NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih dari Standar

Setelah "operasi pembersihan" sprei selesai dan kain putih itu itu sudah tergantung rapi di jemuran dengan jarak antar jepitan yang sangat simetris, Gavin akhirnya kembali ke ruang tengah. Aruna sudah selonjoran di sofa sambil menonton drama korea favoritnya, merasa benar-benar dimanjakan.

Gavin duduk di samping Aruna. Tapi bukannya ikut nonton, dia malah mengeluarkan tablet dan stylus pen-nya. Matanya fokus, dahinya berkerut serius.

"Nah, gitu dong, Mas. Sini, duduk. Santai dulu. Lihat nih, episodenya lagi seru banget, si pemeran utamanya akhirnya jadian." Kata Aruna semangat.

Gavin tanpa menoleh, "Sebentar, Runa. Ada anomali yang harus segera Saya catat. Tadi saat Saya mencuci sprei Saya mendeteksi penggunaan sabun cuci piring yang tidak wajar.

Aruna menoleh dengan wajah bingung, "Anomali apaan sih? Orang cuma pakai sabun dikit buat bantu ngilang noda."

"Bukan sedikit Runa, Saya sudah menimbang botol sabun cuci piring itu dua hari yang lalu. Dan barusan setelah saya ukur kembali, volume yang berkurang tepat sepuluh mililiter. Padahal menurut jadwal, hari ini belum waktunya pencucian alat makan besar." Kata Gavin serius.

"Ya ampun, Mas. Sepuluh mililiter doang. Itu cuma seiring kuku! Masa sampai harus dicatat gitu?" Kata Aruna sambil menepuk jidat.

Gavin mulai mengetik di tabel exelnya, "Sepuluh mililiter kalau dikalikan tiga ratus enam puluh lima hari, itu setara dengan tiga koma enam liter, Runa. Itu pemborosan anggaran yang signifikan. Saya sedang memperbaharui 'Tabel Inventaris Kebutuhan Dapur Semester satu Kita'. Kata Gavin lagi.

Aruna melirik layar tablet Gavin. Isinya tabel warna warni yang bikin pusing kepala.

"Mas, itu kok ada tingkat kepekatan cairan segala? Terus ini apa 'prediksi habis berdasarkan durasi gosok?"

"Tentu. Dengan begini kita tidak akan pernah kehabisan stok secara mendadak. Kita akan belanja besok pagi tepat jam delapan tepat, saat minimarket baru buka supaya sirkulasi udara di dalam toko masih segar dan belum banyak kontaminasi karbondioksida dari pengunjung lain." Kata Gavin.

"Besok kan minggu, Mas. Aku mau bangun siang. Mau males-malesan sama kamu..." sanggah Aruna.

Gavin berhenti mengetik, menatap Aruna dengan lembut tapi tegas. "Males-malesan bisa dijadwalkan pukul sepuluh lewat lima belas, setelah semua stok logistik kita aman di rak. Kamu tidak mau kan, saat sedang semangat memasak, tiba-tiba garam kita habis dan merusak mood kamu?" tanya Gavin.

Aruna menghela napas, lalu bersandar di bahu Gavin. "Iya deh, Bapak Auditor. Tapi janji ya, habis belanja, kita nggak usah audit apa-apa lagi sampai malam."

Gavin mencium kening Aruna, "Saya tidak bisa berjanji sepenuhnya, karena saya baru sadar stok kapas kecantikan kamu juga tinggal lima belas helai. Tapi, Saya berjanji akan memeluk kamu selama proses penginputan data nanti.

"Hahaha! Dasar robot bucin! Ya sudah lanjutin deh tabelnya! Aku lanjut nonton drakor yang nggak masuk akal ini." kata Aruna.

"Katanya nggak masuk akal kok di tonton," gumam Gavin.

Aruna memutar bola matanya. "Biarin."

Beberapa saat kemudian Aruna merasakan sesuatu berbunyi dari perutnya. "Mas, Aku laper. Aku masak dulu ya,"

Baru saja Aruna hendak bangkit dari sofa untuk menuju dapur, Gavin langsung meletakkan tabletnya dengan gerakan sigap, seolah-olah ada alarm darurat yang berbunyi di kepalanya.

"Runa, kamu mau kemana? Pergerakan sendi panggul kamu tadi terihat masih belum stabil." Kata Gavin.

"Kan Aku bilang mau ke dapur, Mas. Perut Aku sudah mulai konser nih, laper lagi. Aku mau masak nasi goreng simpel aja atau rebus mie." jawab Aruna.

Gavin langsung berdiri dan menghadang jalan Aruna. "Negatif. Berdasarkan diagnosa Saya tadi pagi, Kamu masih dalam fase pemulihan jaringan. Berdiri di depan kompor yang panas akan meningkatkan suhu basal tubuh kamu dan memperlambat proses penyembuhan."

"Duh Mas, cuma masak nasi goreng doang, bukan mau bangun candi. Aku bisa kok, pelan-pelan aja." kata Aruna.

Tapi Gavin, "Tidak. Biar Saya yang ambil alih operasional dapur. Kamu kembali ke posisi semula, naikkan kaki ke atas sofa untuk melancarkan sirkulasi darah. Saya akan melakukan Eksekusi Menu Nutrisi Seimbang dalam waktu lima belas menit."

Aruna akhirnya menyerah dan kembali selonjoran. Dari ruang tengah, dia bisa mendengar bunyi denting spatula yang sangat ritmis, tidak ada bunyi berisik yang berlebihan, semuanya terdengar sangat terukur.

"Mas, jangan lupa pakai cabe ya, biar mantap," teriak Aruna.

"Saya sudah menghitung dosis kapsaisin yang aman untuk lambung kamu, Runa. Tiga buah cabe rawit dengan pembuangan biji sebesar lima puluh persen agar tidak memicu inflasi pencernaan." Jawab Gavin dari dapur.

Aruna cuma bisa geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, Gavin datang membawa nampan. Di atasnya ada dua nasi goreng yang tampilannya sangat simetris. Potongan mentimunnya punya ketebalan yang sama persis, dan telur ceploknya berada tepat di titik tengah piring.

"Wah penampilannya bintang lima, Mas! Tapi kok telurnya rapi banget gini? Nggak ada pinggiran garingnya?" tanya Aruna.

"Pinggiran garing atau gosong itu mengandung residu karbon yang tidak baik, Runa. Saya memasaknya dengan suhu konstan delapan puluh derajat celcius agar protein telur matang sempurna tanpa merusak tekstur molekulnya." Jawab Gavin.

Aruna mencicipi satu suap, "Hmmm... enak sih, Mas. Pas banget rasanya. Kamu belajar masak di mana sih? Pakai rumus juga?" tanya Aruna.

"Memasak itu hanya masalah rasio, Runa. Rasio antara garam, bumbu dan waktu paparan panas. Selama rasionya tepat, hasil tidak akan pernah mengkhianati hasil audit." jawab Gavin.

Gavin makan dengan sangat rapi, tidak ada satu butir nasi pun yang jatuh ke atas meja. Sementara Aruna makan dengan lahap sampai ada sedikit butiran nasi di sudut bibirnya.

Gavin terhenti sejenak, menatap Aruna, lalu mengambil tisu. Dia mengusap sudut bibir Aruna dengan sangat lembut.

"Pelan-pelan, Runa. Efisiensi mengunyah yang baik adalah tiga puluh dua kali kunyahan agar enzim amilase bekerja maksimal." ujar Gavin.

"Mas, bisa nggak sehari aja nggak usah pakai istilah biologi atau kimia? Aku tuh lagi baper tau disuapin sama suami ganteng gini." kata Aruna.

Gavin tersenyum tipis, wajahnya sedikit memerah, "Maaf. Kebiasaan Saya memang sulit di hentikan. Tapi... apakah rasa nasi gorengnya sudah memenuhi standar kepuasan kamu?"

"Lebih dari standar, Mas. Nilainya seratus." Jawab Aruna sambil terus mengunyah nasi gorengnya.

"Kalau begitu, sebagai imbalan atas nilai seratus itu, setelah ini kamu dilarang mencuci piring. Saya sudah menjadwalkan proses sanitasi alat makan setelah jeda istirahat sepuh menit." kata Gavin.

Aruna tersenyum lebar. Punya suami auditor ternyata ada sisi sangat menguntungkan: dapur selalu bersih, makanan selalu sehat, dan yang terpenting, dia benar-benar diperlakukan seperti ratu yang tidak boleh lecet sedikitpun.

"Makasih ya, Mas. Kamu baik banget sih," kata Aruna sambil memeluk lengan Gavin.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!