Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 35.
Hujan turun makin deras malam itu.
Nara duduk di tepi ranjang, masih mengenakan hoodie kampusnya. Rambutnya basah, belum sempat dikeringkan. Ponselnya tergeletak di samping, layar menyala menampilkan chat terakhir dari Ares—yang belum juga dia balas.
Bukan karena sengaja, tapi karena kepalanya terlalu penuh.
Baru saja ia meletakkan tas, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, panggilan masuk. Ares menelepon, jantung Nara langsung mencelos. Ada rasa lega, akhirnya dihubungi. Tapi juga rasa takut, yang entah kenapa ikut menyusup.
Dia mengangkat telepon. “Halo?”
Tidak langsung ada suara, hanya napas berat di seberang sana.
“Ares?”
“Kamu di mana?”
Nada suara itu dingin, seperti bukan Ares yang biasanya.
“Di rumah,” jawab Nara pelan. “Kenapa?”
Ares tertawa kecil, bukan tawa hangat. Lebih mirip tawa sinis. “Sendirian?”
Nara mengernyit. “Maksud kamu apa?”
“Kamu tau maksudku.”
Nada Ares naik sedikit. “Atau aku perlu nyebutin nama cowok yang barusan nganterin kamu pulang?”
Nara membeku. “Maksud kamu Langit?” suaranya refleks meninggi. “Dia cuma—”
“Cuma apa, Ra?” potong Ares tajam. “Cuma peluk-pelukan di motor? Cuma mesra-mesraan di depan umum?”
“Ares, stop. Kenapa kamu selalu salah paham sama hubunganku dengan Langit.”
“Salah paham?” Ares tertawa lagi. “Kali ini, aku punya foto buktinya.”
Detik itu juga, ponsel Nara berbunyi. Satu foto masuk, tangannya gemetar saat membuka.
Itu foto dirinya di motor Langit, memang sudutnya pas. Tangannya terlihat melingkar di pinggang Langit. Dari angle tertentu, memang tampak… intim.
“Res, aku hanya refleks tadi. Jalanan licin, aku cuma pegangan.”
“Pegangan?” Ares mendengus. “Kamu pikir aku bodoh?”
“Ares, dengerin aku dulu—”
Ares langsung menyela, suaranya datar dan menusuk. “Aku nggak mau dengar, Ra! Aku sudah muak mendengar pembenaranmu soal Langit, dari sejak awal kita sepakat menjalani hubungan ini dengan serius.”
Nara benar-benar terbungkam, lalu kembali terdengar suara Ares.
“Aku sudah terlalu sering mendengar cerita yang sama tentang Langit. Sejak awal hubungan kita, rupanya aku hanya belajar bagaimana caranya jadi orang kedua.”
Kata-kata itu menghantam Nara lebih keras dari hujan di luar. “Kamu juga berubah, tadi aku nungguin kamu satu jam,” suara Nara bergetar. “Tapi kamu nggak dateng, bahkan nggak ngabarin. Aku capek diginiin terus sana kamu, Res.”
“Terus solusinya, kamu pelukan sama Langit?”
“Udah berapa kali aku bilang, Langit itu temenku!”
“Temen yang keliatan nyaman banget kamu peluk.” Kembali Ares menyindir.
Nara menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh, dia tak ingin terdengar lemah. “Sejak kapan kamu kayak gini? Kamu benar-benar berubah, Res.”
Ares terdiam beberapa detik. Saat bicara lagi, nadanya lebih rendah tapi lebih menusuk.
“Aku berubah karena aku sadar, aku terlalu percaya sama kamu.” Pria itu malah memojokkan Nara.
Kalimat itu seperti pisau. “Ares…” suara Nara hampir tak terdengar.
“Aku lagi banyak urusan,” lanjut Ares dingin. “Aku nggak punya waktu buat drama kamu, Ra. Kalo kamu masih mau jadi kekasihku, jaga sikapmu!”
“Jaga sikap?” Nara menahan emosinya.
“Habis ini aku butuh waktu untuk berpikir,” kata Ares tanpa empati. “Jangan hubungi aku dulu.”
Telepon ditutup, tanpa kesempatan bagi Nara untuk bicara lagi.
Nara menatap layar gelap itu lama, tangannya gemetar hebat. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram paru-parunya.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, akhirnya tangisnya pecah.
Di tempat lain, Tasya tersenyum puas.
Dia duduk di kafe kecil dekat kampus, menyesap kopi latte sambil men-scroll ponsel. Notifikasi dari Ares masuk beberapa menit lalu.
Ares: [Aku tau, makasih infonya.]
Tasya menahan senyum.
“Cowok bego, baru foto aja udah panas. Cuma di dorong dikit, pasti langsung ngamuk.“
Dia membuka galeri lagi, ada foto lain. Tidak sejelas yang pertama, tapi cukup memancing imajinasi.
Dia mengetik pesan baru pada Ares.
[Sebenernya aku nggak enak ngomong… tapi ini bukan pertama kalinya aku liat mereka bermesraan. Tapi ya, Langit kan emang deket banget sama Nara. Dari dulu, aku kira kamu gak masalah sama hubungan mereka.]
Send.
Tasya meletakkan ponsel, senyum liciknya mengembang.
“Sekarang tinggal tunggu bomnya meledak.”
Langit berdiri di balkon rumahnya, memandangi hujan yang belum juga reda. Ponselnya di tangan, terbuka di chat Nara. Tidak ada balasan dari perempuan itu sejak ia mengirim pesan tadi sore, hatinya kini tak tenang.
Ia menghela napas panjang, lalu bersandar ke pagar balkon. Kepalanya memutar ulang kejadian di motor tadi. Cara Nara memeluknya, meski tak sengaja. Ia juga mengingat suara Nara bergetar saat bilang capek.
Langit mengacak rambutnya. “Sial! Kenapa perasaan gue sama dia makin menjadi-jadi gini! Gila!“
Perasaannya pada Nara selama ini, hanya dia anggap bercanda. Sekadar protektif, sekadar peduli sebagai teman.
Tapi ternyata… setiap kali Nara sedih, dia ingin berada di dekat perempuan itu. Setiap kali Nara ketawa, dadanya terasa hangat.
Ponselnya bergetar, ternyata pesan masuk dari Ares.
Ares: [Gue udah bilang, lo harus jaga jarak sama kekasih gue!]
Langit tertawa pendek.
Dia membalas singkat.
[Gue emang temennya, tapi kalo lo berani nyakitin dia... itu bakal jadi urusan gue!]
Tidak ada balasan dari Ares.
Langit memasukkan ponsel ke saku. Hujan masih turun, tapi sekarang rasanya lebih dingin. Kini, dia mengakui sesuatu dalam hatinya... dia benar-benar jatuh cinta pada Nara.
Dan mungkin... sudah terlambat.
Hari-hari berikutnya berjalan, Ares benar-benar tak memberi Nara kabar setelah meminta waktu sejenak dalam hubungan mereka. Nara mencoba menahan diri seperti yang diminta, tapi setiap malam dia selalu bertanya-tanya sebenarnya apa yang salah dalam hubungan mereka.
Di kampus Nara terlihat lebih pendiam, Langit memperhatikan itu semua dari jauh tanpa berani mendekat terlalu sering.
Sampai suatu siang, dia melihat Nara duduk sendirian di tangga gedung, menunduk sambil menatap ponsel.
Langit mendekat.
“Ra.”
Nara mendongak, matanya merah.
“Oh,” katanya lirih. “Lo.”
Langit duduk di sampingnya, menjaga jarak. “Lo belum makan?”
Nara menggeleng.
“Gue temenin, ya?”
Nara ragu sebentar, lalu mengangguk kecil.
Dan di kejauhan, Tasya memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Dia mengeluarkan ponsel, memfoto lalu kembali mengirim provokasi pada Ares.
semangat berkarya ka💪💜
Makasih kak, ceritanya bagus banget... Sukses terus yah Kak, aku tunggu karya kak Re selanjutnya... 😇😇😇
Tapi oke lah, sekarang kalian udah nikah.. dan sah secara hukum dan agama.. ☺
aku senang bahagia melihat mereka berdua bahagia 😍
huaaaaaa dah tamat l, aslinya belum rela pisah dgn mereka, tapi ada pertemuan pasti ada perpisahan.
terimakasih thor ceritanya luar biasa, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
cengeng bgt deh aku, sedih seneng terharu nangis 🙈
lagian hati Nara dah buat Langit kok, dia dah mulai cemburu gitu, apalagi cintanya Langit dari dulu hanya untuk Nara 😁