalam, Devan menyatukan diri mereka secara utuh.

​Mentari memekik pelan, matanya terpejam erat saat sensasi penuh dan hangat menghujam hingga ke pusat kesadarannya. Devan berhenti sejenak, membiarkan Mentari menyesuaikan diri, seraya menyapu keringat di dahi istrinya dan mengecup kelopak matanya dengan penuh kelembutan.

​"Aku mencintaimu, Mentari... Sangat mencintaimu," bisik Devan sebelum mulai bergerak.

​Gerakan Devan bermula dengan tempo yang teratur, lembut namun bertenaga, lalu perlahan makin memuncak dan intens. Kamar tidur mewah itu kini dipenuhi oleh suara napas yang memburu, gesekan kulit yang hangat, serta desahan-desahan keharmonisan yang saling bersahut-sahutan. Mentari melilitkan kaki mulusnya di pinggang Devan, menyerahkan seluruh dirinya ke dalam kendali sang suami saat gelombang kenikmatan membakar seluruh tubuh mereka hingga mencapai puncaknya bersama-sama dalam satu pelepasan yang hebat.

​Di bawah naungan malam Jakarta dan pendaran cahaya bulan yang temaram, sang kaisar bisnis dan permaisurinya melebur dalam kehangatan malam pertama yang penuh dengan gairah, janji keabadian, dan rasa cinta yang tak tertandingi.

​Matahari pagi terbit dengan anggun di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah gorden tipis penthouse. Mentari terbangun saat merasakan usapan lembut dan teratur di punggung polosnya yang dihiasi beberapa ruam kemerahan bekas jejak percintaan semalam.

​Ketika ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Devan yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Pria itu sudah terbangun terlebih dahulu, berbaring menyamping tanpa busana di balik selimut, menopang kepalanya sembari menatap Mentari dengan pandangan memuja yang tidak pernah pudar.

​"Selamat pagi, Istriku," sapa Devan, suaranya khas orang baru bangun tidur—berat, serak, dan terkesan sangat seksi di telinga Mentari.

​Mentari tersenyum malu-malu, mengingat kembali betapa liar dan intimnya mereka beberapa jam yang lalu. Ia menarik selimut sutra untuk menutup hingga ke batas dadanya. "Selamat pagi, Suamiku. Sudah dari tadi bangun?"

​"Sejak satu jam yang lalu," jawab Devan jujur. Jemarinya bergerak merapikan helai rambut hitam Mentari yang berantakan di atas bantal, lalu mengusap bahu polos istrinya yang menyembul dari balik selimut. "Aku hanya ingin memastikan bahwa saat aku membuka mata, ini bukan sekadar mimpi. Kamu benar-benar ada di sini, di dalam pelukanku."

​Mentari terkekeh pelan, meraih tangan Devan dan mengecup telapak tangannya yang hangat. "Ini nyata, Devan. Aku tidak akan ke mana-mana lagi."

​Devan mendekatkan wajahnya, mengecup sudut bibir Mentari dengan lembut, menyapukan lidahnya tipis sebelum akhirnya berbisik, "Bagus. Karena jadwal honeymoon kita sudah disiapkan. Kita berangkat dua jam lagi."

​Mentari mendadak terduduk tegak, membelalakkan matanya hingga selimutnya meluncur turun, menyingkapkan sebagian payudaranya yang penuh dengan jejak percintaan semalam. "Apa?! Dua jam lagi?! Devan, bagaimana dengan kantor? Rapat mingguan dengan anak perusahaan—"

​"Semua rapat sudah kubatalkan atau kualihkan ke wakil direktur utama untuk dua minggu ke depan," potong Devan santai. Pandangannya menggelap sejenak mengagumi keindahan tubuh istrinya yang terekspos refleks, yang membuat Devan kembali merengkuh pinggul wanita itu dan menariknya rapat ke dalam pelukannya. "Dua minggu ke depan, dunia bisnis tidak ada artinya bagiku. Yang ada hanya kamu, aku, dan pulau pribadi kita di Maladewa."

​Mentari menepuk dada bidang Devan yang bertelanjang dada dengan gemas. "Kamu benar-benar CEO yang diktator, Devan Elvano!"

​"Aku hanya diktator untuk urusan memanjakan dan memiliki istriku sepenuhnya," sahut Devan seraya tertawa lepas. Ia menunduk dan menyuntikkan kecupan panas di leher hingga ke pangkal dada Mentari, memicu gelak tawa renyah disertai pekikan manja dari wanita itu yang memenuhi seluruh penjuru kamar tidur mewah mereka.

​Dua jam kemudian, sebuah helikopter pribadi Elvano Group mendarat di helipad penthouse untuk membawa mereka langsung ke bandara Halim Perdanakusuma, di mana jet pribadi mewah sudah bersiap menerbangkan pasangan pengantin baru itu menuju Maladewa.

​Di dalam kabin jet pribadi yang megah, Mentari duduk di kursi kulit yang empuk sembari menatap ke luar jendela saat pesawat mulai lepas landas meninggalkan daratan Jakarta. Di sebelahnya, Devan menggenggam tangannya erat, meremas jemarinya pelan sembari melayangkan pandangan penuh proteksi.

​Masa-masa kelam telah sepenuhnya usai. Tidak ada lagi bayang-bayang kebangkrutan, teror dari keluarga Bramantyo, pengkhianatan paman yang serakah, atau ancaman dari Clara Wijaya. Di atas awan yang membentang luas, Mentari tahu bahwa kehidupannya yang baru sebagai Nyonya Elvano akan dipenuhi oleh perlindungan yang tak menembus dan cinta yang membara dari seorang pria yang rela meruntuhkan dunia demi dirinya.

​Perjalanan cinta penuh luka mereka telah resmi berganti menjadi lembaran kebahagiaan yang abadi di puncak kekaisaran Elvano.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!