Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Kamu Sudah Sempurna
...Selamat membaca semua...
..............
..............
Raut wajah Rania yang antusias penasaran menunggu jawaban dari Boris, membuat pria di hadapannya sekarang merasa canggung. Mata indah berwarna coklat yang seakan melambai menarik perhatiannya.
"Buruan kasih tahu aku, Ris. Bagaimana menurutmu?" Sedikit terkejut dengan perkataan Rania yang membuyarkan fokusnya, membuatnya canggung sendiri.
Deheman singkat menutupi rasa canggung dan gejolak pada dadanya. Lalu tatapannya jatuh sangat dalam mengamati keseluruhan wajah cantik Rania.
"Cantik"
Jawaban yang sontak membuat wajah Rania memerah bak kepiting rebus. Dia mengalihkan kontak mata, dan pandangannya mencari sesuatu yang bisa menetralisir jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Wah.." tangan Rania memukul pelan dadanya karena rasa canggung tercipta. Boris hanya bersikap tenang mengamati dan tersenyum kecil menyadari hal tersebut.
Boris senantiasa bersabar menunggu wanita di depannya menetralisir rasa gugupnya. Hingga Rania akhirnya menghembuskan napas panjang dan kembali berani menatap dirinya.
"Lalu, kriteria istri yang kamu suka seperti apa, Ris?" Boris masih dengan tenang menatap lekat Rania, batinnya menjawab 'kamu sudah sempurna' . Melihat Boris melamun, Rania melambaikan tangannya di depan wajah pria itu.
Tersadar pada lamunannya, dia kembali menjawab pertanyaan Rania dengan mata yang memandang lekat padanya.
"Sepertinya rekan kerja Nona dari Prancis sangat cocok untuk anda" tangan Rania mengepal di depan wajahnya, rasanya dia ingin mengusap kasar wajah Boris sekarang juga melampiaskan amarahnya.
"Tau ah!" Wanita yang merajuk itu menyandarkan tubuhnya pada sofa dan membuang muka, malas melihat ke arah Boris.
Boris tanpa rasa bersalah meraih gelas itu dan menyeruput kopi buatan Rania. Dia akan selalu ingat dengan rasa minuman dan makanan apapun dari hasil buatan atasannya tersebut. Dia sangat menyukainya.
Tok.. Tok.. Tok..
Rania dan Boris bersamaan menoleh saat pintu ruangan terbuka, Frederick selaku Papah dari Rania tiba-tiba datang masuk ruangan tersebut. Boris terlonjak bangkit dari duduknya dan berpindah posisi mendekat ke arah pemilik perusahaan tersebut. Dia langsung memberikan salam hormatnya. Frederick tersenyum ramah menyambut salam dari Boris dengan menepuk pelan bahunya, lalu pria tersebut langsung beranjak keluar meninggalkan ruangan.
"Saya pamit lebih dulu, Tuan. Ada jadwal yang harus saya buat." Rania mendengar itu mencebikan bibirnya kesal, sambil memandang kepergian Boris, sikap itu tidak luput dari mata Frederick.
"Dia tidak akan melirik wanita lain, Rania sayang.." goda Papahnya membuat wanita itu mendekati Papahnya berhambur memeluk lengannya, bergelanyut manja.
"Papah.."
"Kalau menyukainya langsung saja, kamu ini menunggu apa?" Rania menarik Papahnya agar duduk di sofa dengannya. Dia tidak menjawab, hanya membuang napas panjang diringi nada pasrah.
"Dia tidak menyukai putri cantik, Papah?" Gelengan kuat Rania berikan, dia tidak setuju dengan hal itu, "lalu kenapa cemberut begini?" Tangan dengan kulit yang sudah sedikit berkerut mengelus kepala putrinya dengan lembut.
"Dia menyebalkan, Pah. Tapi.. Rania suka!" Kekehan Frederick terdengar renyah karena mendengar jawaban putrinya yang sangat menggemaskan.
"Kalau terlalu lama, mending kamu datang ke kencan buta yang sudah Papah atur. Bagaimana?"
"Papah.. Rania tidak suka diatur begitu. Apalagi dadakan." Kekehan Frederick tidak luntur, malah semakin terdengar mengejek putrinya yang saat ini berubah merajuk kesal dengannya.
"Jangan lupa besok datang. Papah sudah menyuruh Boris untuk menemanimu datang ke acara kencan buta."
"Ngeselin banget sih!" Rania menghempaskan pelan tangan Papahnya kesal. Selalu saja Papahnya mengatur kencan buta dadakan untuk dirinya. Padahal Papahnya sudah tahu bahwa dia menyukai Boris, tidak dengan yang lain. Dia hanya mau Boris, bukan pria lain.
...Bersambung.....
Terima kasih yang sudah mampir membaca..🥰
Kalau tidak keberatan, like dan komennya ya! Ditap tap biar kenal..😗
Nongkrong di warung kecil aku sambil senyum-senyum sendiri juga nggak masalah kok..🤭