"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Di Antara Dua Perang
Malam itu kota tidak terlihat seperti biasanya.
Lampu-lampu gedung masih menyala, lalu lintas tetap bergerak, berita tetap berjalan di layar televisi—tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Nama Arlan Dirgantara tidak lagi trending sebagai tersangka.
Namun belum juga sebagai pemenang.
Narasi terbelah.
Setengah publik memuji keberaniannya membuka data lama.
Setengah lagi menunggu kesalahan berikutnya.
Dan di dunia bisnis, menunggu adalah bentuk ancaman paling berbahaya.
Di ruang kerja apartemen, layar laptop Arlan menampilkan grafik pergerakan saham.
Turun tajam.
Lalu naik sedikit.
Stabil.
Rapuh.
“Investor asing menahan penarikan,” ujar asistennya melalui panggilan video. “Tapi mereka minta audit independen.”
“Biarkan,” jawab Arlan singkat.
“Itu bisa membuka semuanya.”
“Memang harus.”
Panggilan terputus.
Arlan memijat pangkal hidungnya.
Empat puluh delapan jam.
Ia baru memakai dua belas jam pertama.
Dan Mahendra belum menunjukkan kartu terbesarnya.
Di balkon, Aira memeluk dirinya sendiri.
Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Ia sudah menonton ulang konferensi pers itu tiga kali.
Bukan untuk Arlan.
Tapi untuk ayahnya.
Ekspresi publik ketika namanya disebut.
Tatapan orang-orang ketika ia berdiri di samping Arlan.
Ia tidak menyesal datang.
Tapi ia sadar—
keputusan itu mengikatnya lebih dalam ke medan perang.
Pintu kaca terbuka pelan.
Arlan keluar tanpa suara.
Ia berdiri beberapa langkah di belakang Aira sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kau tidak harus melakukan itu.”
Aira tidak menoleh.
“Kalau aku tidak datang, mereka akan terus menjadikannya korban.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang mereka tidak tahu harus memihak siapa.”
Arlan terdiam.
“Itu membuatmu ikut diserang.”
“Aku sudah diserang sejak hari pertama aku masuk hidupmu.”
Kalimat itu tidak terdengar marah.
Hanya jujur.
Arlan melangkah lebih dekat.
“Kau bisa pergi kalau kau mau.”
Aira akhirnya menoleh.
“Pergi ke mana?”
Ia tidak menjawab.
Karena mereka sama-sama tahu—tidak ada tempat yang benar-benar aman lagi.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Lalu Aira berkata pelan,
“Aku menemukan email lama ayahku.”
Arlan menegang sedikit.
“Email apa?”
“Dia memintamu tetap lanjutkan proyek itu.”
Hening.
Arlan menatap kota di depan mereka.
“Ya.”
“Hanya itu?”
“Apa yang ingin kau dengar?”
“Kebenaran.”
Arlan menghembuskan napas panjang.
“Ayahmu tahu risikonya. Aku juga tahu. Tapi kalau kami mundur saat itu, seluruh tim akan hancur lebih cepat.”
“Dan kalian memilih risiko jangka panjang.”
“Ya.”
Aira menelan ludah.
“Jadi ini bukan tentang menjatuhkan siapa pun?”
“Tidak pernah.”
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada kemarahan.
Hanya kelelahan yang sama.
Lalu ponsel Arlan bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia mengangkatnya.
Tidak ada suara manusia.
Hanya rekaman.
Suara ayah Aira terdengar jelas.
Suasana rapat lima tahun lalu.
Suara kertas.
Suara napas tegang.
Dan kalimat terakhir yang membuat dunia terasa berhenti:
“…kalau ini gagal, kita pastikan Dirgantara yang jatuh lebih dulu.”
Rekaman berhenti.
Aira memucat.
“Itu dipotong,” katanya cepat. “Itu pasti dipotong.”
Arlan tetap diam.
Ia memutar ulang rekaman itu.
Mendengarkan setiap jeda.
Setiap desah napas.
Mahendra tidak bodoh.
Ia tidak akan merilis sesuatu yang mudah dibantah.
“Kalau ini dipublikasikan,” kata Aira lirih, “semua akan percaya ayahku menjebakmu.”
“Atau aku yang menjebaknya.”
“Arlan…”
Ia menatap Aira.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia terlihat benar-benar lelah.
“Dia sedang mencoba memisahkan kita.”
Aira memahami maksudnya.
Bukan hanya secara bisnis.
Secara emosional.
Jika rekaman itu beredar, kepercayaan mereka akan diuji.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada saham turun.
Ponsel Aira ikut berbunyi.
Pesan masuk.
Video berdurasi 12 detik.
Thumbnail-nya adalah ruang rapat yang sama.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Dia mengirim juga ke kamu?” tanya Arlan.
Aira mengangguk.
Mahendra tidak hanya mengancam.
Ia memastikan mereka sama-sama mendengar.
Strategi psikologis.
“Kenapa dia melakukan ini?” tanya Aira.
“Karena dia tahu reputasi bisa dipulihkan,” jawab Arlan pelan. “Tapi kepercayaan tidak.”
Aira terdiam.
Angin malam menyapu rambutnya.
Dan untuk pertama kalinya, ketakutan yang ia rasakan bukan tentang perusahaan.
Bukan tentang media.
Tapi tentang kemungkinan—
bahwa sebagian dari rekaman itu mungkin benar.
“Kalau memang ayahku pernah mengatakan itu…” suaranya melemah.
Arlan mendekat.
“Kalau memang dia pernah mengatakan itu, kita cari konteksnya.”
“Kau tidak marah?”
“Aku sudah melewati fase marah lima tahun lalu.”
Jawaban itu terlalu dewasa.
Terlalu tenang.
Dan justru itu yang membuat Aira merasa dadanya sesak.
Arlan mengangkat tangannya.
Menyentuh jemari Aira perlahan.
Tidak memaksa.
Tidak menuntut.
“Aku tidak akan melawanmu karena masa lalu,” katanya pelan.
“Tapi aku juga tidak akan membiarkan orang lain memecah kita.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti janji manis.
Terdengar seperti keputusan.
Di tempat lain, Mahendra menatap dua layar sekaligus.
Satu menampilkan grafik saham yang mulai stabil.
Satu lagi—rekaman lengkap rapat lima tahun lalu.
Ia memutar bagian yang belum dikirim.
Bagian di mana seseorang berkata:
“Jika ini gagal, kita semua jatuh.”
Ia tersenyum tipis.
“Kalian memang masih terlalu percaya pada versi lengkap.”
Ia mengangkat ponselnya.
Mengetik satu pesan ke kontak media anonim.
Siap tayang besok pagi.
Kembali di balkon.
Aira memejamkan mata.
“Besok akan lebih buruk, ya?”
Arlan menatap langit malam yang gelap.
“Ya.”
“Dan kau tetap akan melawan?”
“Aku tidak pernah berhenti.”
Aira mengangguk pelan.
Lalu, tanpa banyak kata, ia melangkah mendekat.
Bukan karena lemah.
Bukan karena takut.
Tapi karena untuk pertama kalinya—
ia memilih berdiri di sisi yang sama.
Namun mereka tidak tahu—
bahwa pagi esok tidak hanya akan membawa rekaman.
Tapi juga penyelidikan resmi.
Dan perang ini—
baru memasuki babak yang sebenarnya.
sangat seru