Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Matahari kian meninggi. Hangatnya cahaya sama sekali tak mampu menembus hawa dingin yang merayap di tengkuk mereka. Setiap langkah kaki yang menginjak dedaunan kering terdengar seperti derap ketakutan yang kian nyaring.
Anya mengetatkan pegangan pada tali ranselnya. Rasa di lehernya yang memar, bukan sekadar lebam biasa. melainkan ada bisikan-bisikan halus tak kasat mata. Di sisinya, Serra berjalan dengan napas memburu. Ramuan tradisional di pipinya menyengat pekat, menyamarkan aroma darah manis yang sedang diincar.
Srekkk... Srekkk...
Suara itu datang lagi. Kali ini bukan dari arah pohon beringin, melainkan tepat dari balik semak-semak di sisi kiri jalan setapak.
"Anya...tolongin aku, Nya..."
Suara itu terdengar begitu dekat. Pelan, lirih, dan sangat familiar. Itu suara Serra. Padahal Serra yang asli berada tepat di samping Anya, sedang menggigit bibir bawahnya menahan sakit tanpa bersuara.
Anya tersentak. Refleks, kepalanya hendak berpaling ke arah semak-semak.
"JANGAN MENOLEH!" gertak Bu Mimi penuh penekanan, tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun."Itu bukan Serra! Genggam beras kuning di tanganmu, rapatkan jemarimu!" lanjut Bu Mimi tegang.
Anya meremas beras campur garam kasar di telapak tangannya hingga butirannya menusuk kulit. Rasa perih dari remasan itu seolah melemparkannya kembali ke realitas. Bau amis yang tadi sempat menguat perlahan menyusut, digantikan aroma belerang.
Tio di barisan paling belakang terus menelan ludah. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia bisa merasakan bayangan hitam di atas tanah seolah tidak bergerak searah dengan posisi matahari, melainkan perlahan memanjang memotong jalan mereka.
"Bu Mimi... jalan di depan..." bisik Tio dengan suara serak, tenggorokannya mendadak tercekat.
Sekitar lima puluh meter di hadapan mereka, kabut tipis berwarna keabu-abuan mendadak melayang menutup jalan setapak menuju Desa Seberang. Bau busuk bangkai bercampur tanah basah mendadak merebak, menusuk penciuman. Udara pagi yang seharusnya segar mendadak berubah menjadi sangat pekat.
"Dia mencoba memotong jalan kita," desis Bu Mimi. Ia berhenti melangkah, membuat seluruh rombongan ikut terhenti rapat.
"Kita tidak bisa menerobos kabut itu?" tanya Wulan dengan mata berair, tubuhnya gemetar hebat menahan panik.
"Kalau kita masuk ke dalam kabut itu, kita tidak akan pernah sampai di rumah Ustadz Haris. Kita cuma muter-muter di alamnya sampai malam tiba," jawab Bu Mimi dingin. Ia merogoh kantong dasternya, mengeluarkan sisa belerang dan sisa ramuan garam.
Bu Mimi berbalik menatap Anya dan Serra. "Kalian berdua, berdiri di tengah-tengah. Tio, Tari, Wulan, rapatkan barisan. Kita tidak memutari kabut ini, tapi kita akan mengambil jalur melintasi pematang sawah tua di sebelah kanan."
"Tapi Bu, lewat sawah itu bukannya dekat dengan pemakaman tua?" potong Tari panik.
Bu Mimi menatap Tari dengan tatapan tajam. Melumpuhkan rasa takut gadis itu. "Lebih baik melewati kuburan di siang bolong daripada menyerahkan diri langsung ke mulut makhluk yang sedang menunggu di kabut itu! Cepat bergerak sebelum 'jangkar' di leher Anya dan pipi Serra memanggilnya semakin dekat!"
Tanpa menunggu, Bu Mimi melangkah menyimpang dari jalan utama, menerobos ilalang tinggi menuju pematang sawah. Anya memegang erat lengan Serra, menuntunnya melangkah di atas tanah becek yang licin.
Tepat saat kaki terakhir mereka meninggalkan jalan setapak, dari dalam kabut tebal itu terdengar suara erangan panjang. Sebuah lolongan melengking yang tidak menyerupai manusia maupun binatang, penuh dengan kemarahan karena mangsanya mencoba melarikan diri.
Waktu mereka terus bergulir. Bayang-bayang di tanah makin memendek menandakan siang makin dekat, tetapi pertempuran mereka melawan rasa takut baru saja dimulai.
Lolongan bergulir melintasi padang ilalang, bergetar. Begitu dekat hingga membuat bulu kuduk berdiri. Tanah pematang sawah yang becek terasa makin licin di bawah pijakan kaki.
"Jangan ada yang tengok belakang! Terus jalan!" seru Bu Mimi, suaranya tetap tegas meski napasnya sudah terengah-engah.
Mereka berlari menelusuri pematang yang sempit. Di sebelah kanan mereka, hamparan sawah tua yang tak terurus dipenuhi rumpun padi liar dan genangan air keruh. Di balik deretan pohon kamboja tua di ujung pematang, nampak batu-batu nisan yang berlumut. Pemakaman tua desa.
Anya memapah Serra yang kian melemah. Keringat dingin terus mengucur di pelipis Serra, melelehkan parutan kunyit di pipinya. Setiap kali luka cakar itu terkena tetesan keringat, Serra meringis menahan perih seperti ditusuk jarum panas.
"Nya... lehermu..." bisik Serra tiba-tiba, suaranya bergetar hebat.
Anya membeku sejenak tanpa menghentikan langkah. "Kenapa?"
"Memar di lehermu... warnanya berubah," guman Serra ketakutan.
Bukan lagi kebiruan biasa. Di bawah leher Anya, warna lebam itu perlahan menjalar menyerupai urat-urat hitam tebal yang bergerak pelan, seolah ada sesuatu yang hidup di dalam sana, merayap perlahan menuju pangkal rahangnya. Minyak hangat yang dioleskan Bu Mimi tadi seakan kehilangan kesaktiannya.
"Jangan dipikirkan, Anya! Tetap fokus!" potong Bu Mimi tanpa berbalik, seolah tahu apa yang sedang terjadi. "Itu racun gaibnya untuk coba menguasai pikiranmu. Genggam beras kuning itu lebih erat!"
Tio yang berada di barisan paling belakang tersandung akar pohon kamboja yang melintang. Ia jatuh terjerembab ke tanah lumpur, membuat tas ranselnya terlempar beberapa meter ke depan.
"Tio!" jerit Tari.
Saat Tio mencoba bangkit, tanah lumpur di sekitarnya mendadak bergelembung. Udara di sekelilingnya mendadak berbau amis luar biasa menyengat, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Dari balik sela-sela batu nisan yang berjarak hanya beberapa meter darinya, bayangan tebal berbentuk jemari memanjang merayap cepat di atas tanah, meluncur lurus menuju kaki Tio.
"Tio, berdiri! Cepat!" teriakan Bu Mimi menggelegar.
Bu Mimi berbalik kilat, mengambil segenggam garam dan belerang dari kantongnya, lalu melemparkannya tepat ke arah bayangan hitam yang merayap itu.
Zzzzzzz...!
Suara desisan nyaring meletup saat racikan menghantam bayangan tersebut. Asap putih tipis membumbung tinggi diiringi bau gosong yang menusuk hidung. Bayangan hitam menyusut seketika, menarik diri kembali ke kegelapan sela-sela nisan tua.
Tio bergerak cepat bagai kesetanan. Ia menyambar ranselnya dan langsung meloncat naik kembali ke pematang sawah dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
"Tidak ada waktu lagi," napas Bu Mimi makin memburu, matanya melirik ke langit. Matahari sudah tepat berada di puncak kepala.
"Lihat! Di balik atap seng itu!" Wulan menunjuk ke arah seberang pemakaman.
Di balik pepohonan rindang di ujung pematang, terlihat kubah masjid kecil dan atap rumah kayu bertingkat. Suara samar-samar lantunan ayat suci Al-Qur'an sayup-sayup terdengar, mengalun lembut menembus hawa dingin yang mencekam. Rumah Ustadz Haris sudah di depan mata.
Namun, tepat saat harapan mulai menyala di dada mereka, leher Anya mendadak terasa dicekik secara brutal dari belakang.
"A-akh...!"
Anya jatuh berlutut di tanah, kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Matanya melotot tajam, napasnya tersengal-sengal. Seolah ada jemari tak kasat mata yang sedang meremukkan tenggorokannya. Urat-urat hitam di lehernya berkilat menembus kulit.
"Anya!" Serra berteriak histeris, ikut berlutut di sebelah sahabatnya.
"Dia meledakkan 'jangkarnya'!" bisik Bu Mimi dengan mata melebar tegang. "Dia tahu kita hampir sampai!"
atau Anya kerja sambil kuliah thor?