Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Balas Dendam
Tiga Tahun Kemudian
Raka berdiri di depan kompor dengan wajah yang lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap, tanda tidur yang tidak berkualitas selama bertahun-tahun. Rambutnya yang dulu selalu rapi, sekarang sedikit berantakan. Tubuhnya lebih kurus dari tiga tahun lalu.
Ia sedang memasak nasi goreng, sudah yang kesekian kalinya ia coba, dan kali ini akhirnya berhasil. Tidak terlalu asin, tidak gosong, warnanya pas.
Ia tersenyum tipis, senyuman yang lelah tapi penuh harap.
"Mungkin kali ini Nadira akan suka. Mungkin kali ini dia akan tersenyum."
Tiga tahun.
Tiga tahun sudah berlalu sejak Nadira pulih dari amnesianya.
Tiga tahun Raka hidup dalam neraka yang ia ciptakan sendiri.
Dulu... bertahun-tahun lalu Nadira yang mengemis padanya. Nadira yang memohon cintanya. Nadira yang menunggu dengan sabar, berharap Raka akan menikahi dia.
Dan apa yang Raka lakukan? Ia menolak. Berkali-kali. Dengan alasan yang sama. Dengan dingin. Tanpa empati.
Sekarang, posisi mereka terbalik.
Sekarang Raka yang mengemis. Raka yang memohon. Raka yang menunggu dengan sabar, berharap Nadira akan menatapnya lagi dengan mata yang penuh cinta seperti dulu.
Tapi tidak pernah terjadi.
Selama tiga tahun ini, mereka hidup satu rumah, tinggal satu atap. Tapi seolah hidup di dua dunia yang berbeda.
Nadira tidak pernah bicara lebih dari yang perlu. Tidak pernah menatap Raka dengan hangat. Tidak pernah tersenyum. Tidak pernah menyentuh.
Selalu ada tembok, tembok tinggi yang tidak bisa Raka tembus, tidak peduli seberapa keras ia berusaha.
Setiap pagi, Raka menyiapkan sarapan. Nadira makan tanpa berterima kasih.
Setiap siang, Raka menelepon untuk bertanya apa yang Nadira inginkan untuk makan malam. Nadira menjawab singkat atau tidak menjawab sama sekali.
Setiap malam, Raka duduk di ruang tamu sendirian, sementara Nadira mengunci diri di kamar.
Mereka seperti dua orang asing yang terpaksa hidup bersama.
Dan itu menyiksa Raka lebih dari apapun.
Tapi ia tidak menyerah. Tidak pernah.
Karena ia yakin... ia yakin suatu hari nanti, cinta tulusnya akan menembus dinginnya hati Nadira yang membeku.
Suatu hari nanti.
---
Raka selesai memasak. Ia menata nasi goreng itu di dua piring dengan hati-hati, lalu membawanya ke meja makan.
"Dira, sarapan sudah siap," panggilnya dengan suara lembut.
Tidak ada jawaban.
Seperti biasa.
Raka menunggu beberapa menit, lalu mendengar suara pintu kamar terbuka.
Nadira keluar dengan pakaian yang rapi,dress hitam sederhana, rambutnya diikat ke belakang. Wajahnya datar, seperti biasa.
Tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Raka tidak bisa menjelaskannya. Tapi ada sesuatu di tatapan Nadira, sesuatu yang... final.
Nadira duduk di meja makan tanpa menatap Raka. Ia makan dengan tenang... tidak cepat, tidak lambat. Seperti biasa.
Raka duduk di seberangnya, menatap Nadira dengan tatapan penuh harap.
"Gimana rasanya? Enak nggak?" tanya Raka dengan senyuman, senyuman yang selalu ia tunjukkan meski jarang mendapat balasan.
Nadira tidak menjawab. Ia hanya terus makan.
Raka tidak kecewa. Ia sudah terbiasa.
Setelah selesai makan, Nadira berdiri tanpa berkata apa-apa, lalu kembali ke kamar.
Raka membereskan piring-piring kotor dengan hati yang... aneh. Ada perasaan tidak enak yang ia tidak bisa jelaskan.
Tapi ia mengabaikannya.
Siang hari, Raka berangkat ke kantor seperti biasa. Ia bekerja dengan fokus, menyelesaikan laporan, meeting dengan klien, mengurus proyek.
Tapi pikirannya terus melayang pada Nadira.
Ada sesuatu yang berbeda tadi pagi. Ia bisa merasakannya.
Berkali-kali ia meraih ponselnya, ingin menelepon Nadira, ingin bertanya apa yang terjadi.
Tapi ia tidak jadi. Ia takut Nadira akan semakin kesal.
Jadi ia hanya bekerja... sambil terus merasakan kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.
Sore hari, Raka pulang lebih cepat dari biasanya. Ia membeli bunga mawar putih, bunga favorit Nadira dulu dan kue kering yang enak.
Mungkin, hanya mungkin hari ini Nadira akan tersenyum.
Ia sampai di apartemen dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Ia membuka pintu dengan kunci, lalu berhenti.
Apartemen itu... sunyi.
Terlalu sunyi.
"Dira?" panggilnya sambil melangkah masuk. "Aku pulang."
Tidak ada jawaban.
Raka meletakkan bunga dan kue di meja, lalu berjalan cepat ke kamar.
"Dira, kamu di kamar?"
Ia membuka pintu kamar... dan jantungnya langsung berhenti.
Kamar itu... kosong.
Lemari terbuka... kosong. Tidak ada pakaian Nadira.
Meja rias... kosong. Tidak ada kosmetik, tidak ada sisir, tidak ada apapun.
Raka menatap ruangan itu dengan tatapan tidak percaya. Napasnya tertahan.
"Tidak... tidak mungkin..." bisiknya dengan suara gemetar.
Ia berlari ke kamar mandi... kosong.
Ia berlari ke balkon... kosong.
Nadira tidak ada.
Lalu matanya menangkap sesuatu di atas meja samping ranjang.
Sebuah amplop putih.
Dengan tangan gemetar, Raka meraih amplop itu. Ia membukanya dengan susah payah, tangannya gemetar hebat.
Di dalam ada secarik kertas, tulisan tangan Nadira yang rapi.
Raka mulai membaca dan dengan setiap kata, dunianya semakin runtuh.
---
Raka,
Saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi.
Tiga tahun. Tiga tahun aku hidup bersamamu dalam keheningan. Tiga tahun aku membiarkanmu menderita... sama seperti yang kamu lakukan padaku dulu.
Aku tidak pernah menutup diri karena sakit hati, Raka. Aku menutup diri karena aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin kamu merasakan bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu balik.
Dan sekarang... sekarang aku rasa kita sudah impas.
Kamu membunuh anakku. Kamu menghancurkan hidupku. Dan aku sudah membuat kamu menderita selama tiga tahun.
Hutang sudah lunas.
Hari ini, tepat empat tahun kematian anak kita. Dan tepat tiga tahun sejak aku memutuskan untuk membalas dendamku.
Sekarang, aku pergi. Aku pergi meninggalkan semua kenangan pahit ini. Meninggalkan kamu. Meninggalkan apartemen ini. Meninggalkan semuanya.
Jangan cari aku. Karena aku tidak akan kembali.
Selamat tinggal, Raka. Semoga kamu menemukan kebahagiaan... meski bukan bersamaku.
Nadira
---
Kertas itu jatuh dari tangan Raka yang gemetar.
Ia berdiri di sana, di tengah kamar yang kosong dengan tatapan yang kosong.
Lalu perlahan, lututnya lemas.
Ia jatuh berlutut di lantai, menatap kosong ke depan.
"Tidak..." bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Tidak... Nadira..."
Lalu tangisannya pecah, tangisan yang sangat keras, sangat memilukan.
"NADIRAAAA!!!"
Teriakan itu bergema di apartemen yang kosong, apartemen yang dulu penuh kehangatan, sekarang hanya dingin dan sepi.
Raka menangis dengan tangisan yang menghancurkan. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram lantai dengan erat.
"Kumohon... kumohon jangan tinggalkan aku..." isaknya di antara tangisan. "Aku minta maaf... aku minta maaf, Nadira..."
Tapi tidak ada yang menjawab.
Hanya kesunyian yang menyiksa.
Raka meraih kertas surat itu lagi.. membacanya berkali-kali, berharap ada sesuatu yang ia lewatkan, berharap ini hanya mimpi buruk.
Tapi tidak.
Nadira benar-benar pergi.
Dan kali ini Raka tahu... ia tidak akan pernah kembali.
Di apartemen yang kosong, Raka masih berlutut di lantai.
Ia menatap bunga mawar putih yang ia beli tadi, bunga yang sekarang tergeletak di meja, tidak tersentuh.
Dan ia menangis untuk kehilangan yang kedua kali.
Kehilangan yang lebih menyakitkan dari yang pertama.
Karena kali ini, Nadira pergi dengan kesadaran penuh.
Nadira pergi dengan pilihan.
Nadira pergi... dan tidak akan pernah kembali.
Dan Raka hanya bisa menangis dengan penyesalan yang akan ia bawa seumur hidupnya.
Penyesalan karena mencintai terlambat.
Penyesalan karena menyadari terlambat.
Penyesalan karena kehilangan cinta yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi.
---
Di bandara, Nadira duduk di kursi tunggu dengan tas kecil di sampingnya. Paspor di tangannya terbuka, tiket pesawat menuju London sudah siap.
Ia menatap kosong ke depan, menatap orang-orang yang berlalu lalang dengan wajah yang datar.
Tidak ada air mata. Tidak ada kesedihan.
Hanya... kekosongan.
Pengumuman terdengar dari speaker: "Penumpang penerbangan GA-881 tujuan London, dimohon untuk segera menuju gate 12."
Nadira berdiri dengan gerakan yang lambat. Ia meraih tasnya, lalu berjalan menuju gate dengan langkah yang tenang.
Saat melewati jendela besar yang memperlihatkan landasan pacu, ia berhenti sejenak.
Menatap kota Jakarta yang terhampar di kejauhan, kota yang menyimpan semua kenangan pahitnya.
"Selamat tinggal," bisiknya pelan.
Lalu ia berbalik dan berjalan masuk ke gate, meninggalkan Jakarta, meninggalkan Raka, meninggalkan semuanya.
Untuk selamanya.
— TAMAT —
---
Cinta yang disia-siakan tidak akan pernah kembali utuh, bahkan ketika penyesalan datang, bahkan ketika air mata mengalir, bahkan ketika hati berteriak memohon pengampunan.
Karena ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.
Ada cinta yang terlalu hancur untuk diperbaiki.
Dan ada orang yang memilih untuk pergi, bukan karena tidak pernah mencintai, tapi karena mencintai sudah terlalu menyakitkan.
— Akhir Kisah Raka dan Nadira —