"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Permata Adicandra
Alana masih terdiam membisu menatap undangan emas di tangannya.
Aroma kertas mewah itu tercium sangat harum, persis seperti uang yang baru keluar dari bank.
Seolah-olah, aroma itu membawa kabar tentang masa depan yang begitu cerah.
"Sudah, ayo pulang, Sayang. Hari sudah mulai gelap," ajak Raden lembut.
Raden merangkul pinggang Alana dengan posesif.
Ia menuntunnya keluar dari ruangan Kepala Klinik.
Sepanjang lorong klinik yang mewah itu, Alana sesekali menoleh ke kanan dan kiri.
Ia ingin memastikan bahwa semua ini bukan sekadar mimpi.
Saat mereka mulai melangkah keluar menuju lobi, beberapa staf masih terlihat sibuk.
Raden tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Alana.
Ia justru semakin mempereratnya, seolah ingin menunjukkan bahwa Alana adalah ratu di tempat ini.
"Selamat sore, Dokter Raden. Suster Alana," sapa petugas keamanan di depan pintu dengan hormat.
Raden hanya mengangguk pelan, sementara Alana membalas dengan senyuman manisnya.
Mereka lalu berjalan menuju mobil sport yang terparkir tepat di depan lobi.
Raden membukakan pintu untuk Alana, memastikan tunangannya itu duduk dengan nyaman.
Ia lalu memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.
Begitu pintu tertutup, suasana sunyi dan dinginnya AC mobil langsung menyelimuti mereka.
Namun, Raden tidak langsung menjalankan mobilnya.
Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa, hm? Aku lihat kamu dari tadi diam saja. Masih tidak percaya dengan semua ini?"
Alana menghela napas panjang.
Jarinya mengusap pinggiran undangan emas yang masih ia pegang.
"Aku hanya berpikir satu hal, Sayang. Rasanya baru kemarin aku dihina dan direndahkan karena sepatu kerjaku yang usang."
"Sekarang... aku memegang undangan pertunanganku sendiri dengan nama besar keluarga Adicandra di sana."
Raden meraih tangan Alana, mencium punggung tangannya dengan lembut.
Ia mulai menjalankan mobil membelah jalanan kota.
"Tenang, Sayang. Sepatu usang itu sudah tidak ada lagi sekarang."
"Yang ada hanya wanita hebat yang memimpin klinik ini dan menjadi pendamping hidupku selamanya," ucap Raden penuh keyakinan.
Tangan kiri Raden tetap menggenggam tangan Alana di atas persneling sepanjang perjalanan.
Sesekali ia mengelus pelan ibu jari Alana, memberikan ketenangan yang luar biasa.
"Ingat, Sayang, di mansion nanti aku yakin Papa dan Mama mungkin akan sedikit heboh."
"Soalnya mereka sangat bersemangat mempersiapkan pesta ini," lanjut Raden sambil terkekeh geli.
Begitu mobil memasuki gerbang mansion Adicandra yang menjulang tinggi, Alana melihat kesibukan luar biasa.
Beberapa truk dekorasi mulai menurunkan bunga-bunga segar yang aromanya tercium hingga ke dalam mobil.
Beberapa truk dekorasi mulai menurunkan bunga-bunga segar yang aromanya tercium hingga ke dalam mobil.
Begitu mereka masuk ke ruang utama, suasana hangat menyambut kedatangan mereka.
Ayah dan Ibu Alana sedang duduk santai bersama Papa Arsenio di ruang tengah.
Mereka tampak sedang berbincang dengan sangat akrab.
"Nah, ini dia pasangan calon pengantin kita sudah pulang!" seru Papa Arsenio dengan tawa berwibawa.
Mama Aristi kemudian muncul dengan wajah berseri-seri seolah habis menang lotre.
"Kalian tepat waktu. Ayo makan malam sudah siap. Kita bicara sambil makan."
Mereka akhirnya berkumpul di meja makan yang penuh dengan hidangan lezat.
Suasananya sangat hangat dan akrab, jauh dari kesan kaku keluarga konglomerat.
"Oh ya, Alana. Besok kamu tidak perlu pergi ke klinik dulu, ya?" ujar Mama Aristi di sela makan malam.
"Semua persiapan kecantikan dan fitting gaun harus dilakukan di sini."
Ibu Alana mengangguk setuju. "Iya, betul itu, Nak. Ikuti kata Mama Aristi."
"Kamu harus banyak istirahat supaya tidak pucat dan tampil lebih cantik di hari-H nanti."
Makan malam diisi dengan canda tawa antara Papa Arsenio dan Ayah Alana yang ternyata punya hobi yang sama.
"Sudah malam, Alana. Sebaiknya kamu masuk kamar dan istirahat," ucap Ibu Alana lembut.
"Iya, Bu. Alana permisi masuk kamar dulu ya Pa, Ma, Yah," jawab Alana sopan sambil berdiri.
Raden ikut berdiri dan mengantar Alana sampai ke depan pintu kamarnya.
Mereka sengaja melangkah pelan agar bisa menikmati waktu berdua sedikit lebih lama.
Sesampainya di depan pintu, Alana berbalik menatap Raden.
"Terima kasih untuk hari ini, Sayang. Klinik itu... benar-benar hadiah yang luar biasa."
Raden tersenyum, tangannya terangkat mengusap pipi gembul Alana.
"Tidurlah yang nyenyak, Bos Kecil. Besok akan jadi hari yang panjang untukmu."
"Kamu juga harus banyak beristirahat. Jangan terlalu sering begadang," pesan Alana perhatian.
"Siap, Tuan Putri," goda Raden.
Raden sedikit mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Alana cukup lama.
Ia seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya untuk wanita itu.
"Mimpi indah, Sayang," bisik Raden sebelum membiarkan Alana masuk ke kamar.
Keesokan paginya, Alana terbangun bukan karena alarm, melainkan ketukan pintu.
Tim desainer ternama datang membawa beberapa koper berisi gaun mahal.
Salah satu asisten bernama Siska tampak menatap Alana dengan sebelah mata.
Ia mengira Alana hanyalah wanita beruntung yang tidak mengerti soal mode.
"Maaf, ini gaun-gaun mahal. Tolong dijaga, ini sutra asli," ucap Siska meremehkan saat Alana menyentuh kainnya.
Ibu Alana yang sedang membawakan minuman langsung terdiam di ambang pintu.
Wajahnya berubah tidak enak karena merasa putrinya diremehkan.
Melihat raut wajah ibunya, tatapan Alana langsung berubah sedingin es.
"Apa Anda ini Nona Siska?" tanya Alana tenang namun menusuk.
Siska menoleh malas. "Ya? Kenapa memangnya?"
"Bekerja di butik mewah seharusnya membuatmu tahu cara melayani pelanggan dengan benar."
"Bukan justru menunjukkan sikap rendahan seperti ini," ucap Alana telak.
"Mau gaun ini terbuat dari jutaan sutra emas sekalipun, nilainya tidak akan lebih tinggi dari harga diri ibu saya."
"Harga diri yang baru saja kamu abaikan," lanjut Alana tajam.
Siska tersentak. Wajahnya memerah karena malu di depan rekan-rekannya yang lain.
"Ma-maaf, saya tidak bermaksud..."
"Lanjutkan pekerjaanmu dengan mulut tertutup."
"Atau saya akan meminta Mama Aristi membatalkan kontrak dengan butik kalian sekarang juga," ancam Alana.
Siska langsung menunduk dan bekerja dengan sangat rajin.
Ibu Alana tersenyum bangga melihat ketegasan putrinya.
Setelah beberapa jam, sesi fitting pun berakhir.
Desainer utama dan timnya—termasuk Siska yang kini pucat—mulai merapikan barang mereka.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Bu Alana. Gaunnya akan segera kami selesaikan."
Alana mengangguk elegan, mengantarkan mereka sampai ke pintu kamar.
Pelayan mansion kemudian memandu mereka untuk keluar dari gedung rumah.
Alana menghela napas lega. Akhirnya suasana kamarnya kembali tenang seperti semula.
Sore harinya, Raden kembali dari rumah sakit dan langsung menuju kamar Alana.
Ia tertegun di depan pintu melihat Alana yang tampak jauh lebih berwibawa.
"Aku dengar tadi ada yang baru saja memberikan pelajaran di sini?" goda Raden sambil memeluk Alana dari belakang.
"Hanya sedikit menertibkan debu, Sayang," jawab Alana sambil bersandar di dada bidang tunangannya.
Raden mencium bibir Alana singkat dengan wajah penuh kebanggaan.
"Dua hari lagi, Alana."
"Bersiaplah untuk membuat mereka semua bertekuk lutut tanpa kata-kata."
****
Catatan Penulis:
Mampus! Si Siska langsung kena mental sama Alana! Alana sekarang nggak akan biarkan siapa pun meremehkan keluarganya. Siap-siap buat kejutan di hari pertunangan nanti, ya!
Mohon maaf ya guys, hari ini gue telat update dari jam 12.17 biasanya karena ada kendala teknis. Terima kasih sudah setia menunggu!
Jangan lupa mampir ke novel baru gue: 👉 "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri"
Ketemu sama Zia, dokter sekaligus pengacara yang hobi bikin suaminya si bos mafia kena mental karena tingkahnya yang latah dan barbar! Langsung ke profil gue dan 'Favoritkan' ya! 🔥✨