NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Diagnosis: Gengsi Stadium 4

​Menemukan makanan "400 kalori, tanpa minyak, tanpa santan, tanpa rasa bahagia" di sekitar RS Citra Harapan ternyata lebih sulit daripada mencari pembuluh darah vena pada pasien dehidrasi berat.

​Kantin rumah sakit hanya menjual tiga jenis makanan: digoreng, disantan, atau keduanya.

​Akhirnya, dengan putus asa, Rania menerobos masuk ke Dapur Gizi Rumah Sakit. Dia memohon pada Ibu Kantin untuk memberinya jatah makanan pasien diet jantung: Dada ayam rebus pucat, brokoli kukus tanpa garam, dan kentang rebus.

​"Ini buat pasien kamar berapa, Dok?" tanya Ibu Kantin curiga.

​"Buat pasien VIP di lantai 4. Kasus gawat darurat narsistik," jawab Rania asal sambil menyambar kotak makan styrofoam.

​Dengan menenteng kantong plastik kresek hitam (karena dia menolak membawa tas kertas cantik), Rania naik ke lantai 4.

​Begitu pintu lift terbuka di lantai 4, Rania seperti melangkah ke dimensi lain.

​Tidak ada bau antiseptik yang menyengat. Tidak ada lantai keramik retak. Lantai 4—yang baru saja direnovasi kilat—berlantaikan marmer putih. Dindingnya dicat warna cream lembut dengan aksen emas. Ada alunan musik instrumental piano yang menenangkan, dan aromaterapi lemongrass menguar di udara.

​Papan nama di depan pintu kaca besar bertuliskan: AURA CLINIC - Aesthetic & Wellness Center.

​"Gila," gumam Rania. "Ini rumah sakit apa lobi hotel?"

​Resepsionis cantik berseragam batik sutra menyapanya. "Selamat siang, ada yang bisa dibantu?"

​"Mau antar... catering buat Dr. Adrian," kata Rania sambil mengangkat kresek hitamnya. Kontras sekali dengan dekorasi ruangan itu.

​"Oh, silakan. Dokter sudah menunggu di ruangannya. Pintu paling ujung."

​Rania berjalan melewati lorong mewah itu. Dia melihat ruang tunggu dengan sofa beludru, majalah Vogue di atas meja kaca, dan dispenser air yang isinya bukan air galon biasa, tapi infused water dengan potongan lemon dan mentimun.

​Rania mengetuk pintu mahoni besar di ujung lorong.

​"Masuk," suara bariton itu terdengar.

​Rania membuka pintu. Ruangan Adrian luasnya dua kali lipat ruang jaga dokter UGD yang dipakai beramai-ramai. Di belakang meja kerjanya yang besar dan bersih, Adrian sedang membaca jurnal medis di iPad.

​Dia sudah berganti pakaian. Kemeja navy blue yang pas badan, lengan digulung sampai siku, menampakkan jam tangan yang harganya mungkin bisa buat DP rumah.

​"Lama sekali," komentar Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari iPad. "Saya sudah hampir memakan tanaman hias di pojok sana karena kelaparan."

​Rania meletakkan bungkusan styrofoam itu di meja kaca depan sofa tamu. "Bersyukurlah gue nggak ngeracunin makanan lo. Nih. Dada ayam rebus dan brokoli. Tanpa rasa, persis kayak hidup lo."

​Adrian bangkit, berjalan menuju sofa, dan duduk dengan anggun. Dia membuka kotak styrofoam itu. Uap berbau hambar mengepul keluar.

​Adrian menatap ayam pucat itu sejenak. "Presentasi makanan: nol besar. Tapi nilai gizi: memenuhi syarat."

​Dia mengambil sendok plastik, mematahkan ujungnya sedikit karena terlalu rapuh, lalu mulai makan. Tidak ada keluhan. Dia makan dengan tenang dan efisien.

​Rania berniat langsung pergi, tapi kakinya terasa berat. Ada rasa penasaran yang menggelitik. Dia duduk di sofa seberang Adrian, mengamati pria itu makan makanan hambar tanpa ekspresi.

​"Enak?" tanya Rania sinis.

​"Makanan itu bahan bakar, Rania. Bukan hiburan," jawab Adrian datar. Dia menelan kunyahannya, lalu menatap Rania. "Kenapa masih di sini? Mau minta tanda tangan?"

​"Gue cuma mau mastiin lo nggak keselek tulang ayam. Nanti gue yang repot harus heimlich maneuver."

​Hening sejenak. Hanya suara denting sendok plastik beradu dengan styrofoam.

​"Lo berubah, Ad," kata Rania tiba-tiba, suaranya lebih pelan. "Dulu pas kuliah, lo paling doyan makan bakmi ayam pinggir jalan depan kampus. Yang minyak bumbunya banyak banget itu."

​Tangan Adrian terhenti di udara. Dia meletakkan sendoknya perlahan.

​"Orang berubah, Rania. Itu namanya evolusi," jawab Adrian dingin. "Kalau kita tidak berubah, kita punah."

​"Atau mungkin lo cuma lupa daratan," tembak Rania.

​Adrian menyandar ke sofa, menatap Rania lurus-lurus. Tatapan itu tajam, menusuk ke masa lalu.

​"Lupa daratan?" Adrian terkekeh, tapi tidak ada humor di sana. "Kamu bicara soal masa lalu? Masa lalu di mana kamu selalu menganggap saya cuma anak manja yang masuk kedokteran lewat jalur donasi? Masa lalu di mana kamu menolak belajar bareng saya karena takut 'ketularan bodoh'?"

​Rania tersentak. "Gue nggak pernah bilang gitu!"

​"Secara verbal? Tidak. Tapi tatapan kamu mengatakannya setiap hari selama 4 tahun kuliah," suara Adrian meninggi sedikit. "Ingat semester 5? Tugas presentasi bedah digestif?"

​Flashback - 7 Tahun Lalu. Perpustakaan Fakultas Kedokteran.

​Rania muda, dengan kacamata tebal dan rambut dikucir asal, sedang dikelilingi tumpukan buku tebal. Dia sedang stress berat menghadapi ujian blok.

​Adrian muda, yang saat itu sudah populer dan digandrungi mahasiswi satu angkatan, datang membawa dua gelas es kopi.

​"Ran," sapa Adrian ragu-ragu. "Boleh gabung? Gue dapet materi bagus soal kolesistektomi. Siapa tau bisa kita diskusiin buat tugas kelompok besok."

​Adrian meletakkan kopi itu di meja Rania. "Gue beliin kopi. Biar lo nggak ngantuk."

​Rania, yang sudah tidak tidur 24 jam dan sedang sensitif, menatap Adrian dengan pandangan terganggu.

​"Adrian, please deh," desah Rania kasar. "Gue lagi ngejar materi. Gue beasiswa, nilai gue harus A mutlak. Gue nggak punya waktu buat main-main atau pacaran kayak lo."

​"Gue nggak ngajak pacaran, gue ngajak belajar," bela Adrian, wajahnya memerah.

​"Belajar?" Rania tertawa remeh. "Lo cuma mau nyalin catetan gue kan? Karena lo sibuk pesta semalem? Sori ya, anak orang kaya kayak lo nggak bakal ngerti susahnya jadi gue. Mending lo cari cewek lain yang bisa lo tebarin pesona. Gue sibuk."

​Rania menggeser gelas kopi pemberian Adrian sampai nyaris jatuh dari meja. "Dan gue nggak minum kopi manis. Bikin bego."

​Adrian terdiam. Harga dirinya hancur berkeping-keping di tengah perpustakaan yang sunyi. Dia mengambil kembali kopinya, menatap Rania dengan tatapan terluka yang berubah menjadi dingin, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

​Besoknya, Adrian presentasi sendirian dengan materi yang jauh lebih brilian dari Rania, mendapatkan nilai tertinggi di angkatan, dan tidak pernah menyapa Rania lagi kecuali untuk hal formal.

​Kembali ke Masa Kini.

​Ruangan ber-AC itu terasa panas.

​Rania menelan ludah. Ingatan itu menghantamnya. Ya, dia ingat. Dia ingat betapa kasar mulutnya waktu itu karena insecure. Dia iri pada Adrian yang terlihat santai tapi nilainya bagus, sementara dia harus mati-matian belajar. Dia melampiaskan rasa insecure-nya dengan menghina Adrian.

​"Gue... gue waktu itu lagi stress berat, Ad," cicit Rania membela diri.

​"Alasan," potong Adrian. Dia menutup kotak makannya yang sudah kosong. "Intinya, Rania, kamu selalu menilai orang dari sampulnya. Dulu kamu pikir saya bodoh karena saya kaya dan rapi. Sekarang kamu pikir saya dokter palsu karena saya peduli estetika."

​Adrian berdiri, berjalan kembali ke meja kerjanya. Punggungnya tegak, membentuk dinding pertahanan yang kokoh.

​"Diagnosis kamu, Rania," kata Adrian tanpa menoleh, "adalah Gengsi Stadium 4. Kamu terlalu gengsi untuk mengakui bahwa orang lain bisa punya cara berbeda untuk sukses. Kamu merasa paling benar, paling menderita, paling 'dokter'."

​Rania terdiam. Kata-kata itu menohok tepat di ulu hati, lebih sakit daripada pukulan fisik.

​Dia ingin marah, ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Karena jauh di lubuk hatinya, dia tahu Adrian benar.

​Rania bangkit berdiri. "Oke. Makasih atas analisis psikiatrinya, Dok. Tagihan makan siangnya 25 ribu. Transfer aja."

​"Saya bayar tunai," Adrian membuka laci, mengambil selembar uang 50 ribu, dan meletakkannya di ujung meja. "Ambil kembaliannya. Anggap saja tip buat kurir yang judes."

​Rania menyambar uang itu dengan kasar. "Makasih!"

​Dia berbalik menuju pintu.

​"Rania," panggil Adrian saat tangan Rania menyentuh gagang pintu.

​Rania berhenti, tapi tidak menoleh.

​"Soal jas itu... lupakan saja. Anggap lunas. Saya tidak mau punya urusan hutang piutang dengan kamu."

​Rania mencengkeram gagang pintu erat-erat. "Baguslah. Gue juga nggak mau punya hutang sama lo."

​Rania keluar dari ruangan itu, membanting pintu sedikit lebih keras dari yang seharusnya.

​Di dalam ruangan, Adrian menghembuskan napas panjang. Dia memijat pelipisnya. Pertemuan dengan Rania selalu menguras energi.

​Dia membuka laci mejanya lagi. Di bagian paling dalam, tersembunyi di balik tumpukan berkas pasien, ada sebuah benda kecil.

​Sebuah pulpen tua yang tintanya sudah macet. Di badannya tertulis inisial 'R.W' (Rania Wijaya) yang diukir kasar pakai cutter. Pulpen yang Rania jatuhkan di perpustakaan 7 tahun lalu, di hari Adrian ditolak mentah-mentah.

​Adrian menatap pulpen itu sejenak, lalu menutup laci dengan keras.

​"Bodoh," gumamnya pada diri sendiri.

​Sementara di lorong lift, Rania bersandar di dinding marmer dingin. Dia menatap uang 50 ribu di tangannya.

​"Sialan lo, Adrian," bisik Rania, matanya terasa sedikit panas. "Kenapa lo harus bener sih?"

​Tepat saat itu, ponsel Rania berbunyi. Telepon dari UGD.

​"Dokter Rania! Pasien kecelakaan beruntun masuk! Tiga orang kritis! Kami butuh dokter bedah sekarang!"

​Rania langsung menegakkan tubuh. Wajah sendunya hilang seketika, digantikan oleh topeng "The Butcher". Dia memasukkan uang ke saku, mengikat rambutnya lebih kencang.

​"Siapkan ruang operasi. Saya turun sekarang."

​Drama pribadi harus ditunda. Ada nyawa yang harus diselamatkan.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!