Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Kota Baru
Jakarta adalah monster beton yang tidak pernah tidur, dan bagi Alisa, kota ini adalah ujian ketangguhan yang jauh lebih berat daripada mendaki perbukitan di sekitar markas batalyon Ayahnya. Di sini, udara tidak beraroma tanah basah atau pinus, melainkan asap knalpot dan keputusasaan orang-orang yang bergegas mengejar kereta. Alisa menempati sebuah kamar kos kecil yang dindingnya dipenuhi dengan tempelan jadwal residensi dan potongan ide untuk bab-bab terakhir novel keduanya. Setiap kali ia merasa sesak oleh kebisingan kota, ia akan menutup matanya rapat-rapat, mencoba memanggil kembali suara jangkrik dari joglo atau deru motor trail yang sering membawanya menembus hutan. Jakarta membuatnya sadar bahwa pangkalan bukan sekadar tempat tinggal, tapi adalah rasa aman yang kini berjarak ratusan kilometer darinya.
Kehidupannya di residensi penulis sangat padat. Ia bertemu dengan banyak orang hebat, para intelektual yang bicaranya penuh dengan istilah sastra tingkat tinggi yang terkadang membuat Alisa merasa kecil. Namun, setiap kali rasa minder itu menyerang, ia selalu teringat kata-kata Satria bahwa ksatria tidak boleh goyah hanya karena medan yang asing. Satria kini menjadi satu-satunya frekuensi yang membuatnya tetap waras. Setiap malam, tepat pukul sembilan saat tugas piket Satria selesai atau saat Alisa baru pulang dari kelas diskusi, ponselnya akan bergetar. Nama "Kak Satria" muncul di layar, dan seketika itu juga, sesak di dada Alisa menguap. Suara Satria yang berat namun tenang selalu menjadi penawar rindu yang paling mujarab.
"Di sini panas sekali, Kak. Kadang aku kangen angin gunung yang bikin menggigil itu," keluh Alisa suatu malam sambil menyandarkan kepalanya di meja belajar yang penuh dengan tumpukan naskah. Satria di seberang telepon tertawa kecil, suara tawanya terdengar sedikit pecah karena gangguan sinyal, tapi Alisa tetap bisa merasakan kehangatan di sana. "Sabar, Alisa. Anggap saja Jakarta itu sedang menguji mentalmu. Di sini juga sepi tanpa ada yang protes soal sinyal atau minta diajari cara kirim email. Ayahmu juga jadi lebih pendiam, sering duduk sendirian di joglo sambil melihat ke arah jalan raya, seolah menunggu jip yang membawamu pulang lewat lagi." Mendengar cerita tentang Ayahnya, Alisa sering kali merasa bersalah, namun Satria selalu punya cara untuk menguatkannya kembali. "Ayahmu bangga, Alisa. Kemarin dia pamer ke Damar kalau tulisanmu masuk ke majalah nasional. Dia tidak bilang padamu karena gengsinya masih setinggi puncak gunung, tapi percayalah, dia ksatria paling bahagia saat ini."
Bulan-bulan berlalu, dan novel kedua Alisa yang berjudul "Frekuensi yang Sama" akhirnya rampung. Buku itu bercerita tentang seorang perwira muda yang jatuh cinta pada kata-kata dan seorang gadis yang menemukan keberanian melalui teknologi. Alisa tidak menutupi bahwa karakter utamanya sangat terinspirasi dari Satria. Penerbit sangat antusias karena cerita itu terasa sangat jujur dan emosional. Jadwal peluncuran buku pun ditetapkan di sebuah toko buku besar di kawasan Jakarta Pusat. Alisa merasa sangat gugup. Ini adalah panggungnya yang sebenarnya, tempat di mana ia akan berdiri sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai putri Mayor Cakra atau gadis desa yang beruntung. Ia mengirimkan undangan kepada Ayahnya dan Satria, meski ia tahu bahwa tugas di pangkalan tidak pernah bisa ditinggal begitu saja, apalagi Cakra sedang dalam masa transisi menjelang pensiun yang sangat sibuk.
Sementara itu di pangkalan, persiapan rahasia sedang dilakukan. Satria tidak henti-hentinya tersenyum sendiri saat sedang bekerja, membuat Damar semakin jengah melihat kelakuan keponakannya itu. Satria sudah mengajukan cuti jauh-jauh hari, dan secara mengejutkan, Cakra juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua, ksatria tua dan ksatria muda, sedang merencanakan sebuah "operasi intelijen" ke Jakarta. Damar membantu mereka menyiapkan segala sesuatunya, termasuk memesan tiket pesawat dan hotel yang tidak jauh dari lokasi acara Alisa. "Kalian berdua ini benar-benar ya, mau kasih kejutan saja harus pakai strategi militer segala," gerutu Damar sambil membantu Satria merapikan setelan jas barunya yang akan dipakai di acara nanti. Satria hanya tertawa, ia merasa sangat bersemangat. Ia sudah membayangkan wajah terkejut Alisa saat melihatnya muncul di antara kerumunan orang kota.
Hari peluncuran pun tiba. Toko buku itu didekorasi dengan sangat manis, penuh dengan kutipan-kutipan dari novel Alisa. Alisa berdiri di depan, mengenakan gaun sederhana berwarna biru laut yang membuatnya tampak sangat anggun namun tetap bersahaja. Ia mulai berbicara di depan mikrofon, menceritakan proses kreatifnya di tengah hutan dan bagaimana dukungan dari orang-orang terdekatnya menjadi bahan bakar utama. "Buku ini adalah tentang jarak yang tidak pernah benar-benar menjauhkan dua jiwa. Tentang sinyal yang tetap kuat meski badai datang menghantam. Saya mendedikasikan buku ini untuk dua ksatria dalam hidup saya yang mengajarkan bahwa melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tinggi," ucap Alisa dengan suara yang sedikit bergetar karena haru. Para hadirin bertepuk tangan, namun mata Alisa terus mencari-cari di antara kerumunan, berharap ada sosok yang ia kenali.
Saat sesi tanya jawab dimulai, seorang pria dari barisan belakang berdiri. Ia mengenakan jaket kulit cokelat dan kacamata hitam yang tampak sangat tidak asing bagi Alisa. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang lebih muda dengan kemeja flanel biru yang sangat rapi—kemeja yang sama yang dipakai Satria saat makan malam di rumah dinas dulu. Jantung Alisa seolah berhenti berdetak saat kedua pria itu melepas kacamata mereka secara bersamaan. Itu adalah Ayahnya dan Satria. Cakra berdiri dengan tegak, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak melunak dengan binar kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan. Di sampingnya, Satria memberikan hormat kecil yang hanya bisa dipahami oleh Alisa, lalu diikuti dengan sebuah senyum lebar yang sangat menawan.
"Saya ingin bertanya pada penulis," suara Cakra terdengar berat dan memenuhi ruangan, membuat orang-orang menoleh ke arahnya. "Apakah ksatria di dalam buku ini akhirnya diizinkan untuk tetap menjaga frekuensi itu selamanya, atau dia harus menunggu perintah baru?" Seluruh ruangan menjadi hening, mereka tidak tahu bahwa ini adalah percakapan pribadi yang sangat emosional. Alisa menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia mengalir deras di pipinya. Ia tidak bisa berkata-kata, ia hanya mengangguk berkali-kali. Cakra kemudian berjalan mendekat ke arah panggung, diikuti oleh Satria yang membawa sebuket bunga matahari kesukaan Alisa.
Cakra memeluk putrinya di depan semua orang, sebuah pelukan yang hangat dan penuh penebusan dosa masa lalu. "Ayah bangga sekali padamu, Alisa. Kamu benar, pangkalanmu bukan lagi di hutan sana, pangkalanmu adalah di mana pun tulisanmu dibaca," bisik Cakra pelan. Setelah melepaskan pelukan Ayahnya, Alisa menatap Satria yang berdiri di hadapannya. Satria menyerahkan bunga itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Selamat ya, Alisa. Frekuensi di pangkalan jadi sedikit kacau karena aku terus memikirkan hari ini. Ternyata Jakarta memang membuatmu jadi ksatria yang hebat," ujar Satria lembut. Alisa tersenyum di balik tangisnya. "Terima kasih sudah datang, Kak Satria. Terima kasih sudah melepaskan aku supaya aku bisa pulang lagi ke Kakak."
Acara itu berakhir dengan penuh kehangatan. Banyak pembaca yang terharu melihat interaksi mereka, bahkan beberapa jurnalis sibuk mengambil foto momen langka tersebut. Malam harinya, mereka bertiga makan malam di sebuah restoran yang tenang di Jakarta. Tidak ada lagi interogasi militer, yang ada hanyalah obrolan santai tentang masa depan. Cakra bercerita bahwa ia sudah memutuskan untuk membeli sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang tidak terlalu jauh dari Jakarta setelah pensiun nanti, agar Alisa tetap bisa mengunjunginya setiap akhir pekan. Satria sendiri mengabarkan bahwa ia sedang dipertimbangkan untuk mutasi ke markas besar di Jakarta agar bisa lebih dekat dengan pusat pengembangan teknologi komunikasi—dan tentu saja, lebih dekat dengan Alisa.
"Jadi, Kakak bakal pindah ke Jakarta juga?" tanya Alisa dengan mata berbinar. Satria melirik Cakra sejenak, seolah meminta izin secara tersirat. Cakra hanya berdehem sambil memotong steak-nya, lalu berkata tanpa melihat ke arah mereka, "Ya, selama dia tidak mengabaikan tugas negaranya hanya untuk menunggumu menulis bab baru di kafe, aku rasa itu keputusan yang logis." Alisa dan Satria tertawa bersama, suara tawa yang kini tidak lagi terhalang oleh gangguan sinyal atau jarak geografis. Di bawah gemerlap lampu Jakarta, Alisa menyadari bahwa impiannya tidak hancur; impian itu justru mekar dengan cara yang paling indah. Ia telah memenangkan hatinya, ia telah mendapatkan restu Ayahnya, dan ia telah menemukan teman seperjalanan yang frekuensinya akan selalu sama dengan miliknya.
Perjalanan panjang dari sebuah pangkalan terpencil di tengah hutan hingga ke panggung sastra di ibu kota telah mengajarkan Alisa banyak hal. Ia belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling lama menahan, tapi tentang siapa yang paling berani memberikan ruang untuk tumbuh. Ia menatap Ayahnya yang kini lebih banyak tersenyum, lalu menatap Satria yang sedang bercerita tentang rencana teknologi masa depannya. Alisa meraih buku birunya yang selalu ia bawa, lalu menuliskan satu kalimat pendek di halaman paling belakang sebagai penutup perjalanan batinnya: "Pangkalan mungkin statis, tapi hati selalu punya cara untuk berpindah dan menemukan rumahnya yang baru." Dan malam itu, di tengah hiruk pikuk Jakarta, Alisa akhirnya merasa benar-benar telah sampai di rumah.
Bagi Satria, melihat Alisa sukses adalah kemenangan terbesarnya sebagai seorang ksatria. Ia tahu bahwa perannya kini bukan lagi sekadar menjemput Alisa di tengah badai atau memperbaiki jalur internetnya. Perannya kini adalah menjadi pendengar setia dari setiap cerita yang akan dilahirkan oleh jemari Alisa. Ia tahu bahwa hubungan mereka akan terus menghadapi tantangan baru, tapi ia tidak takut. Selama ia masih bisa melihat senyum Alisa dan mendengar panggilan "Kakak" yang tulus itu, ia yakin bahwa frekuensi mereka akan tetap stabil, menembus jarak, menembus waktu, dan menembus segala keterbatasan yang ada. Mereka berdua adalah bukti bahwa di tangan orang-orang yang tepat, teknologi dan rasa bisa menyatu menjadi sebuah harmoni yang abadi.