NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Hampir

Berjalan di dua dunia itu melelahkan, lebih menguras tenaga daripada latihan halang rintang di lapangan hitam. Pagi tadi, aku masih berdiri kaku di depan cermin barak, merapikan baret hijauku dan memastikan atribut Prada-ku terpasang simetris. Di divisi Penerangan, aku adalah pengumpul data, fotografer, dan pembuat narasi untuk citra Angkatan Darat. Tapi sore ini, aku kembali menjadi Sanca si mahasiswa sastra yang mengenakan kemeja kotak-kotak biru, duduk di hadapan Alisa yang masih saja tenggelam dalam dunianya sendiri. Rahasiaku ini terasa seperti ranjau yang bisa meledak kapan saja, terutama saat aku menyadari tatapan Alisa mulai berubah. Dia bukan lagi sekadar menatap kosong, tapi mulai memindai detail-detail kecil dariku yang sulit disembunyikan meski sudah kututup rapat-rapat.

"San, kenapa jam tanganmu selalu diset di format dua puluh empat jam? Dan kenapa kamu selalu datang tepat waktu, bahkan sebelum menitnya lewat satu pun?" tanya Alisa tiba-tiba saat kami sedang mengoreksi draf bab delapan. Pertanyaan itu membuat jantungku berdegup kencang, frekuensi yang jauh lebih cepat daripada saat aku menghadap Komandan Batalyon. Aku mencoba tetap tenang, menyesap kopi pahitku perlahan untuk mengulur waktu. "Oh, itu cuma kebiasaan lama, Lis. Biar nggak telat kelas saja. Lagian, menghargai waktu itu kan bagian dari estetika hidup, bukan?" jawabku sambil terkekeh ringan, mencoba membuang kesan formal. Namun, Alisa tidak tersenyum. Dia menatap tanganku yang secara refleks diletakkan di atas lutut dengan posisi tegak, sikap duduk yang sudah mendarah daging bagi seorang prajurit.

Kecurigaan Alisa bukan tanpa alasan. Kadang, insting militeryu keluar tanpa sadar. Seperti saat kemarin ada suara ban pecah di depan kafe yang menggelegar seperti tembakan, aku secara otomatis berdiri dan langsung memposisikan diri untuk melindunginya, menatap ke arah sumber suara dengan mata yang tajam dan waspada. Alisa hanya menatapku bingung waktu itu, dan aku hanya bisa beralasan kalau aku kaget. Aku jengah dengan diriku sendiri. Kenapa sulit sekali membuang identitas Prada Sanca ini di depan wanita yang sedang alergi pada segala hal berbau doreng? Aku hanya tidak ingin dia melihatku sebagai bagian dari instansi yang memberinya undangan pernikahan emas itu. Aku ingin menjadi tempatnya bersembunyi dari militer, bukan pengingat akan hal itu.

Masalah makin pelik saat Mayor Cakra mulai sering muncul di Kopi Aksara secara mendadak. Ayahnya itu punya radar yang sangat tajam, khas seorang perwira menengah yang sudah kenyang makan asam garam di lapangan. Suatu sore, saat aku sedang membantu Alisa merapikan bukunya, Mayor Cakra datang dengan seragam PDU lengkap, baru saja pulang dari Mabes. Aku yang sedang memegang naskah langsung berdiri tegak, hampir saja aku melakukan hormat militer kalau tidak segera sadar dan menggantinya dengan anggukan sopan. Mayor Cakra menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pandangannya berhenti cukup lama pada rambut cepakku yang selalu rapi. "Kamu mahasiswa sastra, tapi potongan rambutmu lebih mirip taruna tingkat akhir, Sanca," ujar Mayor Cakra dengan suara baritonnya yang mengintimidasi.

"Lapor, eh, maksud saya... iya Om, saya lebih suka begini biar praktis dan nggak gerah kalau lagi nulis," jawabku dengan nada bicara yang hampir saja tergelincir ke gaya laporan formal. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungku. Alisa hanya memperhatikan interaksi kami dengan dahi berkerut. Dia pasti merasa ada yang aneh dengan cara komunikasiku dan Ayahnya yang seolah punya kode-kode tertentu yang tidak ia pahami. Mayor Cakra tidak bicara banyak setelah itu, tapi ia terus memantauku sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Di matanya, aku mungkin terlihat seperti ancaman baru, atau mungkin dia mulai mengenali "bau" prajurit yang masih menempel di pori-pori kulitku meskipun aku sudah mandi berulang kali dengan sabun aroma kopi.

Setelah Ayahnya pergi, Alisa kembali mengajakku bicara, tapi kali ini suaranya lebih serius. "San, jujur deh. Kamu itu siapa sebenarnya? Kenapa cara bicaramu sama Ayah mirip banget sama orang-orang di batalyon dulu? Dan kenapa kamu selalu tahu jalan tikus menuju Mabes lewat belakang yang bahkan aku saja nggak tahu?" Aku terdiam, menatap Alisa yang kini menuntut jawaban jujur. Inilah saat yang paling aku takuti. Aku merasa seperti mata-mata yang tertangkap basah di wilayah lawan. "Lis, aku cuma Sanca. Teman nulis kamu. Soal jalan tikus, kan aku sering cari referensi buat naskah kita, jadi aku survei lokasi juga," jawabku berbohong untuk kesekian kalinya. Rasanya perih harus terus membohonginya, tapi melihat luka di matanya yang belum sembuh total, aku belum punya keberanian untuk mengakui bahwa aku adalah Prada Sanca dari Divisi Penerangan.

Kondisi ini membuatku semakin sulit untuk menyendiri bersamanya. Aku merasa diawasi oleh dua pihak sekaligus: Mayor Cakra yang curiga dan Alisa yang mulai mencari tahu. Di sisi lain, tugas di batalyon semakin padat karena ada acara besar kunjungan Panglima. Aku harus pandai-pandai mengatur jadwal agar tidak berpapasan dengan keluarga Alisa di lingkungan Mabes. Pernah sekali, aku sedang memegang kamera DSLR besar dengan seragam doreng lengkap saat mengabadikan momen apel pagi, dan dari jauh aku melihat mobil dinas Mayor Cakra melintas. Aku langsung bersembunyi di balik tiang bendera, jantungku berdegup kencang. Rasanya konyol, aku prajurit negara tapi harus sembunyi-sembunyi seperti pencuri hanya karena masalah hati.

Ketegangan ini mulai memengaruhi kinerjaku di kafe dan di proyek tulisan kami. Aku jadi sering melamun, memikirkan bagaimana kalau suatu saat Alisa tahu segalanya. Apakah dia akan merasa dikhianati lagi? Apakah dia akan menganggapku sama saja dengan Satria yang penuh dengan rahasia dan kedinginan? Padahal niatku hanya satu, menjaganya tanpa memberikan beban atribut. "Kamu kok melamun terus sih, San? Tuh, kopinya sampai dingin," tegur Alisa sambil menyentuh bahuku pelan. Aku tersentak, lalu menatap tangannya yang ada di bahuku. Ada rasa hangat yang menjalar, tapi juga rasa bersalah yang semakin membesar. "Nggak apa-apa, Lis. Cuma lagi kepikiran tugas kuliah yang numpuk aja," kataku sambil tersenyum paksa.

Aku tahu Alisa tidak sepenuhnya percaya. Dia wanita yang cerdas, seorang penulis yang biasa membaca karakter di balik kata-kata. Dia pasti menyadari bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang aku tutup-tutupi. Tapi untuk sekarang, dia memilih untuk diam dan tidak mendesakku lebih jauh. Aku kembali ke barak malam itu dengan perasaan campur aduk. Aku melepaskan kemeja flanelku dan kembali mengenakan kaos hijau militer, duduk di pinggir dipan sambil menatap kompas kecil di tanganku. Aku adalah Prada Sanca, seorang prajurit biasa yang sedang jatuh cinta pada putri seorang Mayor, dan sedang terjebak dalam penyamaran yang paling sulit dalam hidupku. Aku hanya berharap, saat kebenaran itu akhirnya terungkap, Alisa sudah cukup kuat untuk mengerti bahwa tidak semua seragam membawa luka, dan tidak semua rahasia berarti pengkhianatan.

Malam semakin larut di batalyon, tapi mataku sulit terpejam. Aku teringat satu bagian di draf novel Alisa tentang seseorang yang kehilangan arah karena kompasnya rusak. Aku ingin sekali bilang padanya bahwa aku adalah kompas baru yang sedang ia cari, tapi kompas ini punya lencana tersembunyi di balik casing-nya. Aku harus terus bertahan, memainkan peran ini sampai waktunya tepat. Karena bagiku, misi melindungi Alisa jauh lebih penting daripada kenaikan pangkat apa pun. Aku akan tetap menjadi Sanca si penulis di siang hari, dan Prada Sanca yang menjaga kedaulatan serta menjaga rahasia di malam hari, hingga frekuensi kami benar-benar selaras tanpa ada lagi kebohongan yang menghalangi.

1
panjul man09
jangan kelamaan sedihnya thor, munculkan tokoh baru biar lebih berwarna
kaka_21: sabar mass, masih panjang ini (kaka21)
total 1 replies
panjul man09
kasian alisa /Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
semoga alisa dipertemukan dgn orang yg segala galanya jauh diatas satria sampai satria tidak ada apa2nya
panjul man09
alisa pandai meredam cemburu satria 👍
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
kaka_21: aamiin,inshaallah (bims41)
total 1 replies
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
kaka_21: terimakasih kakak (kaka21)
total 1 replies
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
kaka_21: sabarr...
total 1 replies
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
kaka_21: jangan dong kakak,cakra udah cinta mati sama shifa
total 1 replies
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
kaka_21: alhamdulillah,terimakasih kakak (kaka21)
total 1 replies
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
kaka_21: lanjut kakak (bims41)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!