NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

pulang masing - masing

Setibanya di bandara Soekarno-Hatta, rombongan perlahan berpencar. Suasana yang semula hangat selama perjalanan mendadak berubah menjadi lebih formal, seolah setiap orang kembali mengenakan perannya masing-masing begitu kaki mereka menjejak Jakarta.

Tommy langsung sigap. Ia menelpon sopir pribadinya dan meminta mobil segera merapat ke area penjemputan. Tanpa menunggu lama, ia menghampiri Pak Surya dan Bu Mariana.

“Om, Tante, biar saya antar sekalian ke rumah. Sopir saya sudah hampir sampai,” ujar Tommy dengan nada yakin.

Pak Surya sempat mengangkat tangan, hendak menolak.

“Nggak usah, Tom. Sopir Om juga sudah di jalan, sebentar lagi sampai.”

Namun sebelum penolakan itu benar-benar keluar, Rayya lebih dulu bersuara.

“Pa, nggak apa-apa. Sekalian aja sama Tommy. Aku juga capek,” katanya pelan, tapi cukup membuat kedua orang tuanya saling pandang.

Bu Mariana menatap putrinya, menangkap rona lelah di wajah Rayya. Akhirnya ia mengangguk kecil.

“Ya sudah, Pa. Sekalian saja.”

Pak Surya menghela napas singkat, lalu tersenyum tipis.

“Baiklah. Terima kasih ya, Tom.”

Tommy tersenyum puas.

“Sama-sama, Om.”

Di sisi lain, Devan berdiri tak jauh dari mereka, tengah merapikan ranselnya. Tatapan Tommy sempat tertuju padanya sebelum ia mendekat dan berkata dengan nada datar,

“Maaf, pak devan. Mobilnya nggak muat kalau nambah satu orang lagi.”

Ucapan itu terdengar sopan, tapi maknanya jelas.

Devan tidak tersinggung. Ia justru membalas dengan senyum singkat.

“Santai. Mobil saya memang sudah ada di bandara dari tadi.”

Ia melangkah pergi, bersiap menuju parkiran. Namun baru beberapa langkah, Wilona menyusul dengan langkah cepat. Wajahnya dibuat sememelas mungkin.

“Dev, aku boleh ikut kamu nggak?” tanyanya sambil meraih lengan Devan.

“Arah rumah kita searah, kan?”

Devan terdiam sesaat.

“Mobil kamu?”

“Lagi di bengkel,” sahut Wilona cepat. Tepat saat itu, Pak Daniel ikut mendekat, wajahnya penuh harap.

“Om titip Wilona ya, Dev,” kata Pak Daniel.

“Rumah Om beda arah, kasihan kalau harus nunggu lama.”

Devan menarik napas pelan. Situasinya tidak memberinya banyak pilihan. Ia mengangguk. “Baiklah, pak.”

Wajah Wilona langsung berbinar.

“Makasih, Dev!”

Dari kejauhan, Rayya melihat pemandangan itu tanpa benar-benar berniat memperhatikan. Namun entah mengapa, langkah Wilona yang begitu ringan di samping Devan, senyum lebarnya, dan jarak mereka yang terasa dekat, tertangkap jelas oleh matanya.

Ada sesuatu yang mengganjal di dada Rayya.

Ia segera membuang muka ketika Tommy memanggilnya.

“Ray, mobilnya sudah sampai.”

Di dalam mobil, Rayya duduk di kursi belakang bersama kedua orang tuanya. Tommy memilih duduk di depan, di samping sopir. Sepanjang perjalanan, Pak Surya dan Bu Mariana beberapa kali bertanya tentang perjalanan, tentang pulau-pulau yang mereka kunjungi, tentang pengalaman Rayya.

Rayya menjawab seperlunya.

“Iya, Pa.”

“Lumayan, Ma.”

“Pantainya bagus.”

Jawabannya pendek-pendek, tanpa antusiasme seperti biasanya. Pandangannya lebih sering tertuju ke luar jendela, menyusuri jalanan Jakarta yang padat, sementara pikirannya melayang entah ke mana.

Bu Mariana sempat melirik putrinya lewat kaca spion.

“Capek sekali ya, Ray?”

Rayya mengangguk pelan.

“Sedikit.”

Padahal yang ia rasakan bukan sekadar lelah fisik.

Setiap kali matanya terpejam, bayangan Devan kembali muncul, kali ini dengan Wilona di sisinya. Cara Wilona tersenyum, cara ia berjalan mendekat tanpa ragu, dan cara Devan akhirnya mengizinkannya ikut. Semua itu berputar-putar di kepala Rayya, meski ia berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu bukan urusannya.

Dia bebas melakukan apa saja, batinnya. Aku juga nggak punya hak merasa apa-apa.

Namun kenyataannya, pikirannya tetap kembali ke sana. ia tidaak tahu kenapa hatinya jadi begitu, biasanya jika kepikiran devan yang ada di hati rayya hanya dendam yang terkubur lama, ia bahkan sama sekali akan mencoba fokus pada hal lain dan tidak ingin pikirannya membayangkan devan sedetikpun, namun kali ini bayangan devan sangat sering mampir di kepalanya, terlebih setelah beberapa hari berlibur bersama. ada rasa tersendiri yang dirasakan rayya, namun sampai sekarang ia mencoba meyakini itu semua hanya rasa hutang budinya pada devan atas semua pertolongannya.

Tommy, yang duduk di depan, sesekali menoleh lewat kaca spion, memperhatikan Rayya yang tampak diam dan jauh. Ia mengira Rayya masih lelah atau memikirkan kakinya yang sempat cedera. Ia tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa di dalam mobil itu, Rayya sedang berperang dengan perasaannya sendiri.

Sementara itu, di dalam mobil Devan, suasananya jauh lebih hening dibanding mobil Tommy. Mesin mobil melaju stabil, radio sengaja ia matikan sejak awal perjalanan. Devan memilih fokus pada jalan, kedua tangannya mantap di kemudi, wajahnya datar tanpa banyak ekspresi.

Wilona duduk di kursi penumpang dengan posisi sedikit menyamping ke arahnya. Sejak awal mobil berjalan, ia sudah menyadari perubahan sikap Devan. Pria itu tidak lagi seramah di kapal, tidak membuka obrolan, bahkan hanya menjawab seperlunya ketika ia bertanya.

Wilona mencoba membuka percakapan lebih dulu.

“Capek ya, Dev? Perjalanan kemarin padat banget,” katanya dengan suara dibuat lembut.

“Iya,” jawab Devan singkat, tanpa menoleh.

Wilona menggigit bibirnya, jelas tidak puas dengan respons itu. Ia lalu bersandar lebih santai, sengaja membuka kancing kemeja bagian atasnya, seolah mencari posisi paling nyaman. Gerakannya tidak berlebihan, tapi cukup jelas dilakukan dengan penuh perhitungan.

Namun Devan sama sekali tidak bereaksi.

Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah tidak ada apa pun yang berubah di sampingnya. Bahkan ketika Wilona sedikit membenarkan rambutnya dan menghela napas lebih panjang dari biasanya, Devan tetap tidak melirik.

Hati Devan terasa tidak nyaman. Bukan karena godaan Wilona, melainkan karena situasi sebelumnya di bandara. Permintaan Pak Daniel yang disampaikan langsung di depan Rayya dan keluarganya membuatnya merasa sungkan. Ia tidak ingin sikapnya disalahartikan, apalagi oleh Rayya, entah kenapa, hal itu tiba-tiba menjadi penting baginya.

Wilona akhirnya kehilangan kesabaran.

“Kamu dingin banget sih dari tadi,” ujarnya dengan nada sedikit ketus.

“Aku numpang juga karena keadaan, bukan sengaja merepotkan.”

Devan menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan.

“Aku tahu. Nggak masalah.”

Jawaban itu justru membuat Wilona makin kesal. Ia merasa diabaikan, sesuatu yang jarang ia alami. Biasanya, sedikit perhatian saja sudah cukup membuat pria-pria di sekitarnya bereaksi. Tapi Devan berbeda, dan itu menusuk egonya.

“Kamu memang selalu gini ya ke perempuan?” sindir Wilona.

Devan menarik napas pelan.

“Aku cuma nggak suka salah paham,” katanya jujur.

“Apalagi di situasi kayak sekarang.”

Wilona terdiam. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi cukup jelas menegaskan batas. Ia memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan raut kesalnya.

Sisa perjalanan pun diisi keheningan. Devan kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bayangan Rayya yang duduk diam di mobil lain tiba-tiba muncul begitu saja. Ia menggeleng pelan, berusaha menepisnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!