Novel Keempat belas🌶
(area 🌶. no bocil-bocil please)
Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Gong
"Gimana makanannya, Bi? Enak?" tanya Soraya kepada putri sambungnya.
Bian mengangguk cepat. "Enak banget, Bu. Ibu jago banget masak," jujur Bian sambil melahap nasi gorengnya yang memang terasa sangat enak.
"Kamu bisa aja. Ya udah dihabisin ya. Kalau kurang masih banyak kok, kamu bisa tambah lagi."
"Ibu aku ini emang jago banget masaknya, Bi. Yang paling aku kangenin dari Indonesia waktu aku di New York itu ya masakan ibu," ujar Saga ikut berkomentar.
Keempatnya makan di paviliun timur yang ditempati Radit dan Soraya. Biasanya Bian dan Saga sarapan di rumah utama, oleh chef keluarga Mahameru.
"Boleh gak Bian makan di sini terus kalau lagi di rumah?" mohon Bian.
"Boleh banget, dong. Karena makan siang kamu pasti di sekolah, sarapan kamu boleh di sini," ujar Radit.
"Kalau makan malam?" tanya Bian.
"Makan malam kita di rumah utama aja ya, Nak. Kita udah sepakat setiap malam kita kumpul di ruang makan utama bareng sama Kaisar dan Diana. Supaya kita bisa saling ketemu setiap harinya dan makin akrab. Ya?" terang Soraya.
"Bener juga sih..." gumam Bian. "Ya udah, tiap sarapan aja berarti Bian di sini ya makannya."
"Boleh banget, Nak. Ibu seneng bisa masak setiap pagi buat kamu."
"Makasih, Bu," ucap Bian senang.
"Sama-sama, Nak," sahut Soraya. "Oh iya, gimana kamarnya, rumahnya? Nyaman, Bi?"
"Nyaman banget, Bu. Besar banget dan dekorasinya juga bagus banget, toiletnya, walk in closetnya. Bian dateng, walk in closetnya udah penuh sama baju, tas, dan yang lainnya. Katanya itu dari Ibu? Makasih banyak ya, Bu. Bian belum sempet berterima kasih," ujar Bian tulus.
"Sama-sama, semuanya yang pilihin Saga, kok. Ibu cuma minta aja ke Saga buat isi lemari-lemarinya sama baju kamu. Kamu 'kan model, pasti butuh banyak baju. Saga tahu betul sama hal-hal kayak gitu dibandingkan Ibu. Jadi Ibu serahin semuanya sama Saga."
"Kak Saga yang milih semua baju di lemari Bian?" tanya Bian tidak terlalu heran juga. Pasalnya banyak sekali pakaian minim di lemari itu, termasuk pakaian dalam menggoda dan juga bik ini dengan berbagai model. Anehnya semua ukurannya sangat cocok dengan Bian. Sekarang Bian tahu kenapa pakaiannya lebih banyak yang terbuka. Ternyata Saga yang memilihkannya.
"Kakak 'kan memang sangat mengenal fashion dibandingkan Ibu, Bi. Cita-cita Kakak ingin mengelola berbagai agensi hiburan yang di dalamnya fashion jadi aspek yang penting banget."
"Terus kenapa sekarang malah jadi guru?" tanya Bian agak ketus.
"Itu syarat dari Om Sandy. Kamu tahu, 'kan? Pemilik yayasan? Kakak akan bekerja di perusahaan dia nanti, dan Om Sandy pengen Kakak magang dulu jadi guru di sekolah yang dia kelola."
"Pantesan aja, Kak Saga beda dari guru yang lain," sindir Bian.
"Beda kenapa emangnya?" tanya Radit penasaran.
"Beda aja." Bian menatap Saga yang menatapnya dengan peringatan seakan mengatakan, 'kamu gak akan buka kartu Kakak 'kan? Inget, kakak juga bisa buka kartu kamu.'
"Beda aja karena..." lanjut Bian. "Kak Saga kurang kelihatan kayak guru aja. Mana ada guru yang pakai baju sampai sepatunya pakai brand-brand ternama. Terlalu glamor aja buat profesi guru yang terkenal bersahaja." Bian mengurungkan niatnya untuk memberitahukan seperti apa sebenarnya Saga di sekolah.
Sebenarnya hanya niat saja, tapi untuk mengatakan yang sebenarnya tentu Bian akan pikir-pikir lagi. Karena jika ia mengatakan seperti apa kelakuan Saga, itu artinya Bian membuka rahasianya sendiri.
"Itu karena Kakak emang beda dari guru kebanyakan. Tapi harusnya semua guru kayak Kakak bajunya. Pakai fashion item dari berbagai brand terkenal. Bukannya seorang guru harusnya gajinya besar sampai-sampai gajinya bisa dipakai beli barang-barang branded?"
Kali ini Bian sedikit setuju. Guru di Indonesia memang bukan profesi bergengsi, gajinya kecil malah ada yang sangat tidak layak. Tapi kata-kata Saga barusan cukup membuat Bian merasa ada benarnya juga.
"Yang penting kamu gak macem-macem 'kan sama murid kamu?" tebak Soraya dengan sangat tepat pada sang putra.
Bian terkejut juga dengan pertanyaan itu. Apa Soraya tahu bagaimana kelakuan putranya selama ini?
"Ya enggaklah, Bu," sanggah Saga berdusta. "Aku ngajar bener-bener, kok. Supaya Om Sandy ngelihat kemampuan aku, jadi aku harus jaga sikap."
Bian tanpa sadar mengerlingkan matanya pada Saga.
"Emang Saga kenapa, Yang?" tanya Radit pada sang istri.
"Kalau dalam hal perempuan, Saga ini mirip banget sama Kaisar. Kamu tahu sendiri, 'kan?"
"Oh ya?" tanya Radit sedikit khawatir.
"Tenang aja, Bu. Aku akan hati-hati di sekolah. Sampai magang aku selesai, gak akan ada cerita tentang aku dan siswi di Manohara. Janji."
Kemudian Bian dan Saga sudah berada di mobil Saga, mereka menuju ke sekolah. Karena sang ibu menyuruh, Bian terpaksa ikut dengan mobil Saga.
"Ternyata ibu tahu kelakuan lo kayak gimana?" sindir Bian membuka obrolan.
"Tahulah. Seorang ibu pasti tahu kelakuan anaknya kayak gimana," sahut Saga santai.
"Dan lo masih bakal kayak gitu meskipun nyokap tahu?"
"Ya kenapa enggak? Lagian ibu gak bener-bener tahu. Dia cuma curiga aja."
Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Sejak kapan emang kelakuan bej adh lo ini ketahuan sama nyokap lo?"
"Sejak Kakak SMA, ibu udah tahu kalau Kakak sering ganti-ganti pacar. Terus pas kuliah di New York makin sering Kakak main sama cewek."
"Pasti, sih. Pergaulan Amerika 'kan emamg bebas banget. Makin jadi aja playboy lo itu."
Saga tertawa mendengar komentar jujur ddari Bian. "Kamu mau tahu gongnya?"
"Gongnya?"
"Petualangan Kakak di 'alam liar' ini diajarin sama siapa? Bisa tebak gak?
"Sama siapa emang?"
"Diajarin sama temennya ibu sendiri."
mending td ga usah ditolongin aja, biar kamu terbebas dr obsesi ibu yg ga ada akhlaknya itu